24 Agustus 2015

STUDI KASUS PADA PRASASTI SUMBERHADI DAN BATU BERGORES BATIN KATUNG


MAKNA MOTIF HIAS PADA TINGGALAN ARKEOLOGI DI LAMPUNG


Endang Widyastuti
Balai Arkeologi Bandung 



PENDAHULUAN
Kesenian khususnya seni rupa telah mulai dikenal sejak masa prasejarah, yaitu ketika masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut. Ekspresi seni pada masa itu dituangkan pada adanya bentuk-bentuk lukisan dan goresan terhadap batu karang atau dinding gua atau yang sering disebut dengan rock art. Rock Art adalah wujud seni yang dituangkan pada batuan. Teknik yang digunakan untuk mewujudkan rock art berupa lukisan dengan warna-warna tertentu, goresan, dan pahatan. Media rock art dapat berupa dinding gua, ceruk, tebing karang, bongkahan batu dan lain-lain. Lukisan dinding atau rock art pada umumnya menggambarkan kehidupan sosial ekonomi dan kepercayaan masyarakat pada masa itu (Clark, 1960: 224 – 228). Motif yang sering ditampilkan adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan manusia, seperti alam, binatang, dan bagian tubuh manusia. Di wilayah Asia Tenggara rock art ditemukan di Thailand, Malaysia, dan Filipina (Prasetyo, 2004: 14). Sementara itu di Indonesia rock art banyak ditemukan di wilayah timur, seperti di Sulawesi, Maluku, dan Papua (Soejono, 1990: 161 – 166). Wilayah Indonesia bagian barat yang tercatat juga terdapat adanya rock art yaitu di situs Batu Cap di Kalimantan (Yondri, 1996: 57 - 66), situs Citapen di Ciamis Jawa Barat (Saptono, 1998/1999) dan situs Gua Harimau di Sumatera Selatan (Sriwijaya Post, Sabtu 16 April 2011).

Pada masa yang lebih kemudian yaitu masa pengaruh Hindu Budha, seni rupa dituangkan dalam bentuk relief yang terdapat pada bangunan candi dan arca-arca dewa. Pada beberapa prasasti yang berasal dari masa Kerajaan Tarumanegara juga terdapat goresan-goresan yang sebagian sampai sekarang belum dapat dipecahkan maknanya. Prasasti-prasasti tersebut yaitu Prasasti Muara Cianten, Pasir awi dan Ciaruteun. Motif yang terdapat pada prasasti tersebut adalah telapak kaki, sulur-suluran, dan flora.

Wilayah Lampung termasuk salah satu wilayah kerja Balai Arkeologi Bandung. Dalam penelitian yang dilakukan Balai Arkeologi Bandung pada tahun 1994 telah didata adanya satu prasasti di desa Sumberhadi, Kecamatan Perwakilan Melinting, Kabupaten Lampung Tengah. Pada prasasti tersebut selain terdapat tulisan juga terdapat goresan membentuk tokoh manusia, binatang mitologi, dan gambar menyerupai rajah (Djafar, 1995). Selain itu pada penelitian tahun 2009 Balai Arkeologi Bandung juga telah mendata adanya temuan berupa sebongkah batu dengan goresan-goresan di atasnya. Tinggalan tersebut ditemukan di Kramat Batin Katung di daerah Lumbok, Lampung Barat. Goresan yang terdapat pada batu tersebut berupa lingkaran yang dikelilingi setengah lingkaran, kepala bermahkota, dan motif geometris. Beberapa goresan yang terdapat pada kedua data tersebut mempunyai kemiripan bentuk. Berdasarkan hal tersebut, maka dalam tulisan ini permasalahan yang akan diangkat adalah apa makna dari goresan yang terdapat pada tinggalan tersebut?

Berdasarkan permasalahan tersebut, maka tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui makna motif hias yang terdapat pada batu bergores di daerah lampung. Selanjutnya akan dicoba untuk mengetahui apa latar belakang religi yang melatari adanya tinggalan-tinggalan arkeologis tersebut. Untuk mengetahui makna motif hias dan latar belakang religi tinggalan tersebut, akan dihubungkan juga dengan isi prasasti sumberhadi tersebut.

Penulisan makalah ini menggunakan data hasil penelitian yang dilakukan oleh Balai arkeologi Bandung pada tahun 1994 di desa Sumberhadi, Kecamatan Perwakilan Melinting, Kabupaten Lampung Tengah, serta hasil penelitian tahun 2009 yang dilakukan di Kramat Batin Katung di daerah Lumbok, Lampung Barat.

Untuk penyelesaian permasalahan tersebut pada dasarnya metode yang dilaksanakan meliputi tiga tingkat yaitu tingkat observasi, berusaha mengumpulkan data; tingkat deskripsi yaitu mengolah data dengan metode analisis khusus dan kontekstual; dan tingkat eksplanasi yaitu berusaha menafsirkan data sehingga tujuan tercapai. Data yang akan dipergunakan dalam tulisan ini adalah Prasasti Sumberhadi dan batu bergores Kramat Batin Katung. Langkah untuk menyelesaikan masalah yaitu dengan mendeskripsikan data secara detail, Selanjutnya dilakukan analisis kontekstual. Analisis ini menitikberatkan pada hubungan antar data arkeologi. Dalam tahap analisis ini akan dilihat hubungan antara isi prasasti dan goresan-goresan yang terdapat pada kedua data, selanjutnya akan dibandingkan juga dengan naskah-naskah yang sejaman. Selanjutnya akan ditarik simpulan mengenai arti goresan yang terdapat pada kedua data tersebut.

GAMBARAN UMUM MASYARAKAT LAMPUNG
Provinsi Lampung memiliki luas 35.376,50 km². Daerah ini di sebelah barat berbatasan dengan Samudera Hindia, di sebelah selatan dengan Selat Sunda, di sebelah timur dengan Laut Jawa, serta di sebelah utara dengan Provinsi Sumatera Selatan dan Provinsi Bengkulu. Keadaan alam Lampung, di sebelah barat dan selatan, pada sepanjang pantai merupakan daerah yang berbukit-bukit sebagai sambungan dari jalur Bukit Barisan di Pulau Sumatera. Di tengah-tengah merupakan dataran rendah. Sedangkan ke dekat pantai di sebelah timur, di sepanjang tepi Laut Jawa terus ke utara, merupakan pedataran pantai yang luas. Di kawasan Lampung terdapat beberapa sistem aliran sungai yaitu Way Sekampung, Way Semangka, Way Seputih, Way Jepara, Way Tulangbawang, dan Way Mesuji.

Masyarakat penghuni daerah Lampung merupakan pendatang dari berbagai daerah. Dalam salah satu legenda mengenai asal-usul masyarakat Lampung diceritakan bahwa nenek moyang orang Lampung berasal dari Sungai Tatang dekat Bukit Siguntang, Sumatera Selatan. Salah seorang moyang yang bernama Naga Berisang meninggalkan kampung di Sungai Tatang mengembara mencari penghidupan hingga sampai di sekitar Danau Ranau. Keturunan Naga Berisang di bawah pimpinan Poyang Sakti pindah ke Cinggiring, Sekala Berak (Warganegara, 1994: 2). Tradisi lisan yang menjelaskan mengenai penghunian kawasan Sekala Berak, menyebutkan bahwa pada masa itu terdapat empat pemimpin yaitu Empu Cangih, Empu Serunting, Empu Rakihan, dan Empu Aji Saka. Keempat empu tesebut merupakan penguasa yang masing-masing mempunyai wilayah kekuasaan sendiri-sendiri. Sistem pemerintahannya disebut dengan istilah keratuan.

Kajian yang dilakukan oleh Olivier Sevin (1989) menyimpulkan bahwa masyarakat Lampung dapat dikelompokkan dalam dua kelompok besar yaitu masyarakat asli dan pendatang. Masyarakat yang diperkirakan sebagai penduduk asli adalah orang Pubian yang menempati kawasan antara Padangratu, Kota Agung, Teluk Betung, serta wilayah selatan Gunung Sugih di mana kawasan ini dibelah Way Sekampung. Sementara itu masyarakat pendatang terdiri dari empat gelombang migran yaitu gelombang Sekala Berak, gelombang Banten, gelombang Palembang, dan kolonisasi. Dalam beberapa tradisi lisan dikatakan bahwa masyarakat Sekala Berak merupakan masyarakat dari Pagarruyung yang menetap di sekitar Bukit Pesagi hingga tepian Danau Ranau. Sekitar awal abad ke-14 kawasan Sekala Berak mengalami tekanan populasi tinggi. Hal itu menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya gerakan migrasi ke bagian tengah dan selatan Lampung. Selanjutnya gelombang migrasi dari Banten berlangsung pada abad ke-17 demikian juga gelombang Palembang. Sedangkan Kolonisasi dari Jawa terjadi pada abad ke-19. Pendapat Sevin ini masih perlu diuji. Menurut tradisi sejarah lisan masyarakat, emigran yang masuk ke Lampung juga berasal dari Pagaruyung, Bengkulu, Jambi, masyarakat Melayu, dan Bugis (Warganegara, 1994: 3 – 13; Hadikusuma, 1989: 44 – 52).

Sebelum terjadi gelombang migrasi dari Banten dan Kolonisasi dari Jawa, pada sekitar abad ke-17 – 18 masyarakat yang berdiam di Lampung diperkirakan sudah membentuk suatu sistem pemerintahan persekutuan adat. Pemerintahan persekutuan adat ini terdiri dari dua sistem yaitu pepadun dan seibatin (Hadikusuma, 1989: 157). Meskipun sudah terbentuk semacam sistem pemerintahan, masyarakat Lampung tidak pernah dapat memusatkan kesatuan kerabatnya pada satu kesatuan tempat yang besar (perkampungan). Hal tersebut kemungkinan berkaitan dengan sistem matapencaharian  sebagai peladang. Ladang tempat bertanam lada diusahakan secara terpencar dengan sistem umbulan. Lokasi ladang ini secara berkala berpindah menyesuaikan kondisi lahan. Kondisi masyarakat seperti itu berlangsung sejak zaman sebelum Islam.

Pada masa klasik yaitu masa di mana pengaruh budaya Hindu-Buddha dari India sangat kuat, di Lampung tidak ada bukti adanya suatu kerajaan (kingdom). Beberapa prasasti yang ditemukan di Lampung kebanyakan merupakan prasasti yang dikeluarkan oleh Kerajaan Sriwijaya. Prasasti Palas Pasemah yang ditemukan di tepi Way Pisang, Kalianda, Lampung Selatan dan Prasasti Bungkuk yang ditemukan di Lampung Timur serta Prasasti Batu Bedil di Kabupaten Tanggamus menunjukkan bahwa Lampung pada masa klasik merupakan wilayah kekuasaan Sriwijaya (Purwanti, 1995: 98; Boechari, 1979: 19 – 40; Soekmono, 1985: 49 – 50).

Ketika Sriwijaya mengalami kemunduran, mungkin kawasan Lampung menjadi wilayah kekuasaan kerajaan di Jawa. Di Dusun Harakuning, Desa Hanakau, terdapat Prasasti Hujunglangit. Damais memastikan prasasti tersebut berasal dari tahun 919 Ç atau 997 M (Damais, 1995: 33). Pengaruh Jawa yang tampak dalam sistem penanggalannya, oleh Damais dihubungkan dengan ekspedisi Jawa dalam melawan Sriwijaya yang menurut berita Cina terjadi pada tahun 992 – 993 M. Damais menarik kesimpulan bahwa pengaruh Jawa tersebut merupakan hasil pendudukan Jawa sebagaimana dilaporkan dalam sumber Cina (Guillot, et all., 1996: 116).

HASIL DAN PEMBAHASAN
Gambaran Objek
Prasasti Sumberhadi
Prasasti Sumberhadi ditemukan di Desa Sumberhadi, Kecamatan Perwakilan Melinting, Kabupaten Lampung Tengah. Kini prasasti tersebut disimpan di Museum Negeri Ruwa Jurai di Bandar Lampung (Djafar, 1995: 1). Prasasti dipahatkan pada sebongkah batu memanjang yang berukuran 42 x 11 x 9 cm. Kondisi prasasti pada beberapa bagian terdapat cacat akibat terpangkas benda tajam, sehingga beberapa bagian dari prasasti ini tidak terbaca atau hilang.
Goresan-goresan yang terdapat pada prasasti Sumberhadi (dikutip dari Djafar, 1995)

Pada prasasti tersebut terdapat 14 baris tulisan, dan juga terdapat tulisan-tulisan pendek serta gambar-gambar. Gambar yang terlihat pada prasasti tersebut berupa tokoh manusia dalam berbagai posisi, binatang mitologi seperti naga, goresan-goresan berbentuk geometris, unsur-unsur alam seperti matahari, bulan, dan bintang, serta bentuk-bentuk seperti rajah. Tulisan dan goresan gambar tersebut dipahatkan pada seluruh permukaan batu secara melingkar.

Berdasarkan pembacaan oleh Hasan Djafar diketahui bahwa bahasa yang dipergunakan pada prasasti ini adalah bahasa melayu yang tidak terlalu kuna dengan beberapa pengaruh kosa kata dari bahasa arab dan Jawa. Kosa kata yang berasal dari bahasa Arab adalah hadah, warta, dan surat, sedangkan kosa kata yang berasal dari bahasa Jawa adalah tutunu dan lawas (Djafar, 1995: 1). Aksara yang digunakan adalah sejenis tulisan Jawa Kuna yang dari sudut paleografi mempunyai banyak persamaan dengan prasasti Ulubelu (Lampung Selatan) dan Prasasti Kawali yang berasal dari kurun waktu abad ke-14 – 15.

Batu bergores Keramat Batin Katung
Batu bergores terdapat di Situs Keramat Batin Katung. Secara administratif situs ini berada di wilayah Dusun Sukamaju, Desa Lumbok, Kecamatan Sukau, Kabupaten Lampung Barat. Lokasi situs berada pada koordinat 04°56’46,9” LS dan 103°56’00,6” BT, pada ketinggian 929 m di atas permukaan laut. Lokasi keramat ini berada di sisi timur laut halaman kompleks SMP Negeri 2 Sukau (Tim penelitian, 2009).
 
Cungkup Keramat Batin Katung (Dokumentasi Balai Arkeologi Bandung, 2009)
Pada situs ini terdapat batu bergores dan makam dengan orientasi utara – selatan yang oleh masyarakat disebut sebagai Keramat Batin Katung. Untuk melindungi makam dan batu bergores masyarakat mendirikan bangunan cungkup. Cungkup tersebut berukuran 3 x 4 m, dengan atap seng. Sekeliling makam terdapat pagar yang terbuat dari kayu. Menurut Rosmadewi – pemelihara makam – semula keramat ini hanya berupa batu pipih dengan ukuran panjang 120 cm, lebar atas 30 cm, lebar bawah 87 cm, dan tebal 19 cm. Batu pipih tersebut disangga oleh 3 bongkah batu. Tanah yang berada di tengah ketiga batu penyangga tersebut berlobang.  Kemudian di lokasi lobang tersebut dibuat bentuk makam lengkap dengan jirat dan nisan.

Sampai sekarang lokasi ini masih sering dipergunakan sebagai tempat ziarah oleh orang-orang yang datang dari daerah sekitar, seperti Krui, Liwa, dan lain-lain. Tujuan para peziarah berkunjung ke keramat ini adalah untuk memohon petunjuk agar barang atau ternaknya yang hilang dapat ditemukan kembali.
 
Batu bergores di situs Keramat Batin Katung (Dokumentasi Balai Arkeologi Bandung, 2009)
Pada permukaan bagian atas batu pipih tersebut terdapat goresan yang membentuk gambar-gambar. Goresan yang terdapat di permukaan atas batu tersebut berupa lingkaran dikelilingi setengah lingkaran yang mungkin dimaksudkan sebagai matahari, kepala manusia dengan mahkota, motif geometris yang berupa tumpal dan lingkaran-lingkaran.
 
Goresan pada batu bergores di situs Keramat Batin Katung (Dokumentasi Balai Arkeologi Bandung, 2009)
Makna Motif Hias
Motif-motif hias yang terdapat pada prasasti Sumberhadi dan batu bergores Batin Katung secara garis besar dapat dibagi dalam beberapa kelompok, yaitu 1) motif manusia atau bagian tubuh manusia, 2) motif benda-benda alam, 3) motif geometris, dan 4) motif binatang.

Motif Manusia Atau Bagian Tubuh Manusia
Pada prasasti Sumberhadi motif manusia terdiri dari dua kelompok, yaitu kelompok dengan anggota tubuh lengkap dan kelompok dengan penggambaran yang tidak lengkap.  Pada kelompok dengan penggambaran lengkap terdiri dari dua figur dengan tangan berjumlah 4, sedangkan kelompok dengan penggambaran tidak lengkap penggambaran yang ada hanya berupa bagian kepala, dada, dan tangan. Sementara itu pada batu bergores Batin Katung motif manusia digambarkan hanya bagian kepala dengan mata, hidung, dan mulut. Motif kepala ini digambarkan mengenakan mahkota.

Pada masa prasejarah motif manusia atau bagian tubuh manusia merupakan motif yang sering dijumpai pada lukisan-lukisan gua. Pada masa Prasejarah motif sosok manusia mulai digunakan seiring dengan berkembangnya keyakinan akan adanya hubungan batin antara manusia dengan kekuatan-kekuatan gaib yang terdapat di sekitarnya (Prasetyo, 2004: 24). Keyakinan tesebut kemudian berkembang menjadi sistem kepercayaan kepada arwah nenek moyang yang dianggap berperan sebagai mediator dengan alam gaib. Pada lukisan dinding gua penggambaran motif manusia ini jarang dilukiskan secara utuh, hanya bagian-bagian tertentu saja yang digambarkan misalnya telapak tangan, telapak kaki, mata atau kepala yang diidentikkan dengan bentuk topeng (Prasetyo, 2004: 24). Motif manusia banyak dijumpai pada lukisan dinding di Indonesia bagian timur seperti di Pulau Muna di Sulawesi Tenggara, Pulau Seram di Maluku, Kepulauan Kei, dan Papua (Soejono, 1990: 164 – 165).

Pada masa tradisi megalitik motif manusia atau bagian tubuh manusia masih sering digunakan. Motif manusia seringkali digunakan dengan media dinding-dinding kubur, seperti sarkofagus, dolmen, kalamba, dan waruga (Sumijati, 1997 – 1998: 339). Pada masa ini manusia seringkali digambarkan dengan gaya kangkang, sedangkan bagian tubuh yang sering digambarkan yaitu muka dan genitalia. Kedua bagian tubuh tersebut diyakini memiliki makna simbolis sebagai penolak bala atau kekuatan jahat dan juga sebagai lambang kesuburan (Sumijati, 1997 – 1998: 339).

Pada masa pengaruh Hindu Budha motif manusia termasuk motif yang sangat populer. Motif manusia ataupun bagian tubuh manusia banyak digunakan pada relief candi dan arca. Bagian tubuh yang sangat penting dan sering digunakan adalah bagian kepala khususnya bagian wajah. Motif kala yang digambarkan sebagai muka raksasa dengan mata melotot dan mulut menyeringai dengan gigi bertaring biasa diletakkan di atas pintu masuk candi. Motif kala ini dianggap sebagai lambang kehidupan dan penolak bala (Sunaryo, 2009: 40 – 52)

Motif Benda-Benda Alam
Motif hias yang menggambarkan benda-benda alam pada prasasti sumberhadi berupa bulan, bintang dan matahari. Motif bulan digambarkan dengan bentuk bulan sabit, motif bintang digambarkan dengan membuat dua segitiga yang saling bertumpuk dengan posisi bersilangan, dan motif matahari digambarkan dengan bentuk bulatan dengan garis-garis sinar di sekelilingnya. Sementara itu pada batu bergores Batin Katung benda alam yang digambarkan hanyalah motif matahari. Penggambaran motif matahari pada batu bergores ini berupa lingkaran yang dikelilingi oleh empat bentuk setengah lingkaran dengan posisi terbuka keluar.

Pada masa prasejarah motif hias matahari telah banyak digunakan. Situs-situs gua yang mengandung lukisan dinding dengan motif matahari di antaranya adalah Gua-gua di Pulau Muna dan Pulau Seram. Matahari dianggap sebagai sumber kehidupan, sehingga penggunaan motif matahari sebagai motif hias dihubungkan sebagai lambang kehidupan. Selain itu matahari juga dianggap sebagai lambang kesucian (Toekio, 2000: 37). Pada masa yang lebih muda, yaitu masa pengaruh Hindu Budha, lambang matahari seringkali dihubungkan dengan Dewa Surya. Selain itu lambang matahari juga seringkali dihubungkan dengan Kerajaan Majapahit. Kerajaan Majapahit memiliki lambang kerajaan yang berupa sinar matahari yang dikenal denganSinar Surya Majapahit (Sunaryo, 2009: 171).

Motif Bulan seringkali dikaitkan dewa Siwa. Dalam mitologi Hindu, Dewa Siwa digambarkan mengenakan mahkota Jatamakuta, yaitu hiasan kepala atau rambut dengan atribut bulan sabit. Motif hias bulan seringkali dikombinasikan dengan motif bintang. Penggunaan motif bintang pada masa prasejarah yaitu pada bidang pukul pada nekara (Soejono, 1990: 247). Motif bintang dianggap memiliki pengaruh terhadap kehidupan manusia, sehingga motif bintang dihubungkan dengan lambang kelahiran (Sunaryo, 2009: 173)

Motif Geometris
Pada prasasti Sumberhadi, motif geometris digambarkan dalam bentuk segitiga dan garis-garis bersilangan. Selain itu juga terdapat motif garis-garis vertikal dan horisontal yang saling bersilangan sehingga membentuk kotak-kotak. Bentuk ini mengingatkan pada bentuk sistem penanggalan di Sunda (kolenjer). Sementara itu pada batu bergores Batin Katung motif geometris digambarkan berupa tumpal dan lingkaran-lingkaran.

Motif geometris merupakan motif yang sangat tua. Sejak masa prasejarah motif ini sudah sering digunakan. Motif geometris seringkali digunakan sebagai motif hias pada tembikar, nekara, dan lain-lain. Sementara itu pada masa pengaruh Hindu Budha, motif geometris juga ditemukan pada relief candi dan motif kain pada arca.

Motif geometris pada umumnya bersifat abstrak artinya tidak dikenali lagi obyek yang digambarkan. Motif ini tersusun dari unsur-unsur seni rupa seperti garis dan bidang. Motif geometris berkembang dari bentuk titik, garis, atau bidang yang berulang, dari yang sederhana sampai dengan pola yang rumit (Sunaryo, 2009: 19).

Motif Binatang
Motif hias binatang hanya terdapat pada prasasti Sumberhadi. Pada prasasti ini motif binatang digambarkan sebagai binatang mitologi (Djafar, 1995: 2). Binatang mitologi ini berbentuk menyerupai naga.

Motif naga merupakan motif binatang yang sering digunakan. Motif ini melambangkan dunia bawah (Hoop, 1949). Dalam kaitan dengan kematian, motif naga dianggap akan menjamin kepindahan dari dunia ke alam baka (Sellato, 1989: 81). Selain itu naga juga melambangkan air, kesuburan, wanita, dan kesaktian (Sunaryo, 2009: 103).

Keberadaan gambar-gambar pada prasasti Sumberhadi dan batu bergores Batin Katung tentunya dilatari oleh alam pikiran orang Lampung pada waktu itu. Dalam alam pikiran masyarakat Lampung masih terdapat kepercayaan terhadap dewa-dewa, kekuatan gaib, makhluk halus dan kepercayaan kepada hal-hal gaib lainnya (Hadikusuma, 1977/1978: 149 – 158). Gambar-gambar tersebut menunjukkan bahwa meskipun masyarakat Lampung sudah menganut suatu agama tetapi kepercayaan terhadap kekuatan gaib masih mewarnai alam pikiran masyarakat pada waktu itu.  

Tinjauan Isi Prasasti
Prasasti Sumberhadi berisi mengenai surat pemberitahuan atau bukti tentang peminjaman tanah selama 100 tahun untuk keperluan bangunan suci (Utomo, 2007: 5). Pada prasasti tersebut juga disebutkan mengenai tokoh Batara Guru Tuha dan panca resi yang terdiri dari San Kusika, San Garega, Metri, Kurussya, dan Patanjala (Djafar, 1995: 2).

Berdasarkan isi prasasti tersebut disimpulkan bahwa terdapat sebidang tanah yang digunakan untuk pengelolaan suatu bangunan suci. Pertanyaan yang selanjutnya muncul yaitu bangunan suci dengan latar belakang keagamaan apakah yang terdapat di tempat tersebut.

Pada prasasti Sumberhadi disebutkan mengenai adanya tokoh Batara Guru Tuha dan Panca Resi yang terdiri dari San Kusika, San Garega, Metri, Kurussya, dan Patanjala. Meskipun sedikit berbeda panca resi juga disebutkan dalam salah satu naskah masa Kerajaan Sunda yaitu naskah Sanghyang Siksakandang Karesian. Naskah Sanghyang Siksakandang Karesian berasal dari sekitar abad 15 – 16. Naskah Sanghyang Siksakandang Karesian berisi mengenai gambaran tentang pedoman moral untuk bekal kehidupan masyarakat pada masa itu (Danasasmita, 1987: 5).

Dalam naskah Sanghyang Siksakandang Karesian disebutkan adanya panca kusika yaitu lima orang resi murid Siwa dalam mitologi Hindu yang terdiri dari Sang Kusika di Gunung, Sang Garga di rumbut, Sang Mesti di Mahameru, Sang Purusa di Madiri dan Sang Patanjala di Panjulan (Danasasmita, 1987: 97). Dalam naskah tersebut diuraikan mengenai adanya pemujaan kepada dewa Siwa dan Sanghyang Panca tatagata. Berdasarkan hal tersebut terlihat bahwa pada masa itu masih terlihat adanya  pengaruh agama Hindu, meskipun juga tampak adanya pengaruh agama Buddha, yaitu pemujaan kepada Sanghyang Pañcatatagata (Buddha).

PENUTUP
Berdasarkan uraian terdahulu dapat disimpulkan bahwa motif hias yang terdapat pada prasasti Sumberhadi dan batu bergores Batin Katung dapat dikelompokkan menjadi 4, yaitu motif manusia atau bagian tubuh manusia, motif benda-benda alam, motif geometris, dan motif binatang. Motif-motif hias tersebut merupakan motif yang telah ada sejak masa prasejarah. Motif hias tersebut mengandung makna simbolis sebagai penolak bala, lambang kesuburan, dan lambang kehidupan. Sementara itu berdasarkan isi prasasti disimpulkan bahwa religi yang dianut masyarakat pada waktu itu adalah Hindu, meskipun unsur pemujaan kepada kekuatan gaib juga masih terlihat.


DAFTAR PUSTAKA
Boechari, 1979. An Old Malay Inscription of Sriwijaya At Palas Pasemah (South Lampung). Dalam Pra Seminar Penelitian Sriwijaya, hlm. 19 - 40. Jakarta: pusat Penelitian Purbakala dan Peninggalan Nasional.

Clark, Graham. 1960. Archaeology and Society. London: Methuen.

Damais, Louis-Charles. 1995. Epigrafi dan Sejarah Nusantara. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Danasasmita, Saleh. 1987. 1987. Sewaka Darma, Sanghyang Siksakandang Karesian, Amanat Galunggung: Transkripsi dan Terjemahan. Bandung: Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sunda (Sundanologi) Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Djafar, Hasan dan W. Anwar Falah. 1995. Prasasti Batu dari Sumberhadi Daerah Lampung Tengah. Dalam Jurnal Penelitian Balai Arkeologi Bandung No. 1/April/1995. Bandung: Balai Arkeologi Bandung.

Guillot, et al., 1996. Banten Sebelum Zaman Islam: Kajian Arkeologi di Banten Girang 932 – 1526. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional – EFEO.

Hadikusuma, Hilman. 1977/1978. Adat Istiadat Daerah Lampung. Bandar Lampung: Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah.

----------. 1989. Masyarakat dan Adat Budaya Lampung. Bandung: Mandar Maju.

Hoop, A.N.J.Th.a.Th. van der. 1949. Ragam-ragam Perhiasan Indonesia. Tanpa kota penerbit: Koninklijk Bataviaasch Genootschap Van Kunsten en Wetenschappen.

Lukisan Spektakuler di Gua Harimau, Sriwijaya Post - Sabtu, 16 April 2011

Prasetyo, Bagyo  & Dwi Yani Yuniawati (ed.). 2004. Religi Pada Masyarakat Prasejarah di Indonesia. Jakarta: Asisten Deputi Urusan Arkeologi Nasional.

Purwanti, Retno. 1995. Perang Pada Masa Sriwijaya: Tinjauan Terhadap Prasasti-prasasti Abad VII Masehi. Dalam Jurnal Penelitian Balai Arkeologi Bandung No. 2, hlm. 98 – 103. Bandung: Balai Arkeologi Bandung

Saptono, Nanang. 1998/1999. Laporan Hasil Penelitian Arkeologi Daerah Citapen dan Sekitarnya, Desa Sukajaya, Kec. Rajadesa, Kab. Ciamis, Jawa Barat. Bandung: Balai Arkeologi Bandung.

Sellato, Bernard. 1989. Naga dan Burung Enggang (Hornbill and Dragon) Kalimantan, Sarawak, Sabah, Brunei. Diterjemahkan oleh Winarsih Arifin. Tanpa kota penerbit: Elf Aquitaine Indonesia-Elf Aquitaine Malaysia.

Sevin, Olivier. 1989. History and population. Dalam Transmigration, hlm. 13 – 123. Jakarta: ORSTOM – Departemen transmigrasi Republik Indonesia.

Soejono, R.P. 1990. Jaman Prasejarah di Indonesia. Dalam Marwati Djoened Poesponegoro (ed.) Sejarah Nasional Indonesia I. Jakarta: Balai Pustaka.

Soekmono, R. 1985 Kisah Perjalanan ke Sumatra Selatan dan Jambi. Dalam Satyawati Suleiman et al. Amerta 3. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

Sumijati, As. 1997 – 1998. Seni Rupa dan Dinamikanya Dalam Kehidupan Pra-Hindu. Dalam Pertemuan Ilmiah Arkeologi VII, Cipanas, 12 – 16 Maret 1996 jilid 2. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

Sunaryo, Aryo. 2009. Ornamen Nusantara: Kajian Khusus Tentang Ornamen Indonesia. Semarang: Dahara Prize.

Tim penelitian. 2009. Laporan Penelitian Arkeologi Budaya Masa Pengaruh Hindu-Buddha di Kawasan Lampung. Bandung: Balai Arkeologi Bandung.

Toekio, Soegeng. 2000. Mengenal Ragam Hias Indonesia. Bandung: Angkasa.

Utomo, Bambang Budi. 2007. Prasasti-prasasti Sumatra. Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional.

Warganegara, Marwansyah. 1994. Riwayat Orang Lampung

Yondri, Lutfi. 1996. Batu Cap: Temuan Awal Tinggalan Seni Lukis Gua/Ceruk di Wilayah Indonesia Barat. Dalam Jurnal Penelitian Balai Arkeologi Bandung No. 3/April/1996. Bandung: Balai Arkeologi Bandung.


Catatan:
Artikel ini terdapat dalam buku Arkeologi: Peran dan Manfaat Bagi Kemanusiaan. Halaman 16 – 30. Editor Dr. Ali Akbar. Jatinangor: Alqaprint, 2011.

1 komentar:

FACHRUDDIN M. DANI mengatakan...

Alhamdulillah tulisan ttg arkeologi di Blog ini muncul kembali, saya pikir masih banyak objek peninggalan arkeoogis yang belum tersentuh di Lampung. Semoga Blog ini semakin produktif.
Terima kasih para arkeolog.