19 Maret 2009

Struktur permukiman masyarakat Lampung pada masa lampau


PERMUKIMAN SITUS BENTENG SABUT (BUJUNG MENGGALOU), TULANGBAWANG, LAMPUNG



Nanang Saptono



tim penelitian bersama masyarakat setempat


PENDAHULUAN
Masyarakat Lampung pada umumnya mengenal sistem “pemerintahan adat” Marga. Dalam satu Marga yang dikepalai oleh pasirah marga, terbagi atas beberapa kampung yang dipimpin oleh kepala kampung. Tiap-tiap kampung terdiri beberapa suku yang dipimpin kepala suku (Anonim, 2003: 1). Hierarkhi ini juga tercermin pada fisik pemukimannya. Masyarakat yang terdiri dari beberapa suku mendiami satu kawasan disebut tiyuh. Kelompok beberapa tiyuh membentuk satu marga. Kampung sebagai sistem organisasi pemerintahan adat, yang secara fisik disebut tiyuh, dapat mengalami pemekaran. Anggota masyarakat suatu tiyuh diperbolehkan membuka hutan untuk tanah garapan. Tanah garapan ini disebut umbulan. Apabila umbulan tersebut memenuhi berbagai persyaratan untuk lokasi tinggal, maka dapat berkembang menjadi tiyuh. Sebelum menjadi tiyuh, umbulan menginduk pada kampung asalnya. Masyarakat yang mendiami umbulan disebut tepuk. Apabila sudah memenuhi persyaratan adat, umbulan secara fisik dapat meningkat menjadi tiyuh, sedangkan secara organisasi pemerintahan berkembang menjadi kampung. Masyarakatnya berkembang dari tepuk menjadi suku. Dengan demikian umbulan merupakan cikal bakal suatu tiyuh.

Situs Benteng Sabut (Bujung Menggalou) secara administratif termasuk di dalam wilayah Kampung Gunungkatun Tanjungan dan Gunungkatun Malay, Kecamatan Tulangbawang Udik. Kedua kampung itu walaupun merupakan dua sistem administrasi yang berada namun berada pada satu wilayah. Dengan demikian secara tegas batas kedua wilayah kampung tersebut sedikit sulit diketahui. Namun demikian secara adat masyarakat di kedua kampung itu dengan mudah mengetahui perwilayahannya. Masyarakat Kampung Gunungkatun Tanjungan dan Gunungkatun Malay secara adat termasuk dalam marga Buay Bulan. Pada masyarakat kampung ini terdapat ikatan emosi dengan situs Benteng Sabut (Bujung Menggalou).

Balai Arkeologi Bandung pada tahun 2000 dan 2002 telah melakukan penelitian di situs ini dalam bentuk observasi permukaan (Saptono, 2000: 135-136; 2002: 88-89). Berdasarkan data etnohistori yang diperoleh pada penelitian tersebut, situs Benteng Sabut berkaitkan dengan tokoh Minak Kemala Kota dan Minak Ratu Guruh Malay (Saptono, 2002: 91-94). Kedua tokoh ini sama-sama merupakan pendatang. Minak Kemala Kota merupakan keturunan Moyang Junjungan dari daerah Krui. Keturunan Moyang Junjungan bermigrasi ke daerah Sekalaberak dan pada masa Minak Kemala Kota mendirikan perkampungan di Bujung Menggalou (Benteng Sabut). Pada suatu saat di Bujung Menggalou datang Minak Guruh Malay. Masyarakat memperkirakan tokoh Minak Guruh Malay berasal dari Jambi atau Malaka. Di Tulangbawang Minak Guruh Malay mendiami Bujung Malay, sebelah tenggara Bujung Menggalou berjarak sekitar 2,5 km.

Minak Guruh Malay ketika meninggal dimakamkan di Kampung Pekurun, sekarang termasuk dalam wilayah administratif Kecamatan Abung Tengah, Kabupaten Lampung Utara. Pada saat sekarang keturunan Minak Kemala Kota merupakan masyarakat Kampung Gunungkatun Tanjungan dan keturunan Minak Guruh Malay merupakan masyarakat Gunungkatun Malay. Pada masa Minak Muttah Dibumi terjadi peristiwa konfrontasi antara Benteng Sabut dengan Gunung Terang (Way Kanan) yang melibatkan Prajurit Putinggelang.

Berkaitan dengan permukiman adat, konsep tiyuh pada masyarakat Tulangbawang dapat disamakan dengan konsep wanua pada masyarakat Austronesia pada umumnya. Wanua, Banua, atau Nua bagi masyarakat Kayuagung, Komering, dan Lampung merujuk pada permukiman masyarakat desa dengan status sosial, politik, dan ekonomi yang otonom (Wiryomartono, 1995: 17). Wanua pada masyarakat Jawa Kuna juga merujuk pada permukiman masyarakat setingkat desa. Wanua pada masyarakat Jawa Kuna dipimpin oleh Rama (Sumadio, 1990: 190). Dalam masyarakat tiyuh terlihat sudah ada konsep kepemimpinan. Dapat dipastikan tiyuh sebagai wilayah untuk bertempat tinggal akan memuat masyarakat yang jenjang sosial dan pola kegiatannya berragam.

Situs Benteng Sabut (Bujung Menggalou) merupakan pemukiman yang dilengkapi benteng dan parit keliling. Pada lokasi tersebut juga dijumpai adanya makam tokoh. Persoalannya, bagaimanakah intensitas keberlangsungan pemukiman di kawasan situs tersebut. Permasalahan selanjutnya, dari segi fisik bagaimana pemanfaatan ruang pemukiman dalam skala semi mikro dan bagaimana watak permukiman yang pernah berlangsung. Secara kronologis, kapan penghunian situs berlangsung.

Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian di situs Benteng Sabut (Bujung Menggalou) dimaksudkan untuk mengungkap pola pemanfaatan lahan yang ada sesuai dengan ragam aktivitas yang pernah ada. Secara awal dapat diketahui bahwa penghunian di situs Benteng Sabut terdapat ragam aktivitas selain bertempat tinggal juga ada aktivitas industri. Sistem organisasi sosial masyarakat Tulangbawang pada umumnya, dikenal adanya jenjang pemerintahan adat berupa suku dan marga. Dalam satu kampung (tiyuh) ditempati satu suku, kadang-kadang beberapa suku. Beberapa suku ini kemudian membentuk satu marga. Dengan demikian kampung yang mempunyai status sebagai “ibukota” marga dimungkinkan mempunyai kekhususan tertentu. Dilihat dari aspek jenjang masyarakat adat tersebut, akan diungkap pula watak permukimannya.

Untuk mencapai tujuan tersebut, dilakukan penelitian tipe gabungan antara eksploratif dan deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dalam bentuk observasi permukaan dan ekskavasi. Di samping itu pengumpulan data khususnya yang berkaitan dengan masyarakat adat dilakukan dalam bentuk kajian pustaka dan wawancara. Data hasil observasi, ekskavasi, serta wawancara dan kajian pustaka diharapkan dapat memberikan gambaran sebagaimana permasalahan yang ada sehingga maksud dan tujuan penelitian tercapai. Ruang lingkup penelitian ditekankan pada kondisi fisik objek arkeologis baik yang bersifat artefaktual maupun non artefaktual. Selain itu juga menyangkut kondisi lingkungan alam dan sejarah kemasyarakatan khususnya dalam hal masyarakat adat.


HASIL PENELITIAN

Gambaran Umum Situs
Situs Benteng Sabut secara geografis berada pada kelokan sungai utama (Way Kiri) pada posisi 430’20” LS dan 10500’21” BT, Way Kiri mengalir di sebelah tenggara hingga timur situs. Di sebelah barat situs terdapat aliran Way Pikuk. Sungai ini berhulu pada bukit kecil di sebelah utara situs, kemudian berkelok-kelok ke arah tenggara hingga timur dan bermuara di Way Kiri di sebelah selatan Benteng Sabut. Di sebelah selatan muara Way Pikuk terdapat muara Way Papan. Sungai ini mengalir dari arah barat daya. Di sekitar Benteng Sabut terdapat beberapa rawa (bawang) antara lain Bawang Kelapo terdapat di sebelah barat dan Bawang Petahi di sebelah timur laut benteng. Lokasi Benteng Sabut oleh masyarakat setempat juga dikenal dengan sebutan Bujung Menggalou.

Fakta arkeologis yang terdapat di situs Benteng Sabut berupa fitur parit (cekungan), benteng dan tanggul (gundukan tanah), makam kuna, serta sebaran artefak. Parit pada bagian dekat Way Kiri berpola segi lima. Pada sisi dalam parit terdapat benteng. Benteng dan parit ini pada sisi barat bermula dari tepi Way Kiri ke arah barat laut sepanjang 110 m hingga sudut barat daya. Benteng dan parit kemudian belok ke arah utara agak ke timur hingga sepanjang 70 m yang merupakan pertengahan sisi barat laut benteng dan parit, selanjutnya agak berbelok ke arah timur hingga mencapai jarak 70 m yang juga merupakan sudut timur laut. Pada sudut ini parit ada yang ke arah barat laut sepanjang 20 m hingga ke Bawang Petahi, dan juga ada yang ke arah tenggara sejauh 110 m hingga Way Kiri. Parit pada bagian ini lebarnya berkisar antara 5 hingga 7 m dengan kedalaman berkisar 0,5 hingga 1,5 m. Lahan bagian ini merupakan inti pemukiman yang luasnya sekitar 1,4 hektar.

Fakta artefaktual yang pernah ditemukan di bagian ini berupa fragmen keramik, fragmen tembikar, serpih obsidian, kerak besi, paku, fragmen wadah perunggu, dan manik-manik. Fragmen tembikar ada yang berhias. Selain itu terdapat beberapa benda arkeologis berupa gandik, fragmen pipisan. Fragmen tembikar yang merupakan bagian dari kibu (kendi). Benda tembikar utuh berbentuk gacuk, tatap, dan cangkir.

Di sebelah barat laut bagian inti pemukiman berjarak sekitar 50 m terdapat parit membentang arah timur laut – barat daya. Pada Ujung timur laut bermula dari Bawang Petahi ke arah barat daya sejauh 150 m. Parit ini pada ujung barat daya lebarnya 12 m, sedangkan pada ujung timur laut lebarnya 7 m. Kedalam berkisar 1 – 1,5 m. Di ujung barat daya parit belok ke arah tenggara sepanjang 55 m dan selanjutnya tidak tampak lagi jejak-jejaknya. Parit yang membentang arah timur laut – barat daya kemudian belok ke arah tenggara ini membentuk lahan berpola segi empat dengan luas sekitar 0,7 hektar. Di tengah lahan ini terdapat fitur tumulus berdiameter sekitar 3 m tinggi 0,7 m. Di tempat ini pada sekitar tahun 1980 pernah ditemukan guci.

Di sebelah barat daya benteng, pada seberang Way Pikuk terdapat dua fitur tanggul. Fitur tanggul pertama terdapat di sebelah barat daya parit luar sisi barat laut. Dari ujung Way Pikuk tanggul tersebut membujur ke arah barat sepanjang 20 m kemudian belok ke arah barat daya hingga selatan sepanjang 30 m. Lebar tanggul sekitar 4 m dengan ketinggian sekitar 0,5 m. Tanggul kedua terletak di sebelah barat daya lahan benteng. Tanggul tersebut membujur arah timur laut – tenggara sepanjang 30 m. Lebar tanggul 8 m dengan ketinggian 1,5 – 2 m.
Pada bagian luar sudut tenggara benteng, di tepi Way Kiri terdapat fitur makam kuna. Menurut keterangan masyarakat tokoh yang dimakamkan adalah Minak Sendang Belawan. Keadaan makam sedikit lebih tinggi dari lahan sekitar tetapi tidak menggunduk, tidak dilengkapi nisan. Orientasi makam relatif ke arah utara – selatan (N 350 E). Lebar makam 2,16 m dan panjangnya 3,8 m.

Di sebelah tenggara situs Benteng Sabut (Bujung Menggalou) terdapat parit yang disebut kenali. Lokasi tersebut berada pada kelokan sungai yang membentuk suatu daratan memanjang yang dinamakan Bujung Malay. Keadaan parit membentang arah utara – selatan (N 323° E) menghubungkan kedua sisi sungai. Bagian atas parit lebarnya 4,30 m sedangkan bagian dasar lebarnya 3,60 m. Kedalaman 1,25 m.

Deskripsi Hasil Ekskavasi
Ekskavasi di situs Benteng Sabut (Bujung Menggalou) dilakukan pada empat kotak gali yaitu LU I, LU II, LU III, dan LU IV. Tiap-tiap kotak gali berukuran 1 X 1 m. Pembukaan kotak dilakukan dengan teknik spit. Penggalian spit pertama dilakukan hingga kedalaman 20 cm dari titik nol bantu. Spit selanjutnya berinterval 10 cm.

Kotak LU I
Kotak LU I terletak di bagian pertengahan sisi tenggara benteng. Penggalian kotak ini dimaksudkan untuk mendapatkan data tentang aktifitas yang pernah berlangsung, dengan pertimbangan pada penelitian terdahulu di lokasi tersebut banyak ditemukan manik-manik.

Permukaan tanah pada kotak ini cenderung rata. Bagian sisi utara kotak lebih tinggi dari sisi selatan. Keadaan permukaan kotak ditumbuhi rumput, setelah dibersihkan terlihat tanah berwarna kehitaman. Artefak yang terdapat di permukaan kotak berupa kerak besi, fragmen tembikar, dan fragmen keramik asing.

Pembukaan spit 1 dilakukan hingga kedalaman 20 cm dari SDP. Tanah berpasir berwarna kehitaman, tekstur sedang sampai kasar. Pada spit ini akar rumput dan akar singkong banyak dijumpai. Temuan berupa manik-manik, fragmen tembikar, fragmen keramik, dan logam.

Spit 2 hingga mencapai kedalaman 30 cm. Keadaan tanah berpasir berwarna kehitaman, tekstur sedang sampai kasar. Akar tanaman masih banyak dijumpai. Artefak berupa fragmen tembikar, manik-manik, fragmen keramik, dan kerak besi ditemukan merata di seluruh kotak gali.

Spit 3 hingga kedalaman 40 cm. Keadaan tanah sebagaimana spit sebelumnya yaitu berpasir berwarna kehitaman, tekstur sedang sampai kasar. Akar sudah mulai jarang dijumpai. Hingga kedalaman spit ini temuan berupa fragmen tembikar, fragmen keramik, dan kerak besi masih dijumpai namun sudah mulai menipis. Pada akhir spit, di sisi timur kotak ini dijumpai adanya konkresi.

Pada spit 4 hingga kedalaman 50 cm. Keadaan tanah ada perubahan, yaitu berwarna kecoklatan. Jenis dan teksturnya masih seperti pada tanah spit sebelumnya. Temuan berupa fragmen tembikar dan fragmen keramik masih dominan. Pada awal penggalian yaitu di kedalaman 40 cm dijumpai arang. Di bagian barat laut kotak pada dinding sisi utara pada kedalaman 43 cm ditemukan gigi vertebrata.

Penggalian spit 5 dilakukan hingga kedalaman 60 cm, keadaan tanah berpasir kecoklatan. Tekstur mengalami perubahan yaitu halus sampai sedang, agak padat. Temuan berupa fragmen tembikar mulai menipis, merata di seluruh kotak gali. Sisa arang ditemukan di bagian barat daya kotak pada kedalaman 57 cm dan 60 cm. Pada akhir spit, yaitu kedalaman 59 cm, di bagian barat laut kotak terdapat kerak besi.

Temuan pada penggalian spit 6 berkurang. Pada sisi barat kotak gali terdapat fetur dengan warna tanah kehitaman. Pada bagian ini ditemukan artefak berupa fragmen tembikar. Selain itu juga ditemukan arang. Spit 6 diakhiri hingga kedalaman 70 cm

Penggalian pada spit 7 dilakukan setengah kotak yaitu sisi barat. Temuan semakin sedikit, berupa fragmen tembikar. Arang ditemukan di bagian selatan sisi barat pada kedalaman 73 cm. Penggalian diakhiri hinggi spit ini. Pada akhir penggalian terlihat stratigrafi terdiri dari dua lapisan. Lapisan atas tanah berwarna hitam pasiran dan pada lapisan bawah tanah berwarna kecoklatan agak merah.

Kotak LU II
Kotak LU II terletak di bagian timur lahan situs, sebelah utara Kotak LU I. Penentuan lokasi kotak LU II karena pada permukaan tanah banyak ditemukan fragmen tembikar. Dengan ekskavasi di lokasi ini diharapkan dapat diketahui gambaran aktifitas yang pernah berlangsung. Permukaan tanah cenderung rata. Bagian sisi utara kotak lebih rendah dari sisi selatan. Keadaan permukaan kotak ditumbuhi rumput, setelah dibersihkan terlihat tanah berwarna kehitaman. Artefak yang terdapat di permukaan kotak berupa fragmen tembikar yang terkonsentrasi di bagian barat laut kotak gali.

Pembukaan spit 1 dilakukan hingga kedalaman 20 cm dari SDP. Tanah berpasir berwarna kehitaman, tekstur halus sampai sedang. Pada spit ini akar rumput dan umbi-umbian banyak dijumpai. Temuan berupa fragmen tembikar, dan fragmen keramik.

Spit 2 hingga mencapai kedalaman 30 cm. Keadaan tanah berpasir berwarna kehitaman, tekstur sedikit berbeda dengan spit 1 yaitu sedang sampai kasar. Pada sudut barat laut dijumpai fetur humus berwarna hitam. Akar tanaman masih banyak dijumpai namun sudah berkurang. Artefak fragmen keramik ditemukan di sudut tenggara kotak gali.

Spit 3 hingga kedalaman 40 cm. Keadaan tanah berpasir berwarna kehitaman tekstur kasar. Kandungan humus berkurang, akar sudah mulai jarang dijumpai. Hingga kedalaman spit ini temuan berupa fragmen tembikar dijumpai secara sporadis. Arang ditemukan di bagian tenggara kotak gali pada kedalaman 36 cm. Di bagian timur laut ditemukan kerak besi pada kedalaman 39 cm. Di sekitar temuan kerak besi ini tanah berupa pasir putih.

Pada spit 4 kedalaman hingga mencapai 50 cm. Keadaan tanah pada mulanya pasir kehitaman bercampur humus. Akar sudah tidak dijumpai lagi. Pada pertengahan kedalam spit ini tanah mulai berganti pasir putih. Di bagian tenggara, pada pasir berwarna putih ditemukan arang. Temuan artefaktual berupa fragmen tembikar antara lain bagian pegangan kibu. Pada dinding selatan bagian timur pada kedalaman 47 cm terdapat kumpulan fragmen tembikar.

Penggalian spit 5 dilakukan hingga kedalaman 60 cm, tanah bercampur pasir putih dengan tekstur kasar sangat dominan. Temuan berupa fragmen tembikar sedikit ditemukan. Temuan berupa fragmen tembikar terkonsentrasi di sudut tenggara. Di sudut barat laut ditemukan kerak besi. Tumpukan fragmen tembikar yang terdapat di dinding selatan bagian timur yang mulai terlihat pada spit 4 berlanjut hingga spit 5.

Penggalian spit 6 dilakukan setengah kotak yaitu bagian sisi selatan. Kondisi tanah bercampur pasir putih kekuningan. Hingga akhir spit sudah tidak ditemukan benda arkeologis lagi (steril). Spit 6 diakhiri hingga kedalaman 70 cm. Stratigrafi yang terlihat menunjukkan dua lapisan yaitu pada bagian atas tanah hitam pasiran dan di lapisan bawah tanah coklat kemerahan.

- Kotak LU III
Kotak LU III terletak di bagian tengah lahan situs. Penggalian kotak ini dimaksudkan untuk menguji apakah ada jejak aktifitas di bagian tengah lahan situs. Permukaan tanah cenderung rata. Bagian sisi utara kotak lebih tinggi dari sisi selatan. Keadaan permukaan kotak ditumbuhi rumput, setelah dibersihkan terlihat tanah gembur berwarna coklat kekuningan tekstur halus sampai sedang. Pembukaan spit 1 dilakukan hingga kedalaman 20 cm. Tanah gembur berwarna coklat kekuningan merata di seluruh bagian kotak gali. Akar rumput dan pohon sejenis palmae banyak dijumpai, humus sangat sedikit. Pada spit ini temuan artefaktual berupa fragmen tembikar dan keramik.
Spit 2 keadaan tanah masih berwarna coklat kekuningan dengan tekstur halus sampai kasar. Pada spit ini tanah mulai padat. Akar rumput dan pohon jenis palmae masih dijumpai namun sangat sedikit. Temuan artefaktual berupa fragmen tembikar. Pada akhir spit 2 di sisi timur terdapat fragmen keramik. Penggalian dilakukan hingga kedalaman 30 cm.
Spit 3 keadaan tanah banyak mengandung pasir berwarna kecoklatan dengan tekstur kasar. Akar pohon jenis palmae masih dijumpai hingga akhir spit yaitu kedalaman 40 cm. Temuan berupa fragmen tembikar banyak terkonsentrasi di sisi utara kotak gali.
Pada spit 4 keadaan tanah di bagian sudut timur laut hingga sisi timur berwarna coklat kehitaman. Sedang di bagian sudut barat daya hingga sisi barat berwarna coklat kekuningan. Kedua jenis tanah ini agak padat bertekstur kasar. Temuan berupa fragmen tembikar sangat sedikit dijumpai. Penggalian diakhiri hingga mencapai kedalaman 50 cm.

Kotak LU IV
Kotak LU IV terletak di sudut selatan lahan situs. Observasi yang dilakukan pada penelitian terdahulu di lokasi ini banyak menemukan manik-manik dan kerak besi. Penggalian kotak ini diharapkan mendapatkan data tentang aktifitas yang ada hubungannya dengan temuan permukaan. Permukaan tanah cenderung rata. Keadaan permukaan ditumbuhi ilalang yang sangat tinggi. Pembukaan spit 1 dilakukan hingga kedalaman 20 cm. Tanah mengandung pasir berwarna kehitaman. Akar ilalang dan akar pohon kelapa sangat banyak. Keadaan seperti ini berlanjut hingga spit 2. Mula-mula penggalian dilakukan di kuadran IV (sudut barat daya). Benda arkeologis yang ditemukan terdiri fragmen tembikar, fragmen keramik, dan kerak besi. Ketika penggalian dilakukan pada bagian yang lain, keadaan tanah sama. Temuan fragmen tembikar dan fragmen keramik ditemukan lagi di kuadran II (sudut timur laut). Selain itu juga ditemukan lagi kerak besi.

Ekskavasi berlanjut pada spit 3 hingga kedalaman 40 cm. Keadaan tanah berpasir hitam berangsur ke warna kecoklatan. Akar ilalang dan pohon kelapa masih dijumpai. Pada spit ini ditemukan fragmen tembikar dan kerak besi. Pada dinding selatan bagian timur dan bagian sudut tenggara, di akhir spit ditemukan fragmen tembikar dan arang.

Pada spit 4 penggalian dilanjutkan pada kuadran I dan II (bagian utara). Keadaan tanah berpasir warna kecoklatan. Temuan berupa fragmen tembikar dan manik-manik. Di tengah bagian utara ditemukan jejak fetur. Pada fetur tersebut tanah berwarna kehitaman.


ANALISIS TEMUAN
Temuan hasil penelitian setelah dilakukan pemilahan kemudian dianalisis. Pada penelitian kali ini, tujuan analisis temuan untuk mengetahui gambaran aktifitas yang pernah berlangsung dan kapan aktifitas tersebut berlangsung. Analisis terutama ditekankan pada temuan keramik asing. Anaslis keramik pada aspek tipologi dapat untuk mengetahui gambaran aktifitas yang pernah berlangsung, sedangkan pada aspek penanggalan untuk mengetahui kapan aktifitas itu berlangsung.

Ekskavasi di situs Benteng Sabut, Bujung Menggalou menemukan beberapa benda data arkeologis. Temuan hasil ekskavasi terdiri dari temuan artefaktual dan non artefaktual. Temuan artefaktual berupa fragmen alat yang terbuat dari batu, fragmen benda dari besi, fragmen benda dari perunggu, manik-manik, fragmen tembikar, dan fragmen keramik. Fragmen terdiri dari jenis earthenware, stoneware, porselain, dan kaca. Temuan non artefaktual berupa tatal batu, kerak besi, terakota, kulit kemiri (muncang, kemiling), getah damar, dan tulang/gigi.

Temuan hasil ekskavasi dapat memberikan gambaran persebaran baik secara horisontal maupun vertikal. Analisis temuan hasil ekskavasi ditekankan pada artefak keramik. Dari seluruh temuan keramik hasil ekskavasi tidak semuanya dianalisis. Keramik yang terlalu kecil atau kurang menunjukkan atribut kuat tidak dianalisis. Fragmen keramik yang dianalisis seluruhnya berjumlah 189 keping. Jumlah itu, dari kotak LU I sebanyak 117 keping, kotak LU II 24 keping, kotak LU III 8 keping, dan kotak LU IV 40 keping.

Hasil analisis secara tipologis, fragmen dari tipe mangkuk merupakan temuan terbanyak yaitu 109 keping (57,67 %). Di kotak LU I fragmen keramik dari tipe ini ditemukan sebanyak 73 keping (62,39 % dari temuan di kotak LU I atau 38,62 % dari seluruh temuan). Di kotak LU II ditemukan sebanyak 11 keping (45,83 % atau 5,82 %). Di kotak LU III ditemukan 3 keping (37,5 % atau 1,59 %). Di kotak LU IV ditemukan 22 keping (55 % atau 11,64 %).

Tipe selanjutnya adalah guci/tempayan yaitu 37 keping (19,58 %). Di kotak LU I fragmen keramik dari tipe ini ditemukan sebanyak 20 keping (17,09 % dari temuan di kotak LU I atau 10,58 % dari seluruh temuan). Di kotak LU II ditemukan sebanyak 7 keping (29,17 % atau 3,70 %). Di kotak LU III ditemukan 3 keping (37,50 % atau 1,59 %). Di kotak LU IV ditemukan 7 keping (17,50 % atau 3,70 %).

Terbanyak selanjutnya adalah tipe kendi yaitu 15 keping (7,94 %). Fragmen keramik dari tipe kendi hanya ditemukan di kotak LU I. Persentase berdasarkan pada seluruh temuan di kotak tersebut menunjukkan 12,82 %. Fragmen dari tipe cangkir ditemukan sebanyak 3 keping (1,59 %), dari tipe cepuk dan botol masing-masing 2 keping (1,06 %), dan dari tipe piring 1 keping (1,12 %). Selain itu sebanyak 20 keping (10,58 %) tidak dapat teridentifikasi tipologinya.

Analisis pada aspek penanggalan secara relatif diperoleh gambaran dari berbagai jaman yaitu dari Cina masa dinasti Han (awal Masehi hingga abad III), Sui (abad VI – VII), T’ang (abad VII – X), Song (abad X – XIII), Yuan (abad XIII – XIV), Ming (abad XIV – XVII), Qing (abad XVII – XX), Thailand periode Shukothai (abad XIII – XIV), Annam (abad XV), dan Eropa (abad XIX – XX).

Hasil analisis penanggalan keramik menunjukkan bahwa keramik Cina masa dinasti Qing merupakan temuan terbanyak yaitu 32 keping (16,93 %). Temuan ini berasal dari kotak LU I sebanyak 25 keping (21,37 % dari temuan di kotak itu atau 13,22 % dari seluruh temuan) dan di kotak LU IV sebanyak 7 keping (17,5 % atau 3,70 %).

Fragmen keramik Cina masa dinasti Han dan keramik Thailand ditemukan masing-masing sebanyak 29 keping (15,34 %). Keramik Cina masa dinasti Han hanya ditemukan di kotak LU I. Sedang keramik dari Thailand ditemukan di kotak LU I sebanyak 16 keping (13,68 % dari temuan di kotak itu atau 8,47 % dari seluruh temuan). Di kotak LU II ditemukan 7 keping (29,17 % atau 3,70 %). Di kotak LU III ditemukan 1 keping (12,5 % atau 0,53 %). Di kotak LU IV ditemukan 5 keping (12,5 % atau 2,65 %).

Keramik Cina masa dinasti Ming ditemukan sebanyak 26 keping (13,76 %). Fragmen keramik ini di kotak LU I ditemukan sebanyak 14 keping (11,96 % atau 7,41 %). Di kotak LU II ditemukan 2 keping (8,33 % atau 1,06 %). Di kotak LU III ditemukan 1 keping (12,5 % atau 0,53 %). Di kotak LU IV ditemukan sebanyak 9 keping (22,5 % atau 4,76 %).

Keramik Cina masa dinasti Song dan Yuan masing-masing ditemukan 19 keping (10,05 %). Keramik masa dinasti Song di kotak LU I ditemukan sebanyak 10 keping (8,55 % atau 5,29 %). Di kotak LU II ditemukan 6 keping (25 % atau 3,17 %). Di kotak LU III ditemukan 2 keping (25 % atau 1,06 %). Di kotak LU IV ditemukan 1 keping (2,5 % atau 0,53 %). Keramik masa dinasti Yuan, di kotak LU I ditemukan sebanyak 7 keping (5,98 % atau 3,70 %). Di kotak LU II ditemukan 2 keping (1,71 % atau 1,06 %). Di kotak LU III ditemukan 2 keping (25 % atau 1,06 %). Di kotak LU IV ditemukan 8 keping (20 % atau 4,23 %).

Dari masa dinasti T’ang ditemukan sebanyak 11 keping (5,82 %). Fragmen keramik ini hanya ditemukan di kotak LU I. Persentase dari seluruh temuan di kotak itu sebanyak 9,40 %. Keramik dari Cina masa dinasti Sui ditemukan sebanyak 3 keping (1,59 %). Keramik dari Annam ditemukan sebanyak 2 keping (1,06 %). Keramik Eropa ditemukan 1 keping (0,53 %). Selain itu terdapat 18 keping (9,52 %) yang tidak dapat diidentifikasi penanggalannya.


SITUS BENTENG SABUT SEBAGAI PEMUKIMAN
Dalam skala lokal, pemukiman di Benteng Sabut mencirikan satu masyarakat “kota”. Beberapa data hasil ekskavasi memperlihatkan adanya multi subsistensi. Secara umum data yang ditemukan pada beberapa kotak gali menunjukkan kondisi yang sudah teraduk (disturb). Keteradukan secara vertikal diantaranya terlihat dari jejak fetur di kotak LU I dan LU IV. Secara horisontal keteradukan tidak terjadi secara intens. Dari kondisi semacam ini dapat menggambarkan pola keruangannya.

Artefak banyak ditemukan di kotak LU I, LU II, dan LU IV. Lokasi kotak gali ini berada pada bagian dekat tepian sungai. Kondisi ini menggambarkan bahwa pemukiman (rumah) terkonsentrasi pada sisi dekat tepian sungai secara berjajar. Kotak LU III yang berada pada bagian tengah situs, kurang menghasilkan temuan. Bagian ini mungkin merupakan halaman kosong yang fungsinya bagi masyarakat secara komunal (public space).

Berdasarkan analisis tipologis terhadap temuan fragmen tembikar dan keramik menunjukkan bahwa ragam aktifitas masyarakat sangat dominan pada aktifitas rumah tangga. Dalam memenuhi kebutuhan juga terdapat aktifitas industri. Temuan fragmen manik-manik, lelehan bahan manik-manik, dan kerak besi menunjukkan adanya aktifitas industri. Dari temuan yang ada di Benteng Sabut menunjukkan adanya keragaman pola subsistensi. Pola yang demikian ini merupakan salah satu ciri masyarakat kota.

Secara fisik situs Benteng Sabut memang belum dapat dikatakan sebagai kota, yaitu bentuk pemukiman yang dianggap paling maju. Pengertian “kota”, hingga saat ini belum terdapat suatu batasan yang dapat diterapkan secara universal. Pada kebudayaan yang berbeda-beda, elemen-elemen yang berbeda telah digunakan sebagai persyaratan minimum bagi sebuah permukiman untuk dapat disebut sebagai kota (Rapoport, 1986: 22). Sebagai contoh pemukiman jaman pengaruh Islam di Indonesia, sudah dapat dikatakan kota apabila sudah dilengkapi kraton sebagai pusat kekuasaan, masjid sebagai pusat kegiatan ibadah (ritual), dan pasar sebagai pusat kegiatan ekonomi. Dengan demikian keanekaragaman pengertian kota disebabkan pula karena perkembangan zaman yang mengakibatkan terjadinya perubahan.

Max Weber (1977: 13) melalui pendekatan ekonomik melihat “kota” bukan berdasarkan ciri fisik. Suatu pemukiman disebut “kota” bila penduduk lokal memenuhi sebagian besar kebutuhan ekonomi sehari-harinya di pasar lokal, kebanyakan dengan barang komoditas yang dihasilkan dengan berbagai cara oleh penduduk setempat atau daerah pemangku terdekat. Pasar lokal merupakan pusat ekonomi bagi koloni. Berkat ada kegiatan ekonomi maka penduduk kota maupun luar kota memenuhi kebutuhannya akan barang perdagangan. Bila hal itu merupakan suatu konfigurasi yang berlainan dengan pemukiman kecil, maka wajar bila kota menjadi tempat tinggal tuan tanah atau bangsawan. Melalui pendekatan ini tampak bahwa kota merupakan pusat dua hal yaitu oikos (rumah) dan pasar. Kota selain sebagai pasar biasa, pada waktu-waktu tertentu berfungsi pula sebagai pasar barang dari luar (asing) bagi saudagar perantau.

Berkaitan dengan dua hal yaitu oikos dan pasar, Benteng Sabut menurut cerita sejarah merupakan oikos bagi tokoh-tokoh diantaranya Minak Kemala Kota. Para pendatang kemudian membangun tempat tinggal di sekitarnya. Minak Ratu Guruh Malay bertempat tinggal di Bujung Malay. Sedang Prajurit Puting Gelang bertempat tinggal di Umbul Lebung. Benteng Sabut sebagai pusat pasar selain dari ragam artefak asing yang ditemukan terlihat juga dari berita asing. Berdasarkan data berita asing terutama dari Portugis, kawasan Tulangbawang terkenal dengan hasil hutannya di antaranya getah damar (Cortesão, 1967: 158-159). Sebutan Tulangbawang sangat mungkin untuk Benteng Sabut. Temuan beberapa fragmen tembikar yang didalamnya terdapat jejak getah damar, sesuai dengan keterangan dalam sumber sejarah tersebut.

Sebagai masyarakat kota, di Benteng Sabut terdapat jejak aktifitas industri. Adanya kerak besi menunjukkan bahwa industri logam sudah dikenal masyarakat penghuni Benteng Sabut. Pemenuhan kebutuhan akan manik-manik juga sudah dapat diatasi dengan cara diproduksi. Lelehan kaca dan manik-manik tidak sempurna menunjukkan limbah produksi manik-manik.

Aspek penting yang dapat tergambar dari hasil ekskavasi adalah penanggalan situs. Fragmen keramik selain dapat dilacak mengenai tipologinya, juga dapat diketahui negara pembuat dan masa pembuatannya. Ciri utama yang dapat dipakai untuk menentukan asal dan pertanggalan keramik adalah jenis bahan dasar, warna bahan dasar, pola hias, teknik hias, warna glasir, jejak pembakaran, dan ciri-ciri bentuk (Mc. Kinnon, 1996: 61). Dari seluruh kotak gali, secara umum didapatkan keramik sejak dari masa dinasti Han hingga dinasti Qing. Karena pada bagian atas keteradukan sangat tinggi, maka sulit untuk memastikan penanggalannya. Namun berdasarkan kuantitas artefak keramik yang ditemukan menunjukkan adanya dua fase yaitu fase pertama pada masa Han. Fase kedua intensif lagi pada masa T’ang, Song, Yuan, Ming, hingga Qing. Sedikitnya temuan keramik dari masa Sui menunjukkan bahwa pada masa itu di Benteng Sabut mengalami kemunduran. Cerita sejarah yang hidup di masyarakat sekarang ini berkisar pada fase kedua. Putusnya emosi masyarakat dengan peristiwa sejarah pada fase pertama menunjukkan adanya masa kemunduran.


SIMPULAN
Situs Benteng Sabut (Bujung Menggalou) merupakan situs pemukiman yang sudah kompleks. Secara fisik pola keruangan situs menunjukkan adanya deretan tempat tinggal yang berada di sisi tepi sungai yang dilengkapi public space. Tempat tinggal membelakangi sungai menghadap ke bagian public space. Masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya sudah mengenal sektor industri.

Sebagai pemukiman, situs Benteng Sabut (Bujung Menggalou) berkenaan dengan oikos dan pasar. Peranannya dalam aspek tempat tinggal dikenal adanya beberapa tokoh sentral misalnya Minak Kemala Kota. Dalam kaitannya dengan pasar, daerah ini sudah menjalin hubungan perdagangan hingga kawasan regional.

Keberlangsungan aktifitas masa lalu di Benteng Sabut terjadi dalam dua fase. Fase pertama berkisar pada abad ke-3 dan fase kedua pada abad ke-7 – 17. Di antara kedua fase ini terdapat masa kemunduran.



KEPUSTAKAAN

Anonim. 2000. Uraian Ringkas Bagian Proyek Irigasi Way Rarem. Proyek Irigasi Lampung.

Anonim. 2003. Selayang Pandang Kabupaten Tulang Bawang. Menggala: Bagian Humas dan Komunikasi Setdakab Tulang Bawang.

Cortesão, Armando. 1967. The Suma Oriental of Tomé Pires. Nendelnd iechtenstein: Kraus Reprin Limited.

Max Weber. 1977. ”Apakah Yang Disebut Kota” terj. Darsiti Soeratman dan Amin Soendoro. Dalam Sartono Kartodirdjo (ed.) Masyarakat Kuno dan Kelompok-kelompok Sosial. Jakarta: Bhratara Karya Aksara. Hlm. 11 – 42.

McKinnon, E Edwards. 1996. Buku Panduan Keramik. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

Rapoport, Amos. 1986. “Tentang Asal-usul Kebudayaan Permukiman”. Dalam Anthony J. Catanese, (et al.). Pengantar Sejarah Perencanaan Perkotaan. Bandung: Intermedia. Hlm. 21 – 44.

Saptono, Nanang. 2000. “Pemukiman Pada Masa Islam di Kawasan Way Kiri, Tulangbawang”. Dalam Edy Sunardi dan Agus Aris Munandar (ed.) Rona Arkeologi. Bandung: Ikatan Ahli Arkeologi ndonesia. Hlm. 129 – 152.

Saptono, Nanang. 2002. “Hubungan Fungsional Situs Benteng Sabut, Benteng Prajurit Putinggelang, dan Keramat Gemol”. Dalam Agus Aris Munandar (ed.) Jelajah Masa Lalu. Bandung: Ikatan Ahli Arkeologi ndonesia. Hlm. 86 – 1001.

Sumadio, Bambang. 1990. Jaman Kuna, Sejarah Nasional Indonesia II. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Wiryomartono, A. Bagoes P. 1995. Seni Bangunan dan Seni Binakota di Indonesia. Kajian Mengenai Konsep, Struktur, dan Elemen Fisik Kota Sejak Peradaban Hindu-Buddha, Islam Hingga Sekarang. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.


Catatan:
Tulisan ini diterbitkan di buku berjudul "Mozaik Arkeologi", hlm. 97 - 110. Editor: Dr. Agus Aris Munandar. Bandung: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia, 2003.

Menjelajah sepanjang Way Sekampung


PENENTUAN PERIODE SITUS PUGUNGRAHARJO

BERDASARKAN GAYA BANGUNAN



Endang Widyastuti


PENDAHULUAN
Situs Pugungraharjo merupakan komplek kepurbakalaan yang menarik untuk dikaji. Situs tersebut diketahui pertama kali pada tahun 1957 dengan ditemukannya sebuah arca, yang oleh masyarakat disebut “putri Badariah”. Namun penelitian di daerah ini baru dimulai pada tahun 1968 oleh Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional. Selanjutnya secara berturut-turut pada tahun 1975 dan 1977 Pusat Penelitian Purbakala dan Peninggalan Nasional mengadakan survei di daerah tersebut. Kegiatan penelitian yang lebih intensif di situs Pugungaharjo dimulai pada tahun 1980 oleh tim yang diketuai oleh Haris Sukendar. Selain kegiatan penelitian, juga telah dilaksanakan kegiatan pemugaran oleh Direktorat Sejarah dan Purbakala yang dimulai pada tahun 1977.

Dari penelitian-penelitian tersebut dapat diidentifikasi bahwa situs Pugungraharjo merupakan suatu komplek yang dikelilingi benteng tanah dan parit. Sejumlah temuan yang terdapat di dalam dan di luar benteng berupa batu berlubang, batu bergores, kompleks “batu mayat”, batu lumpang, dan punden berundak. Berdasarkan hasil penelitian, para ahli ada yang menyimpulkan bahwa situs Pugungraharjo berasal dari masa prasejarah dan ada pula yang menyimpulkan berasal dari masa klasik.

Dalam kajian ini akan dicoba untuk dilakukan penentuan periode situs Pugungraharjo berdasarkan gaya bangunan. Tinggalan arkeologis yang diamati adalah Punden VI atau punden terbesar yang terdapat di situs Pugungraharjo.

Sesuai dengan tujuan tersebut di atas, dalam kajian ini diterapkan tipe penelitian eksplanatif dengan pendekatan studi interpretatif dan teoritik. Dalam tipe penelitian ini unsur utamanya adalah penjelasan. Dengan demikian terdapat pula di dalamnya hipotesis dan teori. Hanya saja perhatian lebih diarahkan pada upaya untuk melahirkan interpretasi baru guna meningkatkan derajat keterdukungan teori (Kusumohartono, 1987: 19 –20; Gibbon, 1984: 81 – 82).

Menurut Haris Sukendar tinggalan-tinggalan arkeologis di situs Pugungraharjo sebagian besar berada di dalam benteng. Demikian pula temuan-temuan artefaktual berupa pecahan gerabah, keramik, manik-manik dan lain-lain. Sedangkan bagian di luar benteng tidak menghasilkan suatu temuan arkeologis. Dengan demikian disimpulkan bahwa keaktifan kehidupan masyarakat berada di dalam benteng. Selanjutnya Haris Sukendar menyatakan bahwa berdasarkan bentuk bangunan teras berundak di Pugungraharjo tampaknya mengacu kepada bentuk gunung yang dianggap tempat suci, fungsinya berkaitan dengan pemujaan arwah (Sukendar, 1996/1997: 5 – 6). Dari data tersebut Haris Sukendar cenderung mengatakan bahwa situs Pugungraharjo merupakan situs yang berasal dari masa tradisi megalitik (Sukendar, 1979).

Sementara itu dengan adanya temuan arca, Endang Sh. Soekatno menyatakan bahwa berdasarkan jenis sikap tangan (mudra) arca tersebut menggambarkan salah satu tokoh tantrisme. Sehingga disimpulkan bahwa situs Pugungraharjo merupakan salah satu contoh tradisi megalitik yang berkembang pada masa sesudah prasejarah (Soekatno, 1985: 166).

Rita Istari yang mengadakan penelitian tentang manik-manik Kemiling menyimpulkan bahwa situs Pugungraharjo berasal dari masa setelah berkembangnya tradisi megalitik, bahkan kemungkinan sejaman dengan kerajaan Majapahit. Kesimpulan ini diajukan berdasarkan adanya temuan berupa manik-manik dalam jumlah yang cukup banyak. Manik-manik tersebut ditemukan bercampur dengan kelintingan kecil yang terbuat dari bahan perunggu. Temuan manik-manik dan kelintingan kecil tersebut terkonsenrasi di bagian tengah teras berundak (Istari, 1996: 25 – 31). Kemungkinan mengenai umur bangunan ini didukung pula dengan adanya temuan berupa batu tufa berangka tahun 1247 çaka. Batu tufa tersebut merupakan salah satu temuan permukaan yang ditemukan bersama dengan manik-manik.


DESKRIPSI SITUS
Situs Pugungraharjo menempati areal seluas kurang lebih 30 ha. Di sebelah selatan situs terdapat aliran sungai Pugung yang menjadi batas situs. Areal situs terbagi menjadi 3 bagian dengan adanya benteng yang terbuat dari tanah. Lebar benteng tanah tersebut kurang lebih 5 m, sedangkan tingginya 2 – 3 m. Di bagian luar benteng terdapat parit yang lebarnya 3 – 5 m. Di beberapa tempat pada benteng ini terdapat jalan masuk.

Bagian pertama berada pada bagian paling barat. Sisi utara bagian pertama ini dibatasi oleh adanya benteng tanah yang membujur ke arah timur laut kemudian membelok ke arah tenggara. Benteng tersebut kemudian membelok lagi ke arah selatan sampai pertemuan dengan sungai. Bagian kedua situs terdapat di sebelah timur bagian pertama. Bagian kedua ini juga dibatasi oleh adanya benteng tanah yang membujur ke arah timur. Benteng tanah tersebut kemudian membelok ke selatan. Bagian ketiga dari areal situs tersebut terdapat di bagian paling timur. Bagian ini tidak dibatasi oleh adanya benteng tanah.

Komplek Batu Mayat di situs Pugungraharjo


Tinggalan-tinggalan arkeologis yang terdapat di situs Pugungraharjo ini terdiri dari bermacam-macam bentuk, diantaranya berupa batu berlubang, batu bergores, lumpang batu, menhir, dan punden berundak. Tinggalan arkeologis yang terdapat pada bagian pertama berupa batu berlubang, batu bergores, dan punden berundak. Pada bagian kedua terdapat susunan menhir dan batu altar yang membentuk denah segi empat. Pada salah satu menhir terdapat pahatan yang membentuk garis melingkar di kedua ujungnya. Sedangkan pada salah satu batu altar terdapat pahatan yang membentuk huruf T. Susunan menhir dan batu altar ini disebut dengan kompleks batu mayat. di sebelah timur dan selatan kompleks batu mayat terdapat punden berundak. Tinggalan arkeologis yang terdapat pada bagian paling timur dari situs pugungraharjo berupa batu berlubang, batu bergores, batu lumpang, dan punden berundak. Salah satu punden berundak yang terdapat di bagian ini merupakan punden terbesar yang akan menjadi pokok bahasan pada kajian ini. Selain itu, di sebelah selatan dari punden terbesar tersebut terdapat punden arca. Pada punden ini pernah ditemukan sebuah arca yang sekarang tersimpan di rumah informasi situs Pugungraharjo.

Arca yang ditemukan di Punden VII


Punden terbesar di situs Pugungraharjo dikenal dengan nama Punden VI. Punden VI berdenah bujur sangkar berukuran 12 x 12 m, sedangkan tingginya sekitar 7 m. Punden ini terdiri dari 3 teras yang makin keatas makin kecil ukurannya. Batas antara masing-masing teras diperkuat dengan batu-batu kali. Di sekeliling punden terdapat parit kecil. Pada bagian tengah keempat sisi punden terdapat jalan masuk dengan lebar sekitar 2 m. Jalan masuk ini menjorok keluar dan hanya sampai pada teras yang pertama. Di sisi kiri dan kanan jalan masuk terdapat semacam pipi tangga. Pada ujung sisi kiri dan kanan jalan masuk terdapat batu yang diletakkan menyerupai makara.

Punden VI di situs Pugungraharjo


PEMBAHASAN
Tinggalan arkeologis yang akan dibahas dalam kajian ini adalah punden berundak di situs Pugungraharjo. Pada masa prasejarah punden berundak dihubungkan dengan pemujaan arwah leluhur. Punden berundak dapat diidentifikasikan sebagai gunung yaitu tempat keramat yang dianggap merupakan tempat arwah leluhur (Soejono, 1990: 327).

Pada masa pengaruh agama Hindu dan Buddha, bentuk bangunan punden berundak ini masih tetap digunakan. Bentuk bangunan dari tradisi megalitik ini mengilhami bentuk dasar bangunan candi (Soejono, 1990: 209). Candi-candi yang menyerupai punden berundak, berdasarkan bentuknya ada yang membelakang dan ada pula yang memusat. Candi yang membelakang misalnya candi Sukuh, Candi Cetha, dan Candi Jago. Pada candi-candi tersebut bagian yang paling sakral berada paling belakang. Sedangkan candi yang memusat misalnya Candi Borobudur. Bangunan Candi Borobudur disusun seperti limas berundak, terdiri atas sepuluh tingkat yang semakin ke atas semakin kecil ukurannya. Pada dasarnya bangunan candi Borobudur secara vertikal dibagi menjadi 3, yaitu bagian bawah, bagian tengah, dan bagian atas. Bagian bawah yang merupakan kaki bangunan berdenah bujur sangkar dengan penampil-penampil pada pertengahan tiap sisinya. Bagian tengah candi merupakan tubuh bangunannya, terdiri dari 5 tingkat yang semakin ke atas semakin kecil ukurannya. Sedangkan bagian atas candi berupa batur bersusun tiga yang ukurannya semakin ke atas semakin mengecil. Di atas batur yang tertinggi terdapat mahkota berupa sebuah stupa. Bagian atas candi berdenah bundar (Ibrahim dan Chaerosti, 1996/1997: 3 – 4). Secara simbolis ketiga bagian ini melambangkan Kamadhatu (dunia hasrat), Rupadhatu (dunia rupa), dan Arupadhatu (dunia tanpa rupa).

Bangunan punden berundak di situs Pugungraharjo yang dibahas dalam kajian ini adalah Punden VI. Bentuk dasar Punden VI menyerupai Candi Borobudur, yaitu berdenah bujur sangkar dengan penampil pada pertengahan keempat sisinya. Punden VI terdiri dari 3 teras yang makin ke atas makin kecil ukurannya.

Penelitian-penelitian di situs Pugungraharjo juga menghasilkan temuan-temuan artefaktual, yaitu keramik, gerabah dan manik-manik. Penelitian yang dilakukan pada punden di Dukuh Kemiling diantaranya menemukan manik-manik. Manik-manik tersebut ditemukan terkonsentrasi di tengah punden berundak bercampur dengan kelintingan kecil yang terbuat dari bahan perunggu. Pada beberapa situs prasejarah, manik-manik biasanya ditemukan bersama-sama dengan rangka manusia atau sebagai bekal kubur. Manik-manik hasil ekskavasi di punden Kemiling tidak ditemukan bersama dengan rangka manusia. Rita Istari yang mengadakan penelitian tentang manik-manik tersebut berpendapat bahwa dengan tidak adanya rangka manusia, maka manik-manik dari Dukuh Kemiling berfungsi sebagai sarana upacara yang bukan penguburan. Kemungkinan manik-manik bersama dengan kelintingan ditaburkan di tengah punden berundak dengan sengaja. Selain manik-manik, di lokasi tersebut juga ditemukan batu tufa yang berangka tahun 1247 çaka. Berdasarkan adanya temuan berupa manik-manik dalam jumlah yang cukup banyak dan batu berangka tahun, disimpulkan bahwa situs Pugungraharjo berasal dari masa setelah berkembangny a tradisi megalitik, bahkan kemungkinan sejaman dengan kerajaan Majapahit (Istari, 1996: 29 - 30).

Temuan artefaktual yang juga terdapat di situs Pugungraharjo adalah sebuah arca yang ditemukan di Punden VII atau punden arca. Arca yang ditemukan di Pugungraharjo ini menggambarkan seorang tokoh laki-laki dalam sikap duduk bersila, yaitu dalam sikap Vajrasana. Tokoh ini digambarkan duduk di atas padmasana ganda yang berbentuk bulat. Pada bagian belakang padmasana ini terdapat bingkai yang menonjol, berhias motif sulur. Pada arca ini tidak terdapat stela atau sandaran arca. Sikap tangan atau mudra digambarkan telunjuk kiri mengarah ke atas, telunjuk kanan dibengkokkan di atas telunjuk kiri, jari-jari tangan yang lain dilipat. Kedua telapak tangan berada di depan dada. Sikap tangan atau mudra seperti ini belum pernah ditemukan sebelumnya. Sikap mudra yang paling dekat dengan arca ini adalah naivedyamudra yaitu mudra yang diilhami sikap yang biasa digunakan oleh para penganut aliran tantrisme dalam memberikan persembahan. Berdasarkan ciri-cirinya, Endang Sh. Soekatno menduga bahwa arca Pugungraharjo tersebut menggambarkan salah satu tokoh Tantrisme. Arca tersebut berasal dari periode Jawa Timur, sebelum jaman Majapahit sekitar abad XII – XIII (Soekatno, 1985: 165 - 166).

Di Candi Borobudur juga terlihat adanya pengaruh Tantrayana. Unsur Tantrayana tersebut dinyatakan dalam arca-arca Pancatathagata. Melalui penempatan arca-arca Pancatathagata dalam susunan yang memagari semua relief yang menyampaikan ajaran Paramita, disimpulkan bahwa Candi Borobudur juga menitikberatkan pada ajaran Tantrayana (Sulistya, 1985: 52).

Di daerah Sumatra aliran Tantrayana juga pernah berkembang. Bukti adanya aliran Tantrayana tersebut terdapat pada Biaro Bahal yang terletak di Padang Lawas. Biaro-biaro di Padang Lawas berdenah bujur sangkar, pada bagian kakinya dilengkapi dengan pipi tangga yang pada ujungnya terdapat makara.

Adanya aliran Tantrayana di Biaro Bahal ditunjukkan dengan adanya arca Heruka dari Biaro Bahal II yang menunjukkan sifat keraksasaan, sebuah arca kecil yang mewujudkan seorang Bhairawi, dan dua buah arca yang mewujudkan seorang laki-laki dan seorang perempuan yang bersifat bhairawa-bhairawi. Adanya aliran Tantrayana di Padang Lawas juga terlihat pada dua buah prasasti, yaitu prasasti dari Tandihet dan prasasti dari Aek Sangkilon. Prasasti dari Tandihet berisi bunyi suara tertawa, sedangkan prasasti dari Aek Sangkilon berisi tentang upacara terhadap sebuah arca Yamari. Yamari adalah salah satu dewa yang terpenting dalam aliran Tantrayana (Suleiman, 1985: 23 – 37).

Punden di situs Pugungraharjo tidak dilengkapi dengan relief. Tetapi bentuk dasar bangunan Punden VI menunjukkan persamaan dengan bentuk dasar beberapa candi, yaitu berdenah bujur sangkar dan terdiri dari teras-teras berundak. Teras-teras tersebut makin ke atas makin mengecil. Pada teras paling bawah terdapat jalan masuk yang di kiri dan kanannya terdapat semacam pipi tangga. Pada ujung pipi tangga terdapat batu meruncing ke atas yang berbentuk seperti makara. Aliran Tantrayana di situs Pugungraharjo terlihat dengan adanya temuan arca dengan sikap tangan naivedyamudra.


KESIMPULAN
Berdasarkan perbandingan dengan beberapa candi, Punden VI di situs Pugungraharjo mempunyai persamaan dengan bentuk dasar candi Borobudur dan Biaro Bahal di Padang Lawas yaitu berdenah bujur sangkar. Bentuk bangunan berupa teras berundak yang makin ke atas makin mengecil. Pada bagian kaki terdapat jalan masuk yang diapit oleh semacam pipi tangga. Pada ujung pipi tangga tersebut terdapat batu yang diletakkan sedemikian rupa sehingga menyerupai makara. Dengan demikian disimpulkan bahwa punden berundak di situs Pugungraharjo berasal dari masa pengaruh Hindu-Buddha. Sedangkan aliran yang melatarinya adalah aliran Tantrayana. Kesimpulan mengenai periodesasi ini selaras dengan hasil analisis manik-manik yang ditemukan di Punden situs Kemiling, serta didukung oleh temuan batu bertuliskan angka tahun 1247 çaka dan temuan arca di Punden VII atau punden arca.



KEPUSTAKAAN

Gibbon, Guy. 1984. Anthropological Archaeology. New York: Columbia University Press.

Ibrahim, Maulana dan Linda Chaerosti. 1996/1997. Borobudur Dalam Data. Jakarta: Proyek Pengembangan Media Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Istari, TM Rita. 1996. “Sekilas Tentang Manik-manik Kemiling, Pugungraharjo, Lampung Tengah”. Dalam Berkala Arkeologi Tahun XVI (1) Mei 1996. Yogyakarta: Balai Arkeologi Yogyakarta.

Kusumohartono, Bugie. 1987. “Eksloratif-Deskriptif-Eksplanatif dalam Kajian Arkeologi Indonesia”. Dalam Berkala Arkeologi VIII (2) September 1987. Yogyakarta: Balai Arkeologi Yogyakarta.

Soejono, RP (ed.) 1990. “Jaman Prasejarah di Indonesia”. Sejarah Nasional Indonesia I. Jakarta: Balai Pustaka.

Soekatno, Endang Sh. 1985. “Catatan Tentang Arca dari Masa Klasik dari Pugungrahardjo, Lampung”. Dalam Rapat Evaluasi Hasil Penelitian Arkeologi II. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

Sukendar, Haris. 1979. “Laporan Penelitian Kepurbakalaan Daerah Lampung” Berita Penelitian Arkeologi No. 20. Jakarta: Proyek Penelitian dan Penggalian Purbakala.

--------, 1996/1997. Album Tradisi Megalitik di Indonesia. Jakarta: Proyek Pengembangan Media Kebudayaan .

Suleiman, Satyawati. 1985. “Peninggalan-Peninggalan Purbakala di Padang Lawas”. Dalam Amerta No 2. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

Sulistya, Bambang. 1985. “Pengaruh Tantrayana di Kawasan Nusantara”. Dalam Berkala Arkeologi VI (2) September 1985. Yogyakarta: Balai Arkeologi Yogyakarta.


Catatan: Tulisan ini diterbitkan di buku berjudul “Cakrawala Arkeologi”, hlm. 127 – 134. Editor Dr. Fachroel Aziz dan Dra. Etty Saringendyanti W, M. Hum. Bandung: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia, 2000.

06 Maret 2009

Peninggalan Purbakala di Sekitar Dam Way Rarem


TATA LETAK PEMUKIMAN DI SITUS BENTENG MAJAPAHIT, ABUNG TENGAH, LAMPUNG UTARA


Nurul Laili


Sari

Pemukiman di Situs Benteng Majapahit, Abung Tengah, Lampung Utara merupakan pemukiman yang berbenteng dan berparit. Secara spesifik pemukiman ini mempunyai 3 area yang masing-masing ruang dibatasi oleh benteng dan parit. Secara pertanggalan ketiga area tidak berbeda.


Abstract

Fort Majapahit sites in Middle Abung North Lampung represent settlement that have fort and ditch. Specifically these settlements have 3 area in which each area are bordered by fort and ditch. All area is from same dating period.

Kata kunci: tata letak, pemukiman, dan benteng


Pendahuluan
Secara administratif, Benteng Majapahit termasuk wilayah Kampung Pekurun, Kecamatan Abung Tengah, Kabupaten Lampung Utara, Provinsi Lampung. Secara geografis, kawasan situs Benteng Majapahit dikelilingi benteng tanah dan sungai. Situs ini terletak di sebelah utara Waduk Rarem, sebelah barat laut sipon (pintu air) I irigasi Way Rarem, Tulung Areng, dan Way Bangik. Way Rarem merupakan sungai utama di lokasi ini mengalir di sebelah timur laut. Aliran Way Rarem dari barat laut ke tenggara. Sebelah barat Way Rarem terdapat sungai kecil yang disebut Tulung Areng. Sungai ini mengalir di sebelah barat dan utara situs. Di sebelah timur situs terdapat aliran Way Bangi yang mengalir dari tenggara ke barat laut. Ketiga sungai tersebut menyatu bermuara di sebelah timur laut situs.

Keberadaan situs Benteng Majapahit pertama kali disurvei oleh Tim Balai Arkeologi Bandung tahun 2003. Penelitian di situs Benteng Majapahit merupakan rangkaian dari penelitian tentang pemukiman Benteng di Kampung Gunungkatun Tanjungan dan Gunungkatun Malay Kecamatan Tulangbawang Udik, Kabupaten Tulangbawang, Provinsi Lampung dan pada tahun 2005 situs Benteng Majapahit ini dilakukan penelitian secara lebih mendalam.


Berdasarkan dari analisis artefak yang dilakukan, khususnya untuk tembikar dan keramik asing, menunjukkan adanya indikasi pemukiman. Identifikasi bentuk tembikar yang telah dilakukan menunjukkan bentuk wadah yang dipergunakan sehari-hari. Wadah tersebut adalah periuk, mangkuk, pasu, kendi, dan tempayan (Laili, 2006:103-108).


Data yang diperoleh dari analisis keramik asing menunjukkan benda-benda yang dipergunakan untuk keperluan sehari-hari, seperti piring, mangkuk, tempayan, sendok, vas, tutup, cepuk, cangkir, dan guci. Berdasarkan hasil analisis pada aspek penanggalan, keramik Cina masa dinasti Ming dan Qing, keramik Thailand, serta keramik Eropa merupakan keramik yang banyak ditemukan di situs tersebut. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa aktifitas masyarakat di Benteng Majapahit berlangsung sekitar abad ke-16 hingga abad ke-19 (Saptono, 2006: 10-12).


Data yang menarik di situs Benteng Majapahit adalah keberadaan situs yang terbagi menjadi tiga area. Masing-masing area tersebut dibatasi dengan adanya benteng parit. Hal yang akan dikedepankan dalam tulisan ini adalah bagaimana tata letak pemukiman di situs Benteng Majapahit.


Penelitian yang dilakukan meliputi keseluruhan lahan situs Benteng Majapahit. Penelitian bertipe eksploratif dan deskriptif dengan mengikuti pola penalaran induktif. Sejalan dengan metode eksploratif maka penelitian dilakukan dengan berlandaskan pada seluruh data guna mempertajam permasalahan, selanjutnya dilakukan pendeskripsian, analisis dan interpretasi data.



Gambaran Situs Benteng Majapahit
Istilah Benteng Majapahit, menurut Raja Pekurun, Tuanku Akan Pangeran mengacu pada nama pohon mojo yang rasanya pahit situs Benteng Majapahit merupakan lahan perkebunan lada. Lokasi situs berdasarkan peta topografi lembar 23 Daerah Kotabumi berada pada poisisi 04° 55’ 13,3” LS dan 104° 46’ 30” BT. Lahan situs Benteng Majapahit luasnya sekitar 900 meter persergi. Situs Benteng Majapahit terbagi dalam 3 lahan, yaitu:


Lahan I
Lahan sektor I merupakan lahan yang terdapat menhir. Menhir terletak di sebelah utara benteng kedua, kurang lebih pada pertengahan lahan. Jarak menhir dengan benteng berkisar 2 meter. Bentuk menhir tidak beraturan, berpenampang pipih pada bagian bawah melebar. Ukuran menhir adalah tinggi 90 cm, tebal 34 cm, dan lebar 70 cm. Di sekitar menhir diperoleh batu-batu bulat melingkar yang belum lama merupakan penataan Pak Usman (penduduk setempat). Batu-batu tersebut diperoleh dari areal lahan di situs benteng Majapahit dengan kondisi berserakan.

Menhir di situs Benteng Majapahit (dok. Balai Arkeologi Bandung)

Lokasi sektor I merupakan lahan yang paling dekat dengan muara juga tempat bertemunya empat sungai. Di sebelah barat sektor I terdapat lahan yang landai ke arah Tulung Areng. Tempat ini merupakan tempat yang memungkinkan untuk dipergunakan sebagai pintu masuk ke areal lahan Benteng Majapahit.



Lahan II
Benteng ke dua dengan lebar parit hingga mencapai sekitar 7 meter. Gundukan tanah terlihat di kedua sisi. Gundukan tanah tidak terlalu tinggi hanya sekitar 50-75 cm, sedang kedalaman parit hanya sekitar 75 cm. Pada ujung tenggara, yaitu pertemuan dengan benteng pertama, kedalaman parit hingga mencapai sekitar 6 meter.

Di dalam benteng kedua terdapat lahan yang disebut dengan sektor II. Sektor II merupakan lahan yang hampir sebagian besar ditanami lada. Data arkeologi yang diperoleh di sektor II selain artefak juga fitur berupa tumulus (gundukan tanah). Tumulus yang ada diberi kode T 4. Diameter yang dimilki T 4 adalah 3,5 meter, sedangkan tingginya hanya 30 cm, bahkan di sisi-sisnya hampir rata dengan tanah. Kondisi saat ini tumulus terdapat batu-batu bulat kecil yang melingkarinya. Lahan II merupakan lahan yang hampir sebagian besar ditanami lada. Data arkeologi yang diperoleh di sektor II selain artefak juga fitur berupa tumulus (gundukan tanah).



Lahan III
Sektor III merupakan lahan yang terdapat tumulus. Lahan ini membentang timur laut-barat daya. Tumulus yang ada di sektor III berjumlah 3 tumulus. Lahan di sektor III dikelilingi parit benteng dan sungai.

Benteng parit yang ada membentang arah barat daya – timur laut. Benteng parit ini berada di sebelah utara lahan sektor III. Benteng terlihat di kedua sisi parit setinggi sekitar 90 cm dan kedalaman parit sekitar 170 cm. Lebar parit rata-rata 1 hingga 1,5 meter. Pada ujung barat daya benteng parit terdapat tebing yang membentang ke tepi Tulung Areng. Bentangan tersebut selebar sekitar 25 meter ke tepi Tulung Areng. Benteng parit ini terus membentang ke timur laut yang kemudian menyatu pada sudut timur laut dengan benteng parit kedua. Pada ujung timur laut benteng ini juga berbelok ke tenggara, sebagai batas sebelah timur dari lahan sektor III. Benteng yang terdapat di sisi timur lahan terdiri dari benteng tanah saja. Benteng ini semakin ke tenggara cenderung rata dengan tanah. Lahan di sisi benteng semakin rendah membentuk tebing ke arah Way Bangi.




Denah Situs Benteng Majapahit, Pekurun, Lampung Utara
(sumber: Balai Arkeologi Bandung)


Tata Letak Pemukiman Situs Benteng Majapahit

Clarke (1977) membedakan keruangan arkeologi dalam 3 tingkat ruang, mikro, semimikro, dan makro. Selanjutnya Mundardjito (1990) menegaskan bahasan ketiga tingkat ruang. Tingkat mikro, pola yang dipelajari berkenaan dengan persebaran ruang dan hubungan antarruang di dalam satu bangunan, serta hubungan antara unsur-unsur bangunan dengan komponen-komponen lingkungan alam. Dalam tingkat semimikro atau meso dipelajari persebaran dan hubungan antara bangunan-bangunan di dalam sebuah situs, seta persebaran dan hubungan antara bangunan-banguanan dengan kondisi lingkungan dan sumber daya alam. Tingkat makro mempelajari persebaran dan hubungan antar situs dalam satu wilyah, serta persebaran dan hubungan antara sirus-situs dengan kondisi lingkungan. Dengan demikian, penelitian ini satuan-satuannya masuk dalam permukiman tingkat meso (semimikro) (Mundardjito, 1990: 21-26).

Pola permukiman tingkat mikro dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain mata pencaharian, bahan bangunan, lingkungan, ketrampilan dan teknologi, struktur keluarga, kekayaan dan pangkat, pranata sosial lain dan kebutuhan khusus, spesialisasi produksi, kepercayaan agama, dan pranata sosial. Adapun pola permukiman tingkat semimikro, faktor yang mempengaruhi antara lain lingkungan dan teknologi mata pencaharian, organisasi keluarga dan kekerabatan, kelompok kelas, agama, dan etnik, spesialisasi, nilai dan orientasi, serta kosmologi. Sedang pada tingkat makro faktor yang mempengaruhi antara lain: sumber alam, perdagangan, organisasi politik, peperangan, agama, citarasa dan simbolik, serta migrasi dan perubahan populasi (Mundardjito, 1990: 21-26).


Perilaku manusia dalam menentukan lokasi tinggalnya tidak akan acak akan tetapi mengikuti zona-zona tertentu (Parson, 1972:134-135). Demikian halnya dalam pembagian ruang menurut Watson et. al, (1971) dan Fagan (1981) untuk hunian pun tidak acak dan teratur. Keteraturan itu juga mencerminkan pola pembagian ruang, sehingga hubungan antara manusia dan ruang dimana mereka berinteraksi, dapat terungkapkan (Eriawati, 1997: 64-65).


Pemukiman situs Benteng Majapahit merupakan pemukiman di daerah aliran sungai. Situs dikelilingi sungai, kecuali di sisi barat. Ketiga sungai tersebut juga sebagai batas wilayah situs secara menyeluruh. Bentang lahan situs memenuhi syarat sebagai suatu pemukiman. Situs dengan luas 900 meter persegi mempunyai permukaan tanah relatif datar. Posisi situs juga berada lebih tinggi dari sungai karenanya situs relatif aman. Pendukung situs dapat dengan leluasa memperhatikan pendatang yang datang dari arah sungai.


Muara di sebelah timur laut situs Benteng Majapahit
(Dok. Balai Arkeologi Bandung)

Situs Benteng Majapahit sebagai sebuah pemukiman mempunyai karakteristik khas. Selain sungai sebagai batas situs, di dalam situs juga terbagi lagi menjadi 3 area (lahan). Ketiga area tersebut dibatasi oleh benteng dan parit.

Tata letak pemukiman di situs Benteng Majapahit terbagi menjadi 3 area (lahan), yaitu

  1. Area (lahan) 1 terletak dekat muara serta sebagai pintu masuk situs. Lahan ini dicirikan dengan fitur menhir.
  2. Area (lahan) 2 terletak di antara lahan I dan III. Lahan dicirikan dengan satuu tumulus (punden) yang sudah mengalami erosi. Tumulus ini menurut etnohistori dipercaya sebagai makam salah satu poyang pembuka desa. Ditilik dari masa tumulus ini diasosiasikan sebagai tinggalan masa Islam.
  3. Area (lahan) III dicirikan dengan 3 tumulus. Seperti halnya tumulus di lahan II, tumulus juga dianggap sebagai makam poyang leluhur. Dengan demikian tumulus ini juga diasosiasikan sebagai tinggalan masa Islam.
Berdasarkan temuan fitur dari masing-masing lahan dapat ditarik suatu simpulan sementara bahwa pemukiman di situs Benteng Majapahit kemungkinan besar merupakan situs yang mengalami perkembangan dari masa yang lebih tua dalam hal ini masyarakat prasejarah yang dicirikan oleh menhir sampai dengan perkembangan sesudahnya yang dicirikan dengan tumulus. Adapun benteng parit yang terdapat di antara lahan lebih merupakan batas wilayah saja.


Penutup
Pemukiman situs Benteng Majapahit merupakan pemukiman yang berbenteng dan berparit. Secara spesifik lagi pemukiman ini mempunyai 3 area yang masing-masing ruang dibatasi oleh benteng dan parit. Secara pertanggalan ketiga area tidak berbeda. Pertanggalan relatif berdasarkan keramik asing menunjukkan bahwa pemukiman di situs secara keseluruhan berlangsung sekitar abad ke-16 hingga abad ke-19. Hal tersebut didasarkan pada keramik Cina masa dinasti Ming dan Qing, keramik Thailand, serta keramik Eropa merupakan keramik yang banyak ditemukan di situs tersebut.

Keramik yang ditemukan di situs Benteng Majapahit baik dari kegiatan survei maupun ekskavasi menunjukkan benda-benda untuk keperluan sehari-hari seperti mangkuk, piring, dan sendok. Dengan adanya ragam temuan seperti itu, situs Benteng Majapahit menunjukkan sebagai situs pemukiman.



Daftar Pustaka

Clarke, David L. 1977. Spatial Archaeology. London: Academic Press.

Eriawati, Yusmaeni. 1997. “Gua Sumpang Bita: Model Kajian Pemukiman Skala Mikro”. Dalam Naditira Widya No. 02/1997, hlm. 63-72. Banjarmasin: Balai Arkeologi Banjarmasin.


Laili, Nurul. 2006. “Bentuk-bentuk Tembikar Di Situs Benteng Majapahit, Kabupaten Lampung Utara”. Dalam Agus Aris Munandar (ed.). Widyasancaya, hlm.103-108. Bandung: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia..


Mundardjito. 1990. “Metode Penelitian Permukiman Arkeologi”. Dalam Edy Sedyawati et al. (ed.). Monumen: Karya Persembahan Untuk Prof. Dr. R. Soekmono, hlm.19-31. Depok: Fakultas Sastra Universitas Indonesia.


Parson, J.R. 1972. Archaeological Settlement Pattern. Dalam Annual Review of Anthropology Vol. 1: 127-150.


Saptono, Nanang. 2006. Laporan Hasil Analisis Artefak Keramik Asing Temuan Hasil Penelitian Arkeologi di Situs Benteng Majapahit, Kampung Pekurun, Kec. Abung, Kab. Lampung Tengah. Balai Arkeologi Bandung.



Catatan:
Tulisan ini diterbitkan di buku berjudul “Widyasaparuna”, hlm. 102 – 108. Editor: Prof. Dr. Timbul Haryono. Bandung: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia Komda Jawa Barat – Banten, 2006.

05 Februari 2009

Keberlangsungan tradisi megalitik di daerah Way Sekampung


FUNGSI DAN PERANAN BATU BERGORES
DALAM TRADISI MEGALITIK:

Studi Kasus Temuan di Provinsi Lampung



Oleh: Nurul Laili




Latar Belakang
Kawasan Lampung termasuk daerah yang banyak mempunyai situs megalitik. Temuan yang diperoleh di setiap situs sangat beragam, seperti temuan megalitik di daerah lain, kawasan Lampung juga diperoleh antara lain dolmen, batu datar, batu berurut, menhir, batu kandang, dan batu bergores.

Batu bergores yang dimaksud dalam tulisan ini adalah pahatan atau goresan pada temuan yang merupakan bagian dari tradisi megalitik. Wujud dari batu bergores berupa (1) monolit yang dipahat/gores; (2) jenis temuan megalitik lain (menhir, batu datar, dolmen yang terdapat pahatan/goresan).


Situs-situs megalitik di Indonesia yang memiliki tinggalan batu bergores, adalah Banyuurip (Purworejo, Jawa Tengah), Sumurpule (Rembang, Jawa Tengah), Bada (Sulawesi Tengah), Cicurug (Sukabumi, Jawa Barat), Cabangdua (Lampung Barat?), Bojong, dan Pugungraharjo (Lampung Tengah), Limbanang Atas ( Sumatera Barat), Tegurwangi Lama (Lahat, Sumatera Selatan ), Pandeglang (Banten), dan Watu Pinawetengan (Sulawesi Utara) (Haris Sukendar, 1979: 15; 1997/1998: 59-69; Anwar Falah, 1994: 25).

Fenomena yang ada menunjukkan temuan batu bergores secara kuantitatif merupakan temuan yang jauh lebih sedikit dibanding temuan megalitik lainnya. Untuk kawasan Lampung, batu bergores merupakan temuan paling minim dibanding temuan menhir, dolmen, ataupun batu datar. Di sebagian besar situs megalitik, temuan batu bergores selalu berasosiasi dengan temuan megalitik lainnya.

Situs-situs batu bergores di kawasan Lampung berada di

1. Kabupaten Lampung Timur, yaitu Situs Bojong, Benteng Nibung, dan Pugungraharjo

2. Kabupten Lampung Barat, yaitu Pekon Balak, Air Ringkih, dan Sukarame

Keberadaan batu bergores dalam tradisi megalitik tentunya mengandung maksud-maksud tertentu. Demikian pula halnya dengan pahatan/goresan yang ditorehkan pada sebuah batu dapat dipastikan mempunyai tujuan. Oleh karena itu, dalam kajian ini perlu dikedepankan permasalahan tentang apa fungsi dan peranan batu bergores dalam tradisi megalitik. Hal ini menjadi lebih menarik, karena temuan batu bergores paling sedikit dibanding temuan bangunan megalitik lainnya.
Tujuan dari kajian ini diharapkan dapat lebih mengungkap keberadaan batu bergores dan peranannya dalam suatu situs megalitik. Dengan demikian akan dapat diketahui kontribusi batu bergores dalam setiap situs megalitik.


Tinggalan Batu Bergores Lampung


Situs Bojong
Situs ini terletak di Desa Wana, Kecamatan Perwakilan Melinting, Kabupaten Lampung Timur.Situs diteliti pertama kali oleh tim Balai Arkeologi Bandung. Saat itu wilayah Wana termasuk Kabupaten Lampung Tengah (Falah, 1994: 25). Lahan situs ini merupakan lahan kebun lada yang dikelilingi oleh sungai kecil dan sawah rawa-rawa. Tinggalan yang diperoleh berupa batu berurut (stone avenue), batu bergores, dan dolmen. Batu berurut berjumlah 45 batu dengan jarak berkisar antara 2-6 meter dari satu batu ke batu lainnya. Di bagian pertengahan batu berurut terdapat beberapa batu bergores.Batu bergores di situs ini merupakan batu monolit. Di sekitar batu-batu bergores tersebut, terdapat susunan batu-batu yang diperkirakan susunan batu temu gelang (stone enclosure).

Torehan dalam batu bergores merupakan alur-alur bekas asahan yang terdapat pada bagian permukaan. Banyaknya alur bekas asahan di setiap batu bergores beragam, dari satu torehan sampai lebih. Bentuk gorsan merupakan garis-garis lurus yang tidak beraturan.

Salah satu bentuk batu bergores yang ditemukan di daerah Lampung


Benteng Nibung
Lokasi situs berada di Desa Wana, Kecamatan Perwakilan Melinting, Kabupaten Lampung Timur. Situs ini beberapa kali telah diteliti oleh beberapa ahli. Penelitian yang Balai Arkeologi Bandung dilakukan pada tahun 1998 (Yondri, 1998: 7 -- 20). Saat ini, Situs Benteng Nibung termasuk wilayah Kabupaten Lampung Timur, yang sebelumnya merupakan wilayah Kabupaten Lampung Tengah.

Benteng Nibung bersisian dengan Way Capang. Luas areal benteng sekitar 1,5 hektar membentang dengan orientasi barat-timur. Sisi selatan dan sisi barat benteng bertemu dengan Way Capang. Pada pertemuan ini dahulu terdapat beberapa batu bergores dan beberapa lumpang batu. Batu-batu tersebut dipecah untuk pengerasan jalan. Di situs ini juga banyak terdapat pecahan gerabah dan keramik.


Batu bergores yang diperoleh di situs ini tidak utuh dan terletak di dekat Benteng Nibung. Berdasarkan bagian sisa yang ada, dapat diperkirakan batu bergores tersebut memiliki diameter lebih dari 1 meter. Sedang batu bergores yang lainnya tidak ditemukan lagi sisa bagiannya. Seperti halnya Situs Bojong, goresan yang ada merupakan alur-alur batu asah yang terdapat dalam batu monolit dengan bentuk garis-garis lurus.


Situs Pugung Raharjo
Situs Pugungraharjo secara administratif termasuk wilayah Desa Pugungraharjo, Kecamatan Jabung, Kabupaten Lampung Timur. Seperti halnya situs-situs lain di Lampung, situs ini pun beberapa kali telah diteliti. Situs Pugungraharjo menempati areal seluas kurang lebih 30 ha. Di sebelah selatan situs terdapat aliran sungai yang menjadi batas situs. Lahan situs dikelilingi fetur berupa benteng tanah dan parit. Dengan adanya benteng tanah tersebut, areal situs terbagi menjadi tiga bagian. Lebar benteng tanah tersebut kurang lebih 5 m, sedangkan tingginya berkisar 2-3 m. Di bagian luar benteng terdapat parit yang lebarnya antara 3-5 m.

Batu bergores di Pugungraharjo diperoleh di keseluruhan bagian situs. Tinggalan arkeologis yang terdapat pada bagian pertama berupa batu berlubang, batu bergores, dan punden berundak. Pada bagian kedua terdapat susunan menhir dan batu altar yang berbentuk denah segiempat. Kedua jenis tinggalan tersebut terdapat pahatan. Pahatan salah satu menhir yang membentuk garis melingkar di kedua ujungnya. Sedang pada salah satu batu altar terdapat pahatan yang membentuk huruf T. Adapun pada bagian ketiga adalah batu berlubang, batu bergores, batu lumpang, dan punden berundak. Selain di lokasi yang telah disebutkan, temuan batu bergores juga diperoleh di mata air. Pada lokasi ini terdapat batu bergores, batu lumpang, dan batu berlubang. Seperti halnya temuan batu bergores di Situs Bojong dan Benteng Nibung, di situs ini batu bergores juga berupa batu monolit yang terdapat alur-alur bekas asahan dengan bentuk garis lurus.


Situs Pekon Balak
Situs ini termasuk wilayah Desa Pekon Balak, Kecamatan Perwakilan Batu Brak, Kecamatan Belalau, Kabupaten Lampung Barat (Yondri, 1997/1998). Situs ini merupakan lahan yang berada di sekitar Desa Pekon Balak. Temuan yang ada berupa dolmen, batu bergores, dan batu datar. Batu bergores ditemukan di lokasi pemakaman umum Desa Pekon Balak. Batu bergores berbentuk garis lurus yang merupakan alur-alur asahan benda tajam. Goresan tersebut berada di bagian permukaan dengan penggoresan di segala sisi. Secara keseluruhan goresan tersebut tidak memperlihatkan bentuk tertentu. Jumlah goresan sekitar 23 goresan.


Situs Batu Kenyangan
Situs ini merupakan bagian dari wilayah Desa Pekon Belak. Di situs ini terdapat dolmen, menhir, susunan batu melingkar, dan dolmen bergores (Yondri, 1997/1998). Batu bergores yang ada merupakan dolmen dengan ukuran luas permukaan cukup besar. Dolmen ini ditopang oleh 5 buah batu pemyangga yang diletakkan tidak berpola. Batu bergores berbentuk garis lurus yang merupakan alur-alur asahan benda tajam. Goresan tersebut berada di bagian permukaan dengan penggoresan di segala sisi. Secara keseluruhan goresan tersebut tidak memperlihatkan bentuk tertentu.


Situs Air Ringkih
Situs Air Ringkih secara administratif termasuk wilayah Ujungjaya, Desa Bungin, Kecamatan Sumberjaya, Kabupaten Lampung Barat. Kondisi Situs merupakan tanah perbukitan, di sisi meander Sungai Ringkih, pada ketinggian 865 m di atas permukaan air laut (Indraningsih, 1985: 5--7). Situs ini merupakan kompleks dolmen dan menhir. Secara rinci terdiri dari 7 dolmen, 2 batu bergores, 6 batu yang diperkirakan menhir, 5 dolmen dalam posisi rebah, dan 1 batu tegak yang patah bagian atasnya. Batu bergores merupakan batu monolit, yang bagian permukaan terdapat garis-gari lurus bekas alur asahan.


Situs Cabangdua
Secara administratif berada di wilayah Desa Purawiwitan, Kecamatan Sumberjaya, Kabupaten Lampung Barat. Situs ini berbentuk memanjang sekitar 173 meter. Temuan yang diperoleh berupa dolmen, dolmen bergores, gerabah, dan keramik. Identifikasi yang dilakukan, keramik berasal dari Cina abad ke-16--17. Batu bergores di situs ini merupakan dolmen, hampir keseluruhan permukaan batu penutup dolmen terlihat torehan yang berupa garis-garis. Hasil torehan berupa bentuk asahan benda tajam. Bentuk dari goresan berupa garis lurus dan garis melengkung.


Situs Sukarame
Situs Sukarame secara administratif berada di Desa Sukarame, Kelurahan Bawang, Kecamatan Balik Bukit, Kabupaten Lampung Barat. Situs merupakan ladang dan dikelilingi parit yang cukup dalam. Temuan yang diperoleh adalah pecahan gerabah, keramik yang diidentifikasi berasal dari Dinasti Ming, manik-manik. Selain itu juga diperoleh sebuah batu bergores. Batu bergores di situs ini merupakan batu datar. Goresan yang ada terletak di bagian permukaan. Bentuk goresan berupa garis-garis (Sukendar, 1984: 8).


Fungsi dan Peranan Batu Bergores
Pada waktu kebudayaan megalitik berlangsung dengan saat ditemukan terdapat kesenjangan waktu. Dalam mengungkap keberadaan, fungsi, maupun peranan sangat mungkin terjadi penafsiran yang tidak tepat atau bahkan keliru. Beberapa pendekatan sudah banyak dilakukan para ahli dalan mengungkap kehidupan megalitik masa lalu. Tulisan inipun mencoba mengungkap tentang fungsi dan peranan batu bergores dengan pendekatan simbol.

Leslie White mendefinisikan simbol sebagai “a thing the value or meaning of which is bestowed upon by those who use it”. Dengan demikian simbol merupakan sesuatu yang nilai atau maknanya diberikan oleh mereka yang mempergunakannya. Dengan demikian makna atau nilai tersebut tidak berasal dari atau ditentukan oleh sifat-sifat yang secara intrinsik terdapat di dalam bentuk fisiknya. Makna suatu simbol, hanya dapat ditangkap melalui cara-cara non sensorik; melalui cara-cara simbolis (Kamanto, 1993: 43 -- 45).

Munculnya bahasa simbol, menurut Herbert Blumerm, terdapat tiga pokok pikiran. Pertama bahwa manusia bertindak (act) terhadap sesuatu (thing) atas dasar makna (meaning) yang dipunyai sesuatu tersebut baginya. Kedua, makna yang dipunyai sesuatu tersebut berasal atau muncul dari interaksi seseorang dengan sesamanya. Ketiga makna yang diperlakukan atau diubah melalui suatu proses penafsiran (interpretative process) (Kamanto, 1993: 43 -- 45).

Sejalan dengan itu, Victor Turner mengungkap makna simbol atau perbuatan simbolik diperlukan suatu interpretasi, yang dapat dilakukan melalui tiga tahapan sebagai berikut (Sudarmadi, 1994: 87 -- 88).

a. Tingkat makna eksegetik (exegetical meaning)
Interpretasi dalam tahap ini bersumber dari informan, yang memahami seluk beluk simbol tersebut.Dengan demikian tahapan ini mengacu pada penafsiran informan ditambah dengan interpretasi pada mitos-mitos yang ada.

b. Tingkat makna operasional (operational meaning)

Pada tahap selanjutnya, interpretasi dilakukan oleh peneliti berdasarkan pengamatannya terhadap masyarakat yang menggunakan simbol tersebut. Pada tahap ini perlu dilihat dalam rangka kegiatan apa simbol-simbol tersebut dipakai.

c. Tingkat makna posisional (positional meaning)
Simbol akan dapat diketaui maknannya berdasarkan pemahaman unsur-unsur keseluruhan simbol tersebut. Hal tersebut berkaitan dengan simbol yang sering memiliki berbagai ragam makna (polysemi/multivocal) sehingga dengan memahami makna keseluruhannya dapat diketahui makna yang lebih diutamakan.

Fungsi dan peranan batu bergores dalam tradisi megalitik di kawasan Lampung dapat dipahami dengan menggunakan teori tiga tingkat yang telah disebut itu. Derajat penyimpangan dari penerapan teori akan sangat kecil. Hal ini didasarkan pada pemahaman bahwa pendirian bangunan megalit adalah sama, yaitu kepercayaan terhadap orang yang telah meninggal, arwahnya tetap dan mengawasi serta melindungi masyarakat yang ditinggal. Dengan demikian menjaga hubungan dengan alam roh harus terjaga dengan cara melakukan pemujaan terhadap arwah leluhur (Soejono, 1990: 212 -- 214).


Tingkat Makna Eksegetik
Situs-situs megalitik di Kawasan Lampung merupakan situs kategori “dead monument”. Dengan demikian situs megalitik tersebut sudah tidak terdapat aktivitas yang berkait dengan tradisi megalitik.Informasi tentang kehidupan megalitik hanya diperoleh dari pendapat ahli-akhli megalitik. Temuan batu bergores di kawasan Lampung biasanya merupakan temuan yang berasosiasi dengan jenis tinggalan megalitik lain. Dengan demikian dalam tingkat ini, diperlukan informasi tentang menhir, dolmen, batu datar, dan batu berurut.

Menhir berupa sebuah batu tegak yang sudah atau belum dikerjakan dan diletakkan dengan sengaja di suatu tempat untuk memperingati orang yang telah mati. Benda tersebut dianggap sebagai medium penghormatan, menampung kedatangan roh dan sekaligus menjadi lambang dari orang-orang yang diperingati (Soejono, 1990: 213).

Dolmen biasanya berbentuk batu datar monolit yang disangga oleh empat atau lebih tiang batu. Dolmen menurut beberapa ahli (Perry, 1923; Hoop, 1932) merupakan penguburan. Adapun menurut van Hekeeren (1955), dolmen ada hubungannya dengan penguburan. Dolmen merupakan tempat yang digunakan dalam upacara pemujaaan kepada arwah leluhur. Berdasarkan beberapa penggalian yang dilakukan Balai Arkeologi Bandung di Batuberak dan sekitarnya, menunjukkan dolmen bukan merupakan suatu kuburan, tetapi ada hubungannya dengan penguburan, terutama pada pemujaaan kepada arwah leluhur (Saptono, 1994/1995: 13).


Menurut Kaudern yang dikutip oleh Haris Sukendar (1979: 15), batu bergores merupakan alat yang dipergunakan sebagai sarana pemberian kekuatan gaib terhadap suatu alat (senjata tajam) seperti pisau dan parang yang akan digunakan, yaitu dengan jalan mengasahkan alat pada batu tersebut.


Tingkat Makna Operasional
Penggunaan batu bergores oleh beberapa suku di wilayah Indonesia masih dilakukan. Masyarakat di Desa Woro (Rembang) menggunakan batu asah sebagai sarana pemberian kekuatan gaib terhadap parang atau pisau yang akan digunakan untuk membunuh musuh. Dengan jalan mengasahkan parang atau pisau ke batu tersebut maka orang itu dalam rencana membunuh musuhnya akan berhasil dengan baik. Ditambahkan juga apabila parang atau pisau yang telah diasah tadi tidak dipergunakan, maka orang yang bersangkutan akan terbunuh oleh parang atau pisau itu juga (Sukendar, 1979: 15). Temuan batu bergores di Desa Takirin, Timor merupakan tradisi yang masih berlanjut. Di desa ini jika akan dilaksanakan pertempuran dengan suku lain, senjata para pahlawan satu per satu harus diasah pada batu bertuah tersebut. Diharapkan senjata akan memperoleh kesaktian yang luar biasa dan akhirnya dapat membunuh semua musuhnya (Sukendar, 1997/1998: 64 -- 65).


Tingkat Makna Posisional
Pengamatan yang dilakukan pada asosiasi temuan batu bergores, yaitu menhir, dolmen, batu berurut, dan batu datar menunjukkan bahwa batu bergores berkait dengan pemujaan. Torehan yang dilakukan pada batu bergores sebagai visualisasi dari konsep pengagungan arwah leluhur. Dengan kata lain torehan yang dilakukan merupakan interaksi antara yang hidup dengan leluhur untuk mendapatkan kekuatan.


Simpulan
Batu bergores yang diperoleh kawasan Lampung, secara kuntitatif sangat sedikit dibanding jenis temuan megalitik lainnya. Fungsi dan peranan batu bergores di kawasan Lampung sangat berkait dengan pemujaan. Hal ini diperlihatkan dengan asosiasi temuan lainnya, yaitu menhir, dolmen, batu datar, dan batu berurut. Keinginan dan pengharapan dari pendukung budaya megalitik untuk mendapatkan kekuatan dari arwah leluhur memperlakukan batu bergores sebagai salah satu pelengkap dalam sarana pemujaan selain jenis megalitik lain. Bentuk visualisasi dari interaksi yang dilakukan dengan arwah leluhur dituangkan dalam bentuk goresan.


Daftar Pustaka


Falah, W. Anwar. 1994. “Penelitian Tradisi Megalitik di Situs Bojong Lampung Tengah”. Dalam Jurnal Balai Arkeologi Bandung (Edisi Perdana/1994). Bandung: Balai Arkeologi Bandung. Hlm. 25 -- 40.


Indraningsih, Ratna J. (et al). 1985. “Laporan Penelitian Arkeologi di Lampung”. Berita Penelitian Arkeologi No. 33. Jakarta : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.


Soejono, R.P (ed.). 1990. “Jaman Praserah di Indonesia”. Dalam Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto. Sejarah Nasional Indonesia I. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. PN. Balai Pustaka.


Sudarmadi, Tular. 1994. “Kajian Ulang Fungsi Situs Megalitik Terjan: Tinjauan Aspek Simbolik”. Dalam Jejak-Jejak Budaya (Persempahan Untuk Prof. Dr. R.P. Soejono). Yogyakarta: Asosiasi Prehistori Indonesia Rayon II. Hlm. 83 – 100.


Sukendar, Haris. 1979. “Laporan Penelitian Kepurbakalaan Daerah Lampung”. Berita Penelitian Arkeologi No. 20. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.


----------, 1997/1998 “Batu Bergores Sebagai Simbol Religius”. Dalam Kebudayaan No. 13 Th. VII 1997/1998, Edisi Khusus. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Hlm. 59 – 69.


Sukendar Haris, (et al.). 1984. “A. Survei di Daerah Lampung B. Survei di Daerah Sumatera Selatan”. Berita Penelitian Arkeologi No. 2. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.


Sunarto, Kamanto. 1993. Pengantar Sosiologi. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi. Universitas Indonesia.


Triwuryani, R.R. 1996. “Pola Persebaran Situs Benteng di Sepanjang DAS Sekampung: Ditinjau dari Kajian Wilayah”. Makalah pada Evaluasi Hasil Penelitian Arkeologi Ujungpandang 20-26 September 1996. (belum diterbitkan).


Yondri, Lutfi. 1997/1998. Laporan Hasil Penelitian Arkeologi di Situs Kenyangan dan sekitarnya, Desa Pekon Balak, Kecamatan Belalau, Kab. Lampung Barat, Prop. Lampung. Bandung: Balai Arkeologi Bandung.




Catatan:
Tulisan ini diterbitkan di buku berjudul “Hastaleleka: Kumpulan Karya Mandiri Dalam Kajian Paleoekologi, Arkeologi, Sejarah Kuna, dan Etnografi”, hlm. 33 - 40. Editor Agus Aris Munandar. Jatinangor: Alqaprint, 2005.

04 Februari 2009

Interaksi antara Lampung dan Jawa pada masa Hindu-Buddha


LAMPUNG - SUNDA PADA MASA KLASIK


Nanang Saptono



Pendahuluan
Lampung dapat dimaknai sebagai kelompok etnik yang menggunakan Bahasa Lampung. Secara adat, yang termasuk masyarakat Lampung tidak sebatas yang berada di Propinsi Lampung, tetapi juga masyarakat di daerah Danau Ranau, Muaradua, Komering, hingga Kayu Agung, Provinsi Sumatera Selatan (Hadikusuma, 1989: 159). Munculnya sebutan Lampung mungkin masih relatif baru. Asumsi ini didasari pada kenyataan bahwa tidak pernah didapatkan sumber sejarah klasik yang menyebut Lampung, kecuali dalam kakawin Nagarakrtagama karya Mpu Prapanca. Pada pupuh 13 dan 14 menyebut daerah-daerah Melayu yang berada di bawah kekuasaan Majapahit. Daerah-daerah itu adalah Jambi, Palembang, Toba, Dharmasraya, Kandis, Kahwas, Minangkabau, Siak, Rokan, Kampar, Pane, Kampe, Haru, Mandailing, Tamihang, Parlak, Padang Lawas, Samudra, Lamuri, Batan, Lampung, dan Barus (Muljana, 1979: 146 dan 279). Menurut pemberitaan dalam Nagarakrtagama, Lampung termasuk wilayah Kerajaan Melayu.

Sumber asing yang berkaitan dengan Lampung, cenderung menunjuk pada lokasi tertentu. Berita Cina menyebut Yeh-po-ti dan Po-hwang yang ada kaitannya dengan San-fo-tsi (Sriwijaya). Yeh-po-ti disebutkan dalam catatan perjalanan Fa-Hsien. Pada tahun 414 kapal yang ditumpangi Fa-Hsien terserang badai sehingga harus singgah di Yeh-po-ti. Masyarakatnya merupakan penganut Hindu. Lokasi ini hanya disebutkan satu kali saja. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ekspedisi Cina jarang mendatangi lokasi ini. Yeh-po-ti dapat diasumsikan sebagai transliterasi dari Seputih (Sholihat, 1980: 5).

Po-hwang disebutkan dalam berita Cina pernah mengirim utusan ke negeri Cina pada tahun 442, 449, 451, 455, 456, 459, 464, dan 466. Toponim ini biasa dianggap sebagai singkatan dari toponim To-lang-po-hwang yang oleh G. Ferrand diidentifikasikan dengan Tulangbawang. R.M.Ng. Poerbatjaraka juga berpendapat bahwa To-lang P’o-hwang yang disebut dalam sejarah dinasti Liang, merupakan sebuah kerajaan di daerah aliran Way Tulangbawang (Sumadio, 1990: 79; Muljana, 1981: 20).

Tulangbawang selain disebut dalam berita Cina juga terdapat dalam sumber Portugis. Perjalanan Tome Pires dari Laut Merah ke Jepang pada tahun 1512 hingga 1515 memberikan gambaran tentang keadaan dua lokasi di Lampung yaitu Tulangbawang dan Sekampung. Tulangbawang merupakan lokasi yang berbatasan dengan Sekampung dan Andalas. Sebagian masyarakat Tulangbawang masih kafir atau penyembah berhala. Daerah ini merupakan penghasil lada, emas, kapas, lilin, rotan, beras, ikan, dan buah-buahan. Jalan masuk satu-satunya hanya melalui sungai. Perdagangan dilakukan dengan Jawa dan Sunda. Barang dagangan dikumpulkan kemudian dilakukan perdagangan antarpulau. Perjalanan dari Tulangbawang ke Sunda menyeberangi lautan dalam sehari sedangkan ke Jawa memerlukan waktu dua hari (Cortesão, 1967: 158 – 159).

Sekampung merupakan daerah yang sangat melimpah barang-barang komoditas seperti hasil bumi dan hasil hutan. Perdagangan dilakukan dengan Sunda dan Jawa. Barang dagangan meliputi kapas, emas, madu, lilin, rotan, dan lada. Bahan makanan yang diperdagangan berupa beras, daging, ikan, minuman keras (wines), dan buah-buahan. Penguasa Sekampung yang disebut pate masih kafir. Masyarakatnya juga masih kafir. Perjalanan dari Sekampung ke Jawa menyeberang laut dengan menggunakan perahu (lancharas) dalam waktu tiga hari, sedangkan ke Sunda selama satu hari (Cortesão, 1967: 158).

Sebagaimana Lampung, Sunda juga dapat dimaknai sebagai kelompok etnik. Kelompok ini mendiami suatu kawasan geografis yang berada di Jawa bagian barat. Sebutan Sunda juga terdapat pada beberapa sumber sejarah. Prasasti Rakryan Juru Pengambat (854 Ś atau 932 M), yang ditemukan di Bogor menyebut ba(r) pulihkan haji sunda. Kalimat ini menyiratkan bahwa Sunda merupakan nama kerajaan yang kekuasaannya dipulihkan kembali. Naskah kuna Carita Parahyangan menyebut Sunda sebagai nama kawasan (Sumadio, 1990: 356). Daerah yang dimaksud adalah dari Citarum ke barat (Danasasmita, 1975: 49). Selain sumber lokal, sebutan Sunda juga terdapat pada beberapa sumber asing. Berita Cina dari dinasti Ming menyebut-nyebut kerajaan Sun-la (Groeneveldt, 1960: 44). Berita Portugis dari Tomé Pires menyebutkan adanya kerajaan bernama regño de çumda yang sudah menjalin hubungan dagang dengan Portugis. Kerajaan ini mempunyai enam kota pelabuhan di sepanjang pantai utara. Cheguide merupakan salah satu kota pelabuhan yang merupakan pintu gerbang perdagangan dari Pariaman, Andalas, Tulangbawang, Sekampung, dan tempat-tempat lain (Cortesão, 1967: 166 -- 171). Berdasarkan berbagai sumber sejarah, Sunda dapat dimaknai sebagai suatu kerajaan dan juga wilayah. Hubungan dagang Kerajaan Sunda selain dengan Portugis juga dengan daerah-daerah lain di Sumatera antara lain Tulangbawang dan Sekampung.

Dilihat dari sumber sejarah masa klasik, sebutan Lampung hanya dijumpai dalam uraian Nagarakrtagama. Berkaitan dengan Lampung, baik sumber Cina maupun Portugis menyebut lokasi yang lebih spesifik yaitu Tulangbawang dan Sekampung. Dua daerah ini diberitakan sangat intensif melakukan hubungan dagang dengan Sunda. Sebutan Sunda dalam sumber sejarah pertama kali muncul pada prasasti Rakryan Juru Pengambat (854 Ś atau 932 M). Pada berbagai sumber sejarah, sebutan Sunda selain merujuk pada satu kawasan juga merupakan satu institusi kekuasaan berupa kerajaan. Dalam kenyataannya baik di Tulangbawang, Sekampung, maupun Sunda terdapat banyak situs yang mengindikasikan bahwa masyarakatnya pernah menjalin kontak terutama perdagangan. Selanjuytnya dibahas kemungkinan adanya kontak antar masyarakat pendukung situs di Lampung dan Sunda dalam kaitannya dengan perdagangan dan pengaruh budaya akibat interaksi tersebut.

Tinjauan Singkat Sejarah
Sejarah Lampung pada masa pengaruh budaya Hindu-Buda (masa klasik) belum banyak terungkap. Beberapa prasasti yang terdapat di Lampung memberi gambaran tentang Lampung. Prasasti yang ada antara lain merupakan prasasti Sriwijaya. Prasasti Sriwijaya yang ditemukan di daerah Lampung antara lain prasasti Bungkuk, Palas Pasemah, dan Batubedil. Prasasti Palas Pasemah ditemukan di tepi Way Pisang, Lampung Selatan berisi peringatan penaklukan daerah Lampung oleh Sriwijaya. Dalam prasasti tersebut memuat catatan tentang bhûmi jawa yang tidak mau tunduk kepada Sriwijaya. Berdasarkan segi paleografis prasasti ini diduga berasal dari abad ke-7 (Purwanti, 1995: 98; Boechari, 1979: 19 – 40).

Prasasti Batubedil ditemukan di daerah Batubedil, Kecamatan Talangpadang, Lampung Selatan. Prasasti ini meskipun hurufnya besar namun sudah aus sehingga sulit dibaca. Pada bagian yang terbaca dapat diketahui bahasa yang dipakai adalah Sansekerta. Bagian yang terbaca tersebut berbunyi namo bhagawate dan pada baris ke-10 swãhã. Dilihat dari segi paleografisnya sangat mungkin berasal dari sekitar abad ke-9 atau ke-10. Namo bhagawate dipermulaan dan swãhã sebagai penutup merupakan mantra agama Buda atau Siwa (Soekmono, 1985: 49 – 50).

Prasasti dengan isi yang hampir sama dengan prasasti Batubedil ditemukan di Rebangpugung, Kotaagung, Lampung Selatan. Prasasti yang kemudian dikenal dengan nama prasasti Ulubelu ini diperkirakan berasal dari abad ke-15. Isi prasasti berupa permintaan tolong kepada kepada dewa-dewa utama yaitu Batara Guru (Siwa), Brahma, dan Wisnu. Selain itu juga kepada dewa penguasa air, tanah, dan pohon agar menjaga keselamatan dari semua musuh (Lasmidara, 2003: 9).

Di dekat Simpang Sebelat sekitar 13 km dari kota Liwa, tepatnya di Dusun Harakuning, Desa Hanakau, Kecamatan Sukau, Lampung Barat terdapat prasasti Hujunglangit atau juga disebut prasasti Bawang. Prasasti berbahasa Melayu Kuna ini tidak menyebut satu kerajaan. Bagian yang dapat terbaca diantaranya menyebut tatkala, sa-tanah, sa-hutan, Śrī haji, dan unsur penanggalan. Menurut kajian yang dilakukan oleh Louis-Charles Damais penanggalan prasasti ini yaitu 919 Śaka atau 997 M. Berdasarkan bentuk huruf dan sistem penanggalan yang memakai unsur wuku, terlihat adanya pengaruh Jawa. Gelar Śrī haji yang disebutkan merupakan gelar yang kedudukannya di bawah maharaja. Oleh karena itu sangat mungkin prasasti ini dikeluarkan oleh raja bawahan (Agus, 1995: 63 -- 64; Yondri, 1995: 52 -- 58; Soekmono, 1985: 49; Damais, 1995: 31 -- 37).

Berdasarkan data prasasti pada sekitar abad ke-7 hingga ke-11, Lampung merupakan wilayah kekuasaan Sriwijaya. Selain Lampung, Jambi dan Bangka juga menjadi wilayah kekuasaan Sriwijaya. Penguasaan ini salah satunya dilandasi sumberdaya emas yang ada di wilayah itu. Untuk melancarkan dan mengembangkan jalur distribusi emas, dilakukan penaklukan-penaklukan ke berbagai wilayah yang belum tunduk kepada Sriwijaya (Rangkuti, 1994: 165 – 166). Kekuasaan Sriwijaya terhadap Lampung tampaknya tidak meliputi seluruh wilayah tetapi hanya daerah-daerah yang dianggap penting bagi Sriwijaya. Prasasti Hujung Langit berdasarkan unsur penanggalan dan paleografisnya memberi arah dugaan pada adanya pengaruh kekuasaan Mpu Sindok dan Erlangga (Soekmono, 1985: 49). Ketika Sriwijaya mengalami kemunduran, daerah-daerah di Lampung bangkit sebagai daerah yang merdeka. Namun tampaknya daerah-daerah itu bukan merupakan institusi kerajaan yang besar.

Menurut catatan Tomé Pires, yang ditulis pada abad ke-16, beberapa daerah di Lampung menjalin hubungan dagang dengan Sunda dan Jawa. Hubungan ini mungkin terjadi sejak Lampung di bawah kekuasaan Jawa (Majapahit). Pada tahun 1017, 1025, dan 1068 Sriwijaya diserang kerajaan Cola, India. Serangan-serangan ini melemahkan Sriwijaya, sehingga kerajaan Melayu (Jambi) melepaskan diri dari kekuasaan Sriwijaya. Kerajaan Melayu akhirnya dapat menguasai Sriwijaya dan semenanjung Malaka. Prasasti Grahi bertarikh 1183 yang ditemukan di semenanjung Malaka menyebut nama Maharaja Srimat Trailokyaraja Maulibhusanawarmadewa. Sebutan srimat menunjukkan pembesar Melayu sebagaimana yang terdapat pada prasasti Padang Roco. Hal ini menunjukkan semenanjung Melayu pada tahun 1183 berada di bawah kekuasaan Melayu. Kekuasaan Melayu hingga meliputi seluruh pantai timur Sumatera. Keadaan seperti ini tidak berlangsung lama. Pada tahun 1377 Melayu ditaklukkan oleh Majapahit (Sholihat, 1980: 5). Prapanca dalam Negarakrtagama menyatakan bahwa Melayu berada di bawah kekuasaan Majapahit yang daerah-daerahnya antara lain meliputi Lampung (Muljana, 1979: 146). Dengan demikian mungkin hubungan perdagangan yang diberitakan Tomé Pires sudah terjadi setelah tahun 1377 ketika Melayu ditaklukkan Majapahit.

Berkaitan dengan penaklukan Melayu oleh Majapahit, terjadi peristiwa penting yaitu peristiwa Bubat. Carita Parahyangan, Kidung Sundãyana, dan Pararaton mencatat peristiwa tersebut yaitu sebagai usaha penaklukan Sunda oleh Majapahit tetapi gagal. Nagarakrtagama tidak mencatat peristiwa ini karena Prapanca sebagai pujangga kraton tampaknya sengaja menyembunyikan peristiwa yang menjelekkan nama raja tersebut. Pada waktu peristiwa ini terjadi raja yang berkuasa di Sunda adalah Prebu Maharaja.

Setelah peristiwa Bubat, Wastu Kañcana naik tahta. Karena masih kecil, maka pemerintahan dipe¬gang oleh Hyang Bunisora. Setelah Hyang Bunisora meninggal dunia pada tahun 1371, Wastu Kañcana memegang pemerintahan. Menurut Carita Parahyangan, Wastu Kañcana memerintah selama 104 tahun (1371 - 1475 M). Pada masa ini pusat pemerintahan kerajaan Sunda di bagian timur yaitu di Kawali. Sepeninggal Wastu Kañcana, digantikan oleh Tohaan di Galuh atau Ningrat Kañcana. Pusat pemerintahannya dipindahkan dari Kawali ke Pakwan Pajajaran. Pada masa pemerintahan Ningrat Kañcana ternyata tidak begitu banyak berita yang terdapat pada prasasti maupun Carita Parahyangan. Ningrat Kañcana kemudian digantikan oleh anaknya yang bernama Sang Ratu Jayadewata. Pada prasasti Kebantenan, tokoh ini disebut Susuhunan ayeuna di Pakwan Pajajaran. Pada prasasti Batutulis, tokoh ini disebut Prabu Guru Dewataprana, Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakwan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata. Pada prasasti tersebut, tokoh ini juga diberitakan ya nu nyusukna pakwan (yang membangun parit di Pakwan). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pada masa pemerintahannya, pusat kerajaan sudah berpindah dari Kawali ke Pakwan Pajajaran (Sumadio, 1990: 364 -- 369). Bila mengacu pada berita Tomé Pires, hubungan antara Sunda dengan Lampung intensif pada masa akhir kerajaan Sunda. Pada masa itu pusat kerajaan Sunda berada di Kawali dan Pakwan Pajajaran. Tomé Pires juga menyebutkan bahwa perdagangan dari kawasan Lampung melalui pelabuhan Cheguide.

Jejak-jejak Arkeologis
Mengacu pada berita Tomé Pires, kawasan Lampung yang intensif berhubungan dengan Sunda adalah Sekampung dan Tulangbawang. Pelabuhan Sunda di pantai utara yang menjadi pintu gerbang adalah Cheguide. Di sepanjang DAS Way Sekampung terdapat sekitar sebelas situs pemukiman yang ditandai dengan benteng tanah. Situs-situs tersebut adalah Pejambon, Gelombang, Pugung Raharjo, Parigi, Gedig, Benteng Sari, Cicilik, Jabung, Negara Saka, Batu Badak, dan Meris (Triwuryani, 1998). Salah satu situs yang dinilai penting adalah Pugung Raharjo. Secara administratif situs ini termasuk di wilayah Desa Pugung Raharjo, Kecamatan Jabung. Lahan situs dikelilingi fetur benteng tanah dan parit. Dengan adanya benteng tanah tersebut, areal situs terbagi menjadi tiga bagian.

Tinggalan-tinggalan arkeologis yang terdapat di situs Pugung Raharjo ini terdiri dari bermacam-macam bentuk, diantaranya berupa batu berlubang, batu bergores, lumpang batu, menhir, dan punden berundak. Pada salah satu punden ditemukan batu tufa berangka tahun 1247 Ś. Selain itu, di sebelah selatan dari punden terbesar terdapat punden arca. Pada punden ini pernah ditemukan sebuah arca yang sekarang tersimpan di rumah informasi situs Pugung Raharjo. Arca menggambarkan tokoh laki-laki duduk di atas padmasana ganda yang berbentuk bulat dengan sikap Vajrasana. Pada bagian belakang padmasana terdapat bingkai menonjol, berhias motif sulur. Pada arca tidak dilengkapi stela.

Sikap tangan atau mudra digambarkan telunjuk kiri mengarah ke atas, telunjuk kanan dibengkokkan di atas telunjuk kiri, jari-jari tangan yang lain dilipat. Kedua telapak tangan berada di depan dada. Mudra seperti ini tidak lazim, tetapi mendekati naivedyamudra yaitu mudra yang diilhami sikap yang biasa digunakan oleh para penganut aliran tantrisme dalam memberikan persembahan. Dilihat dari cirinya, arca ini menggambarkan salah satu tokoh Tantrisme. Arca tersebut bergaya Jawa Timur, sebelum jaman Majapahit sekitar abad ke-12 atau ke-13 (Soekatno, 1985: 165 – 166; Widyastuti, 2000: 132 – 133). Keramik yang ditemukan kebanyakan keramik Cina dari abad ke-8 atau ke-9 sampai dengan abad ke-17 (keramik Tang hingga Qing). Tembikar yang ditemukan kebanyakan berupa wadah baik terbuka maupun tertutup. Fragmen kendi tipe lokal yang disebut kibu juga banyak ditemukan. Berdasarkan tinggalan arkeologik yang ditemukan, dapat disimpulkan bahwa situs Pugung Raharjo berkembang sejak zaman Majapahit hingga abad ke-17. Melimpahnya keramik asing menunjukkan aktivitas perdagangan berlangsung secara intensif.

Mengenai Tulangbawang, hingga sekarang tercatat 18 situs pemukiman yang juga ditandai benteng tanah. Situs tersebut dijumpai di sepanjang Way Kiri, Way Kanan, dan Way Tulangbawang. Way Tulangbawang adalah sungai utama yang merupakan menyatunya antara Way Kiri dan Way Kanan. Kedua sungai ini menyatu di Pagardewa. Pada sepanjang Way Kiri terdapat situs Bumiagung Tua, Karta Talang, Benteng Sabut atau Bujung Menggalou, Gedong Ratu Tua, Benteng Prajurit Puting Gelang, Keramat Gemol, Benteng Minak Temenggung, dan Pagardewa. Pada sepanjang Way Kanan terdapat situs Batu Putih, Gunung Terang, dan Benteng Aceh. Pada sepanjang Way Tulang Bawang terdapat situs Benteng Bakung, Gunung Tapa, Gedong Meneng, dan Dente. Selain pada sepanjang sungai besar, juga terdapat situs yang berada di tepi sungai kecil. Situs-situs itu adalah Jung Belabuh di tepi Tulung Kalutum, Bakung Nyelai di tepi Tulung Bakung Nyelai, dan Umbul Lekou di tepi Way Bawang Bakung.

Penelitian intensif pernah dilakukan di situs Benteng Sabut dan Gunung Terang. Situs Benteng Sabut secara administratif termasuk wilayah Kampung Gunungkatun. Way Kiri mengalir di sebelah tenggara hingga timur situs. Fakta arkeologis yang terdapat di situs Benteng Sabut berupa fitur parit (cekungan), benteng dan tanggul (gundukan tanah), makam kuna, serta sebaran artefak. Parit pada bagian dekat Way Kiri berpola segi lima. Pada sisi dalam parit terdapat benteng. Benteng dan parit ini pada sisi barat bermula dari tepi Way Kiri ke arah barat laut kemudian belok ke arah utara agak ke timur, selanjutnya agak berbelok ke arah timur. Pada bagian luar sudut tenggara benteng, di tepi Way Kiri terdapat fitur makam kuna. Tokoh yang dimakamkan adalah Minak Sendang Belawan. Keadaan makam sedikit lebih tinggi dari lahan sekitar tetapi tidak menggunduk, tidak dilengkapi nisan (Saptono, 2002: 88 – 89).

Fakta artefaktual yang pernah ditemukan di bagian ini berupa fragmen keramik, fragmen tembikar, serpih obsidian, kerak besi, paku, fragmen wadah perunggu, dan manik-manik. Fragmen tembikar ada yang berhias, di antaranya merupakan bagian dari kibu (kendi). Benda tembikar utuh berbentuk gacuk, tatap, dan cangkir.

Benda tembikar ada yang berupa terakota berbentuk kubus berukuran sekitar 1,5 X 1,5 X 3 cm. Pada keempat sisi panjang berhias garis-garis. Selain itu terdapat beberapa benda arkeologis berupa gandik, fragmen pipisan. Analisis keramik pada aspek penanggalan secara relatif diperoleh gambaran dari berbagai jaman yaitu dari Cina masa dinasti Han (awal Masehi hingga abad ke-3), Sui (abad ke-6 hingga ke-7), T’ang (abad ke-7 -- 10), Song (abad ke-10 -- 13), Yuan (abad ke-13 -- 14), Ming (abad ke-14 -- 17), Qing (abad ke-17 -- 20), Thailand (abad ke-13 -- 14), Annam (abad ke-15), dan Eropa (abad ke-19  20) (Saptono, 2003: 42 -- 43).

Gunung Terang merupakan situs pemukiman yang berkembang hingga sekarang menjadi perkampungan. Menurut cerita masyarakat, sebelumnya kampung itu merupakan perkampungan orang Melayu yang kemudian diduduki orang Gunung Terang. Sebelumnya orang Gunung Terang bermukim di seberang sungai yang sekarang dikenal dengan nama Batu Putih. Jejak-jejak pemukiman lama berupa fetur parit dan sebaran artefak. Pada bagian selatan pemukiman terdapat cekungan parit yang disebut pelantingan, membujur dari selatan ke utara hingga sungai kecil yang disebut Way Ngisen. Di bagian utara pemukiman juga terdapat parit/sungai buatan yang menghubungkan antara Way Kanan dengan Way Ngisen. Sungai ini disebut Sungai Pengaliran Darah. Kawasan di sebelah selatan dan timur perkampungan terdapat beberapa lebung antara lain Lebung Seroja yang terdapat di antara pelantingan dengan Way Kanan, Lebung Kibang, dan Lebung Tikak yang berada di sebelah timur kampung. Di sebelah tenggara terdapat gunung yang dikeramatkan disebut Gunung Sri Gandow.

Bekas kampung lama terdiri bekas Kampung Melayu dan bekas Kampung Gunung Terang. Lokasi bekas Kampung Melayu berada di ujung tenggara pemukiman dekat Lebung Tikak. Jejak-jejak bekas pemukiman tidak terlihat dengan jelas, kecuali hanya sebaran artefak pada lahan yang berpola segi empat dengan luas sekitar 2 hektar. Di sebelah selatan lokasi ini merupakan lokasi kampung Gunung Terang lama. Pada bagian selatan lokasi ini terdapat bekas bangunan tempat musyawarah adat (sesat) masyarakat Gunung Terang yang disebut Sesat Watun. Pengamatan di sekitar lokasi terdapat sebaran fragmen keramik asing dan lokal (Saptono, 2004: 47 – 49).

Analisis keramik temuan ekskavasi menunjukkan dari berbagai jaman yaitu dari Cina masa dinasti Han (awal Masehi hingga abad ke-3), Sui (abad ke-6 -- 7), T’ang (abad ke-7 -- 10), Yuan (abad ke-13 -- 14), Ming (abad ke-15 -- 17), Qing (abad ke-17 -- 20), Thailand (abad ke-13 -- 14), Annam (abad ke-15), dan Eropa (abad ke-19 -- 20). Keramik Cina masa dinasti Qing merupakan temuan terbanyak. Fragmen keramik dari Eropa merupakan temuan terbanyak kedua, selanjutnya fragmen keramik Cina masa dinasti Ming. Keramik T’ang hanya ditemukan sebanyak 2 keping. Keramik masa dinasti Sui dan Han masing-masing hanya ditemukan 1 keping. Tembikar yang ditemukan kebanyakan berasal dari tipe periuk, tempayan, kibu, dan tungku lokal yang disebut tumang (Saptono, 2004 a: 30).

Di Sunda, menurut catatan Tomé Pires yang mempunyai peranan dalam hubungan dengan Lampung adalah Cheguide. C. Guillot berdasarkan kronik Barros, Couto, peta C. 1540, roteiro C. 1528, dan akta notaris 1527 menarik satu hipotesis bahwa Cheguide berada antara Pontang dan Tangerang, tepatnya antara Tanjung Kait dan Muara Cisadane yaitu di sekitar Kali Kramat (Guillot, 1992: 15 -- 16). Penelitian lapangan di situs Kramat menemukan indikator pemukiman di tepi pantai (pelabuhan). Situs Kramat terdapat di Desa Sukawali, Kecamatan Pakuhaji. Di kawasan situs ini terdapat beberapa objek arkeologis antara lain makam, fragmen komponen bangunan, kapal, serta fragmen keramik, gerabah, dan besi.

Makam yang terdapat di situs ini berupa makam panjang. Tokoh yang dimakamkan bernama Syekh Daud bin Said pendatang dari Hadramaut. Berdasarkan pengamatan pada singkapan hasil penggalian masyarakat banyak ditemukan artefak berupa fragmen keramik baik lokal maupun asing, fragmen benda-benda kaca, dan fragmen besi. Artefak tersebut kebanyakan ditemukan pada kedalaman sekitar 0,5 m. Berdasarkan sebaran artefak yang terdapat di permukaan, luas situs diduga sekitar 10 hektar. Berdasarkan keterangan penduduk setempat juga pernah ditemukan beberapa keping mata uang. Fragmen komponen bangunan yang ditemukan berupa ubin terakota, struktur bekas sumur berbentuk lingkaran, fondasi bangunan yang juga dari bahan bata.

Pada empang di sebelah utara perkampungan, berjarak sekitar 0,5 km atau 0,5 km dari pantai terdapat fragmen kapal dengan posisi membentang arah timur-barat (sejajar dengan garis pantai). Fragmen kapal yang terlihat merupakan bagian sisi lambung sepanjang sekitar 2 m. Bagian yang lain masih tertimbun tanah. Ujung kapal selanjutnya terlihat pada empang di sebelahnya. Secara keseluruhan dari ujung ke ujung yang masih ada panjangnya sekitar 6 m. Kapal ini terbuat dari bahan besi.

Keseluruhan temuan fragmen keramik, yang tertua berasal dari masa dinasti T’ang (abad ke-7 -- 10) dan yang termuda keramik Eropa (abad ke-19 -- 20). Berdasarkan temuan keramik tergambar bahwa pemukiman di situs Kramat berlangsung paling lama sejak abad ke-7 -- 20. Namun karena tidak ditemukannya keramik dari masa dinasti Yuan (abad ke-13 -- 14) dapat diduga pada masa-masa tersebut mengalami pasang surut. Aktifitas meningkat secara pesat pada masa dinasti Ming (abad ke-14 -- 17) dan mencapai puncaknya pada masa dinasti Qing (abad ke-17 -- 20) dan selanjutnya surut lagi (Saptono, 1998: 245 – 248). Surutnya aktivitas pada abad ke-13 hingga ke-13 mungkin juga disebabkan pada kurun waktu itu pusat pemerintahan kerajaan Sunda berada di wilayah timur yaitu di Kawali.

Artefak Sebagai Tanda Adanya Interaksi
Situs-situs arkeologi baik di Lampung maupun Sunda yang diduga ada interaksi semuanya mengandung tinggalan artefak keramik asing. Adanya artefak keramik menunjukkan terjadi suatu interaksi khususnya perdagangan. Karena artefak keramik asing merupakan barang komoditas yang peredarannya sangat luas, maka sangat sulit dipakai untuk mencari jejak interaksi antar lokasi. Pada aspek penanggalan secara relatif, artefak keramik asing yang terdapat di beberapa situs di Lampung maupun Sunda menunjukkan dari kurun waktu yang tidak berbeda. Dengan demikian secara umum dapat ditemui suatu gambaran adanya interaksi antara Lampung dan Sunda. Untuk melihat adanya interaksi antar wilayah dapat dilihat melalui keberadaan artefak lokal antara lain tembikar.

Benda tembikar dengan bentuk spesifik bagi masyarakat Lampung misalnya kibu (kendi) dan tumang (tungku berkaki tiga khas Lampung). Kibu mempunyai variasi bentuk sekitar sepuluh macam. Salah satu bentuknya mirip buah labu (waluh) bulat. Kepala datar dan pepat. Lubang terdapat di sisi leher. Cerat lebar membentuk garis menyatu dengan badan. Bentuk lain ada yang mirip dengan kamandalu yang dibawa pendeta dan dewa Siwa maupun Buda. Kendi yang terkenal dihias dengan arca pengantin yang distilir terdapat di bagian atas (Satari, 1990: 199).

Di Trowulan pernah ditemukan fragmen kibu (Satari, 1990: 195). Hal ini sesuai dengan sumber sejarah bahwa antara Lampung dengan Majapahit ada interaksi. Di situs Kramat, meskipun merupakan pelabuhan sebagai gerbang antara Sunda dan Lampung, namun tidak ditemukan fragmen kibu atau tumang. Artefak semacam ini pernah ditemukan di kawasan Kertabumi, Kecamatan Cijeungjing, Ciamis. Kawasan Kertabumi diapit dua sungai yaitu Cimuntur dan Cileueur. Di kawasan ini terdapat dua situs yaitu situs Gunung Susuru, dan Bojong Gandu. Situs Gunung Susuru merupakan suatu tonjolan bukit yang terbentuk oleh batuan breksi volkanik. Situs ini berada di ujung tenggara. Situs Bojong Gandu berada di sebelah barat laut situs Gunung Susuru. Tinggalan arkeologis yang ada di kawasan Kertabumi berupa batu datar, punden berundak, gua, makam kuna, bekas benteng dari susunan batu, sumur, batu bersusun, dan benda artefaktual. Artefak yang pernah ditemukan antara lain beliung persegi, bola batu, batu pipisan, gelang emas, manik-manik, keramik, dan tembikar (Agus, 2001: 150 – 151; Widyastuti, 2001: 101 – 102).

Gua di Kertabumi berada di situs Gunung Susuru. Gua yang ada berjumlah lima, tiga di antaranya telah digali penduduk. Beberapa benda arkeologis temuan hasil penggalian penduduk antara lain berupa gigi dan tulang binatang yang sudah mengalami pemfosilan (sub-fosil), fragmen keramik, dan fragmen tembikar (Agus, 2001: 157). Secara tipologis fragmen tembikar temuan penduduk tersebut ada yang berasal dari bentuk kibu dan tumang.


Fragmen tungku (A) yang disebut tumang, ditemukan di Gunung Terang, Tulangbawang, (B) ditemukan di Kertabumi, Ciamis

Penelitian yang pernah dilakukan antara lain menemukan fragmen keramik dan tembikar. Artefak tersebut selain ditemukan pada gua di situs Gunung Susuru, juga banyak ditemukan di situs Bojong Gandu. Analisis pertanggalan secara relatif terhadap keramik menunjukkan berasal dari Cina masa dinasti Song, Yuan, Ming, dan Qing. Selain itu juga ada keramik Thailand, Vietnam, dan Eropa. Berdasarkan pengamatan terhadap seluruh tenuan keramik asing, keramik Cina masa dinasti Ming dan Qing merupakan temuan terbanyak selanjutnya keramik Eropa dan Thailand (Widyastuti, 2002: 103).


Terakota berbentuk pipih panjang yang disebut kue, ditemukan di situs Kertabumi, Ciamis.

Beberapa temuan tembikar ada yang berupa terakota berbentuk pipih panjang. Masyarakat setempat menyebut benda semacam ini dengan istilah kue. Benda semacam ini ditemukan dalam jumlah sangat banyak. Pengamatan pada benda tersebut menunjukkan bermacam-macam variasi penampang lintang yaitu segi empat, setengah lingkaran, elips, dan trapesium. Pada bagian sisi panjang dihias dengan teknik gores dan sebagian tekan. Ragam hias yang ada kebanyakan berupa garis-garis dengan sebelas variasi motif (Widyastuti, 2001: 102 – 111). Fragmen terakota berbentuk kue juga pernah ditemukan di situs Benteng Sabut, Tulangbawang.

Berdasarkan kesamaan ragam artefak tersebut, sangat mungkin pernah terjadi interaksi antara masyarakat Lampung dengan masyarakat Sunda. Kibu dan tumang yang merupakan benda tembikar khas Lampung ditemukan juga di kawasan Kertabumi, Ciamis. Sedang benda terakota berbentuk kue juga pernah ditemukan di Tulangbawang. Dengan demikian terdapat gambaran bahwa antara masyarakat pendukung situs Susuru di Kertabumi dengan masyarakat Tulangbawang telah terjadi interaksi.

Sejenis dengan benda terakota berbentuk kue juga pernah ditemukan di situs Ratu Balaw. Situs Ratu Balaw secara administratif termasuk di dalam wilayah Kampung Kedamaian, Kecamatan Tanjung Karang Timur, Kota Madya Bandar Lampung. Lokasi situs diapit dua aliran sungai yaitu Way Balaw yang mengalir di sebelah utara hingga timur situs dan Way Awi atau Way Kedamaian yang mengalir di sebelah barat hingga selatan situs. Kedua sungai ini kemudian menyatu di sebelah tenggara situs membentuk aliran Way Lunik. Di sebelah baratlaut situs terdapat Gunung Camang dan di sebelah timur situs terdapat Gunung Pemancar. Benda sejenis kue yang ditemukan di situs Ratu Balaw bukan terbuat dari terakota tetapi dari batu dan tidak berhias. Sisi-sisi batu tersebut polos. Ditinjau dari aspek historis, masyarakat di Balaw ada kaitan dengan masyarakat Sunda kuna sekitar abad ke-16.



Batu berbentuk bulat pipih dari situs Ratu Balaw

Menurut cerita sejarah yang berkembang di masyarakat keturunan Ratu Balaw, Keratuan di Balaw berdiri sejak sebelum Islam masuk di Lampung, sejaman dengan kerajaan Sriwijaya, Tulangbawang, dan Sekala Berak yaitu pada sekitar abad ke-7 atau ke-8. Tokoh yang mendirikan adalah Radin Kunyayan dengan istrinya yang bernama Putri Kuning. Radin Kunyayan merupakan keturunan Keratuan Pugung Skala Berak dari daerah Ranau, bergelar Ratu Sai Ngaji Saka. Keratuan di Balaw mula-mula berada di daerah Krui pada ujung muara Way Balaw Krui. Dari lokasi ini kemudian pindah ke muara Way Balaw yang sekarang berada di Tiyuh Kedamaian. Tokoh penguasa Keratuan Balaw antara lain adalah Ratu Mungkuk, Ratu Jang Kuna, Ratu Pujaran, dan Ratu Lengkara. Pada abad ke-16 Keratuan Balaw berada di bawah kepemimpinan Ratu Lengkara (Djubiantono, 2004: 9).

Sumber lain menyebutkan bahwa Keratuan di Balaw berhubungan dengan Sunda. Di Lampung pernah datang Ratu Alangkara dari Pajajaran disertai dua orang panglima yang bernama Ratu Mungkuk dan Ratu Jangkung. Mereka ke Lampung dalam rangka mengejar anak gadisnya yang dilarikan orang Lampung. Mengejar dalam bahasa Lampung adalah bualaw. Mereka tidak berhasil tetapi enggan kembali ke Pajajaran karena baik di Pajajaran, Banten, maupun Majapahit telah pindah ke agama Islam. Mereka kemudian mendirikan pemukiman di sekitar Way Awi dekat Teluk Betung dan menyebut diri dengan Ratu Alangkara Pajajaran. Mereka masih tetap beragama Hindu. Di Lampung lebih dikenal dengan sebutan Ratu Balaw (Warganegara, 1994: 15; Soebing, 1988: 9).

Perbedaan dalam cerita sejarah tersebut memang perlu pengkajian lebih dalam lagi. Dilihat dari tokoh yang diceritakan memang banyak kesesuaian. Lokasi cerita pun sama, yaitu di pertemuan antara Way Awi dan Way Lunik. Namun mengenai asal-usulnya sangat bertentangan. Menurut versi masyarakat Balaw sendiri, mereka mengaku berasal dari Way Balaw, Krui. Cerita versi masyarakat Tulangbawang dan Abung menyebutkan dari Pajajaran. Bila dilihat dari tinggalan batu yang bentuknya mirip dengan terakota kue, mungkin memang ada hubungan antara Balaw dengan Sunda.

Penutup
Pada masa klasik awal sekitar abad ke-5, di Lampung dikenal adanya kerajaan Tulangbawang. Pada suatu masa kerajaan ini mengalami kemunduran dan akhirnya punah. Selanjutnya kawasan Lampung berada di bawah kekuasaan Sriwijaya. Setelah Sriwijaya runtuh, Lampung berada di bawah kekuasaan Melayu Jambi. Keberhasilan Majapahit menaklukkan Melayu, mengakibatkan Lampung berada di bawah kekuasaan Majapahit. Kontrol Majapahit terhadap Lampung tampaknya tidak begitu ketat. Pada masa ini Lampung tidak hanya berinteraksi dengan Majapahit tetapi juga dengan Sunda.

Pada masa klasik akhir, ketika mulai muncul komunitas muslim di daerah pantai, hubungan antara Lampung dengan Sunda semakin intensif. Pada masa ini di Lampung tidak ada kekuatan politik besar berupa kerajaan, tetapi semacam kelompok masyarakat dalam bentuk keratuan. Dalam catatan Tomé Pires, Lampung tidak lagi disebut tetapi lebih ke lokasi spesifik yaitu Sekampung dan Tulangbawang. Meskipun Tomé Pires menyebutkan dengan jelas bahwa gerbang masuk dari kawasan Lampung ke Sunda adalah pelabuhan Cheguide, tetapi di situs Keramat yang merupakan lokasi pelabuhan Cheguide tidak ditemukan artefak spesifik yang menunjukkan adanya hubungan tersebut.

Melalui perbandingan artefak berupa fragmen tembikar dari bentuk kibu dan tumang, yang merupakan benda spesifik dari Lampung, dapat ditarik suatu hipotesis bahwa hubungan antara Lampung dan Sunda, khususnya terjadi antara Sekampung dan Tulangbawang (Lampung) dengan kawasan Kertabumi (Sunda). Hal ini didasari bahwa fragmen kibu dan tumang juga ditemukan di Kertabumi. Selain itu juga diperkuat adanya temuan terakota berbentuk kue di Tulangbawang yang merupakan artefak spesifik dari Kertabumi. Fenomena seperti ini memunculkan dugaan bahwa kawasan Kertabumi merupakan lokasi penting bagi kerajaan Sunda. Mungkin kawasan Kertabumi adalah ibukota kerajaan Sunda di Galuh.

Terakota berbentuk kue yang merupakan artefak spesifik dari Kertabumi, secara tipologis mempunyai kesamaan dengan salah satu artefak batu yang ditemukan di situs Ratu Balaw. Kesamaan tipe ini mengarahkan pada dugaan bahwa antara Kertabumi (Sunda) dengan Balaw ada kaitan. Dugaan ini juga dilandasi cerita sejarah masyarakat Tulangbawang dan Abung mengenai Keratuan Balaw yang menyatakan bahwa masyarakat Balaw berasal dari Pajajaran.


Daftar Pustaka

Agus

1995 “Lingkungan dan Kaitannya Dengan Tinggalan Arkeologis di Situs Harakuning”. Dalam Jurnal Penelitian Balai Arkeologi Bandung Nomor 2/November/1995. Bandung: Balai Arkeologi Bandung. Hlm. 62 -- 71.

2001 “Lingkungan dan Tinggalan Arkeologi di Kawasan Kertabumi: Bahasan Deskriptif Atas Temuan Situs Baru”. Dalam Tony Djubiantono dan Moh. Ali Fadillah (ed.), Manusia dan Lingkungan: Keberagaman Budaya Dalam Kajian Arkeologi. Bandung: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia. Hlm. 148 – 160.

Boechari

1979 “An Old Malay Inscription of Srivijaya at Palas Pasemah (South Lampong)”. Dalam Pra Seminar Penelitian Sriwijaya. Jakarta: Pusat Penelitian Purbakala dan Peninggalan Nasional. Hlm. 19 -- 40.

Cortesão, Armando

1967 The Suma Oriental of Tomé Pires. Nendelnd iechtenstein: Kraus Reprint Limited.

Damais, Louis-Sharles

1995 “Tanggal Prasasti Hujung Langit (‘Bawang’)”. Dalam Epigrafi dan Sejarah Nusantara: Pilihan Karangan Louis-Charles Damais. Jakarta: Ecole Française d’Extrême-Orient – Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. Hlm. 27 – 45.

Danasasmita, Saleh

1975 “Latar Belakang Sosial Sejarah Kuno Jawa Barat dan Hubungan Antara Kerajaan Galuh Dengan Pajajaran”. Dalam Atja (ed.), Sejarah Jawa Barat dari Masa Prasejarah Hingga Masa Penyebaran Agama Islam. Bandung: Proyek Penunjang Peningkatan Kebudayaan Nasional Propinsi Jawa Barat. Hlm. 40 – 81.

Djubiantono, Tony et al.

2004 Laporan Survei, Pemetaan Dan Penggalian Arkeologi di Kawasan Situs Keratuan Balaw Dusun Keramat Balaw, Kelurahan Kedamaian Bandar Lampung. Kerjasama Pemerintah Daerah Propinsi Lampung, Asdep Urusan Arkeologi Nasional, Balai Arkeologi Bandung.

Groeneveldt, W.P.

1960 Historical Notes on Indonesia & Malaya Compiled from Chinese Sources. Jakarta: C.V. Bhratara.

Guillot, C

1992 “Perjanjian dan Masalah Perjanjian Antara Portugis dan Sunda Tahun 1522”. Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 13. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

Hadikusuma, Hilman

1989 Masyarakat dan Adat-Budaya Lampung. Bandung: Mandar Maju.

Lasmidara, Ira

2003 “Napak Tilas Aksara Nusantara”. Dalam SKH Republika, 2 Februari 2003. Hlm. 9.

Muljana, Slamet

1979 Negarakretagama dan Tafsir Sejarahnya. Jakarta: Bhratara Karya Aksara.

1981 Kuntala, Sriwijaya, dan Suwarnabhumi. Jakarta: Yayasan Idayu.

Purwanti, Retno

1995 “Perang Pada Masa Sriwijaya: Tinjauan Terhadap Prasasti-prasasti Abad VII Masehi”. Dalam Jurnal Penelitian Balai Arkeologi Bandung. Bandung: Balai Arkeologi Bandung. Hal. 98 -- 103.

Rangkuti, Nurhadi

1994 “Emas dan Tanah: Kasus Penguasaan Sumber-sumber Ekonomi di Sumatera dan Jawa Pada Abad VII – X Masehi (Kajian Prasasti-prasasti Masa Sriwijaya dan Mataram Kuna)”. Dalam Evaluasi Data dan Interpretasi Baru Sejarah Indonesia Kuna, Berkala Arkeologi, Th. XIV, Edisi Khusus. Yogyakarta: Balai Arkeologi Yogyakarta. Hlm. 163 – 169.

Saptono, Nanang

1998 “Cheguide”. Dalam Tony Djubiantono, et al. (ed.), Dinamika Budaya Asia Tenggara – Pasifik Dalam Perjalanan Sejarah. Bandung: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia.

2002 “Hubungan Fungsional Situs Benteng Sabut, Benteng Prajurit Puting Gelang, dan Keramat Gemol”. Dalam Agus Aris Munandar (ed.), Jelajah Masa Lalu. Bandung: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia. Hlm. 86 – 101.

2003 Laporan Hasil Penelitian Arkeologi Permukiman Benteng Di Kampung Gunungkatun Tanjungan Dan Gunungkatun Malay Kec. Tulangbawang Udik, Kab. Tulangbawang, Propinsi Lampung. Bandung: Balai Arkeologi Bandung.

2004 “Struktur ‘Kota’ Kuna Gunung Terang, Tulangbawang, Lampung”. Dalam Agus Aris Munandar (ed.), Teknologi dan Religi Dalam Perspektif Arkeologi. Bandung: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia. Hlm. 42 – 54.

2004a Laporan Hasil Penelitian Arkeologi Pemukiman di Gunung Terang – Gunung Agung dan Sekitarnya, Kabupaten Tulangbawang, Lampung. Bandung: Balai Arkeologi Bandung.

Satari, Sri Soejatmi

1990 “Kendi di Indonesia”. Dalam Edi Sedyawati, dkk. (ed.), Monumen: Karya Persembahan Untuk Prof. Dr. R. Soekmono. Depok: Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Hlm. 191 – 202.

Sholihat, Nia Kurnia

1980 “Abad 13, Sriwijaya Sudah Tak Ada Lagi”. Dalam SKH Sinar Harapan, 9 April 1980. Hlm. 5.

Soebing, Abdullah A

1988 Kedatuan di Gunung – Keratuan di Muara. Jakarta: Karya Unipress.

Soekatno, Endang Sh.

1985 “Catatan Tentang Arca Masa Klasik dari Pugungrahardjo, Lampung”. Dalam Rapat Evaluasi Hasil Penelitian Arkeologi II. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. Hlm. 163 – 174.

Soekmono

1985 “Kisah Perjalanan ke Sumatra Selatan dan Jambi”. Dalam Satyawati Suleiman et al. Amerta 3. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

Sumadio, Bambang (ed.)

1990 “Jaman Kuna”. Dalam Marwati Djoened Poesponegoro, Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia II. Jakarta: Balai Pustaka.

Triwuryani, Rr.

1996 “Pola Persebaran Situs Benteng di Sepanjang DAS Sekampung: Ditinjau dari Kajian Wilayah”. Makalah pada Evaluasi Hasil Penelitian Arkeologi, Ujungpandang 20-26 September 1996. (belum diterbitkan).

1998 “Pola Tata Letak Situs Tradisi Megalitik di DAS Sekampung”. Makalah pada Evaluasi Hasil Penelitian Arkeologi, Cipayung 16-20 Februari 1998. (belum diterbitkan).

Warganegara, Marwansyah

1994 Riwayat Orang Lampung. (manuskrip).

Widyastuti, Endang

2000 “Penentuan Periode Situs Pugung Raharjo Berdasarkan Gaya Bangunan”. Dalam Fachroel Aziz dan Etty Saringendyanti (ed.), Cakrawala Arkeologi. Bandung: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia. Hlm. 127 – 134.

2001 “Temuan Terakota dari Situs Bojong Gandu, Kertabumi, Ciamis: Sebuah Telaah Bentuk dan Ragam Hias”. Dalam Tony Djubiantono dan Moh. Ali Fadillah (ed.), Manusia dan Lingkungan: Keberagaman Budaya Dalam Kajian Arkeologi. Bandung: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia. Hlm. 99 – 112

2002 “Tembikar dan Keramik dari Kawasan Kertabumi”. Dalam Endang Sri Hardiati (ed.), Tapak-tapak Budaya. Bandung: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia. Hlm. 98 – 110.

Yondri, Lutfi

1995 “Beberapa Peninggalan Arkeologis di Dusun Harakuning, Lampung”. Dalam Jurnal Penelitian Balai Arkeologi Bandung Nomor 2/November/1995. Bandung: Balai Arkeologi Bandung. Hal. 51 -- 61.







Catatan: Tulisan ini terbit di buku berjudul “Hastaleleka: Kumpulan Karya Mandiri Dalam Kajian Paleoekologi, Arkeologi, Sejarah Kuna, dan Etnografi”, hlm. 51 – 66. Editor Agus Aris Munandar. Jatinangor: Alqaprint, 2005.


02 Februari 2009

Menelusuri Perkampungan Kuna di Way Kanan (2)


STRUKTUR “KOTA” KUNA GUNUNG TERANG,

TULANGBAWANG, LAMPUNG


Nanang Saptono




PENDAHULUAN
Kondisi geografis kawasan Tulangbawang, Lampung merupakan daerah pedataran rendah sedikit bergelombang. Di antara bukit-bukit kecil dan pedataran, banyak terdapat rawa (bawang). Rawa yang ada kebanyakan merupakan suatu sistem rangkaian yang dihubungkan sungai-sungai kecil (muara) kemudian menyatu dengan sungai besar (way). Sungai besar utama yang menjadi induk tersebut adalah Way Tulang Bawang. Sungai ini merupakan persatuan antara Way Kanan dan Way Kiri yang menyatu di daerah Pagardewa. Baik pada aliran Way Kanan maupun Way Kiri banyak dijumpai situs-situs pemukiman. Situs pemukiman ini ada yang sudah ditinggalkan, ada pula yang terus berlanjut hingga saat sekarang. Pada aliran Way Kanan terdapat situs Batu Putih yang berada di tepi sebelah selatan, pada posisi 424’03” LS dan 10504’ BT (berdasarkan peta topografi lembar 30 daerah Gedongratu). Lokasi ini telah ditinggalkan. Menurut tradisi lisan masyarakat, situs Batu Putih merupakan lokasi pemukiman sebelum pindah ke Gunung Terang (Saptono, 2000: 20). Kampung Gunung Terang berada di sebelah timur dan utara aliran sungai. Dalam tradisi lisan, lokasi Kampung Gunung Terang sebelumnya merupakan perkampungan orang Melayu.

Masyarakat Tulangbawang pada umumnya menyebut lokasi tinggalnya dengan istilah tiyuh atau kampung. Kampung dapat mengalami pemekaran. Anggota masyarakat suatu kampung diperbolehkan membuka hutan untuk tanah garapan. Tanah garapan ini disebut umbulan. Apabila umbulan tersebut cocok untuk lokasi tinggal dan memenuhi berbagai persyaratan adat, maka dapat berkembang menjadi kampung. Sebelum menjadi kampung, umbulan menginduk pada kampung asalnya.


Konsep tiyuh pada masyarakat Tulangbawang dapat disamakan dengan konsep wanua pada masyarakat Austronesia pada umumnya. Wanua, Banua, atau Nua bagi masyarakat Kayuagung, Komering, dan Lampung merujuk pada permukiman masyarakat desa dengan status sosial, politik, dan ekonomi yang otonom (Wiryomartono, 1995: 17). Wanua pada masyarakat Jawa Kuna juga merujuk pada permukiman masyarakat setingkat desa yang dipimpin oleh Rama (Sumadio, 1990: 190). Masyarakat penghuni tiyuh biasanya merupakan satu keluarga besar (kebuayan) yang membentuk marga. Masyarakat Gunung Terang membentuk marga Suay Umpu Ilir. Kesatuan marga dipimpin oleh pesirah marga dengan didampingi para penyimbang adat. Struktur organisasi tersebut memperlihatkan sudah ada konsep kepemimpinan. Dengan demikian dapat dipastikan bahwa tiyuh sebagai wilayah untuk bertempat tinggal akan memuat masyarakat yang jenjang sosial dan pola kegiatannya berragam.


Kondisi masyarakat seperti ini menunjukkan tingkat peradaban. Menurut Gordon Childe evolusi peradaban manusia dapat dibagi dalam tiga tahap yaitu savagery, barbarism, dan civilization. Tahap savagery dianggap sebagaimana masa berburu dan mengumpulkan makanan. Masyarakat hidup secara berpindah-pindah (nomad) bermukim secara sementara pada gua-gua atau tempat tinggal sederhana. Pada masa ini belum dikenal adanya hukum dan tata pemerintahan. Tahap barbarism merupakan masyarakat bercocok tanam yang sudah mengenal hukum dan tata pemerintahan secara sederhana dalam kelompok yang terbatas dan tertutup. Bermukim secara semi menetap tergantung sumberdaya alam yang tersedia. Sedangkan pada tahap civilization adalah suatu masyarakat agrikultur dan industri. Kelompok masyarakat ini sudah mengenal tata pemerintahan dan hukum yang telah teratur. Bermukim secara menetap pada suatu lokasi (Childe, 1979: 12-14). Secara fisik, tingkat peradaban manusia sejalan dengan tingkat pemukimannya. Bentuk pemukiman yang sudah maju berupa kawasan di mana sudah dilengkapi bangunan-bangunan baik bersifat pribadi maupun fasilitas umum. Bentuk pemukiman yang dianggap paling maju berupa kota.


Pengertian tentang “kota”, hingga saat ini belum terdapat suatu batasan yang dapat diterapkan secara universal. Di dunia Islam jaman pertengahan elemen kota meliputi masjid, pasar, dan tempat mandi publik. Di Eropa terdiri benteng pertahanan, pasar, dan tempat pengadilan (Rapoport, 1986: 22-23). Pada jaman kejayaan kesultanan Islam di Indonesia, sudah dapat dikatakan “kota” apabila sudah dilengkapi kraton sebagai pusat kekuasaan, masjid sebagai pusat kegiatan ibadah (ritual), dan pasar sebagai pusat kegiatan ekonomi serta kadang-kadang juga taman. Dengan demikian keanekaragaman pengertian kota disebabkan pula karena perkembangan zaman yang mengakibatkan terjadinya perubahan. Pemukiman lama di Kampung Gunung Terang, secara fisik sulit dikatakan sebagai kota. Namun dilihat dari tingkat peradaban masyarakat pendukungnya sudah mencirikan suatu kota. Dengan demikian pemukiman Gunung Terang sudah pantas disebut “kota”.



CERITA SEJARAH LISAN

Sumber sejarah Gunung Terang belum ditemukan. Sejarah mengenai leluhur (moyang) Gunung Terang berupa tradisi lisan yang diturunkan dari generasi ke generasi. Dalam tradisi lisan tersebut diceritakan bahwa masyarakat Gunung Terang sebelum bermukim di Way Kanan, Tulangbawang, mula-mula bermukim di Way Besai, Sekala Berak. Dari daerah ini kemudian pindah ke Batu Putih, Way Kanan. Ketika itu di seberang sungai sebelah hilir terdapat perkampungan orang Melayu. Karena lokasi Batu Putih dinilai tidak tepat lalu mengekspansi kampung Melayu dan pemukiman pindah ke Kampung Melayu. Sejak itu Batu Putih ditinggalkan. Tokoh Melayu yang dikalahkan adalah Melayu Gelang Besi. Tokoh ini dimasukkan ke kotak lalu dihanyutkan di Way Kanan. Kotak itu ditemukan oleh Ruguk Adipati, penguasa Muara Ruguk.

Mengenai tokoh cikal bakal (moyang asal), diceritakan adalah Minak Sekendar Alam. Keturunan Minak Sekendar Alam di antaranya tiga laki-laki yaitu Tuan Riou Terbumi, Minak Patih Seriou Bumi, dan Minak Riou Bumi. Tuan Riou Terbumi dimakamkan di sebelah hilir Moyang Purba, Negeri Besar, menurunkan Suku Tepuk Gabou. Minak Patih Seriou Bumi dimakamkan di Gunung Terang keturunannya disebut Suku Pinggir Way. Minak Riou Bumi dimakamkan di Kurindang, Meriksa menurunkan Suku Tepuk Gedung.


Selain tiga anak laki-laki tersebut Minak Sekendar Alam juga mempunyai tiga anak perempuan. Tiga anak perempuan ini tidak diketahui apakah sebagai ayu (kakak perempuan) atau adik ketiga anak laki-laki itu. Seorang anak perempuan menikah dengan orang Bakung Udik, seorang lagi menikah dengan orang Pulau Tabuhan, Teluk Semangka, dan seorang lagi yang bernama Minak Kemalo menikah dengan Pangiran Menang Jagad, Kampung Negara Batin, Way Kanan.


Ketika Minak Kemalo dipersunting Pangiran Menang Jagad meminta sesan (barang bawaan) yang tidak bisa habis. Permintaan Minak Kemalo ini ditujukan kepada saudara laki-lakinya yaitu Tuan Riou Terbumi, Minak Patih Seriou Bumi, dan Minak Riou Bumi. Minak Kemalo diberi sesan berupa Muara Buluh di Gunung Terang, Muara Menelapai di Batu Putih, rotan hidup, tiku (mendong), dan bejuku (kura-kura).


Pada generasi itu ada juga moyang di antaranya adalah Minak Riou Galih yang diketahui makamnya di Simpang Kenali, Sekala Berak. Minak Riou Galih menikah dengan ayu Minak Jagad menurunkan Suku Galih. Salah satu anak Minak Riou Galih bernama Minak Buay Sugih dimakamkan di Batu Putih, Gunung Terang. Minak Jagad menurunkan Suku Ruang Tengah. Minak Jagad mempunyai saudara bernama Minak Ngegulung dimakamkan di Umbul Lekou, Rantau Tejang (Tiyuh Toho, Menggala). Minak Ngegulung berada di Menggala dalam rangka membantu Minak Sengaji untuk mempertahankan Menggala. Buay Minak Ngegulung yang bermukim di Menggala membentuk Marga Suay Umpu Ilir, sedangkan buay Minak Jagad menyatu dengan buay moyang-moyang Gunung Terang lainnya membentuk Marga Suay Umpu Udik. Saudara Minak Riou Galih yang belum diketahui namanya dipersunting Prajurit Puting Gelang dari Gunung Katun. Keturunan Prajurit Puting Gelang, Suku Tepuk Gabou, bermukim di Kampung Panaragan.


Pada masa Tuan Riou Terbumi dan moyang-moyang lainnya sebagai moyang unsur Gunung Terang dan Gunung Agung mempunyai kebiasaan memasang bubu (alat penangkap ikan) di kuala Way Tulangbawang. Pada suatu saat ketika melewati Kampung Pagardewa sekarang, ada moyang (apakah Tuan Riou Mangkubumi atau Minak Kemala Bumi/Minak Patih Pejurit) yang menunjukkan kesaktian dengan jalan memotong dan membelah bambu tidak dengan golok tetapi dengan tangan saja. Kerabat Tuan Riou Terbumi berkali-kali mengajak menanggapi kesaktian itu. Tuan Riou Terbumi belum bersedia menanggapi ajakan kerabatnya.


Dalam satu riwayat diceritakan Tuan Riou Terbumi bersaudara ketika berada di Pagardewa (Cakat Menaso) mengeluarkan kesaktian di atas perahu yang ditumpangi. Tuan Riou Terbumi berada di depan sedang Minak Patih Seriou Bumi dan Minak Riou Bumi berada di belakang. Minak Riou Bumi lalu berbalik arah ke hilir dan mereka bertiga saling mendayung perahu berlawanan arah. Perahu akhirnya putus menjadi tiga bagian. Kepala perahu dibawa Tuan Riou Terbumi, bagian tengah dibawa Minak Patih Seriou Bumi, dan bagian belakang dibawa Minak Riou Bumi.


Pada suatu ketika Sesat Watun milik masyarakat Gunung Terang dan Gunung Agung dihancurkan oleh moyang Pagardewa (Tuan Riou Mangkubumi dan Minak Kemala Bumi atau Minak Patih Pejurit) lalu dihanyutkan di Way Kanan. Salah satu tiyang menancap di tebing dan terjadilah Muara Watun di Pagardewa. Moyang-moyang Gunung Terang mengadakan perlawanan. Minak Jagat Kuasa mengeluarkan senjata pedang yang kemudian disebut Pedang Sejalur. Pedang ini sekarang disimpan Bapak Mat Mukhtar, Suku Galih.


Oleh Minak Jagat Kuasa pedang itu dilepaskan saja di Pagardewa. Pedang itu berjalan sendiri melakukan perlawanan. Sedang Minak Jagat Kuasa menunggu di sungai (diperahu). Minak Kemala Bumi meminta kepada Minak Jagat agar memanggil kembali Pedang Sejalur dan menghentikan perang. Kepala orang yang terpotong pedang dimuatkan di perahu yang panjangnya 9 depa. Kepala tersebut dibawa ke Gunung Terang ditempatkan di suatu bawang. Bawang tersebut sekarang bernama Bawang Ngisen (Nisan), yang ditengahnya terdapat tanah memanjang bekas kepala orang-orang Pagardewa. Sampai sekarang pada musim kemarau air Bawang Ngisen berwarna merah darah. Penamaan Pedang Sejalur karena menurut riwayat perahu yang dipakai untuk mengangkut kepala orang-orang Pagardewa bernama Perahu Sejalur, maka pedang itu disebut juga Pedang Sejalur. Dalam mengakhiri peperangan tersebut, Minak Jagat tidak mau kembali ke Gunung Terang bila tidak diberi wanita Pagardewa untuk dipersunting. Hingga sekarang di Pagardewa terdapat keturunan Minak Jagat.


Di wilayah Gunung Terang dan Gunung Agung sampai sekarang akan terdengar suara meriam gaib warisan nenek moyang dari arah Gunung Sri Gandow. Suara meriam tersebut terdengar bila akan terjadi peristiwa yang mengganggu masyarakat di Kampung Gunung Terang dan Gunung Agung. Gangguan tersebut dalam arti merupakan ulah masyarakat lain. Selain Gunung Sri Gandow juga terdapat Gunung Mengguk. Masyarakat meyakini bahwa di lokasi Gunung Mengguk terdapat kuda emas yang bersifat gaib. Masyarakat sering melihat penampakan kuda emas ini berjalan dari Gunung Mengguk ke Gunung Sri Gandow. Posisi tubuh ketika berjalan selalu rata dengan tanah. Pada saat dilihat sedang mendaki gunung, kaki belakang panjang dengan sendirinya, sedangkan pada saat turun kaki depan yang panjang dengan sendirinya.


Di belakang (selatan) kampung warga transmigran Panca Marga, Satuan Pemukiman I, Menggala B terdapat Gunung Putik (burung). Dalam satu riwayat disebutkan bahwa moyang Gunung Terang mempunyai tunggangan kuda emas dan burung. Berdasarkan riwayat ini masyarakat menduga apakah mungkin Gunung Putik merupakan tempat burung tunggangan. Di dekat Batu Putih terdapat Bawang Loday. Disebut Bawang Loday karena bawang tersebut merupakan tempat nenek moyang memelihara loday (ular besar yang tidak bisa berjalan). Pada jaman dahulu sebelum agama Islam kuat, peliharaan moyang (kuda emas, burung, dan loday) dikeramatkan masyarakat dengan jalan diberi sesaji sebagaimana masyarakat lain. Setelah Islam kuat pelaksanaan sesajen tersebut tidak pernah ada lagi.



Masyarakat menyaksikan kegiatan ekskavasi di Kampung Gunung Terang


LINGKUNGAN PEMUKIMAN GUNUNG TERANG

Sekarang ini, Gunung Terang secara administratif terdiri dari Kampung Gunung Terang dan Gunung Agung, namun secara fisik kedua kampung tersebut menyatu. Pemukiman secara umum berada di tepian Way Kanan sebelah timur dan utara aliran sungai. Pola pemukiman memanjang utara – selatan. Kampung Gunung Agung berada di bagian selatan sedangkan di bagian utara merupakan Kampung Gunung Terang. Di daerah ini aliran Way Kanan berkelok-kelok. Bermula dari arah barat daya menuju arah barat laut. Di dekat pemukiman sungai berbelok ke arah selatan kemudian ke arah timur. Pada kelokan sungai dari arah utara ke arah timur masyarakat menyebutnya Lubuk Kali Mangkuk. Aliran Way Kanan dari Lubuk Kali Mangkuk ke arah timur terdapat pertemuan sungai antara Way Ngisen dengan Way Kanan. Way Ngisen bermula di Bawang Ngisen yang berada di sebelah barat laut kampung. Di bagian hilir sungai ini disebut Tulung Mayat. Di dekat muara Way Ngisen terdapat bukit kecil yang disebut Gunung Sri Gandow.

Pada bagian selatan pemukiman terdapat cekungan parit yang disebut pelantingan, membujur dari selatan ke utara hingga Way Ngisen. Parit ini dijadikan batas antara Kampung Gunung Agung dengan Gunung Terang. Di bagian utara pemukiman juga terdapat parit/sungai buatan yang menghubungkan antara Way Kanan dengan Way Ngisen. Sungai ini disebut Sungai Pengaliran Darah. Kawasan di sebelah selatan dan timur perkampungan terdapat beberapa lebung antara lain Lebung Seroja yang terdapat di antara pelantingan dengan Way Kanan, Lebung Kibang terdapat di sebelah barat laut Gunung Sri Gandow, dan Lebung Tikak yang berada di sebelah timur kampung.


Pola pemukiman Gunung Terang yang terlihat sekarang sudah menunjukkan pola “kota” terrencana. Prasarana transportasi sebagai akses menuju lokasi berupa sungai dan jalan darat. Jaringan jalan dibuat secara berpotongan tegak lurus sejajar dengan aliran sungai utama. Orientasi rumah tinggal menghadap ke jalan. Pembangunan pemukiman dengan pola “kota” ini mungkin berlangsung pada jaman penjajahan Belanda. Hal ini terlihat dari penyebutan jalan dengan istilah straat. Semula terdapat empat jalur jalan utama yang membujur arah utara – selatan. Sekarang tinggal tiga jalur yang masih utuh. Jalur kedua dari barat (Straat II) pada bagian utara sudah terputus. Struktur kampung lama sulit diamati karena kondisi fisiknya mengalami perkembangan terus menerus hingga sekarang. Berdasarkan sebaran artefak, terlihat bahwa perkampungan lama berada di sebelah utara pelantingan. Selain sebaran artefak juga terdapat beberapa fetur yaitu bekas kampung lama, makam, dan tumulus.


Bekas Kampung
Bekas kampung lama terdiri bekas kampung Melayu dan bekas Kampung Gunung Terang. Lokasi bekas kampung Melayu berada di ujung tenggara pemukiman dekat Lebung Tikak. Jejak-jejak bekas pemukiman tidak terlihat dengan jelas, kecuali hanya sebaran artefak pada lahan yang berpola segi empat dengan luas sekitar 2 hektar. Di sebelah selatan lokasi ini merupakan lokasi kampung Gunung Terang lama. Pada bagian selatan lokasi ini terdapat bekas sesat Gunung Terang yang disebut Sesat Watun. Lokasi ini sekarang berupa lahan yang banyak ditumbuhi pohon pisang. Di antara sela-sela rumpun pohon pisang masih dapat dijumpai bekas-bekas fondasi bangunan. Dalam cerita tutur masyarakat, di depan sesat ini pernah terjadi peristiwa peperangan antara Prajurit Puting Gelang dengan prajurit dari Bugis. Pengamatan di sekitar lokasi terdapat sebaran fragmen keramik asing dan lokal.

Makam Minak Jagat
Makam Minak Jagat berada di bagian selatan kampung di tengah pemukiman penduduk, tepatnya pada posisi 04o23’41,1” LS dan 105o05’49,7” BT (berdasarkan pembacaan GPS Garmin). Lahan lokasi makam relatif lebih rendah dari pemukiman. Untuk menuju lokasi makam dari jalan desa melalui jalan setapak ke arah timur sejauh sekitar 25 m. Kondisi makam dilengkapi bangunan cungkup. Bangunan ini merupakan bangunan baru yang terakhir direnovasi tahun 2000. Di dalam bangunan cungkup tersebut terdapat empat makam. Makam Minak Jagat adalah makam kedua dari barat. Nisan juga merupakan nisan baru berbentuk silindrik (tipe gada). Ketiga makam yang lain bernisan pipih. Menurut keterangan ketiga makam tersebut adalah makam isteri Minak Jagat.

Makam Minak Patih Seriou Bumi
Makam Minak Patih Seriou Bumi terletak di sebelah barat laut kampung, berada di tepi sebelah timur Way Kanan, tepatnya pada posisi 0423’32,7” LS dan 10505’44,4” BT (berdasarkan pembacaan GPS Garmin). Untuk menuju lokasi makam dari jalan desa melalui jalan setapak sejauh sekitar 100 m. Kondisi makam dilengkapi bangunan cungkup yang merupakan bangunan baru. Di dalam bangunan cungkup hanya terdapat makam Minak Jagat. Keadaan makam sulit dikenali karena hanya berupa hamparan pasir sedikit menggunduk, tidak dilengkapi jirat dan nisan.

Tumulus
Di bagian barat laut kampung, tepi sebelah utara Way Kanan, tepatnya pada posisi 0423’31,8” LS dan 10505’45,4” BT (berdasarkan pembacaan GPS Garmin) terdapat gundukan tanah (tumulus) yang disebut Cabuh Gelou. Untuk menuju lokasi, dari jalan desa melalui jalan setapak ke arah barat sejauh 50 m. Tumulus tersebut berdiameter 8 m tinggi hingga puncak 2 m. Menurut keterangan masyarakat, tumulus tersebut merupakan kuburan pusaka berupa alat perang bernama Cabuh Gelou (Cabuh = alat untuk menangkap ikan, gelou = gila).


Sket situasi Kampung Gunung Terang dan Gunung Agung


PERKEMBANGAN STRUKTUR PEMUKIMAN

Menurut cerita sejarah dalam tradisi lisan masyarakat Gunung Terang, pemukiman di Gunung Terang tidak diawali dengan aktifitas membuka hutan. Para moyang menempati wilayah itu dengan jalan mengekspansi masyarakat yang sebelumnya menempatinya yaitu masyarakat Melayu. Bagaimana struktur pemukiman pada awalnya sulit untuk diketahui. Ketika masyarakat Gunung Terang telah menetap di lokasi itu, pembangunan pemukiman dengan melengkapi infrastruktur mulai dilakukan. Secara fisik, pemukiman masyarakat Lampung pada umumnya dikenal adanya jenjang umbulan dan tiyuh (kampung). Umbulan sebetulnya hanya merupakan unsur pemukiman berupa wilayah garapan, yang dapat berkembang menjadi tiyuh. Dalam satu tiyuh terdapat beberapa bagian yang disebut bilik. Pada setiap bilik terdapat tempat kediaman suku. Dalam perkembangannya, pada satu tiyuh akan terdapat rumah kerabat yang disebut nuwou balak atau nuwou menyanak. Selain itu juga terdapat bangunan tempat bermusyawarah para penyimbang adat yang disebut sesat (Troe, 1997: 129). Di Gunung Terang ini diceritakan terdapat sesat yang disebut Sesat Watun. Berdasarkan sisa pondasi yang ada, sesat ini dibangun menghadap sungai ke arah selatan. Masyarakat bermukim di sekitar sesat. Akses keluar masuk kampung dapat melewati pelantingan selanjutnya ke Way Kanan.

Wilayah teritorial Gunung Terang ketika itu dapat diperkirakan seluas wilayah yang dibatasi dengan sungai alam dan sungai modifikasi. Sebagai sungai alam adalah Way Kanan. Sedang sungai modifikasi adalah pelantingan, Way Ngisen, dan Way Pengaliran Darah. Modifikasi terlihat dari adanya pelurusan di beberapa tempat. Pada parit atau sungai yang disebut Pengaliran Darah, tanda adanya modifikasi terlihat pada bagian barat air mengalir ke arah barat, sedangkan pada bagian timur air mengalir ke arah timur. Selain batas berupa sungai, secara magis dibatasi oleh dua makam keramat moyang. Di sebelah barat laut terdapat makam Minak Patih Seriou Bumi dan di sebelah tenggara terdapat makam Minak Jagad. Penempatan makam seperti ini menunjukkan bahwa tokoh Minak Patih Seriou Bumi merupakan tokoh yang lebih utama, karena makamnya berada di sebelah hulu sungai.


Dilihat dari sebaran artefak yang ada, pemanfaatan ruang untuk bermukim hanya pada sekitar sesat. Tidak seluruh wilayah dijadikan pemukiman. Sebagai pemukiman yang berpola over bounded city, wilayah teritorialnya lebih luas dari wilayah pemukiman, perencanaan tata ruang mudah dilakukan perluasan. Satu hal yang diperhatikan adalah konservasi lahan sumber daya (Yunus, 2000: 113). Lahan sumber daya yang terdapat di sekitar kampung Gunung Terang adalah lebung. Pada musim hujan di mana air sungai besar melimpah, lebung akan terisi air dan ikan akan memasuki lebung. Ketika musim kemarau, air kembali ke sungai besar. Pada saat itu di pintu masuk lebung dipasang jebakan dan perburuan ikan di lebung dilakukan. Sampai sekarang pola penangkapan ikan dengan sistem pemanfaatan lebung masih berlanjut dikelola secara tradisional (Djausal, 1996: 3).


Seiring dengan perkembangan populasi, areal pemukiman mengalami perkembangan. Perkembangan pemukiman di Gunung Terang ini tampak melalui perencanaan. Salah satu ciri kota yang berkembang secara direncanakan adalah adanya jaringan jalan yang berpotongan secara tegak lurus (Wertheim, 1959: 147). Sistem perencanaan jalan dengan pola kisi pertama kali dikenal di Mohenjo Daro pada sekitar 2500 SM. Bentuk kota semacam ini kemudian berkembang menjadi pola bastides cities sebagaimana kota-kota benteng. Bagian kota dibagi sedemikian rupa menjadi blok-blok empat persegi panjang dengan jalan-jalan yang paralel longitudinal dan transversal membentuk sudut siku-siku (Yunus, 2000: 150). Sungai alam dan sungai modifikasi di sekitar Gunung Terang selain berfungsi sebagai batas juga sebagai benteng. Sebagaimana lazimnya situs-situs pemukiman di Tulangbawang, jejak adanya benteng tanah di Gunung Terang terlihat dari adanya tumulus yang disebut cabuh gelou. Secara magis pemukiman Gunung Terang juga dibatasi dua gunung keramat yaitu Gunung Sri Gandow di sebelah tenggara dan Gunung Putik di sebelah barat laut.


Pola perkembangan struktur kota memanjang ke arah utara menjadikan pemukiman di Gunung Terang berbentuk empat persegi panjang (rectangular cities). Perkembangan memanjang disebabkan tidak mungkinnya melebar karena adanya hambatan fisikal terhadap perkembangan kota (Yunus, 2000: 115). Hambatan fisikal yang dihadapi Gunung Terang adalah lahan sumber daya berupa lebung di sebelah timur pemukiman dan sungai di sebelah barat dan selatan pemukiman. Perkembangan kota mengikuti bentuk rectangular di Gunung Terang ini berlangsung pada jaman penjajahan Belanda.


SIMPULAN
Pemukiman di Gunung Terang pada mulanya secara fisik sulit dikatakan sebagai kota. Tingkat peradaban yang tumbuh dan berkembang menunjukkan pada jenjang civilization dimana sudah terdapat sistem pemerintahan. Struktur “kota” yang mula-mula berupa pemukiman yang berpusat pada sesat, dikelilingi perumahan penduduk dan secara fisik dibatasi sungai alam dan sungai modifikasi. Selain itu juga terdapat batas yang bersifat sakral berupa makam keramat.

Wilayah teritorial yang lebih luas dari pada pemukiman memudahkan dalam perencanaan perkembangan kota. Meningkatnya populasi dan tersedianya lahan menyebabkan perkembangan pemukiman berjalan secara direncanakan. Struktur kota yang mula-mula sederhana berkembang menjadi pola bastides cities dengan mengikuti bentuk rectangular. Perkembangan menjadi demikian ini karena adanya hambatan fisikal berupa sungai dan lebung.



Daftar Pustaka

Childe, V. Gordon
1979 “The Urban Revolution”. Dalam Gregory L. Possehl (ed.) Ancient Cities of the Indus. Durham: Carolina Academic Press. Hal. 12-17.

Djausal Anshori

1996 “Pendekatan Lingkungan Dalam Pembangunan Persiapan Kabupaten Daerah Tingkat II Tulangbawang”. Makalah pada Seminar Pembangunan Masyarakat Tulangbawang. Bandar Lampung, 29 – 30 Maret 1996. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Persiapan Kabupaten Daerah Tingkat II Tulangbawang (belum diterbitkan).

Rapoport, Amos

1986 “Tentang Asal-usul Kebudayaan Permukiman”. Dalam Anthony J. Catanese, (et al.). Pengantar Sejarah Perencanaan Perkotaan. Bandung: Intermedia. Hlm. 21 – 44.

Saptono, Nanang

2000 Laporan Hasil Penelitian Arkeologi, Pemukiman Masa Islam di Daerah Tulangbawang, Lampung (Tahap II). Balai Arkeologi Bandung (tidak diterbitkan).

Sumadio, Bambang

1990 Jaman Kuna, Sejarah Nasional Indonesia II. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Troe, Adnand (et all.)

1997 Menyelami Tulangbawang. Menggala: Pemerintah Kabupaten Tulangbawang dan Tulangbawang Enterprise.

Wertheim, W.F.

1959 Indonesian Society in Transition, A Study of Social Change. Bandung: Sumur Bandung.

Wiryomartono, A. Bagoes P

1995 Seni Bangunan dan Seni Binakota di Indonesia. Kajian Mengenai Konsep, Struktur, dan Elemen Fisik Kota Sejak Peradaban Hindu-Buddha, Islam Hingga Sekarang. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Yunus, Hadi Sabari

2000 Struktur Tata Ruang Kota. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.


Catatan: Tulisan ini diterbitkan di buku "Teknologi dan Religi Dalam Perspektif Arkeologi", hlm. 42 - 54. Editor: Agus Aris Munandar. Bandung: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia Komda Jawa Barat - Banten, 2004.

01 Februari 2009

Menelusuri Perkampungan Kuna di Way Kanan


KONSEPSI DAN STRUKTUR PEMUKIMAN DI SITUS BATU PUTIH, GUNUNG TERANG, TULANG BAWANG, LAMPUNG


Nanang Saptono



PENDAHULUAN

Situs Batu Putih merupakan salah satu situs di kawasan Tulangbawang yang berada di aliran Way Kanan. Penelitian di situs Batu Putih pertama kali dilakukan Balai Arkeologi Bandung pada tahun 2000. Pada penelitian itu diperoleh keterangan bahwa situs Batu Putih merupakan lokasi Kampung Gunung Terang lama. Kondisi situs pada waktu itu banyak ditumbuhi rumput-rumputan hingga tingginya sekitar 2 m. Pada tepi sebelah selatan Way Kanan terdapat tanggul alam yang membujur dari arah timur laut (tepi Way Kanan) ke arah barat daya. Semakin ke arah barat daya tanggul alam tersebut semakin tinggi.


Pada bagian barat daya, di puncak tanggul alam, terdapat makam Minak Pangeran Buay Sugih. Keadaan makam tanpa jirat dan sebelumnya juga tanpa nisan. Nisan yang ada sekarang merupakan nisan baru. Makam dilengkapi cungkup dari bahan bilik bambu. Di sekitar makam Minak Pangeran Buay Sugih, terutama di sebelah selatannya terdapat beberapa makam yang merupakan makam masyarakat. Indikator bekas pemukiman yang terdapat di situs Batu Putih berupa sebaran fragmen artefak (Saptono, 2000: 20). Dilihat dari temuan arkeologis dan data historis yang ada, masyarakat pendukung situs Batu Putih berasal dari kurun waktu setelah abad ke-16.


Pada tahun 2004 Balai Arkeologi Bandung mengadakan penelitian di Kampung Gunung Terang. Salah satu keterangan tradisi lisan yang didapatkan dalam penelitian itu yaitu mengenai proses perpindahan masyarakat Kampung Gunung Terang. Sumber ini memang kurang valid, namun hingga sekarang sumber sejarah Gunung Terang yang validitasnya tinggi belum ditemukan. Dalam tradisi lisan tersebut diceritakan bahwa masyarakat Gunung Terang sebelum bermukim di Way Kanan, Tulangbawang, mula-mula bermukim di Way Besai, Sekala Berak, kemudian pindah ke Batu Putih, Way Kanan. Ketika itu di seberang sungai sebelah hilir terdapat perkampungan orang Melayu, karena lokasi Batu Putih dinilai tidak tepat lalu mengekspansi kampung Melayu dan pemukiman pindah ke Kampung Melayu. Sejak itu Batu Putih ditinggalkan (Saptono, 2004: 44).


Tradisi lisan ini menggambarkan bahwa permukiman di Batu Putih bersifat sementara dan tidak berlangsung lama. Alasan perpindahan ke Gunung Terang karena Batu Putih dinilai tidak tepat. Sementara itu bila dilihat dari fakta arkeologis yang terdapat di situs Batu Putih, misalnya berupa ragam fragmen keramik asing dan fetur makam Minak Pangeran Buay Sugih, tergambar bahwa permukiman berlangsung dalam kurun waktu lama dalam arti sudah berada pada fase menetap.


Berdasarkan hal tersebut, pada tahun 2005 Balai Arkeologi Bandung mengadakan penelitian di situs Batu Putih. Penelitian itu untuk mengungkap permasalahan menyangkut pola pemukiman di Batu Putih. Permasalahan ini dikaitkan dengan penilaian pada tradisi lisan masyarakat bahwa Batu Putih tidak tepat untuk pemukiman. Pada beberapa kasus, penilaian tidak tepat ini dapat dilihat dari aspek konsepsi dapat juga dari aspek sumber daya alam yang kurang memadai. Permasalahan lainnya berkaitan dengan kurun waktu permukiman. Gambaran permukiman di Batu Putih secara sementara menurut tradisi lisan kurang didukung fakta arkeologis. Gambaran sementara inilah yang perlu mendapat penjelasan baik dari sisi historis maupun arkeologis.


Pengungkapan permasalahan di atas, bertujuan pada paradigma rekonstruksi kehidupan manusia masa lampau dan penyusunan sejarah budaya (Binford, 1972: 80 - 81). Pada kasus situs Batu Putih, rekonstruksi kehidupan dan penyusunan sejarah budaya dibatasi pada masalah permukiman yaitu dalam rangka mendapatkan gambaran mengenai struktur dan pola pemukiman. Berdasarkan struktur dan pola pemukiman tersebut, diharapkan dapat diketahui konsepsi tentang pemukiman yang berlaku pada masyarakat Gunung Terang khususnya, serta strategi adaptasi lingkungan. Tujuan berikutnya adalah mendapatkan gambaran kurun waktu permukiman di Batu Putih. Berdasarkan dua hal tersebut akan dijawab permasalahan sekitar permukiman di Batu Putih dan perpindahannya ke Gunung Terang.


Dalam kaitannya dengan tingkat permukiman, permasalahan situs Batu Putih menyangkut pemukiman pada jenjang semimikro. Pemukiman pada tingkat ini dipengaruhi beberapa faktor antara lain: lingkungan dan teknologi mata pencaharian, organisasi keluarga dan kekerabatan, kelompok kelas, agama dan etnik, spesialisasi, nilai dan orientasi, serta kosmologi (Mundardjito, 1990: 21 – 26).



DATA ARKEOLOGI SITUS BATU PUTIH


Proses Pengumpulan

Pengumpulan data di situs Batu Putih dilakukan dengan teknik survei permukaan dan ekskavasi disertai wawancara dengan masyarakat. Di areal situs dilakukan ekskavasi. Survey lokasi objek penelitian, khususnya terhadap lingkungan, dilakukan dengan menggunakan bantuan peta topografi. Peta topografi yang dipergunakan yaitu peta topografi lembar 30 daerah Gedongratu, skala 1 : 100.000, edisi 1942 yang diterbitkan oleh Djawatan Geologi Bandung. Di setiap objek dilakukan plotting lokasi dengan menggunakan GPS dan peta topografi. Ekskavasi dilakukan sebanyak lima kotak gali masing-masing berukuran 1 x 1 m. Kotak gali tersebut diberi kode Kotak LU I hingga LU V. Ekskavasi dilakukan dengan teknik spit berinterval 10 cm.


Data non artefaktual yang bersifat etnohistori didapatkan melalui wawancara dengan beberapa informan yang mengetahui seluk-beluk situs. Selain itu juga didapatkan dari berbagai sumber pustaka. Pengumpulan data etnohistori dilakukan bersamaan dengan pengumpulan data arkeologis. Hal ini dimaksudkan agar hubungan antara data arkeologis dengan data etnohistoris jelas terlihat.


Survei

Kawasan Batu Putih secara administratif termasuk dalam wilayah Kampung Gunung Terang, Kecamatan Gunung Terang. Menurut cerita sejarah yang disampaikan Bapak Thoyib, keramat Batu Putih berhubungan dengan riwayat lima moyang yaitu Patih Trio Terbumi yang dimakamkan di Negeri Besar, Minak Trio Bumi dimakamkan di Gunung Terang, Minak Serio Bumi dimakamkan di Bakung, Minak Buay Sugih dimakamkan di Batu Putih, dan Minak Kemala yang makamnya ada di Negeri Batin.


Moyang-moyang yang tinggal di perkampungan Batu Putih pada suatu saat merasa perlu untuk memperluas wilayah. Perluasan ditujukan ke Kampung Melayu yang terdapat di seberang sungai. Moyang-moyang Batu Putih kemudian membangun perkampungan di dekat Kampung Melayu yang sekarang menjadi Kampung Gunung Terang. Keramat Batu Putih kemudian ditinggalkan.


Menurut keterangan Bapak Alwi Syahbana – Ketua Lembaga Musyawarah Masyarakat Adat Kampung Gunung Terang – yang didasarkan pada cerita orang-orang tua dahulu, perkampungan di Batu Putih tidak sebagaimana lazimnya kampung orang Lampung. Kampung di Batu Putih berjajar memotong sungai tidak mengikuti aliran sungai. Sehingga dinilai tidak baik untuk pemukiman. Oleh karena itulah maka pindah ke Gunung Terang sekarang.


Kawasan Batu Putih berada di sebelah selatan Way Kanan, pada posisi 04°24’50,9” LS dan 105°03’57” BT. Geografis kawasan Batu Putih merupakan pedataran bergelombang dengan bukit-bukit kecil berada di sebelah selatan. Salah satu bukit kecil tersebut bernama Gunung Kerikil. Di kawasan ini terdapat beberapa sungai kecil yang bermuara di Way Kanan. Sungai-sungai tersebut adalah Way Kermeting yang mengalir di bagian paling hulu (barat). Ke arah hilir terdapat aliran Way Mejelapai. Ke arah hilir lagi terdapat aliran sungai kecil yang dinamakan Kali Gendi. Situs Batu Putih berada di antara Way Mejelapai dan Kali Gendi.




Pengamatan pada situs Batu Putih mendapatkan gambaran bahwa luas situs sekitar 250 X 300 m. Situs diapit dua cekungan yang disebut dengan istilah kandungan. Di sebelah hulu bernama Kandungan Potat dan di sebelah hilir bernama Kandungan Semidi. Pada tepi sebelah selatan Way Kanan terdapat tanggul alam yang membujur dari arah timur laut (tepi Way Kanan) ke arah barat daya. Semakin ke arah barat daya tanggul alam tersebut semakin meninggi.


Pada kawasan situs terdapat beberapa fakta arkeologis yaitu fetur makam, tumulus, dan sebaran artefak. Pada bagian barat laut situs, pada tanggul alam, terdapat beberapa makam dengan tokoh utama Minak Buay Sugih. Di sekitar makam ini dijumpai pula beberapa makam.


Fetur tumulus ada dua, pertama terletak di sebelah timur makam berjarak sekitar 50 m. Tumulus ini berdiameter sekitar 3 m dengan tinggi sekitar 1,5 m. Tumulus kedua terdapat di sebelah timur tumulus pertama berjarak sekitar 150 m. Tumulus ini lebih kecil bila dibandingkan dengan tumulus pertama. Pada bagian tengah lahan terdapat kawasan genangan banjir (flood plain/back swamp). Sebaran artefak ditemukan di tepian back swamp sebelah timur, memanjang dari utara ke selatan.





Situasi Situs Batu Putih


Bapak Thoyib yang menghuni Batu Putih, sejak sekitar tahun 1977 telah menemukan beberapa benda yang dianggap “aneh”. Benda-benda tersebut adalah pecahan keramik menggambarkan kepala manusia berwarna kehijauan berukuran panjang 3,5 cm lebar 3 cm dan tebal 2 cm, beberapa batuan seperti kalsedon, nodule, dan andesit, fosil moluska, manik bahan perunggu, dua beliung persegi dari batuan kalsedon. Beliung pertama berwarna merah kecoklatan berukuran panjang 8 cm, lebar bagian pangkal 3 cm, lebar bagian ujung 4 cm, tebal 3 cm. Beliung kedua berwarna putih dan coklat kekuningan berukuran panjang 6,5 cm, lebar bagian pangkal 2,7 cm, lebar bagian ujung 3,8 cm, dan tebal 1,3 cm



Ekskavasi


Kotak LU I

Kotak LU I berada di bagian timur laut situs. Permukaan tanah pada kotak ini cenderung rata, bagian sisi barat lebih rendah daripada sisi utara. Keadaan permukaan kotak ditumbuhi semak dan ilalang. Setelah dibersihkan terlihat tanah berwarna kehitaman. Pada permukaan kotak tidak ditemukan artefak. Ekskavasi di kotak ini dilakukan hingga kedalaman 45 cm. Kondisi tanah terdiri dua lapisan. Lapisan pertama berupa humus bercampur pasir berwarna hitam. Ketebalan lapisan ini berkisar antara 15 hingga 20 cm. Lapisan tanah selanjutnya berupa tanah liat berwarna kekuningan yang dijumpai hingga akhir ekskavasi. Artefak sangat jarang ditemukan. Sedikit fragmen keramik asing ditemukan pada lapisan tanah humus.



Kotak LU II

Kotak gali kedua berada di sebelah selatan kotak LU I berjarak sekitar 83 m. Sebagaimana kotak LU I, Kotak LU II juga merupakan lahan yang banyak ditumbuhi semak dan ilalang. Permukaan tanah pada kotak ini cenderung rata. Bagian sisi utara kotak lebih tinggi dari sisi selatan. Ekskavasi dilakukan hingga kedalaman 40 cm. Keadaan tanah terdiri tiga lapis. Lapisan pertama berupa tanah humus berpasir berwarna kehitaman gembur, tekstur halus sampai kasar. Kondisi tanah seperti ini setebal sekitar 20 cm. Di bawah lapisan tanah ini merupakan tanah berpasir berwarna kecoklatan, tekstur halus sampai kasar agak padat dengan ketebalan sekitar 10 cm. Lapisan tanah selanjutnya berupa lempung pasiran berwarna putih. Tekstur halus sampai sedang dalam kondisi padat. Pada beberapa bagian terselingi tanah liat berwarna kemerahan. Ekskavasi di kotak ini tidak ditemukan data berupa artefak maupun non artefak.



Kotak LU III

Di sebelah barat kotak LU II berjarak sekitar 15 m, dibuka kotak LU III. Permukaan tanah pada kotak ini cenderung rata. Bagian sisi selatan kotak lebih rendah dari sisi utara. Keadaan permukaan kotak ditumbuhi semak dan ilalang. Setelah dibersihkan terlihat tanah berwarna kehitaman. Pada permukaan kotak terdapat artefak berupa pecahan keramik, tembikar, dan bata.

Ekskavasi dilakukan hingga kedalaman 40 cm. Lapisan tanah pertama berupa humus berpasir berwarna kehitaman dengan tekstur halus sampai kasar. Lapisan tanah seperti ini ketebalannya sekitar 10 cm. Pada lapisan ini terdapat artefak berupa fragmen keramik dan bata.


Di bawah lapisan humus terdapat lapisan tanah berwarna coklat kekuningan bertekstur halus sampai kasar. Kondisi tanah seperti ini hingga kedalaman 40 cm. Benda arkeologis yang ditemukan berupa pecahan keramik berada pada kedalaman 20 cm hingga 30 cm.



Kotak LU IV

Di sebelah barat agak ke utara kotak LU III berjarak sekitar 20 m digali kotak LU IV. Permukaan tanah pada kotak ini cenderung rata. Bagian sisi barat kotak gali lebih rendah dari sisi timur. Keadaan permukaan kotak ditumbuhi semak dan ilalang. Setelah dibersihkan terlihat tanah berwarna kehitaman. Pada permukaan kotak terlihat banyak artefak berupa pecahan keramik. Artefak tersebut terkonsentrasi di sisi utara kotak gali.

Ekskavasi pada kotak ini juga dilakukan hingga kedalaman 40 cm. Sebagaimana pada kotak gali yang lain, pada kotak gali ini lapisan tanah juga terdiri dari dua lapis. Lapisan tanah bagaian atas merupakan humus berpasir berwarna kehitaman, tekstur halus sampai kasar. Lapisan tanah humus pada kotak ini dijumpai hingga kedalaman 20 cm. Pada lapisan tanah ini banyak ditemukan fragmen keramik dan tembikar.






Konsentrasi temuan artefak pada Kotak LU IV Spit 1


Ekskavasi pada kedalaman antara 20 cm hingga 30 cm, tanah humus berwarna hitam berseling dengan tanah berwarna putih kecoklatan mengandung kerikil. Tekstur tanah sedang sampai kasar. Benda arkeologis berupa pecahan keramik masih mendominasi di samping fragmen logam, tembikar, dan limbah produksi manik. Pada akhir kedalaman 30 cm keadaan tanah mulai berubah berwarna kemerahan.


Ekskavasi hingga kedalaman 40 cm. Keadaan tanah berupa lempung berwarna coklat kemerahan sedikit padat. Tekstur halus sampai kasar. Pada kedalaman spit ini tidak ada temuan berupa artefak maupun non artefak.



Kotak LU V

Kotak gali LU V berada di sebelah barat daya kotak LU IV berjarak sekitar 15 m. Lahan ini banyak ditumbuhi tanaman keras. Permukaan tanah pada kotak ini cenderung rata. Bagian sisi barat kotak gali lebih rendah dari sisi timur. Keadaan permukaan kotak tertutup sampah daun kering. Setelah dibersihkan terlihat tanah berwarna kehitaman. Pada permukaan kotak terlihat adanya jejak aktivitas masyarakat memasang jerat.


Ekskavasi dilakukan hingga kedalaman 40 cm. Ekskavasi hingga mencapai kedalaman 20 cm, kondisi tanah berupa humus berpasir berwarna kehitaman, tekstur halus sampai kasar. Pada lapisan ini ditemukan sampah moderen seperti paku, arang, dan pecahan bata. Artefak yang ditemukan berupa pecahan keramik dan tembikar.


Ekskavasi pada kedalaman antara 20 cm hingga 30 cm, keadaan tanah humus sedikit mengalami perubahan warna yaitu hitam kecoklatan mengandung kerikil. Tekstur tanah sedang sampai kasar. Pada lapisan ini dijumpai pecahan keramik dan tembikar dalam jumlah sedikit.


Selanjutnya, pada kedalaman hingga 40 cm, keadaan tanah berupa lempung berwarna coklat kekuningan sedikit padat. Tekstur halus sampai kasar. Pada kedalaman lapisan ini tidak ada temuan berupa artefak maupun non artefak.




PERMUKIMAN DI SITUS BATU PUTIH

Pemukiman berkembang dari yang sangat sederhana hingga ke bentuk yang sangat kompleks. Mula-mula, pada masyarakat yang sudah menetap bentuk tempat tinggalnya berupa desa-desa kecil dengan beberapa tempat tinggal yang dibangun secara tidak beraturan. Perkembangan selanjutnya, ketika jumlah populasi bertambah, tempat tinggal dibangun di atas tiang dengan ukuran lebih besar. Perubahan ini sejalan dengan perkembangan masyarakat yang mulai mengenal pengelompokkan dan sistem komunal (Soejono, 1990: 197). Perubahan pola pemukiman yang sejalan dengan sistem sosial ini menurut V. Gordon Childe berlangsung pada masa paleolitik hingga neolitik. Transformasi yang terjadi tersebut bersifat evolutif dan progresif. Masyarakat pemburu-peramu yang nomadik dalam masa paleolitik berkembang pesat menjadi masyarakat hortikultularis yang menetap pada masa neolitik (Kaplan dan Manners, 2002: 59). Masyarakat Lampung pada umumnya pada awalnya menempati pemukiman yang berada di tepi sungai atau dekat sungai. Tempat tinggal pada pemukiman tersebut dibangun secara mengelompok rapat dan hampir-hampir tidak ada halaman. Pola semacam ini disebabkan semua kegiatan orang Lampung berada di ladang. Kampung merupakan tempat istirahat dan berkumpul para anggota kerabat untuk upacara adat, dan sebagainya (Hadikusuma, 1977/1978: 17). Dengan demikian secara umum pola pemukiman masyarakat lampung adalah over bounded city, yaitu suatu pemukiman yang wilayah teritorialnya lebih luas dari wilayah perkampungan (Yunus, 2000: 113). Dengan pola semacam ini kampung sebagai pemukiman masyarakat Lampung akan relatif kecil.


Pola pemukiman di situs Batu Putih dapat dilacak berdasarkan sebaran tinggalan yang ada. Hasil survei dan ekskavasi menunjukkan bahwa tinggalan arkeologi di situs Batu Putih sangat beragam baik berupa artefak maupun non artefak. Secara fisik, pemukiman di Batu Putih berada di antara Kandungan Potat dan Kandungan Semedi. Sisi utara merupakan aliran sungai utama yaitu Way Kanan. Berdasarkan tinggalan yang ada, kawasan pemukiman Batu Putih terbagi dalam dua zona yaitu zona sakral dan zona profan. Zona sakral ditandai dengan makam keramat dan tumulus. Zona ini berada di bagian utara pemukiman.


Makam keramat yang terdapat di Batu Putih dengan tokoh yang dikeramatkan Minak Buay Sugih menggambarkan mengandung makna tertentu. Minak Buay Sugih merupakan salah satu dari lima moyang masyarakat Gunung Terang. Pengkeramatan makam merupakan salah satu permanensi etnografis dalam penghormatan leluhur. Dalam beberapa tradisi, kematian tidak diakui. Mati sebagai salah satu rangkaian proses biologis yang menimpa makhluk hidup, disamarkan dengan istilah “kembali ke alam dewa”, “hilang”, “sirna” dan sebagainya. Makam tidak diartikan sebagai kubur tetapi merupakan tempat bersemayam “astana” atau “tempat ketenangan” (Ambary, 1998: 42). Tokoh yang bersemayam di makam dirasakan masih berada di lingkungan kerabat dan generasi penerusnya. Penempatan makam Minak Buay Sugih pada puncak tanggul alam juga menyiratkan suatu tradisi pemujaan kepada arwah leluhur sebagaimana nekropolis raja-raja Mataram di Imogiri dan raja-raja Cirebon di komplek makam Gunung Jati di Gunung Sembung (Ambary, 1998: 43).


Dua tumulus yang terdapat di ujung barat dan timur situs menggambarkan adanya konsepsi tentang gunung suci. Pada beberapa kampung di sekitar Batu Putih terdapat juga tradisi yang berkaitan dengan konsepsi gunung suci. Di kampung Gunung Katon terdapat Gunung Nuri. Kampung Gunung Terang meniliki Gunung Srigandaw sebagai gunung suci. Tumulus dapat merupakan replika dari gunung suci. Quaritch Wales dalam kajiannya menarik suatu simpulan tentang kaitan konsep gunung suci (Mahameru) dengan kekuatan dan kesuburan (Quaritch Wales, 1953: 88). Keberadaan dua tumulus di Batu Putih memberikan suatu gambaran bahwa lokasi tersebut dijaga dua kekuatan yang juga memberikan kesuburan.


Berdasarkan temuan hasil survei dan ekskavasi, zona profan terlihat berada di sisi timur pedataran limpah banjir (back swam). Pemukiman di Batu Putih berpola memanjang mengikuti tepian sebelah timur pedataran limpah banjir. Pola demikian terlihat ada usaha dalam konservasi lahan sumber daya (Yunus, 2000: 113). Lahan sumber daya berupa pedataran limpah banjir dapat difungsikan sebagai rawa atau kolam untuk menjebak ikan yang disebut lebung. Pada musim hujan di mana air sungai besar melimpah, lebung akan terisi air dan ikan akan memasuki lebung. Ketika musim kemarau, air kembali ke sungai besar. Pada saat itu di pintu masuk lebung dipasang jebakan dan perburuan ikan di lebung dilakukan. Sampai sekarang pola penangkapan ikan dengan sistem pemanfaatan lebung masih berlanjut dikelola secara tradisional (Djausal, 1996: 3). Pada beberapa kasus misalnya pada suku Indian Kwakiutl dan Nootka, mereka merupakan masyarakat pemburu dan peramu yang handal. Hal ini karena mereka tinggal di lingkungan alami yang kaya sehingga mereka mampu mencapai suatu taraf kecanggihan yang tidak ada bandingnya di kalangan masyarakat pemburu dan peramu lain. Beberapa antropolog berpendapat bahwa suku-suku Indian yang tinggal di kawasan Pasifik ini tidak tepat disebut pemburu dan peramu tetapi lebih mengena disebut “petani ikan” (Kaplan dan Manners, 2002: 105). Dengan mendasarkan pada kasus ini, masyarakat Batu Putih mungkin juga bisa dikatakan sebagai masyarakat “petani ikan” yang berkembang karena dukungan sumberdaya alam.


Dengan memperhatikan keberadaan masyarakat Melayu yang menghuni di wilayah seberang sungai dan tradisi lisan tentang moyang masyarakat Batu Putih, tergambar bahwa masyarakat Batu Putih merupakan suatu struktur sosial yang merupakan organisasi keturunan segmentaris (segmentary lineage organization). Masyarakat ini bertempat tinggal pada pemukiman setingkat semacam pedukuhan yang dihuni oleh rumpun keturunan minimal. Masyarakat semacam ini sering melakukan perpindahan wilayah, dan secara konsisten memperluas wilayahnya. Perpindahan dan perluasan ini di antaranya didasari oleh sumberdaya alam (Kaplan dan Manners, 2002: 109). Dengan demikian alasan perpindahan masyarakat dari Batu Putih ke Gunung Terang yang dapat dikatakan menginvasi masyarakat Melayu cenderung berkaitan dengan masalah sumberdaya alam penunjang kehidupan.


Ekskavasi yang dilakukan pada lima kotak gali, kotak LU IV menunjukkan tingkat hunian yang sangat tinggi. Temuan berupa fragmen keramik, tembikar, dan limbah industri manik kaca. Selanjutnya ekskavasi pada kotak LU V menunjukkan adanya aktifitas spesifik. Temuan berupa fragmen tembikar dari tipe tempayan, menunjukkan aktivitas yang berhubungan dengan kegiatan di dapur. Dengan demikian lokasi ini merupakan bagian belakang pemukiman. Artefak berupa fragmen keramik kebanyakan berasal dari Cina masa dinasti Song (abad ke-10 – 13), Yuan (abad ke-13 – 14), Ming (abad ke-14 – 17), dan Qing (abad ke-17 – 20). Selain itu juga terdapat keramik Thailand periode Shukothai (abad ke-13 – 14), Annam (abad ke-15), Jepang (abad ke-20), dan Eropa (abad ke-19 – 20).




SIMPULAN

Situs Batu Putih di Kampung Gunung Terang merupakan satu situs bekas kampung yang memiliki konsep dan pola spesifik yaitu menyangkut pembagian ruang secara tegas antara zona sakral dan zona profan. Zona sakral menempati kawasan punggung tanggul alam sejajar sungai utama. Sedangkan zona profan menempati tepian kawasan genangan banjir (flood plain/back swamp).


Pola pemukiman tidak sebagaimana umumnya pemukiman di Lampung yaitu sejajar dengan sungai utama, tetapi secara tegak lurus dengan sungai utama. Orientasi pemukiman terlihat tidak pada sungai utama tetapi pada tepian pedataran limpah banjir. Berdasarkan data hasil survei dan ekskavasi terlihat bahwa pemukiman di Batu Putih berlangsung dalam waktu lama. Faktor utama penyebab pindahnya ke Kampung Gunung Terang karena mulai berkurangnya sumberdaya alam yang bisa dieksploitasi.


Catatan:

In memoriam Drs. W. Anwar Falah, Kamis 19 Oktober 2006. Beliau pernah bertugas sebagai peneliti di Balai Arkeologi Bandung yang merintis penelitian arkeologi daerah Lampung.


DAFTAR PUSTAKA

Ambary, Hasan Muarif

1998 Menemukan Peradaban: Arkeologi dan Islam di Indonesia. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

Binford, Lewis R

1972 An Archaeological Perspectives. New York: Seminar Press.

Djausal Anshori

1996 “Pendekatan Lingkungan Dalam Pembangunan Persiapan Kabupaten Daerah Tingkat II Tulangbawang”. Makalah pada Seminar Pembangunan Masyarakat Tulangbawang. Bandar Lampung, 29 – 30 Maret 1996. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Persiapan Kabupaten Daerah Tingkat II Tulangbawang (belum diterbitkan).

Hadikusuma, Hilman et al.

1977/1978 Adat Istiadat Daerah Lampung. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Kaplan, David dan Robert A. Manners

2002 Teori Budaya. Penerjemah Landung Simatupang. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Mundardjito

1990 “Metode Penelitian Permukiman Arkeologi”. Dalam Monumen Karya Persembahan Untuk Prof. Dr. R. Soekmono, Lembaran Sastra, Seri Penerbitan Ilmiah No. 11. Edisi Khusus. Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Depok. Hlm. 19 30.

Quaritch Wales, H.G.

1953 The Mountain of God: A Study In Early Religion and Kingship. London: Bernard Quaritch, Ltd.

Saptono, Nanang

2000 Laporan Hasil Penelitian Arkeologi Pemukiman Masa Islam Daerah Tulangbawang, Propinsi Lampung. Bandung: Balai Arkeologi Bandung.

2004 “Struktur ‘Kota’ Kuna Gunung Terang, Tulangbawang, Lampung”. Dalam Agus Aris Munandar (ed.), Teknologi dan Religi Dalam Perspektif Arkeologi. Bandung: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia. Hlm. 42 – 54.

Soejono, RP (ed.)

1990 “Jaman Prasejarah di Indonesia”. Dalam Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto. Sejarah Nasional Indonesia I. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Yunus, Hadi Sabari

2000 Struktur Tata Ruang Kota. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.



Catatan: Tulisan ini diterbitkan di buku berjudul "Widyasancaya", hlm. 91 - 102. Editor, Agus Aris Munandar. Bandung: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia, 2006.

18 Januari 2009

Hastaleleka 1

PRASASTI BATU BEDIL DAN LINGKUNGANNYA DI PULAU PANGGUNG, KABUPATEN TANGGAMUS, LAMPUNG


Endang Widyastuti


Pendahuluan

Latar Belakang

Prasasti merupakan sumber sejarah yang memberikan keterangan tentang peristiwa politik, birokrasi, religi, dan kondisi masyarakat lainnya. Prasasti biasanya dikeluarkan oleh penguasa baik pada tingkat pusat pemerintahan maupun penguasa daerah. Di daerah Lampung tidak pernah ditemukan suatu indikator sebagai pusat pemerintahan pada tingkat kerajaan dari masa Hindu-Buddha (Klasik). Beberapa tinggalan dari masa klasik menunjukkan bahwa masyarakat pendukungnya bukan dari pusat kerajaan namun merupakan masyarakat yang berada di bawah satu kerajaan. Berdasarkan prasasti yang pernah ditemukan menunjukkan bahwa daerah Lampung pada masa klasik berada di bawah penguasaan Kerajaan Sriwijaya. Prasasti Palas Pasemah yang ditemukan di tepi Sungai Pisang, anak Way Sekampung, Lampung Selatan menyiratkan bahwa Lampung berada di bawah kekuasaan Sriwijaya.

Menurut Boechari (1979) berdasarkan perbandingan bentuk huruf dengan prasasti-prasasti lainnya, Prasasti Palas Pasemah diduga berasal dari akhir abad ke-7 M. Prasasti tersebut berisi tentang penaklukan daerah Lampung dan kutukan-kutukan kepada yang berani memberontak kepada Sriwijaya. Prasasti yang isinya mirip dengan Prasasti Palas Pasemah ditemukan di Kota Kapur, Bangka (Sumadio, 1990: 58 – 59)

Selain Prasasti Palas Pasemah, di daerah Lampung terdapat beberapa prasasti lain, yaitu Prasasti Bungkuk (Jabung) yang berasal dari akhir abad ke-7 M, Prasasti Hujung Langit (Bawang) dari akhir abad ke-10 M, Prasasti Tanjung Raya I dari sekitar abad ke-10 M, Prasasti Tanjung Raya II (Batu Pahat) dari sekitar abad ke-14 M, Prasasti Ulu Belu dari abad ke-14 M, Prasasti angka tahun (1247 Saka) dari Pugung Raharjo, Prasasti Batu Bedil dari sekitar abad ke-10 M yang ditemukan di Pulau Panggung, dan Prasasti Sumberhadi dari sekitar abad ke-16 M (Djafar dan Falah, 1995).

Prasasti Batu Bedil ditemukan di Dusun Batu Bedil, Pulau Panggung, Kabupaten Tanggamus. Prasasti dituliskan pada sebongkah batu berukuran panjang 185 cm, lebar 72 cm, tebal 55 cm. Prasasti terdiri 10 baris dengan tinggi huruf sekitar 5 cm. Kondisi huruf sudah aus namun pada beberapa bagian masih bisa terbaca. Pada baris pertama terbaca Namo Bhagawate dan pada baris kesepuluh terbaca Swâhâ. Namo Bhagawate sebagai permulaan dan Swâhâ sebagai penutup memberi dugaan bahwa prasasti itu berkaitan dengan mantra. Bahasa yang digunakan adalah Sansekerta. Prasasti ini tidak berangka tahun. Berdasarkan paleografisnya menunjukkan berasal dari akhir abad ke-9 atau awal abad ke-10 (Soekmono, 1985).


Masalah

Cara penulisan prasasti dan penempatannya mungkin mengandung maksud tertentu. Penulisan Prasasti Palas Pasemah jelas ditujukan kepada masyarakat sebagai peringatan. Penempatan pada tepi Sungai Pisang menunjukkan bahwa lokasi tersebut pada waktu itu mempunyai peranan penting.

Menurut catatan Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Lampung di daerah Pulau Panggung juga ditemukan tinggalan berupa kompleks megalitik. Dengan demikian terlihat bahwa di daerah Pulau Panggung terdapat masyarakat yang sudah mengenal sistem religi yang didukung sistem organisasi. Berkaitan dengan data tersebut muncul permasalahan bagaimanakah watak situs dimana terdapat Prasasti Batu Bedil, apakah sebagai situs pemujaan atau situs pemukiman. Selanjutnya akan dilihat juga bagaimana hubungan antara situs dan lingkungan budayanya.


Tujuan

Berkaitan dengan data yang pernah dilaporkan serta dalam kaitannya dengan permasalahan yang mengemuka, kajian ini bertujuan untuk mengidentifikasi watak situs berdasarkan tinggalan yang ada. Berdasarkan telaah tersebut diharapkan pula dapat diketahui gambaran kehidupan masyarakat yang tercermin dari hubungan antara situs dan lingkungannya.


Metode Penelitian

Penelitian terhadap Prasasti Batu Bedil dan lingkungannya dilaksanakan dengan menerapkan tipe penelitian eksploratif. Data yang dikumpulkan berupa monumen tinggalan arkeologis, artefak-artefak, dan bentang lahan sekitar prasasti. Strategi penelitian melalui observasi lapangan. Selain itu untuk menjaring data juga dilakukan wawancara dengan masyarakat, suatu bentuk wawancara yang bersifat terbuka dan tertutup.


Hasil Penelitian

Gambaran Umum Daerah

Wilayah Kecamatan Pulau Panggung terdiri dari beberapa desa. Jarak antara satu desa dengan desa lainnya relatif jauh. Secara umum dapat dikatakan merupakan daerah yang berpenduduk jarang. Pemukiman penduduk hanya berada di sepanjang tepi jalan.

Bentang alam daerah berupa pedataran bergelombang. Secara umum ketinggian berkisar antara 300 – 400 m dpl. Lahan selain dimanfaatkan untuk pemukiman kebanyakan berupa kebun, ladang, dan sawah.

Sungai yang mengalir di daerah ini antara lain adalah Sungai Ulok Ngaherong beserta anak-anak sungainya dan Sungai Ilahan. Sungai Ulok Ngaherong menyatu dengan Sungai Ilahan. Sungai Ilahan menyatu dengan Way Sekampung.





Deskripsi Objek

Di Kecamatan Pulau Panggung terdapat beberapa situs antara lain berada di Desa Gunung Meraksa dan Desa Batu Bedil Hilir.


- Desa Gunung Meraksa

Di desa Gunung Meraksa terdapat dua situs, yaitu situs Batu Bedil dan situs Gelombang.


1. Situs Batu Bedil

Situs Batu Bedil berada di dataran tinggi ± 370 m dpl (pembacaan dengan GPS Garmin V). Dataran ini merupakan rangkaian paling ujung selatan dari Bukit Barisan yang membentang di atas patahan Way Semangka. Di sebelah selatan situs mengalir Sungai Ilahan yang merupakan anak Sungai Sekampung, sedangkan di sebelah utara situs mengalir sungai kecil yang disebut Sungai Anak. Di antara situs dan kedua sungai tersebut terdapat lereng curam dengan kemiringan 45° – 60°. Situs Batu Bedil terletak tepi jalan yang menghubungkan Desa Talang Padang dan Desa Air Bakoman. Sekitar situs pada umumnya masih merupakan kebun penduduk yang ditanami kopi.

Situs Batu Bedil merupakan kompleks yang terdiri dari sejumlah menhir dan satu prasasti. Kompleks Batu bedil menempati lahan seluas sekitar 100 x 500 m. Meskipun demikian sebagian besar lahan tersebut masih merupakan milik penduduk. Sekarang di lokasi ini telah dibuat taman oleh Pemerintah Daerah Lampung di dua tempat yaitu disebut Kompleks Batu Bedil I atau kompleks megalitik dan prasasti, serta Kompleks Batu Bedil II. Kompleks Batu Bedil I berada di sebelah barat dan Kompleks Batu Bedil II berada di sebelah timur. Kedua lokasi tersebut berjarak sekitar 100 m.


- Batu Bedil I

Kompleks Batu Bedil I atau kompleks megalitik dan prasasti berada pada lahan seluas 100 x 50 m. Kompleks ini berada di lahan datar yang lebih tinggi dari daerah sekitarnya. Oleh Pemerintah Daerah Lampung, di lahan ini telah dibuat taman yang dilengkapi dengan jalan setapak, tempat beristirahat, dan rumah informasi. Kompleks Batu Bedil I atau Kompleks Megalitik dan Prasasti juga telah di pagar kawat. Pemagaran ini dilakukan oleh P3SPL (Proyek Pelaksana Peninggalan Sejarah dan Purbakala Propinsi Lampung) pada tahun 1991. Pintu masuk lahan berada di sebelah selatan. Pada lahan ini selain terdapat prasasti juga terdapat sekelompok menhir yang membentuk formasi segiempat. Selain itu di lokasi ini juga terdapat sebaran batu-batu besar.

Prasasti berada pada titik koordinat 05°18,637’ LS dan 104°42,041’ BT (pembacaan dengan GPS Garmin V). Prasasti dituliskan pada sebongkah batu berukuran panjang 185 cm, lebar 72 cm, tebal 55 cm. Tulisan prasasti digoreskan pada bagian batu yang menghadap ke utara. Prasasti terdiri 10 baris dengan tinggi huruf sekitar 5 cm. Tulisan tersebut berada dalam satu bingkai. Pada bagian bawah bingkai terdapat goresan membentuk padma atau bunga teratai. Kondisi huruf sudah aus sehingga banyak huruf yang sudah tidak terbaca lagi.

Di sebelah barat prasasti terdapat 14 menhir yang membentuk formasi segi empat. Menhir-menhir tersebut merupakan batu alam yang tidak menunjukkan tanda-tanda pengerjaan oleh manusia. Selain menhir di lahan ini juga terdapat sejumlah batu besar. Dilihat dari bentuknya batu-batu tersebut kemungkinan sebagai menhir maupun dolmen. Berdasarkan pengamatan terhadap permukaan tanah didapatkan adanya temuan artefaktual berupa pecahan keramik dan tembikar.

Sebaran batu yang terdapat di daerah Batu Bedil ini juga dapat ditemukan di beberapa lokasi di luar lahan berpagar. Di sebelah barat pagar Kompleks Prasasti berjarak sekitar 50 m terdapat batu lumpang, yang oleh masyarakat dinamakan Batu Lesung. Selain itu di dekat Batu Lesung juga terdapat 3 batu datar. Selain itu di sebelah selatan pagar berjarak sekitar 50 m terdapat sebaran batu alam yang mengelompok. Sebaran batu tersebut berada di kebun kopi milik penduduk setempat.




Situasi kompleks Batu Bedil I


- Batu Bedil II

Kompleks Batu Bedil II berada di sebelah timur Kompleks Batu Bedil I berjarak sekitar 100 m. Kompleks Batu Bedil II menempati lahan seluas sekitar 50 X 40 m. Kompleks Batu Bedil II sekarang ini juga telah dibuat menjadi taman. Di lokasi ini telah dibuatkan tempat istirahat dan diberi pagar kawat oleh P3SPL pada tahun 1993. Pada bagian tengah lahan terdapat jalan setapak. Tinggalan yang terdapat di Kompleks Batu Bedil II adalah batu bergores, meja batu (dolmen), batu lumpang, dan sejumlah menhir.

Batu bergores di lokasi ini berada di sudut barat daya lahan. Goresan berupa garis-garis sejajar terdapat pada kedua ujung batu. Di sebelah utara batu bergores berjarak sekitar 5 m terdapat satu batu datar yang patah pada ujungnya. Pada bagian bawah batu datar terdapat batu-batu kecil yang seolah-olah menyangga batu datar tersebut.

Selain batu bergores dan dolmen, di lahan ini juga terdapat dua lumpang batu. Kedua lumpang batu tersebut terletak saling berdekatan di bagian barat lahan situs. Kedua lumpang batu tersebut terbuat dari bahan batuan breksi.

Selain itu di lokasi ini terdapat sebaran sejumlah batu tegak. Batu-batu tersebut merupakan batu alam yang tidak menunjukkan adanya pengerjaan oleh manusia. Salah satu batu tegak berukuran tinggi 220 cm, merupakan batu yang tertinggi di lokasi tersebut. Batu tegak inilah yang oleh masyarakat disebut Batu Bedil. Menurut masyarakat pada batu tersebut dahulu sering terdengar adanya bunyi letusan.


- Temuan serta

Berdasarkan wawancara dengan penduduk diperoleh keterangan adanya temuan beliung persegi. Beliung persegi tersebut dalam kondisi utuh, terbuat dari bahan kalsedon. Warna dasar beliung merah tua dengan bercak-bercak biru, putih dan coklat. Pada bagian tajaman menunjukkan pemangkasan dengan cara monofacial. Pada bagian tajaman tidak menunjukkan adanya bekas pemakaian (perimping). Menurut keterangan, beliung persegi tersebut ditemukan di antara kompleks Batu Bedil I dan kompleks Batu Bedil II. Sekarang beliung persegi tersebut disimpan oleh Bapak Zaenuddin, seorang penduduk yang tinggal di sekitar situs.


2. Situs Gelombang

Situs Gelombang berada di sebelah selatan Sungai Ilahan. Oleh masyarakat lahan situs sekarang digunakan sebagai perkebunan kopi. Penamaan situs Gelombang diberikan oleh masyarakat karena melihat keadaan tanah yang bergelombang. Setelah dilakukan pengamatan ternyata keadaan tanah yang bergelombang tersebut disebabkan oleh adanya parit-parit yang digali di permukaan tanah.

Parit 1 berada di kebun milik Bapak Bustaman. Parit melintang dari timur ke barat. Parit 1 berukuran panjang 28,50 m, lebar 4 m, kedalaman 0,5 m. Parit 1 berada di sebelah selatan tebing berjarak 97 m. Di sebelah selatan parit 1 terdapat parit 2. Jarak parit 1 dan parit 2 adalah 110 m. Parit 2 berada di kebun milik Bapak Tomo. Parit 2 berukuran panjang 36,80 m, lebar 6,50 m, dan dalam 1 m. Di antara parit 1 dan parit 2 terdapat dua batu datar yang berjajar barat – timur.

Berdasarkan pengamatan terhadap permukaan tanah didapatkan artefak berupa fragmen keramik dan tembikar. Selain itu di lokasi ini ditemukan batu-batu berbentuk silindris menyerupai gandik. Permukaan batu kasar dan tidak menunjukkan adanya bekas pemakaian.


- Temuan serta

Di lokasi ini pernah ditemukan piring keramik yang sekarang disimpan oleh Bapak Bustaman, seorang penduduk yang tinggal di sekitar situs. Piring tersebut dalam keadaan pecah sebagian. Ciri-ciri morfologis artefak tersebut adalah sebagai berikut: piring berkaki, warna bahan kekuningan, glasir tebal, warna hijau seladon. Berdasarkan ciri-ciri keramik tersebut secara kronologis berasal dari Cina masa dinasti Sung (abad ke-10 - 14).


- Desa Batu Bedil Hilir

Di desa Batu Bedil Hilir terdapat situs Batu Gajah. Situs ini berada di tepi jalan yang menghubungkan Desa Talang Padang dengan Air Bakoman, tepatnya berada pada koordinat 05°18,117’ LS dan 104°40,991’ BT (pembacaan dengan GPS Garmin V). Situs berada di tengah pemukiman penduduk yang cukup padat. Situs berada pada lahan datar seluas kurang lebih 750 m2. Lahan ini dibatasi pagar kawat yang dibuat tahun 1994 oleh P3SPL. Pada lahan ini terdapat Batu Gajah, Batu Kerbau dan sejumlah menhir.

Batu Gajah merupakan monolit yang berukuran tinggi 94 cm, lebar 201 cm, tebal 164 cm, berbahan tufa. Pada sisi batu yang menghadap ke selatan terdapat goresan yang membentuk kepala gajah. Kepala gajah digambarkan secara lengkap dengan belalai, gading, mata, dan kuping. Belalai digambarkan menjuntai ke bawah. Pada sisi kiri dan kanan batu tersebut terdapat goresan-goresan yang membentuk badan serta kaki.

Batu Kerbau berada di sebelah barat Batu Gajah. Batu Kerbau berukuran tinggi 100 cm, lebar 140 cm, tebal 135 cm, berbahan tufa. Batu Kerbau menghadap ke selatan. Muka digambarkan secara lengkap dengan mulut, hidung dan mata. Goresan pada sisi selatan membentuk kepala kerbau dengan tanduk yang melingkar. Di belakang kepala terdapat tonjolan. Pada bagian ini terdapat dua cekungan masing-masing dengan diameter sekitar 5 cm, kedalaman sekitar 5 cm.

Selain Batu Gajah dan Batu Kerbau di lahan ini juga terdapat sejumlah menhir yang tidak menunjukkan adanya pengerjaan. Menhir yang terdapat di situs Batu Gajah berjumlah 12 batu. Pada bagian paling utara berjajar dua batu yang berjarak kurang lebih 8 m. Di selatan kedua batu tersebut berjajar 5 batu dari timur ke barat. Batu ketiga berada paling timur berjarak sekitar 1 m dari pagar. Di sebelah barat batu tersebut berjarak sekitar 4,5 m terdapat batu keempat. Batu kelima berjarak sekitar 4 m dari batu keempat. Di sebelah barat batu kelima berjarak sekitar 5 m terdapat batu keenam. Sedang batu ketujuh berada paling barat berjarak sekitar 5,70 m dari batu keenam. Batu kedelapan dalam kompleks batu gajah ini berada di sebelah selatan batu keenam berjarak sekitar 9,50 m. Selanjutnya batu kesembilan berada di sebelah barat daya batu kedelapan berjarak sekitar 10 m. Di sebelah barat batu ke sembilan berjarak sekitar 3,45 m terdapat batu kesepuluh dan kesebelas. Kedua batu ini berjajar utara selatan, dan terletak saling berdekatan. Batu kedua belas berada di sudut barat daya berjarak 6,90 m dari sudut pagar.


Pembahasan

Lampung pada masa klasik merupakan wilayah kekuasaan Sriwijaya. Prasasti Palas Pasemah yang ditemukan di tepi Way Pisang, berisi tentang peringatan penaklukan daerah tersebut. Selain peringatan, prasasti ini juga berisi kutukan-kutukan kepada yang berani memberontak kepada Sriwijaya. Menurut Boechari (1979) berdasarkan perbandingan bentuk hurufnya, prasasti Palas Pasemah berasal dari akhir abad ke-7 M. Dilihat isinya, penempatan prasasti ini mempunyai alasan tertentu. Peringatan dan kutukan pada prasasti, pasti ditujukan kepada masyarakat penghuni daerah itu.

Prasasti dengan isi yang berbeda pernah ditemukan di daerah Rebangpugung, Kotaagung, Lampung Selatan. Prasasti yang disebut prasasti Ulubelu, (abad ke-15 M). Prasasti ini berisi mantra berupa permintaan tolong kepada dewa-dewa utama yaitu Betara Guru (Siwa), Brahma, dan Wisnu. Selain itu juga kepada dewa penguasa air, tanah, dan pohon agar menjaga keselamatan dari semua musuh (Lasmidara, 2003).

Prasasti Batu Bedil ditemukan tidak jauh dari prasasti Ulubelu. Tulisan pada prasasti Batu Bedil sudah sangat aus sehingga sulit dibaca. Berdasarkan perbandingan hurufnya, prasasti Batu Bedil diperkirakan berasal dari akhir abad ke-9 atau awal abad ke-10. Beberapa kata yang terbaca adalah Namo Bhagawate pada baris pertama dan Swâhâ pada baris kesepuluh. Menurut Soekmono berdasarkan kata-kata tersebut menunjukkan bahwa prasasti Batu Bedil berisi tentang mantra agama Buda atau Siwa (Soekmono, 1985: 49 – 50). Dengan demikian Prasasti Batu Bedil dan Prasasti Ulu Belu menunjukkan adanya persamaan yaitu berisi tentang mantra.

Lokasi ditemukannya Prasasti Batu Bedil berada pada lahan yang dibatasi dua sungai. Tinggalan arkeologis yang ditemukan di kawasan antara dua sungai tersebut terdiri tiga klaster. Klaster pertama adalah Batu Bedil I berupa sekumpulan menhir, batu datar, dan prasasti. Klaster kedua adalah Batu Bedil II dengan tinggalan berupa menhir, dolmen, batu bergores, dan lumpang batu. Batu Bedil I dan Batu Bedil II mungkin merupakan satu kesatuan. Aktivitas masyarakat sekarang mengakibatkan terpisahnya antara Batu Bedil I dan Batu Bedil II. Klaster ketiga adalah situs Batu Gajah. Di situs ini terdapat tinggalan berupa menhir, batu gajah, dan batu kerbau.

Antara isi prasasti Batu Bedil dengan tinggalan arkeologis yang lain terlihat ada kesesuaian yaitu menyangkut aspek religi. Menhir, batu gajah, dan batu kerbau menunjukkan tinggalan yang ada kaitannya dengan kepercayaan tradisi megalitik. Menhir ialah batu tegak yang sudah dikerjakan atau belum dan diletakkan dengan sengaja di suatu tempat untuk memperingati arwah nenek moyang dan pengharapan kesejahteraan bagi yang masih hidup (Soejono, 1990: 213). Menhir dapat berdiri tunggal maupun berkelompok membentuk formasi tertentu.

Menhir yang ditemukan di daerah Pulau Panggung ini membentuk formasi segi empat. Susunan menhir dengan formasi segi empat juga ditemukan di daerah lain, misalnya di Pugungraharjo (Soejono, 1990: 218). Menhir seringkali juga ditemukan bersama-sama dengan bangunan megalitik lainnya seperti bangunan berundak, dolmen, lesung batu, dan arca-arca megalitik.

Arca megalitik yang terdapat di Pulau Panggung berbentuk gajah dan kerbau. Arca-arca megalitik yang menggambarkan binatang juga ditemukan di daerah lain misalnya di Palembang (Soekmono, 1985: 6) dan di Dataran Tinggi Pasemah (Sugiyanto, 2000: 41). Penggambaran gajah dan kerbau tersebut menunjukkan adanya hubungan antara manusia dengan binatang tersebut. Pembuatan arca binatang merupakan pengharapan agar hubungan tersebut dapat berlangsung dengan baik. Dengan demikian dapat menjamin kehidupan manusia menjadi lebih tenang dan tenteram. Selain itu gajah dan kerbau dapat juga diartikan sebagai lambang kendaraan bagi arwah (Sugiyanto, 2000: 43).

Sementara itu situs yang berada di luar kawasan yang dibatasi dua sungai adalah situs Gelombang. Situs ini merupakan situs pemukiman yang dibatasi fetur benteng tanah dan parit. Unsur religi yang terdapat di situs ini berupa dua batu datar. Berdasarkan analisis temuan keramik, diketahui bahwa keramik yang ada berasal dari Cina, Thailand, dan Vietnam. Secara kronologis keramik tersebut menunjukkan berasal dari dinasti Tang (abad ke-7 – 10 M), Sung-Yuan (abad ke-10 – 14 M), Thailand dan Vietnam (abad ke-16 M), dan dinasti Qing (abad ke-17 – 20 M). Jumlah keramik terbanyak yang ditemukan di situs ini berasal dari Cina masa dinasti Sung-Yuan (abad ke-10 – 14 M) (Triwuryani, 1998: 4; Adhyatman, 1990: 333).

Berdasarkan uraian terdahulu dapat diketahui bahwa masyarakat pendukung budaya di daerah Pulau Panggung berasal dari sekitar abad ke-10 M. Kajian dari sisi paleografis pada prasasti juga menunjukkan dari sekitar abad ke-10 M. Sementara itu penanggalan Situs Gelombang berdasarkan analisis terhadap temuan keramik diketahui berawal dari sekitar abad ke-7 M, dan mencapai puncaknya pada sekitar abad ke-10 – 14 M. Selanjutnya situs tersebut masih terus dipergunakan sampai awal ke-20 M.

Adanya prasasti yang berisi mantra menunjukkan bahwa masyarakat pendukung budaya di Pulau Panggung sudah menganut agama Hindu atau Buda, namun masih mengagungkan kepercayaan kepada arwah leluhur. Kepercayaan kepada arwah leluhur ditunjukkan dengan adanya tinggalan berupa menhir, batu gajah, dan batu kerbau. Penempatan prasasti di lokasi tersebut selaras dengan lingkungan masyarakat pendukungnya khususnya dari sisi religi.


Simpulan

Berdasarkan analisis tinggalan artefak keramik asing terlihat bahwa kehidupan masyarakat Pulau Panggung pada masa lampau berlangsung pada sekitar abad ke-10 M. Masyarakat pada waktu itu bermukim di tiga klaster yaitu Batu Bedil, Batu Gajah, dan Gelombang. Berdasarkan besaran situs dan ragam temuan, klaster Batu Bedil merupakan yang terbesar.

Prasasti Batu Bedil berdasarkan paleografisnya diperkirakan berasal dari abad ke-10 M. Penempatan prasasti di klaster Batu Bedil menunjukkan pada lokasi pusat pemukiman. Isi prasasti menunjukkan religi yang berlatarkan pada agama Hindu-Buda. Memperbandingkan antara prasasti Batu Bedil dan Ulu Belu, kemungkinan religi yang berkembang selain Hindu-Buda, juga terdapat unsur tradisi megalitik. Beberapa tinggalan yang ada juga menunjukkan bangunan tradisi megalitik. Dengan demikian penempatan prasasti Batu Bedil sesuai dengan lingkungan budaya yang berkembang pada waktu itu. Kemungkinan prasasti tersebut dikeluarkan oleh penguasa setempat.








Daftar Pustaka


Adhyatman, Sumarah

1990 Antique Ceramics found in Indonesia. Jakarta: Ceramic Society of Indonesia.

Boechari

1979 “An Old Malay Inscription of Srivijaya at Palas Pasemah (South Lampong)”. Dalam Pra Seminar Penelitian Sriwijaya. Jakarta: Pusat Penelitian Purbakala dan Peninggalan Nasional. Hlm. 19 – 40.

Djafar, Hasan dan W. Anwar Falah

1995 “Prasasti Batu dari Sumberhadi Daerah Lampung Tengah (Suatu Informasi)”. Dalam Jurnal Penelitian Balai Arkeologi Bandung No. 1/ April/1995. Bandung: Balai Arkeologi Bandung. Hlm. 1 – 3.

Lasmidara, Ira

2003 “Napak Tilas Aksara Nusantara”. Dalam SKH Republika, 2 Februari 2003. Hlm. 9.

Soejono, R.P. (ed)

1990 “Jaman Prasejarah di Indonesia” Dalam Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia I. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, P.N. Balai Pustaka.

Soekmono, R.

1985 “Kisah Perjalanan ke Sumatra Selatan dan Jambi”. Dalam Satyawati Suleiman et al. Amerta 3. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

Sugiyanto, Bambang

2000 “Hubungan Manusia dan Binatang Pada Budaya Megalitik Pasemah (Tinjauan atas Arca Megalitik dan Lukisan Dinding Kubur)”. Dalam Jurnal Arkeologi Siddhayatra Volume 5 Nomor 2 November 2000. Palembang: Balai Arkeologi Palembang. Hlm. 41 – 44.

Sumadio, Bambang (ed)

1990 Jaman Kuna” Dalam Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia II. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, P.N. Balai Pustaka.

Triwuryani, Rr.

1998 “Pola Tata Letak Situs Tradisi Megalitik di DAS Sekampung”. Makalah pada Evaluasi Hasil Penelitian Arkeologi, Cipayung 16-20 Februari 1998. (belum diterbitkan).



Catatan: Tulisan ini diterbitkan di buku berjudul "HASTALELEKA: Kumpulan Karya Mandiri Dalam Kajian Paleoekologi, Arkeologi, Sejarah Kuna, dan Etnografi", hlm. 41 - 50. Editor: Agus Aris Munandar. Penerbit: ALQAPRINT, Jatinangor: 2005.