22 Agustus 2019

Menelusuri Jejak Lada Menemukan Batu Bergores

TINGGALAN MEGALIT DI BATU BADAK

Catatan : Nanang Saptono



Emas hitam di Kalimantan merupakan sebutan bagi batu bara. Lain halnya dengan di Lampung, yang disebut emas hitam adalah lada. Beberapa waktu silam, lada menjadi komoditas penting bagi Lampung dalam perdagangan dunia. Terbatasnya lada di kawasan Jawa Barat, Kesultanan Banten meluaskan wilayah hingga Lampung untuk memenuhi kebutuhan perdagangan dunia pada saat itu. Salah satu kawasan di Lampung yang menjadi lumbung lada bagi Banten adalah Bojong. Wilayah ini sekarang secara administratif meliputi seluruh Kecamatan Sekampung Udik, Kabupaten Lampung Timur.

Pada masa pemerintahan Sultan Abul Mahasin Muhammad Zainal Abidin (1690 – 1733 M), tepatnya pada 30 Jumadil Awal Tahun Be 1102 H atau 1 Maret 1691 M dikeluarkan prasasti (dalung) Bojong yang berisi perjanjian persahabatan antara Banten dan Lampung khususnya Bojong. Salah satu isi perjanjian tersebut adalah mengenai penanaman lada sebanyak 500 pohon bagi penduduk Bojong. Masyarakat Bojong yang dimaksud pada dalung tersebut adalah masyarakat yang tergabung dalam Marga Sekampung Limo Mego. Beberapa kampung (desa) tua di wilayah ini adalah Desa Toba, Bojong, Gunung Sugih Besar, Gunung Raya, Peniangan, dan Desa Batu Badak. Semua kampung ini berada di dekat aliran Way Sekampung.

Meskipun Kesultanan Banten banyak memberi pengaruh kepada masyarakat Sekampung Limo Mego, namun tampaknya agama Islam belum dianut oleh seluruh masyarakat. Berdasarkan tinggalan arkeologis yang ditemukan di kawasan tersebut terdapat beberapa megalit yang secara umum merupakan sarana bagi masyarakat untuk mengagungkan arwah leluhur. Beberapa megalit tersebut terdapat di Desa Batu Badak. Apa bentuk dan kira-kira fungsi megalit Batu Badak akan dicoba diulas berikut.

Tinggalan arkeologis di Batu Badak pernah muncul di dalam Berita Penelitian Arkeologi No. 33, Laporan Penelitian Arkeologi Lampung yang disusun oleh J. Ratna Indraningsih, Haris Sukendar, Budi Santosa Azis, dan Rokhus Due Awe. Pelaksanaan penelitian pada 2 – 27 April 1980 berupa survei dan ekskavasi di situs Pugung Raharjo dan sekitarnya. Nama Batu Badak berkaitan dengan legenda Si Pahit Lidah. Tim penelitian pada waktu itu sempat melakukan pengamatan terhadap objek yang disebut Batu Badak di tepi Way Sekampung. Berdasarkan pengamatan disimpulkan bahwa objek yang dinamakan Batu Badak itu merupakan batu alam yang tidak mempunyai arti arkeologis. Namun demikian, tim menjumpai lahan pada teras sungai yang mengandung banyak artefak berupa pecahan tembikar, porselen, dan beliung.

Balai Arkeologi Jawa Barat pada 8 – 25 Juli 2019 mengadakan penelitian tentang budidaya lada pada masyarakat Lampung masa Kesultanan Banten. Salah satu wilayah yang disurvei adalah Desa Batu Badak. Menurut keterangan Saparudin (33 th), salah satu tokoh masyarakat Desa Batu Badak, nama Batu Badak berasal dari suatu legenda. Konon pada jaman dulu ada badak yang sedang minum di pinggir Way Sekampung. Secara kebetulan Si Pahit Lidah yang sedang naik perahu di Way Sekampung melihat adanya badak. Khawatir badak itu membahayakan masyarakat yang tinggal di tepi sungai, badak itu disumpah menjadi batu. Sampai sekarang desa itu dinamakan Desa Batu Badak. Tim penelitian diantar Saparudin dan Sulaeman melihat Batu Badak. Kebetulan pada waktu itu air sungai sedang surut sehingga objek kelihatan dengan jelas.

Saparudin tengah memberikan keterangan tentang Batu Badak


Batu Badak yang ditunjukkan Saparudin berupa bongkah batu yang menyerupai badak, berada di pinggir sungai. Di sekitar batu badak terdapat beberapa bongkah batu lainnya. Saparudin menunjukkan bahwa pada batu-batu di sekitar Batu Badak terdapat bekas tangan Si Pahit Lidah. Setelah diamati, di sekitar Batu Badak terdapat beberapa megalit berupa batu bergores. Pengamatan di sekitar lokasi batu badak, pada lahan di teras sungai terdapat jajaran batu membentuk pola segi empat. Di sebelah timur laut terdapat 5 jajaran batu memanjang dengan orientasi barat laut – tenggara. Di sebelah barat daya batu berurut terdapat 2 bongkah batu lagi. Di atas sebelah timur laut teras bawah di mana terdapat formasi batu, terdapat teras lagi. Pada lahan tersebut banyak ditemukan pecahan tembikar dan porselen.

Batu Badak (A) dan salah satu batu bergores (B) yang terdapat di tepi Way Sekampung

Batu bergores di dekat Batu Badak

Susunan batu yang terdapat pada lahan teras tepi Way Sekampung


Batu bergores banyak ditemukan di Lampung. Kajian Nurul Laili tentang batu bergores di Lampung antara lain ditemukan di situs Bojong dan Benteng Nibung di Desa Wana serta situs Pugung Raharjo, Desa Pugung Raharjo Lampung Timur; situs Pekon Balak dan situs Batu Kenyangan Desa Pekon Balak, situs Air Ringkih di Desa Bungin, situs Cabangdua di Desa Purawiwitan, serta situs Sukarame di Desa Sukarame, Lampung Barat.

Menurut Nurul Laili, sebagaimana yang diutarakan dalam artikelnya “Fungsi Dan Peranan Batu Bergores Dalam Tradisi Megalitik: Studi Kasus Temuan di Provinsi Lampung” yang terbit di dalam buku Hastaleleka: Kumpulan Karya Mandiri Dalam Kajian Paleoekologi, Arkeologi, Sejarah Kuna, dan Etnografi”, hlm. 33 - 40. Editor Agus Aris Munandar. Penerbit Alqaprint, Jatinangor, 2005, fungsi dan peranan batu bergores di kawasan Lampung sangat berkait dengan pemujaan. Hal ini diperlihatkan dengan asosiasi temuan lainnya, yaitu menhir, dolmen, batu datar, dan batu berurut. Keinginan dan pengharapan dari pendukung budaya megalitik untuk mendapatkan kekuatan dari arwah leluhur memperlakukan batu bergores sebagai salah satu pelengkap dalam sarana pemujaan selain jenis megalitik lain.

Batu bergores di Batu Badak tidak berasosiasi dengan dolmen atau menhir melainkan berada di pinggir sungai. Melihat hal itu, mungkin batu bergores di Batu Badak tidak ada kaitannya dengan pemujaan kepada arwah leluhur. Kumpulan bongkah batu di pinggir sungai mungkin berfungsi dalam kaitannya dengan tempat mandi umum. Pada masyarakat Lampung sering kali dijumpai tempat mandi umum di pinggir sungai yang disebut kuwayan. Goresan pada batu kemungkinan merupakan jejak aktivitas dalam kaitannya dengan membersihkan sesuatu, dapat berkaitan dengan membersihkan diri (mandi) atau membersihkan peralatan sehari-hari. Salah satu contoh, pada masyarakat Kampung Kuripan di Kalianda, pada jaman dahulu kalau membersihkan gigi dengan menggunakan serbuk arang tempurung kelapa. Cara mendapatkan serbuk dengan menggosokkan arang tempurung kelapa tersebut. Mungkin, goresan pada batu merupakan jejak aktivitas menggoreskan yang berlangsung lama dan intensif. Mengenai susunan batu yang berada pada lahan teras sungai kemungkinan merupakan bekas umpak rumah atau bangunan lain. Tentu saja hipotesis ini masih perlu dibuktikan dengan kajian yang lebih mendalam.