19 Maret 2009

Struktur permukiman masyarakat Lampung pada masa lampau


PERMUKIMAN SITUS BENTENG SABUT (BUJUNG MENGGALOU), TULANGBAWANG, LAMPUNG



Nanang Saptono



tim penelitian bersama masyarakat setempat


PENDAHULUAN
Masyarakat Lampung pada umumnya mengenal sistem “pemerintahan adat” Marga. Dalam satu Marga yang dikepalai oleh pasirah marga, terbagi atas beberapa kampung yang dipimpin oleh kepala kampung. Tiap-tiap kampung terdiri beberapa suku yang dipimpin kepala suku (Anonim, 2003: 1). Hierarkhi ini juga tercermin pada fisik pemukimannya. Masyarakat yang terdiri dari beberapa suku mendiami satu kawasan disebut tiyuh. Kelompok beberapa tiyuh membentuk satu marga. Kampung sebagai sistem organisasi pemerintahan adat, yang secara fisik disebut tiyuh, dapat mengalami pemekaran. Anggota masyarakat suatu tiyuh diperbolehkan membuka hutan untuk tanah garapan. Tanah garapan ini disebut umbulan. Apabila umbulan tersebut memenuhi berbagai persyaratan untuk lokasi tinggal, maka dapat berkembang menjadi tiyuh. Sebelum menjadi tiyuh, umbulan menginduk pada kampung asalnya. Masyarakat yang mendiami umbulan disebut tepuk. Apabila sudah memenuhi persyaratan adat, umbulan secara fisik dapat meningkat menjadi tiyuh, sedangkan secara organisasi pemerintahan berkembang menjadi kampung. Masyarakatnya berkembang dari tepuk menjadi suku. Dengan demikian umbulan merupakan cikal bakal suatu tiyuh.

Situs Benteng Sabut (Bujung Menggalou) secara administratif termasuk di dalam wilayah Kampung Gunungkatun Tanjungan dan Gunungkatun Malay, Kecamatan Tulangbawang Udik. Kedua kampung itu walaupun merupakan dua sistem administrasi yang berada namun berada pada satu wilayah. Dengan demikian secara tegas batas kedua wilayah kampung tersebut sedikit sulit diketahui. Namun demikian secara adat masyarakat di kedua kampung itu dengan mudah mengetahui perwilayahannya. Masyarakat Kampung Gunungkatun Tanjungan dan Gunungkatun Malay secara adat termasuk dalam marga Buay Bulan. Pada masyarakat kampung ini terdapat ikatan emosi dengan situs Benteng Sabut (Bujung Menggalou).

Balai Arkeologi Bandung pada tahun 2000 dan 2002 telah melakukan penelitian di situs ini dalam bentuk observasi permukaan (Saptono, 2000: 135-136; 2002: 88-89). Berdasarkan data etnohistori yang diperoleh pada penelitian tersebut, situs Benteng Sabut berkaitkan dengan tokoh Minak Kemala Kota dan Minak Ratu Guruh Malay (Saptono, 2002: 91-94). Kedua tokoh ini sama-sama merupakan pendatang. Minak Kemala Kota merupakan keturunan Moyang Junjungan dari daerah Krui. Keturunan Moyang Junjungan bermigrasi ke daerah Sekalaberak dan pada masa Minak Kemala Kota mendirikan perkampungan di Bujung Menggalou (Benteng Sabut). Pada suatu saat di Bujung Menggalou datang Minak Guruh Malay. Masyarakat memperkirakan tokoh Minak Guruh Malay berasal dari Jambi atau Malaka. Di Tulangbawang Minak Guruh Malay mendiami Bujung Malay, sebelah tenggara Bujung Menggalou berjarak sekitar 2,5 km.

Minak Guruh Malay ketika meninggal dimakamkan di Kampung Pekurun, sekarang termasuk dalam wilayah administratif Kecamatan Abung Tengah, Kabupaten Lampung Utara. Pada saat sekarang keturunan Minak Kemala Kota merupakan masyarakat Kampung Gunungkatun Tanjungan dan keturunan Minak Guruh Malay merupakan masyarakat Gunungkatun Malay. Pada masa Minak Muttah Dibumi terjadi peristiwa konfrontasi antara Benteng Sabut dengan Gunung Terang (Way Kanan) yang melibatkan Prajurit Putinggelang.

Berkaitan dengan permukiman adat, konsep tiyuh pada masyarakat Tulangbawang dapat disamakan dengan konsep wanua pada masyarakat Austronesia pada umumnya. Wanua, Banua, atau Nua bagi masyarakat Kayuagung, Komering, dan Lampung merujuk pada permukiman masyarakat desa dengan status sosial, politik, dan ekonomi yang otonom (Wiryomartono, 1995: 17). Wanua pada masyarakat Jawa Kuna juga merujuk pada permukiman masyarakat setingkat desa. Wanua pada masyarakat Jawa Kuna dipimpin oleh Rama (Sumadio, 1990: 190). Dalam masyarakat tiyuh terlihat sudah ada konsep kepemimpinan. Dapat dipastikan tiyuh sebagai wilayah untuk bertempat tinggal akan memuat masyarakat yang jenjang sosial dan pola kegiatannya berragam.

Situs Benteng Sabut (Bujung Menggalou) merupakan pemukiman yang dilengkapi benteng dan parit keliling. Pada lokasi tersebut juga dijumpai adanya makam tokoh. Persoalannya, bagaimanakah intensitas keberlangsungan pemukiman di kawasan situs tersebut. Permasalahan selanjutnya, dari segi fisik bagaimana pemanfaatan ruang pemukiman dalam skala semi mikro dan bagaimana watak permukiman yang pernah berlangsung. Secara kronologis, kapan penghunian situs berlangsung.

Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian di situs Benteng Sabut (Bujung Menggalou) dimaksudkan untuk mengungkap pola pemanfaatan lahan yang ada sesuai dengan ragam aktivitas yang pernah ada. Secara awal dapat diketahui bahwa penghunian di situs Benteng Sabut terdapat ragam aktivitas selain bertempat tinggal juga ada aktivitas industri. Sistem organisasi sosial masyarakat Tulangbawang pada umumnya, dikenal adanya jenjang pemerintahan adat berupa suku dan marga. Dalam satu kampung (tiyuh) ditempati satu suku, kadang-kadang beberapa suku. Beberapa suku ini kemudian membentuk satu marga. Dengan demikian kampung yang mempunyai status sebagai “ibukota” marga dimungkinkan mempunyai kekhususan tertentu. Dilihat dari aspek jenjang masyarakat adat tersebut, akan diungkap pula watak permukimannya.

Untuk mencapai tujuan tersebut, dilakukan penelitian tipe gabungan antara eksploratif dan deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dalam bentuk observasi permukaan dan ekskavasi. Di samping itu pengumpulan data khususnya yang berkaitan dengan masyarakat adat dilakukan dalam bentuk kajian pustaka dan wawancara. Data hasil observasi, ekskavasi, serta wawancara dan kajian pustaka diharapkan dapat memberikan gambaran sebagaimana permasalahan yang ada sehingga maksud dan tujuan penelitian tercapai. Ruang lingkup penelitian ditekankan pada kondisi fisik objek arkeologis baik yang bersifat artefaktual maupun non artefaktual. Selain itu juga menyangkut kondisi lingkungan alam dan sejarah kemasyarakatan khususnya dalam hal masyarakat adat.


HASIL PENELITIAN

Gambaran Umum Situs
Situs Benteng Sabut secara geografis berada pada kelokan sungai utama (Way Kiri) pada posisi 430’20” LS dan 10500’21” BT, Way Kiri mengalir di sebelah tenggara hingga timur situs. Di sebelah barat situs terdapat aliran Way Pikuk. Sungai ini berhulu pada bukit kecil di sebelah utara situs, kemudian berkelok-kelok ke arah tenggara hingga timur dan bermuara di Way Kiri di sebelah selatan Benteng Sabut. Di sebelah selatan muara Way Pikuk terdapat muara Way Papan. Sungai ini mengalir dari arah barat daya. Di sekitar Benteng Sabut terdapat beberapa rawa (bawang) antara lain Bawang Kelapo terdapat di sebelah barat dan Bawang Petahi di sebelah timur laut benteng. Lokasi Benteng Sabut oleh masyarakat setempat juga dikenal dengan sebutan Bujung Menggalou.

Fakta arkeologis yang terdapat di situs Benteng Sabut berupa fitur parit (cekungan), benteng dan tanggul (gundukan tanah), makam kuna, serta sebaran artefak. Parit pada bagian dekat Way Kiri berpola segi lima. Pada sisi dalam parit terdapat benteng. Benteng dan parit ini pada sisi barat bermula dari tepi Way Kiri ke arah barat laut sepanjang 110 m hingga sudut barat daya. Benteng dan parit kemudian belok ke arah utara agak ke timur hingga sepanjang 70 m yang merupakan pertengahan sisi barat laut benteng dan parit, selanjutnya agak berbelok ke arah timur hingga mencapai jarak 70 m yang juga merupakan sudut timur laut. Pada sudut ini parit ada yang ke arah barat laut sepanjang 20 m hingga ke Bawang Petahi, dan juga ada yang ke arah tenggara sejauh 110 m hingga Way Kiri. Parit pada bagian ini lebarnya berkisar antara 5 hingga 7 m dengan kedalaman berkisar 0,5 hingga 1,5 m. Lahan bagian ini merupakan inti pemukiman yang luasnya sekitar 1,4 hektar.

Fakta artefaktual yang pernah ditemukan di bagian ini berupa fragmen keramik, fragmen tembikar, serpih obsidian, kerak besi, paku, fragmen wadah perunggu, dan manik-manik. Fragmen tembikar ada yang berhias. Selain itu terdapat beberapa benda arkeologis berupa gandik, fragmen pipisan. Fragmen tembikar yang merupakan bagian dari kibu (kendi). Benda tembikar utuh berbentuk gacuk, tatap, dan cangkir.

Di sebelah barat laut bagian inti pemukiman berjarak sekitar 50 m terdapat parit membentang arah timur laut – barat daya. Pada Ujung timur laut bermula dari Bawang Petahi ke arah barat daya sejauh 150 m. Parit ini pada ujung barat daya lebarnya 12 m, sedangkan pada ujung timur laut lebarnya 7 m. Kedalam berkisar 1 – 1,5 m. Di ujung barat daya parit belok ke arah tenggara sepanjang 55 m dan selanjutnya tidak tampak lagi jejak-jejaknya. Parit yang membentang arah timur laut – barat daya kemudian belok ke arah tenggara ini membentuk lahan berpola segi empat dengan luas sekitar 0,7 hektar. Di tengah lahan ini terdapat fitur tumulus berdiameter sekitar 3 m tinggi 0,7 m. Di tempat ini pada sekitar tahun 1980 pernah ditemukan guci.

Di sebelah barat daya benteng, pada seberang Way Pikuk terdapat dua fitur tanggul. Fitur tanggul pertama terdapat di sebelah barat daya parit luar sisi barat laut. Dari ujung Way Pikuk tanggul tersebut membujur ke arah barat sepanjang 20 m kemudian belok ke arah barat daya hingga selatan sepanjang 30 m. Lebar tanggul sekitar 4 m dengan ketinggian sekitar 0,5 m. Tanggul kedua terletak di sebelah barat daya lahan benteng. Tanggul tersebut membujur arah timur laut – tenggara sepanjang 30 m. Lebar tanggul 8 m dengan ketinggian 1,5 – 2 m.
Pada bagian luar sudut tenggara benteng, di tepi Way Kiri terdapat fitur makam kuna. Menurut keterangan masyarakat tokoh yang dimakamkan adalah Minak Sendang Belawan. Keadaan makam sedikit lebih tinggi dari lahan sekitar tetapi tidak menggunduk, tidak dilengkapi nisan. Orientasi makam relatif ke arah utara – selatan (N 350 E). Lebar makam 2,16 m dan panjangnya 3,8 m.

Di sebelah tenggara situs Benteng Sabut (Bujung Menggalou) terdapat parit yang disebut kenali. Lokasi tersebut berada pada kelokan sungai yang membentuk suatu daratan memanjang yang dinamakan Bujung Malay. Keadaan parit membentang arah utara – selatan (N 323° E) menghubungkan kedua sisi sungai. Bagian atas parit lebarnya 4,30 m sedangkan bagian dasar lebarnya 3,60 m. Kedalaman 1,25 m.

Deskripsi Hasil Ekskavasi
Ekskavasi di situs Benteng Sabut (Bujung Menggalou) dilakukan pada empat kotak gali yaitu LU I, LU II, LU III, dan LU IV. Tiap-tiap kotak gali berukuran 1 X 1 m. Pembukaan kotak dilakukan dengan teknik spit. Penggalian spit pertama dilakukan hingga kedalaman 20 cm dari titik nol bantu. Spit selanjutnya berinterval 10 cm.

Kotak LU I
Kotak LU I terletak di bagian pertengahan sisi tenggara benteng. Penggalian kotak ini dimaksudkan untuk mendapatkan data tentang aktifitas yang pernah berlangsung, dengan pertimbangan pada penelitian terdahulu di lokasi tersebut banyak ditemukan manik-manik.

Permukaan tanah pada kotak ini cenderung rata. Bagian sisi utara kotak lebih tinggi dari sisi selatan. Keadaan permukaan kotak ditumbuhi rumput, setelah dibersihkan terlihat tanah berwarna kehitaman. Artefak yang terdapat di permukaan kotak berupa kerak besi, fragmen tembikar, dan fragmen keramik asing.

Pembukaan spit 1 dilakukan hingga kedalaman 20 cm dari SDP. Tanah berpasir berwarna kehitaman, tekstur sedang sampai kasar. Pada spit ini akar rumput dan akar singkong banyak dijumpai. Temuan berupa manik-manik, fragmen tembikar, fragmen keramik, dan logam.

Spit 2 hingga mencapai kedalaman 30 cm. Keadaan tanah berpasir berwarna kehitaman, tekstur sedang sampai kasar. Akar tanaman masih banyak dijumpai. Artefak berupa fragmen tembikar, manik-manik, fragmen keramik, dan kerak besi ditemukan merata di seluruh kotak gali.

Spit 3 hingga kedalaman 40 cm. Keadaan tanah sebagaimana spit sebelumnya yaitu berpasir berwarna kehitaman, tekstur sedang sampai kasar. Akar sudah mulai jarang dijumpai. Hingga kedalaman spit ini temuan berupa fragmen tembikar, fragmen keramik, dan kerak besi masih dijumpai namun sudah mulai menipis. Pada akhir spit, di sisi timur kotak ini dijumpai adanya konkresi.

Pada spit 4 hingga kedalaman 50 cm. Keadaan tanah ada perubahan, yaitu berwarna kecoklatan. Jenis dan teksturnya masih seperti pada tanah spit sebelumnya. Temuan berupa fragmen tembikar dan fragmen keramik masih dominan. Pada awal penggalian yaitu di kedalaman 40 cm dijumpai arang. Di bagian barat laut kotak pada dinding sisi utara pada kedalaman 43 cm ditemukan gigi vertebrata.

Penggalian spit 5 dilakukan hingga kedalaman 60 cm, keadaan tanah berpasir kecoklatan. Tekstur mengalami perubahan yaitu halus sampai sedang, agak padat. Temuan berupa fragmen tembikar mulai menipis, merata di seluruh kotak gali. Sisa arang ditemukan di bagian barat daya kotak pada kedalaman 57 cm dan 60 cm. Pada akhir spit, yaitu kedalaman 59 cm, di bagian barat laut kotak terdapat kerak besi.

Temuan pada penggalian spit 6 berkurang. Pada sisi barat kotak gali terdapat fetur dengan warna tanah kehitaman. Pada bagian ini ditemukan artefak berupa fragmen tembikar. Selain itu juga ditemukan arang. Spit 6 diakhiri hingga kedalaman 70 cm

Penggalian pada spit 7 dilakukan setengah kotak yaitu sisi barat. Temuan semakin sedikit, berupa fragmen tembikar. Arang ditemukan di bagian selatan sisi barat pada kedalaman 73 cm. Penggalian diakhiri hinggi spit ini. Pada akhir penggalian terlihat stratigrafi terdiri dari dua lapisan. Lapisan atas tanah berwarna hitam pasiran dan pada lapisan bawah tanah berwarna kecoklatan agak merah.

Kotak LU II
Kotak LU II terletak di bagian timur lahan situs, sebelah utara Kotak LU I. Penentuan lokasi kotak LU II karena pada permukaan tanah banyak ditemukan fragmen tembikar. Dengan ekskavasi di lokasi ini diharapkan dapat diketahui gambaran aktifitas yang pernah berlangsung. Permukaan tanah cenderung rata. Bagian sisi utara kotak lebih rendah dari sisi selatan. Keadaan permukaan kotak ditumbuhi rumput, setelah dibersihkan terlihat tanah berwarna kehitaman. Artefak yang terdapat di permukaan kotak berupa fragmen tembikar yang terkonsentrasi di bagian barat laut kotak gali.

Pembukaan spit 1 dilakukan hingga kedalaman 20 cm dari SDP. Tanah berpasir berwarna kehitaman, tekstur halus sampai sedang. Pada spit ini akar rumput dan umbi-umbian banyak dijumpai. Temuan berupa fragmen tembikar, dan fragmen keramik.

Spit 2 hingga mencapai kedalaman 30 cm. Keadaan tanah berpasir berwarna kehitaman, tekstur sedikit berbeda dengan spit 1 yaitu sedang sampai kasar. Pada sudut barat laut dijumpai fetur humus berwarna hitam. Akar tanaman masih banyak dijumpai namun sudah berkurang. Artefak fragmen keramik ditemukan di sudut tenggara kotak gali.

Spit 3 hingga kedalaman 40 cm. Keadaan tanah berpasir berwarna kehitaman tekstur kasar. Kandungan humus berkurang, akar sudah mulai jarang dijumpai. Hingga kedalaman spit ini temuan berupa fragmen tembikar dijumpai secara sporadis. Arang ditemukan di bagian tenggara kotak gali pada kedalaman 36 cm. Di bagian timur laut ditemukan kerak besi pada kedalaman 39 cm. Di sekitar temuan kerak besi ini tanah berupa pasir putih.

Pada spit 4 kedalaman hingga mencapai 50 cm. Keadaan tanah pada mulanya pasir kehitaman bercampur humus. Akar sudah tidak dijumpai lagi. Pada pertengahan kedalam spit ini tanah mulai berganti pasir putih. Di bagian tenggara, pada pasir berwarna putih ditemukan arang. Temuan artefaktual berupa fragmen tembikar antara lain bagian pegangan kibu. Pada dinding selatan bagian timur pada kedalaman 47 cm terdapat kumpulan fragmen tembikar.

Penggalian spit 5 dilakukan hingga kedalaman 60 cm, tanah bercampur pasir putih dengan tekstur kasar sangat dominan. Temuan berupa fragmen tembikar sedikit ditemukan. Temuan berupa fragmen tembikar terkonsentrasi di sudut tenggara. Di sudut barat laut ditemukan kerak besi. Tumpukan fragmen tembikar yang terdapat di dinding selatan bagian timur yang mulai terlihat pada spit 4 berlanjut hingga spit 5.

Penggalian spit 6 dilakukan setengah kotak yaitu bagian sisi selatan. Kondisi tanah bercampur pasir putih kekuningan. Hingga akhir spit sudah tidak ditemukan benda arkeologis lagi (steril). Spit 6 diakhiri hingga kedalaman 70 cm. Stratigrafi yang terlihat menunjukkan dua lapisan yaitu pada bagian atas tanah hitam pasiran dan di lapisan bawah tanah coklat kemerahan.

- Kotak LU III
Kotak LU III terletak di bagian tengah lahan situs. Penggalian kotak ini dimaksudkan untuk menguji apakah ada jejak aktifitas di bagian tengah lahan situs. Permukaan tanah cenderung rata. Bagian sisi utara kotak lebih tinggi dari sisi selatan. Keadaan permukaan kotak ditumbuhi rumput, setelah dibersihkan terlihat tanah gembur berwarna coklat kekuningan tekstur halus sampai sedang. Pembukaan spit 1 dilakukan hingga kedalaman 20 cm. Tanah gembur berwarna coklat kekuningan merata di seluruh bagian kotak gali. Akar rumput dan pohon sejenis palmae banyak dijumpai, humus sangat sedikit. Pada spit ini temuan artefaktual berupa fragmen tembikar dan keramik.
Spit 2 keadaan tanah masih berwarna coklat kekuningan dengan tekstur halus sampai kasar. Pada spit ini tanah mulai padat. Akar rumput dan pohon jenis palmae masih dijumpai namun sangat sedikit. Temuan artefaktual berupa fragmen tembikar. Pada akhir spit 2 di sisi timur terdapat fragmen keramik. Penggalian dilakukan hingga kedalaman 30 cm.
Spit 3 keadaan tanah banyak mengandung pasir berwarna kecoklatan dengan tekstur kasar. Akar pohon jenis palmae masih dijumpai hingga akhir spit yaitu kedalaman 40 cm. Temuan berupa fragmen tembikar banyak terkonsentrasi di sisi utara kotak gali.
Pada spit 4 keadaan tanah di bagian sudut timur laut hingga sisi timur berwarna coklat kehitaman. Sedang di bagian sudut barat daya hingga sisi barat berwarna coklat kekuningan. Kedua jenis tanah ini agak padat bertekstur kasar. Temuan berupa fragmen tembikar sangat sedikit dijumpai. Penggalian diakhiri hingga mencapai kedalaman 50 cm.

Kotak LU IV
Kotak LU IV terletak di sudut selatan lahan situs. Observasi yang dilakukan pada penelitian terdahulu di lokasi ini banyak menemukan manik-manik dan kerak besi. Penggalian kotak ini diharapkan mendapatkan data tentang aktifitas yang ada hubungannya dengan temuan permukaan. Permukaan tanah cenderung rata. Keadaan permukaan ditumbuhi ilalang yang sangat tinggi. Pembukaan spit 1 dilakukan hingga kedalaman 20 cm. Tanah mengandung pasir berwarna kehitaman. Akar ilalang dan akar pohon kelapa sangat banyak. Keadaan seperti ini berlanjut hingga spit 2. Mula-mula penggalian dilakukan di kuadran IV (sudut barat daya). Benda arkeologis yang ditemukan terdiri fragmen tembikar, fragmen keramik, dan kerak besi. Ketika penggalian dilakukan pada bagian yang lain, keadaan tanah sama. Temuan fragmen tembikar dan fragmen keramik ditemukan lagi di kuadran II (sudut timur laut). Selain itu juga ditemukan lagi kerak besi.

Ekskavasi berlanjut pada spit 3 hingga kedalaman 40 cm. Keadaan tanah berpasir hitam berangsur ke warna kecoklatan. Akar ilalang dan pohon kelapa masih dijumpai. Pada spit ini ditemukan fragmen tembikar dan kerak besi. Pada dinding selatan bagian timur dan bagian sudut tenggara, di akhir spit ditemukan fragmen tembikar dan arang.

Pada spit 4 penggalian dilanjutkan pada kuadran I dan II (bagian utara). Keadaan tanah berpasir warna kecoklatan. Temuan berupa fragmen tembikar dan manik-manik. Di tengah bagian utara ditemukan jejak fetur. Pada fetur tersebut tanah berwarna kehitaman.


ANALISIS TEMUAN
Temuan hasil penelitian setelah dilakukan pemilahan kemudian dianalisis. Pada penelitian kali ini, tujuan analisis temuan untuk mengetahui gambaran aktifitas yang pernah berlangsung dan kapan aktifitas tersebut berlangsung. Analisis terutama ditekankan pada temuan keramik asing. Anaslis keramik pada aspek tipologi dapat untuk mengetahui gambaran aktifitas yang pernah berlangsung, sedangkan pada aspek penanggalan untuk mengetahui kapan aktifitas itu berlangsung.

Ekskavasi di situs Benteng Sabut, Bujung Menggalou menemukan beberapa benda data arkeologis. Temuan hasil ekskavasi terdiri dari temuan artefaktual dan non artefaktual. Temuan artefaktual berupa fragmen alat yang terbuat dari batu, fragmen benda dari besi, fragmen benda dari perunggu, manik-manik, fragmen tembikar, dan fragmen keramik. Fragmen terdiri dari jenis earthenware, stoneware, porselain, dan kaca. Temuan non artefaktual berupa tatal batu, kerak besi, terakota, kulit kemiri (muncang, kemiling), getah damar, dan tulang/gigi.

Temuan hasil ekskavasi dapat memberikan gambaran persebaran baik secara horisontal maupun vertikal. Analisis temuan hasil ekskavasi ditekankan pada artefak keramik. Dari seluruh temuan keramik hasil ekskavasi tidak semuanya dianalisis. Keramik yang terlalu kecil atau kurang menunjukkan atribut kuat tidak dianalisis. Fragmen keramik yang dianalisis seluruhnya berjumlah 189 keping. Jumlah itu, dari kotak LU I sebanyak 117 keping, kotak LU II 24 keping, kotak LU III 8 keping, dan kotak LU IV 40 keping.

Hasil analisis secara tipologis, fragmen dari tipe mangkuk merupakan temuan terbanyak yaitu 109 keping (57,67 %). Di kotak LU I fragmen keramik dari tipe ini ditemukan sebanyak 73 keping (62,39 % dari temuan di kotak LU I atau 38,62 % dari seluruh temuan). Di kotak LU II ditemukan sebanyak 11 keping (45,83 % atau 5,82 %). Di kotak LU III ditemukan 3 keping (37,5 % atau 1,59 %). Di kotak LU IV ditemukan 22 keping (55 % atau 11,64 %).

Tipe selanjutnya adalah guci/tempayan yaitu 37 keping (19,58 %). Di kotak LU I fragmen keramik dari tipe ini ditemukan sebanyak 20 keping (17,09 % dari temuan di kotak LU I atau 10,58 % dari seluruh temuan). Di kotak LU II ditemukan sebanyak 7 keping (29,17 % atau 3,70 %). Di kotak LU III ditemukan 3 keping (37,50 % atau 1,59 %). Di kotak LU IV ditemukan 7 keping (17,50 % atau 3,70 %).

Terbanyak selanjutnya adalah tipe kendi yaitu 15 keping (7,94 %). Fragmen keramik dari tipe kendi hanya ditemukan di kotak LU I. Persentase berdasarkan pada seluruh temuan di kotak tersebut menunjukkan 12,82 %. Fragmen dari tipe cangkir ditemukan sebanyak 3 keping (1,59 %), dari tipe cepuk dan botol masing-masing 2 keping (1,06 %), dan dari tipe piring 1 keping (1,12 %). Selain itu sebanyak 20 keping (10,58 %) tidak dapat teridentifikasi tipologinya.

Analisis pada aspek penanggalan secara relatif diperoleh gambaran dari berbagai jaman yaitu dari Cina masa dinasti Han (awal Masehi hingga abad III), Sui (abad VI – VII), T’ang (abad VII – X), Song (abad X – XIII), Yuan (abad XIII – XIV), Ming (abad XIV – XVII), Qing (abad XVII – XX), Thailand periode Shukothai (abad XIII – XIV), Annam (abad XV), dan Eropa (abad XIX – XX).

Hasil analisis penanggalan keramik menunjukkan bahwa keramik Cina masa dinasti Qing merupakan temuan terbanyak yaitu 32 keping (16,93 %). Temuan ini berasal dari kotak LU I sebanyak 25 keping (21,37 % dari temuan di kotak itu atau 13,22 % dari seluruh temuan) dan di kotak LU IV sebanyak 7 keping (17,5 % atau 3,70 %).

Fragmen keramik Cina masa dinasti Han dan keramik Thailand ditemukan masing-masing sebanyak 29 keping (15,34 %). Keramik Cina masa dinasti Han hanya ditemukan di kotak LU I. Sedang keramik dari Thailand ditemukan di kotak LU I sebanyak 16 keping (13,68 % dari temuan di kotak itu atau 8,47 % dari seluruh temuan). Di kotak LU II ditemukan 7 keping (29,17 % atau 3,70 %). Di kotak LU III ditemukan 1 keping (12,5 % atau 0,53 %). Di kotak LU IV ditemukan 5 keping (12,5 % atau 2,65 %).

Keramik Cina masa dinasti Ming ditemukan sebanyak 26 keping (13,76 %). Fragmen keramik ini di kotak LU I ditemukan sebanyak 14 keping (11,96 % atau 7,41 %). Di kotak LU II ditemukan 2 keping (8,33 % atau 1,06 %). Di kotak LU III ditemukan 1 keping (12,5 % atau 0,53 %). Di kotak LU IV ditemukan sebanyak 9 keping (22,5 % atau 4,76 %).

Keramik Cina masa dinasti Song dan Yuan masing-masing ditemukan 19 keping (10,05 %). Keramik masa dinasti Song di kotak LU I ditemukan sebanyak 10 keping (8,55 % atau 5,29 %). Di kotak LU II ditemukan 6 keping (25 % atau 3,17 %). Di kotak LU III ditemukan 2 keping (25 % atau 1,06 %). Di kotak LU IV ditemukan 1 keping (2,5 % atau 0,53 %). Keramik masa dinasti Yuan, di kotak LU I ditemukan sebanyak 7 keping (5,98 % atau 3,70 %). Di kotak LU II ditemukan 2 keping (1,71 % atau 1,06 %). Di kotak LU III ditemukan 2 keping (25 % atau 1,06 %). Di kotak LU IV ditemukan 8 keping (20 % atau 4,23 %).

Dari masa dinasti T’ang ditemukan sebanyak 11 keping (5,82 %). Fragmen keramik ini hanya ditemukan di kotak LU I. Persentase dari seluruh temuan di kotak itu sebanyak 9,40 %. Keramik dari Cina masa dinasti Sui ditemukan sebanyak 3 keping (1,59 %). Keramik dari Annam ditemukan sebanyak 2 keping (1,06 %). Keramik Eropa ditemukan 1 keping (0,53 %). Selain itu terdapat 18 keping (9,52 %) yang tidak dapat diidentifikasi penanggalannya.


SITUS BENTENG SABUT SEBAGAI PEMUKIMAN
Dalam skala lokal, pemukiman di Benteng Sabut mencirikan satu masyarakat “kota”. Beberapa data hasil ekskavasi memperlihatkan adanya multi subsistensi. Secara umum data yang ditemukan pada beberapa kotak gali menunjukkan kondisi yang sudah teraduk (disturb). Keteradukan secara vertikal diantaranya terlihat dari jejak fetur di kotak LU I dan LU IV. Secara horisontal keteradukan tidak terjadi secara intens. Dari kondisi semacam ini dapat menggambarkan pola keruangannya.

Artefak banyak ditemukan di kotak LU I, LU II, dan LU IV. Lokasi kotak gali ini berada pada bagian dekat tepian sungai. Kondisi ini menggambarkan bahwa pemukiman (rumah) terkonsentrasi pada sisi dekat tepian sungai secara berjajar. Kotak LU III yang berada pada bagian tengah situs, kurang menghasilkan temuan. Bagian ini mungkin merupakan halaman kosong yang fungsinya bagi masyarakat secara komunal (public space).

Berdasarkan analisis tipologis terhadap temuan fragmen tembikar dan keramik menunjukkan bahwa ragam aktifitas masyarakat sangat dominan pada aktifitas rumah tangga. Dalam memenuhi kebutuhan juga terdapat aktifitas industri. Temuan fragmen manik-manik, lelehan bahan manik-manik, dan kerak besi menunjukkan adanya aktifitas industri. Dari temuan yang ada di Benteng Sabut menunjukkan adanya keragaman pola subsistensi. Pola yang demikian ini merupakan salah satu ciri masyarakat kota.

Secara fisik situs Benteng Sabut memang belum dapat dikatakan sebagai kota, yaitu bentuk pemukiman yang dianggap paling maju. Pengertian “kota”, hingga saat ini belum terdapat suatu batasan yang dapat diterapkan secara universal. Pada kebudayaan yang berbeda-beda, elemen-elemen yang berbeda telah digunakan sebagai persyaratan minimum bagi sebuah permukiman untuk dapat disebut sebagai kota (Rapoport, 1986: 22). Sebagai contoh pemukiman jaman pengaruh Islam di Indonesia, sudah dapat dikatakan kota apabila sudah dilengkapi kraton sebagai pusat kekuasaan, masjid sebagai pusat kegiatan ibadah (ritual), dan pasar sebagai pusat kegiatan ekonomi. Dengan demikian keanekaragaman pengertian kota disebabkan pula karena perkembangan zaman yang mengakibatkan terjadinya perubahan.

Max Weber (1977: 13) melalui pendekatan ekonomik melihat “kota” bukan berdasarkan ciri fisik. Suatu pemukiman disebut “kota” bila penduduk lokal memenuhi sebagian besar kebutuhan ekonomi sehari-harinya di pasar lokal, kebanyakan dengan barang komoditas yang dihasilkan dengan berbagai cara oleh penduduk setempat atau daerah pemangku terdekat. Pasar lokal merupakan pusat ekonomi bagi koloni. Berkat ada kegiatan ekonomi maka penduduk kota maupun luar kota memenuhi kebutuhannya akan barang perdagangan. Bila hal itu merupakan suatu konfigurasi yang berlainan dengan pemukiman kecil, maka wajar bila kota menjadi tempat tinggal tuan tanah atau bangsawan. Melalui pendekatan ini tampak bahwa kota merupakan pusat dua hal yaitu oikos (rumah) dan pasar. Kota selain sebagai pasar biasa, pada waktu-waktu tertentu berfungsi pula sebagai pasar barang dari luar (asing) bagi saudagar perantau.

Berkaitan dengan dua hal yaitu oikos dan pasar, Benteng Sabut menurut cerita sejarah merupakan oikos bagi tokoh-tokoh diantaranya Minak Kemala Kota. Para pendatang kemudian membangun tempat tinggal di sekitarnya. Minak Ratu Guruh Malay bertempat tinggal di Bujung Malay. Sedang Prajurit Puting Gelang bertempat tinggal di Umbul Lebung. Benteng Sabut sebagai pusat pasar selain dari ragam artefak asing yang ditemukan terlihat juga dari berita asing. Berdasarkan data berita asing terutama dari Portugis, kawasan Tulangbawang terkenal dengan hasil hutannya di antaranya getah damar (Cortesão, 1967: 158-159). Sebutan Tulangbawang sangat mungkin untuk Benteng Sabut. Temuan beberapa fragmen tembikar yang didalamnya terdapat jejak getah damar, sesuai dengan keterangan dalam sumber sejarah tersebut.

Sebagai masyarakat kota, di Benteng Sabut terdapat jejak aktifitas industri. Adanya kerak besi menunjukkan bahwa industri logam sudah dikenal masyarakat penghuni Benteng Sabut. Pemenuhan kebutuhan akan manik-manik juga sudah dapat diatasi dengan cara diproduksi. Lelehan kaca dan manik-manik tidak sempurna menunjukkan limbah produksi manik-manik.

Aspek penting yang dapat tergambar dari hasil ekskavasi adalah penanggalan situs. Fragmen keramik selain dapat dilacak mengenai tipologinya, juga dapat diketahui negara pembuat dan masa pembuatannya. Ciri utama yang dapat dipakai untuk menentukan asal dan pertanggalan keramik adalah jenis bahan dasar, warna bahan dasar, pola hias, teknik hias, warna glasir, jejak pembakaran, dan ciri-ciri bentuk (Mc. Kinnon, 1996: 61). Dari seluruh kotak gali, secara umum didapatkan keramik sejak dari masa dinasti Han hingga dinasti Qing. Karena pada bagian atas keteradukan sangat tinggi, maka sulit untuk memastikan penanggalannya. Namun berdasarkan kuantitas artefak keramik yang ditemukan menunjukkan adanya dua fase yaitu fase pertama pada masa Han. Fase kedua intensif lagi pada masa T’ang, Song, Yuan, Ming, hingga Qing. Sedikitnya temuan keramik dari masa Sui menunjukkan bahwa pada masa itu di Benteng Sabut mengalami kemunduran. Cerita sejarah yang hidup di masyarakat sekarang ini berkisar pada fase kedua. Putusnya emosi masyarakat dengan peristiwa sejarah pada fase pertama menunjukkan adanya masa kemunduran.


SIMPULAN
Situs Benteng Sabut (Bujung Menggalou) merupakan situs pemukiman yang sudah kompleks. Secara fisik pola keruangan situs menunjukkan adanya deretan tempat tinggal yang berada di sisi tepi sungai yang dilengkapi public space. Tempat tinggal membelakangi sungai menghadap ke bagian public space. Masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya sudah mengenal sektor industri.

Sebagai pemukiman, situs Benteng Sabut (Bujung Menggalou) berkenaan dengan oikos dan pasar. Peranannya dalam aspek tempat tinggal dikenal adanya beberapa tokoh sentral misalnya Minak Kemala Kota. Dalam kaitannya dengan pasar, daerah ini sudah menjalin hubungan perdagangan hingga kawasan regional.

Keberlangsungan aktifitas masa lalu di Benteng Sabut terjadi dalam dua fase. Fase pertama berkisar pada abad ke-3 dan fase kedua pada abad ke-7 – 17. Di antara kedua fase ini terdapat masa kemunduran.



KEPUSTAKAAN

Anonim. 2000. Uraian Ringkas Bagian Proyek Irigasi Way Rarem. Proyek Irigasi Lampung.

Anonim. 2003. Selayang Pandang Kabupaten Tulang Bawang. Menggala: Bagian Humas dan Komunikasi Setdakab Tulang Bawang.

Cortesão, Armando. 1967. The Suma Oriental of Tomé Pires. Nendelnd iechtenstein: Kraus Reprin Limited.

Max Weber. 1977. ”Apakah Yang Disebut Kota” terj. Darsiti Soeratman dan Amin Soendoro. Dalam Sartono Kartodirdjo (ed.) Masyarakat Kuno dan Kelompok-kelompok Sosial. Jakarta: Bhratara Karya Aksara. Hlm. 11 – 42.

McKinnon, E Edwards. 1996. Buku Panduan Keramik. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

Rapoport, Amos. 1986. “Tentang Asal-usul Kebudayaan Permukiman”. Dalam Anthony J. Catanese, (et al.). Pengantar Sejarah Perencanaan Perkotaan. Bandung: Intermedia. Hlm. 21 – 44.

Saptono, Nanang. 2000. “Pemukiman Pada Masa Islam di Kawasan Way Kiri, Tulangbawang”. Dalam Edy Sunardi dan Agus Aris Munandar (ed.) Rona Arkeologi. Bandung: Ikatan Ahli Arkeologi ndonesia. Hlm. 129 – 152.

Saptono, Nanang. 2002. “Hubungan Fungsional Situs Benteng Sabut, Benteng Prajurit Putinggelang, dan Keramat Gemol”. Dalam Agus Aris Munandar (ed.) Jelajah Masa Lalu. Bandung: Ikatan Ahli Arkeologi ndonesia. Hlm. 86 – 1001.

Sumadio, Bambang. 1990. Jaman Kuna, Sejarah Nasional Indonesia II. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Wiryomartono, A. Bagoes P. 1995. Seni Bangunan dan Seni Binakota di Indonesia. Kajian Mengenai Konsep, Struktur, dan Elemen Fisik Kota Sejak Peradaban Hindu-Buddha, Islam Hingga Sekarang. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.


Catatan:
Tulisan ini diterbitkan di buku berjudul "Mozaik Arkeologi", hlm. 97 - 110. Editor: Dr. Agus Aris Munandar. Bandung: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia, 2003.

Menjelajah sepanjang Way Sekampung


PENENTUAN PERIODE SITUS PUGUNGRAHARJO

BERDASARKAN GAYA BANGUNAN



Endang Widyastuti


PENDAHULUAN
Situs Pugungraharjo merupakan komplek kepurbakalaan yang menarik untuk dikaji. Situs tersebut diketahui pertama kali pada tahun 1957 dengan ditemukannya sebuah arca, yang oleh masyarakat disebut “putri Badariah”. Namun penelitian di daerah ini baru dimulai pada tahun 1968 oleh Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional. Selanjutnya secara berturut-turut pada tahun 1975 dan 1977 Pusat Penelitian Purbakala dan Peninggalan Nasional mengadakan survei di daerah tersebut. Kegiatan penelitian yang lebih intensif di situs Pugungaharjo dimulai pada tahun 1980 oleh tim yang diketuai oleh Haris Sukendar. Selain kegiatan penelitian, juga telah dilaksanakan kegiatan pemugaran oleh Direktorat Sejarah dan Purbakala yang dimulai pada tahun 1977.

Dari penelitian-penelitian tersebut dapat diidentifikasi bahwa situs Pugungraharjo merupakan suatu komplek yang dikelilingi benteng tanah dan parit. Sejumlah temuan yang terdapat di dalam dan di luar benteng berupa batu berlubang, batu bergores, kompleks “batu mayat”, batu lumpang, dan punden berundak. Berdasarkan hasil penelitian, para ahli ada yang menyimpulkan bahwa situs Pugungraharjo berasal dari masa prasejarah dan ada pula yang menyimpulkan berasal dari masa klasik.

Dalam kajian ini akan dicoba untuk dilakukan penentuan periode situs Pugungraharjo berdasarkan gaya bangunan. Tinggalan arkeologis yang diamati adalah Punden VI atau punden terbesar yang terdapat di situs Pugungraharjo.

Sesuai dengan tujuan tersebut di atas, dalam kajian ini diterapkan tipe penelitian eksplanatif dengan pendekatan studi interpretatif dan teoritik. Dalam tipe penelitian ini unsur utamanya adalah penjelasan. Dengan demikian terdapat pula di dalamnya hipotesis dan teori. Hanya saja perhatian lebih diarahkan pada upaya untuk melahirkan interpretasi baru guna meningkatkan derajat keterdukungan teori (Kusumohartono, 1987: 19 –20; Gibbon, 1984: 81 – 82).

Menurut Haris Sukendar tinggalan-tinggalan arkeologis di situs Pugungraharjo sebagian besar berada di dalam benteng. Demikian pula temuan-temuan artefaktual berupa pecahan gerabah, keramik, manik-manik dan lain-lain. Sedangkan bagian di luar benteng tidak menghasilkan suatu temuan arkeologis. Dengan demikian disimpulkan bahwa keaktifan kehidupan masyarakat berada di dalam benteng. Selanjutnya Haris Sukendar menyatakan bahwa berdasarkan bentuk bangunan teras berundak di Pugungraharjo tampaknya mengacu kepada bentuk gunung yang dianggap tempat suci, fungsinya berkaitan dengan pemujaan arwah (Sukendar, 1996/1997: 5 – 6). Dari data tersebut Haris Sukendar cenderung mengatakan bahwa situs Pugungraharjo merupakan situs yang berasal dari masa tradisi megalitik (Sukendar, 1979).

Sementara itu dengan adanya temuan arca, Endang Sh. Soekatno menyatakan bahwa berdasarkan jenis sikap tangan (mudra) arca tersebut menggambarkan salah satu tokoh tantrisme. Sehingga disimpulkan bahwa situs Pugungraharjo merupakan salah satu contoh tradisi megalitik yang berkembang pada masa sesudah prasejarah (Soekatno, 1985: 166).

Rita Istari yang mengadakan penelitian tentang manik-manik Kemiling menyimpulkan bahwa situs Pugungraharjo berasal dari masa setelah berkembangnya tradisi megalitik, bahkan kemungkinan sejaman dengan kerajaan Majapahit. Kesimpulan ini diajukan berdasarkan adanya temuan berupa manik-manik dalam jumlah yang cukup banyak. Manik-manik tersebut ditemukan bercampur dengan kelintingan kecil yang terbuat dari bahan perunggu. Temuan manik-manik dan kelintingan kecil tersebut terkonsenrasi di bagian tengah teras berundak (Istari, 1996: 25 – 31). Kemungkinan mengenai umur bangunan ini didukung pula dengan adanya temuan berupa batu tufa berangka tahun 1247 çaka. Batu tufa tersebut merupakan salah satu temuan permukaan yang ditemukan bersama dengan manik-manik.


DESKRIPSI SITUS
Situs Pugungraharjo menempati areal seluas kurang lebih 30 ha. Di sebelah selatan situs terdapat aliran sungai Pugung yang menjadi batas situs. Areal situs terbagi menjadi 3 bagian dengan adanya benteng yang terbuat dari tanah. Lebar benteng tanah tersebut kurang lebih 5 m, sedangkan tingginya 2 – 3 m. Di bagian luar benteng terdapat parit yang lebarnya 3 – 5 m. Di beberapa tempat pada benteng ini terdapat jalan masuk.

Bagian pertama berada pada bagian paling barat. Sisi utara bagian pertama ini dibatasi oleh adanya benteng tanah yang membujur ke arah timur laut kemudian membelok ke arah tenggara. Benteng tersebut kemudian membelok lagi ke arah selatan sampai pertemuan dengan sungai. Bagian kedua situs terdapat di sebelah timur bagian pertama. Bagian kedua ini juga dibatasi oleh adanya benteng tanah yang membujur ke arah timur. Benteng tanah tersebut kemudian membelok ke selatan. Bagian ketiga dari areal situs tersebut terdapat di bagian paling timur. Bagian ini tidak dibatasi oleh adanya benteng tanah.

Komplek Batu Mayat di situs Pugungraharjo


Tinggalan-tinggalan arkeologis yang terdapat di situs Pugungraharjo ini terdiri dari bermacam-macam bentuk, diantaranya berupa batu berlubang, batu bergores, lumpang batu, menhir, dan punden berundak. Tinggalan arkeologis yang terdapat pada bagian pertama berupa batu berlubang, batu bergores, dan punden berundak. Pada bagian kedua terdapat susunan menhir dan batu altar yang membentuk denah segi empat. Pada salah satu menhir terdapat pahatan yang membentuk garis melingkar di kedua ujungnya. Sedangkan pada salah satu batu altar terdapat pahatan yang membentuk huruf T. Susunan menhir dan batu altar ini disebut dengan kompleks batu mayat. di sebelah timur dan selatan kompleks batu mayat terdapat punden berundak. Tinggalan arkeologis yang terdapat pada bagian paling timur dari situs pugungraharjo berupa batu berlubang, batu bergores, batu lumpang, dan punden berundak. Salah satu punden berundak yang terdapat di bagian ini merupakan punden terbesar yang akan menjadi pokok bahasan pada kajian ini. Selain itu, di sebelah selatan dari punden terbesar tersebut terdapat punden arca. Pada punden ini pernah ditemukan sebuah arca yang sekarang tersimpan di rumah informasi situs Pugungraharjo.

Arca yang ditemukan di Punden VII


Punden terbesar di situs Pugungraharjo dikenal dengan nama Punden VI. Punden VI berdenah bujur sangkar berukuran 12 x 12 m, sedangkan tingginya sekitar 7 m. Punden ini terdiri dari 3 teras yang makin keatas makin kecil ukurannya. Batas antara masing-masing teras diperkuat dengan batu-batu kali. Di sekeliling punden terdapat parit kecil. Pada bagian tengah keempat sisi punden terdapat jalan masuk dengan lebar sekitar 2 m. Jalan masuk ini menjorok keluar dan hanya sampai pada teras yang pertama. Di sisi kiri dan kanan jalan masuk terdapat semacam pipi tangga. Pada ujung sisi kiri dan kanan jalan masuk terdapat batu yang diletakkan menyerupai makara.

Punden VI di situs Pugungraharjo


PEMBAHASAN
Tinggalan arkeologis yang akan dibahas dalam kajian ini adalah punden berundak di situs Pugungraharjo. Pada masa prasejarah punden berundak dihubungkan dengan pemujaan arwah leluhur. Punden berundak dapat diidentifikasikan sebagai gunung yaitu tempat keramat yang dianggap merupakan tempat arwah leluhur (Soejono, 1990: 327).

Pada masa pengaruh agama Hindu dan Buddha, bentuk bangunan punden berundak ini masih tetap digunakan. Bentuk bangunan dari tradisi megalitik ini mengilhami bentuk dasar bangunan candi (Soejono, 1990: 209). Candi-candi yang menyerupai punden berundak, berdasarkan bentuknya ada yang membelakang dan ada pula yang memusat. Candi yang membelakang misalnya candi Sukuh, Candi Cetha, dan Candi Jago. Pada candi-candi tersebut bagian yang paling sakral berada paling belakang. Sedangkan candi yang memusat misalnya Candi Borobudur. Bangunan Candi Borobudur disusun seperti limas berundak, terdiri atas sepuluh tingkat yang semakin ke atas semakin kecil ukurannya. Pada dasarnya bangunan candi Borobudur secara vertikal dibagi menjadi 3, yaitu bagian bawah, bagian tengah, dan bagian atas. Bagian bawah yang merupakan kaki bangunan berdenah bujur sangkar dengan penampil-penampil pada pertengahan tiap sisinya. Bagian tengah candi merupakan tubuh bangunannya, terdiri dari 5 tingkat yang semakin ke atas semakin kecil ukurannya. Sedangkan bagian atas candi berupa batur bersusun tiga yang ukurannya semakin ke atas semakin mengecil. Di atas batur yang tertinggi terdapat mahkota berupa sebuah stupa. Bagian atas candi berdenah bundar (Ibrahim dan Chaerosti, 1996/1997: 3 – 4). Secara simbolis ketiga bagian ini melambangkan Kamadhatu (dunia hasrat), Rupadhatu (dunia rupa), dan Arupadhatu (dunia tanpa rupa).

Bangunan punden berundak di situs Pugungraharjo yang dibahas dalam kajian ini adalah Punden VI. Bentuk dasar Punden VI menyerupai Candi Borobudur, yaitu berdenah bujur sangkar dengan penampil pada pertengahan keempat sisinya. Punden VI terdiri dari 3 teras yang makin ke atas makin kecil ukurannya.

Penelitian-penelitian di situs Pugungraharjo juga menghasilkan temuan-temuan artefaktual, yaitu keramik, gerabah dan manik-manik. Penelitian yang dilakukan pada punden di Dukuh Kemiling diantaranya menemukan manik-manik. Manik-manik tersebut ditemukan terkonsentrasi di tengah punden berundak bercampur dengan kelintingan kecil yang terbuat dari bahan perunggu. Pada beberapa situs prasejarah, manik-manik biasanya ditemukan bersama-sama dengan rangka manusia atau sebagai bekal kubur. Manik-manik hasil ekskavasi di punden Kemiling tidak ditemukan bersama dengan rangka manusia. Rita Istari yang mengadakan penelitian tentang manik-manik tersebut berpendapat bahwa dengan tidak adanya rangka manusia, maka manik-manik dari Dukuh Kemiling berfungsi sebagai sarana upacara yang bukan penguburan. Kemungkinan manik-manik bersama dengan kelintingan ditaburkan di tengah punden berundak dengan sengaja. Selain manik-manik, di lokasi tersebut juga ditemukan batu tufa yang berangka tahun 1247 çaka. Berdasarkan adanya temuan berupa manik-manik dalam jumlah yang cukup banyak dan batu berangka tahun, disimpulkan bahwa situs Pugungraharjo berasal dari masa setelah berkembangny a tradisi megalitik, bahkan kemungkinan sejaman dengan kerajaan Majapahit (Istari, 1996: 29 - 30).

Temuan artefaktual yang juga terdapat di situs Pugungraharjo adalah sebuah arca yang ditemukan di Punden VII atau punden arca. Arca yang ditemukan di Pugungraharjo ini menggambarkan seorang tokoh laki-laki dalam sikap duduk bersila, yaitu dalam sikap Vajrasana. Tokoh ini digambarkan duduk di atas padmasana ganda yang berbentuk bulat. Pada bagian belakang padmasana ini terdapat bingkai yang menonjol, berhias motif sulur. Pada arca ini tidak terdapat stela atau sandaran arca. Sikap tangan atau mudra digambarkan telunjuk kiri mengarah ke atas, telunjuk kanan dibengkokkan di atas telunjuk kiri, jari-jari tangan yang lain dilipat. Kedua telapak tangan berada di depan dada. Sikap tangan atau mudra seperti ini belum pernah ditemukan sebelumnya. Sikap mudra yang paling dekat dengan arca ini adalah naivedyamudra yaitu mudra yang diilhami sikap yang biasa digunakan oleh para penganut aliran tantrisme dalam memberikan persembahan. Berdasarkan ciri-cirinya, Endang Sh. Soekatno menduga bahwa arca Pugungraharjo tersebut menggambarkan salah satu tokoh Tantrisme. Arca tersebut berasal dari periode Jawa Timur, sebelum jaman Majapahit sekitar abad XII – XIII (Soekatno, 1985: 165 - 166).

Di Candi Borobudur juga terlihat adanya pengaruh Tantrayana. Unsur Tantrayana tersebut dinyatakan dalam arca-arca Pancatathagata. Melalui penempatan arca-arca Pancatathagata dalam susunan yang memagari semua relief yang menyampaikan ajaran Paramita, disimpulkan bahwa Candi Borobudur juga menitikberatkan pada ajaran Tantrayana (Sulistya, 1985: 52).

Di daerah Sumatra aliran Tantrayana juga pernah berkembang. Bukti adanya aliran Tantrayana tersebut terdapat pada Biaro Bahal yang terletak di Padang Lawas. Biaro-biaro di Padang Lawas berdenah bujur sangkar, pada bagian kakinya dilengkapi dengan pipi tangga yang pada ujungnya terdapat makara.

Adanya aliran Tantrayana di Biaro Bahal ditunjukkan dengan adanya arca Heruka dari Biaro Bahal II yang menunjukkan sifat keraksasaan, sebuah arca kecil yang mewujudkan seorang Bhairawi, dan dua buah arca yang mewujudkan seorang laki-laki dan seorang perempuan yang bersifat bhairawa-bhairawi. Adanya aliran Tantrayana di Padang Lawas juga terlihat pada dua buah prasasti, yaitu prasasti dari Tandihet dan prasasti dari Aek Sangkilon. Prasasti dari Tandihet berisi bunyi suara tertawa, sedangkan prasasti dari Aek Sangkilon berisi tentang upacara terhadap sebuah arca Yamari. Yamari adalah salah satu dewa yang terpenting dalam aliran Tantrayana (Suleiman, 1985: 23 – 37).

Punden di situs Pugungraharjo tidak dilengkapi dengan relief. Tetapi bentuk dasar bangunan Punden VI menunjukkan persamaan dengan bentuk dasar beberapa candi, yaitu berdenah bujur sangkar dan terdiri dari teras-teras berundak. Teras-teras tersebut makin ke atas makin mengecil. Pada teras paling bawah terdapat jalan masuk yang di kiri dan kanannya terdapat semacam pipi tangga. Pada ujung pipi tangga terdapat batu meruncing ke atas yang berbentuk seperti makara. Aliran Tantrayana di situs Pugungraharjo terlihat dengan adanya temuan arca dengan sikap tangan naivedyamudra.


KESIMPULAN
Berdasarkan perbandingan dengan beberapa candi, Punden VI di situs Pugungraharjo mempunyai persamaan dengan bentuk dasar candi Borobudur dan Biaro Bahal di Padang Lawas yaitu berdenah bujur sangkar. Bentuk bangunan berupa teras berundak yang makin ke atas makin mengecil. Pada bagian kaki terdapat jalan masuk yang diapit oleh semacam pipi tangga. Pada ujung pipi tangga tersebut terdapat batu yang diletakkan sedemikian rupa sehingga menyerupai makara. Dengan demikian disimpulkan bahwa punden berundak di situs Pugungraharjo berasal dari masa pengaruh Hindu-Buddha. Sedangkan aliran yang melatarinya adalah aliran Tantrayana. Kesimpulan mengenai periodesasi ini selaras dengan hasil analisis manik-manik yang ditemukan di Punden situs Kemiling, serta didukung oleh temuan batu bertuliskan angka tahun 1247 çaka dan temuan arca di Punden VII atau punden arca.



KEPUSTAKAAN

Gibbon, Guy. 1984. Anthropological Archaeology. New York: Columbia University Press.

Ibrahim, Maulana dan Linda Chaerosti. 1996/1997. Borobudur Dalam Data. Jakarta: Proyek Pengembangan Media Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Istari, TM Rita. 1996. “Sekilas Tentang Manik-manik Kemiling, Pugungraharjo, Lampung Tengah”. Dalam Berkala Arkeologi Tahun XVI (1) Mei 1996. Yogyakarta: Balai Arkeologi Yogyakarta.

Kusumohartono, Bugie. 1987. “Eksloratif-Deskriptif-Eksplanatif dalam Kajian Arkeologi Indonesia”. Dalam Berkala Arkeologi VIII (2) September 1987. Yogyakarta: Balai Arkeologi Yogyakarta.

Soejono, RP (ed.) 1990. “Jaman Prasejarah di Indonesia”. Sejarah Nasional Indonesia I. Jakarta: Balai Pustaka.

Soekatno, Endang Sh. 1985. “Catatan Tentang Arca dari Masa Klasik dari Pugungrahardjo, Lampung”. Dalam Rapat Evaluasi Hasil Penelitian Arkeologi II. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

Sukendar, Haris. 1979. “Laporan Penelitian Kepurbakalaan Daerah Lampung” Berita Penelitian Arkeologi No. 20. Jakarta: Proyek Penelitian dan Penggalian Purbakala.

--------, 1996/1997. Album Tradisi Megalitik di Indonesia. Jakarta: Proyek Pengembangan Media Kebudayaan .

Suleiman, Satyawati. 1985. “Peninggalan-Peninggalan Purbakala di Padang Lawas”. Dalam Amerta No 2. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

Sulistya, Bambang. 1985. “Pengaruh Tantrayana di Kawasan Nusantara”. Dalam Berkala Arkeologi VI (2) September 1985. Yogyakarta: Balai Arkeologi Yogyakarta.


Catatan: Tulisan ini diterbitkan di buku berjudul “Cakrawala Arkeologi”, hlm. 127 – 134. Editor Dr. Fachroel Aziz dan Dra. Etty Saringendyanti W, M. Hum. Bandung: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia, 2000.

06 Maret 2009

Peninggalan Purbakala di Sekitar Dam Way Rarem


TATA LETAK PEMUKIMAN DI SITUS BENTENG MAJAPAHIT, ABUNG TENGAH, LAMPUNG UTARA

Nurul Laili


Sari

Pemukiman di Situs Benteng Majapahit, Abung Tengah, Lampung Utara merupakan pemukiman yang berbenteng dan berparit. Secara spesifik pemukiman ini mempunyai 3 area yang masing-masing ruang dibatasi oleh benteng dan parit. Secara pertanggalan ketiga area tidak berbeda.


Abstract

Fort Majapahit sites in Middle Abung North Lampung represent settlement that have fort and ditch. Specifically these settlements have 3 area in which each area are bordered by fort and ditch. All area is from same dating period.

Kata kunci: tata letak, pemukiman, dan benteng


Pendahuluan
Secara administratif, Benteng Majapahit termasuk wilayah Kampung Pekurun, Kecamatan Abung Tengah, Kabupaten Lampung Utara, Provinsi Lampung. Secara geografis, kawasan situs Benteng Majapahit dikelilingi benteng tanah dan sungai. Situs ini terletak di sebelah utara Waduk Rarem, sebelah barat laut sipon (pintu air) I irigasi Way Rarem, Tulung Areng, dan Way Bangik. Way Rarem merupakan sungai utama di lokasi ini mengalir di sebelah timur laut. Aliran Way Rarem dari barat laut ke tenggara. Sebelah barat Way Rarem terdapat sungai kecil yang disebut Tulung Areng. Sungai ini mengalir di sebelah barat dan utara situs. Di sebelah timur situs terdapat aliran Way Bangi yang mengalir dari tenggara ke barat laut. Ketiga sungai tersebut menyatu bermuara di sebelah timur laut situs.

Keberadaan situs Benteng Majapahit pertama kali disurvei oleh Tim Balai Arkeologi Bandung tahun 2003. Penelitian di situs Benteng Majapahit merupakan rangkaian dari penelitian tentang pemukiman Benteng di Kampung Gunungkatun Tanjungan dan Gunungkatun Malay Kecamatan Tulangbawang Udik, Kabupaten Tulangbawang, Provinsi Lampung dan pada tahun 2005 situs Benteng Majapahit ini dilakukan penelitian secara lebih mendalam.


Berdasarkan dari analisis artefak yang dilakukan, khususnya untuk tembikar dan keramik asing, menunjukkan adanya indikasi pemukiman. Identifikasi bentuk tembikar yang telah dilakukan menunjukkan bentuk wadah yang dipergunakan sehari-hari. Wadah tersebut adalah periuk, mangkuk, pasu, kendi, dan tempayan (Laili, 2006:103-108).


Data yang diperoleh dari analisis keramik asing menunjukkan benda-benda yang dipergunakan untuk keperluan sehari-hari, seperti piring, mangkuk, tempayan, sendok, vas, tutup, cepuk, cangkir, dan guci. Berdasarkan hasil analisis pada aspek penanggalan, keramik Cina masa dinasti Ming dan Qing, keramik Thailand, serta keramik Eropa merupakan keramik yang banyak ditemukan di situs tersebut. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa aktifitas masyarakat di Benteng Majapahit berlangsung sekitar abad ke-16 hingga abad ke-19 (Saptono, 2006: 10-12).


Data yang menarik di situs Benteng Majapahit adalah keberadaan situs yang terbagi menjadi tiga area. Masing-masing area tersebut dibatasi dengan adanya benteng parit. Hal yang akan dikedepankan dalam tulisan ini adalah bagaimana tata letak pemukiman di situs Benteng Majapahit.


Penelitian yang dilakukan meliputi keseluruhan lahan situs Benteng Majapahit. Penelitian bertipe eksploratif dan deskriptif dengan mengikuti pola penalaran induktif. Sejalan dengan metode eksploratif maka penelitian dilakukan dengan berlandaskan pada seluruh data guna mempertajam permasalahan, selanjutnya dilakukan pendeskripsian, analisis dan interpretasi data.


Gambaran Situs Benteng Majapahit
Istilah Benteng Majapahit, menurut Raja Pekurun, Tuanku Akan Pangeran mengacu pada nama pohon mojo yang rasanya pahit situs Benteng Majapahit merupakan lahan perkebunan lada. Lokasi situs berdasarkan peta topografi lembar 23 Daerah Kotabumi berada pada poisisi 04° 55’ 13,3” LS dan 104° 46’ 30” BT. Lahan situs Benteng Majapahit luasnya sekitar 900 meter persergi. Situs Benteng Majapahit terbagi dalam 3 lahan, yaitu:


Lahan I
Lahan sektor I merupakan lahan yang terdapat menhir. Menhir terletak di sebelah utara benteng kedua, kurang lebih pada pertengahan lahan. Jarak menhir dengan benteng berkisar 2 meter. Bentuk menhir tidak beraturan, berpenampang pipih pada bagian bawah melebar. Ukuran menhir adalah tinggi 90 cm, tebal 34 cm, dan lebar 70 cm. Di sekitar menhir diperoleh batu-batu bulat melingkar yang belum lama merupakan penataan Pak Usman (penduduk setempat). Batu-batu tersebut diperoleh dari areal lahan di situs benteng Majapahit dengan kondisi berserakan.

Menhir di situs Benteng Majapahit (dok. Balai Arkeologi Bandung)

Lokasi sektor I merupakan lahan yang paling dekat dengan muara juga tempat bertemunya empat sungai. Di sebelah barat sektor I terdapat lahan yang landai ke arah Tulung Areng. Tempat ini merupakan tempat yang memungkinkan untuk dipergunakan sebagai pintu masuk ke areal lahan Benteng Majapahit.


Lahan II
Benteng ke dua dengan lebar parit hingga mencapai sekitar 7 meter. Gundukan tanah terlihat di kedua sisi. Gundukan tanah tidak terlalu tinggi hanya sekitar 50-75 cm, sedang kedalaman parit hanya sekitar 75 cm. Pada ujung tenggara, yaitu pertemuan dengan benteng pertama, kedalaman parit hingga mencapai sekitar 6 meter.

Di dalam benteng kedua terdapat lahan yang disebut dengan sektor II. Sektor II merupakan lahan yang hampir sebagian besar ditanami lada. Data arkeologi yang diperoleh di sektor II selain artefak juga fitur berupa tumulus (gundukan tanah). Tumulus yang ada diberi kode T 4. Diameter yang dimilki T 4 adalah 3,5 meter, sedangkan tingginya hanya 30 cm, bahkan di sisi-sisnya hampir rata dengan tanah. Kondisi saat ini tumulus terdapat batu-batu bulat kecil yang melingkarinya. Lahan II merupakan lahan yang hampir sebagian besar ditanami lada. Data arkeologi yang diperoleh di sektor II selain artefak juga fitur berupa tumulus (gundukan tanah).


Lahan III
Sektor III merupakan lahan yang terdapat tumulus. Lahan ini membentang timur laut-barat daya. Tumulus yang ada di sektor III berjumlah 3 tumulus. Lahan di sektor III dikelilingi parit benteng dan sungai.

Benteng parit yang ada membentang arah barat daya – timur laut. Benteng parit ini berada di sebelah utara lahan sektor III. Benteng terlihat di kedua sisi parit setinggi sekitar 90 cm dan kedalaman parit sekitar 170 cm. Lebar parit rata-rata 1 hingga 1,5 meter. Pada ujung barat daya benteng parit terdapat tebing yang membentang ke tepi Tulung Areng. Bentangan tersebut selebar sekitar 25 meter ke tepi Tulung Areng. Benteng parit ini terus membentang ke timur laut yang kemudian menyatu pada sudut timur laut dengan benteng parit kedua. Pada ujung timur laut benteng ini juga berbelok ke tenggara, sebagai batas sebelah timur dari lahan sektor III. Benteng yang terdapat di sisi timur lahan terdiri dari benteng tanah saja. Benteng ini semakin ke tenggara cenderung rata dengan tanah. Lahan di sisi benteng semakin rendah membentuk tebing ke arah Way Bangi.



Denah Situs Benteng Majapahit, Pekurun, Lampung Utara
(sumber: Balai Arkeologi Bandung)


Tata Letak Pemukiman Situs Benteng Majapahit

Clarke (1977) membedakan keruangan arkeologi dalam 3 tingkat ruang, mikro, semimikro, dan makro. Selanjutnya Mundardjito (1990) menegaskan bahasan ketiga tingkat ruang. Tingkat mikro, pola yang dipelajari berkenaan dengan persebaran ruang dan hubungan antarruang di dalam satu bangunan, serta hubungan antara unsur-unsur bangunan dengan komponen-komponen lingkungan alam. Dalam tingkat semimikro atau meso dipelajari persebaran dan hubungan antara bangunan-bangunan di dalam sebuah situs, seta persebaran dan hubungan antara bangunan-banguanan dengan kondisi lingkungan dan sumber daya alam. Tingkat makro mempelajari persebaran dan hubungan antar situs dalam satu wilyah, serta persebaran dan hubungan antara sirus-situs dengan kondisi lingkungan. Dengan demikian, penelitian ini satuan-satuannya masuk dalam permukiman tingkat meso (semimikro) (Mundardjito, 1990: 21-26).

Pola permukiman tingkat mikro dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain mata pencaharian, bahan bangunan, lingkungan, ketrampilan dan teknologi, struktur keluarga, kekayaan dan pangkat, pranata sosial lain dan kebutuhan khusus, spesialisasi produksi, kepercayaan agama, dan pranata sosial. Adapun pola permukiman tingkat semimikro, faktor yang mempengaruhi antara lain lingkungan dan teknologi mata pencaharian, organisasi keluarga dan kekerabatan, kelompok kelas, agama, dan etnik, spesialisasi, nilai dan orientasi, serta kosmologi. Sedang pada tingkat makro faktor yang mempengaruhi antara lain: sumber alam, perdagangan, organisasi politik, peperangan, agama, citarasa dan simbolik, serta migrasi dan perubahan populasi (Mundardjito, 1990: 21-26).


Perilaku manusia dalam menentukan lokasi tinggalnya tidak akan acak akan tetapi mengikuti zona-zona tertentu (Parson, 1972:134-135). Demikian halnya dalam pembagian ruang menurut Watson et. al, (1971) dan Fagan (1981) untuk hunian pun tidak acak dan teratur. Keteraturan itu juga mencerminkan pola pembagian ruang, sehingga hubungan antara manusia dan ruang dimana mereka berinteraksi, dapat terungkapkan (Eriawati, 1997: 64-65).


Pemukiman situs Benteng Majapahit merupakan pemukiman di daerah aliran sungai. Situs dikelilingi sungai, kecuali di sisi barat. Ketiga sungai tersebut juga sebagai batas wilayah situs secara menyeluruh. Bentang lahan situs memenuhi syarat sebagai suatu pemukiman. Situs dengan luas 900 meter persegi mempunyai permukaan tanah relatif datar. Posisi situs juga berada lebih tinggi dari sungai karenanya situs relatif aman. Pendukung situs dapat dengan leluasa memperhatikan pendatang yang datang dari arah sungai.


Muara di sebelah timur laut situs Benteng Majapahit
(Dok. Balai Arkeologi Bandung)

Situs Benteng Majapahit sebagai sebuah pemukiman mempunyai karakteristik khas. Selain sungai sebagai batas situs, di dalam situs juga terbagi lagi menjadi 3 area (lahan). Ketiga area tersebut dibatasi oleh benteng dan parit.

Tata letak pemukiman di situs Benteng Majapahit terbagi menjadi 3 area (lahan), yaitu

  1. Area (lahan) 1 terletak dekat muara serta sebagai pintu masuk situs. Lahan ini dicirikan dengan fitur menhir.
  2. Area (lahan) 2 terletak di antara lahan I dan III. Lahan dicirikan dengan satuu tumulus (punden) yang sudah mengalami erosi. Tumulus ini menurut etnohistori dipercaya sebagai makam salah satu poyang pembuka desa. Ditilik dari masa tumulus ini diasosiasikan sebagai tinggalan masa Islam.
  3. Area (lahan) III dicirikan dengan 3 tumulus. Seperti halnya tumulus di lahan II, tumulus juga dianggap sebagai makam poyang leluhur. Dengan demikian tumulus ini juga diasosiasikan sebagai tinggalan masa Islam.
Berdasarkan temuan fitur dari masing-masing lahan dapat ditarik suatu simpulan sementara bahwa pemukiman di situs Benteng Majapahit kemungkinan besar merupakan situs yang mengalami perkembangan dari masa yang lebih tua dalam hal ini masyarakat prasejarah yang dicirikan oleh menhir sampai dengan perkembangan sesudahnya yang dicirikan dengan tumulus. Adapun benteng parit yang terdapat di antara lahan lebih merupakan batas wilayah saja.


Penutup
Pemukiman situs Benteng Majapahit merupakan pemukiman yang berbenteng dan berparit. Secara spesifik lagi pemukiman ini mempunyai 3 area yang masing-masing ruang dibatasi oleh benteng dan parit. Secara pertanggalan ketiga area tidak berbeda. Pertanggalan relatif berdasarkan keramik asing menunjukkan bahwa pemukiman di situs secara keseluruhan berlangsung sekitar abad ke-16 hingga abad ke-19. Hal tersebut didasarkan pada keramik Cina masa dinasti Ming dan Qing, keramik Thailand, serta keramik Eropa merupakan keramik yang banyak ditemukan di situs tersebut.

Keramik yang ditemukan di situs Benteng Majapahit baik dari kegiatan survei maupun ekskavasi menunjukkan benda-benda untuk keperluan sehari-hari seperti mangkuk, piring, dan sendok. Dengan adanya ragam temuan seperti itu, situs Benteng Majapahit menunjukkan sebagai situs pemukiman.


Daftar Pustaka

Clarke, David L. 1977. Spatial Archaeology. London: Academic Press.

Eriawati, Yusmaeni. 1997. “Gua Sumpang Bita: Model Kajian Pemukiman Skala Mikro”. Dalam Naditira Widya No. 02/1997, hlm. 63-72. Banjarmasin: Balai Arkeologi Banjarmasin.


Laili, Nurul. 2006. “Bentuk-bentuk Tembikar Di Situs Benteng Majapahit, Kabupaten Lampung Utara”. Dalam Agus Aris Munandar (ed.). Widyasancaya, hlm.103-108. Bandung: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia..


Mundardjito. 1990. “Metode Penelitian Permukiman Arkeologi”. Dalam Edy Sedyawati et al. (ed.). Monumen: Karya Persembahan Untuk Prof. Dr. R. Soekmono, hlm.19-31. Depok: Fakultas Sastra Universitas Indonesia.


Parson, J.R. 1972. Archaeological Settlement Pattern. Dalam Annual Review of Anthropology Vol. 1: 127-150.


Saptono, Nanang. 2006. Laporan Hasil Analisis Artefak Keramik Asing Temuan Hasil Penelitian Arkeologi di Situs Benteng Majapahit, Kampung Pekurun, Kec. Abung, Kab. Lampung Tengah. Balai Arkeologi Bandung.



Catatan:
Tulisan ini diterbitkan di buku berjudul “Widyasaparuna”, hlm. 102 – 108. Editor: Prof. Dr. Timbul Haryono. Bandung: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia Komda Jawa Barat – Banten, 2006.


Nurul Laili adalah peneliti bidang prasejarah pada Balai Arkeologi Bandung

05 Februari 2009

Keberlangsungan tradisi megalitik di daerah Way Sekampung


FUNGSI DAN PERANAN BATU BERGORES
DALAM TRADISI MEGALITIK:

Studi Kasus Temuan di Provinsi Lampung



Oleh: Nurul Laili




Latar Belakang
Kawasan Lampung termasuk daerah yang banyak mempunyai situs megalitik. Temuan yang diperoleh di setiap situs sangat beragam, seperti temuan megalitik di daerah lain, kawasan Lampung juga diperoleh antara lain dolmen, batu datar, batu berurut, menhir, batu kandang, dan batu bergores.

Batu bergores yang dimaksud dalam tulisan ini adalah pahatan atau goresan pada temuan yang merupakan bagian dari tradisi megalitik. Wujud dari batu bergores berupa (1) monolit yang dipahat/gores; (2) jenis temuan megalitik lain (menhir, batu datar, dolmen yang terdapat pahatan/goresan).


Situs-situs megalitik di Indonesia yang memiliki tinggalan batu bergores, adalah Banyuurip (Purworejo, Jawa Tengah), Sumurpule (Rembang, Jawa Tengah), Bada (Sulawesi Tengah), Cicurug (Sukabumi, Jawa Barat), Cabangdua (Lampung Barat?), Bojong, dan Pugungraharjo (Lampung Tengah), Limbanang Atas ( Sumatera Barat), Tegurwangi Lama (Lahat, Sumatera Selatan ), Pandeglang (Banten), dan Watu Pinawetengan (Sulawesi Utara) (Haris Sukendar, 1979: 15; 1997/1998: 59-69; Anwar Falah, 1994: 25).

Fenomena yang ada menunjukkan temuan batu bergores secara kuantitatif merupakan temuan yang jauh lebih sedikit dibanding temuan megalitik lainnya. Untuk kawasan Lampung, batu bergores merupakan temuan paling minim dibanding temuan menhir, dolmen, ataupun batu datar. Di sebagian besar situs megalitik, temuan batu bergores selalu berasosiasi dengan temuan megalitik lainnya.

Situs-situs batu bergores di kawasan Lampung berada di

1. Kabupaten Lampung Timur, yaitu Situs Bojong, Benteng Nibung, dan Pugungraharjo

2. Kabupten Lampung Barat, yaitu Pekon Balak, Air Ringkih, dan Sukarame

Keberadaan batu bergores dalam tradisi megalitik tentunya mengandung maksud-maksud tertentu. Demikian pula halnya dengan pahatan/goresan yang ditorehkan pada sebuah batu dapat dipastikan mempunyai tujuan. Oleh karena itu, dalam kajian ini perlu dikedepankan permasalahan tentang apa fungsi dan peranan batu bergores dalam tradisi megalitik. Hal ini menjadi lebih menarik, karena temuan batu bergores paling sedikit dibanding temuan bangunan megalitik lainnya.
Tujuan dari kajian ini diharapkan dapat lebih mengungkap keberadaan batu bergores dan peranannya dalam suatu situs megalitik. Dengan demikian akan dapat diketahui kontribusi batu bergores dalam setiap situs megalitik.


Tinggalan Batu Bergores Lampung


Situs Bojong
Situs ini terletak di Desa Wana, Kecamatan Perwakilan Melinting, Kabupaten Lampung Timur.Situs diteliti pertama kali oleh tim Balai Arkeologi Bandung. Saat itu wilayah Wana termasuk Kabupaten Lampung Tengah (Falah, 1994: 25). Lahan situs ini merupakan lahan kebun lada yang dikelilingi oleh sungai kecil dan sawah rawa-rawa. Tinggalan yang diperoleh berupa batu berurut (stone avenue), batu bergores, dan dolmen. Batu berurut berjumlah 45 batu dengan jarak berkisar antara 2-6 meter dari satu batu ke batu lainnya. Di bagian pertengahan batu berurut terdapat beberapa batu bergores.Batu bergores di situs ini merupakan batu monolit. Di sekitar batu-batu bergores tersebut, terdapat susunan batu-batu yang diperkirakan susunan batu temu gelang (stone enclosure).

Torehan dalam batu bergores merupakan alur-alur bekas asahan yang terdapat pada bagian permukaan. Banyaknya alur bekas asahan di setiap batu bergores beragam, dari satu torehan sampai lebih. Bentuk gorsan merupakan garis-garis lurus yang tidak beraturan.

Salah satu bentuk batu bergores yang ditemukan di daerah Lampung


Benteng Nibung
Lokasi situs berada di Desa Wana, Kecamatan Perwakilan Melinting, Kabupaten Lampung Timur. Situs ini beberapa kali telah diteliti oleh beberapa ahli. Penelitian yang Balai Arkeologi Bandung dilakukan pada tahun 1998 (Yondri, 1998: 7 -- 20). Saat ini, Situs Benteng Nibung termasuk wilayah Kabupaten Lampung Timur, yang sebelumnya merupakan wilayah Kabupaten Lampung Tengah.

Benteng Nibung bersisian dengan Way Capang. Luas areal benteng sekitar 1,5 hektar membentang dengan orientasi barat-timur. Sisi selatan dan sisi barat benteng bertemu dengan Way Capang. Pada pertemuan ini dahulu terdapat beberapa batu bergores dan beberapa lumpang batu. Batu-batu tersebut dipecah untuk pengerasan jalan. Di situs ini juga banyak terdapat pecahan gerabah dan keramik.


Batu bergores yang diperoleh di situs ini tidak utuh dan terletak di dekat Benteng Nibung. Berdasarkan bagian sisa yang ada, dapat diperkirakan batu bergores tersebut memiliki diameter lebih dari 1 meter. Sedang batu bergores yang lainnya tidak ditemukan lagi sisa bagiannya. Seperti halnya Situs Bojong, goresan yang ada merupakan alur-alur batu asah yang terdapat dalam batu monolit dengan bentuk garis-garis lurus.


Situs Pugung Raharjo
Situs Pugungraharjo secara administratif termasuk wilayah Desa Pugungraharjo, Kecamatan Jabung, Kabupaten Lampung Timur. Seperti halnya situs-situs lain di Lampung, situs ini pun beberapa kali telah diteliti. Situs Pugungraharjo menempati areal seluas kurang lebih 30 ha. Di sebelah selatan situs terdapat aliran sungai yang menjadi batas situs. Lahan situs dikelilingi fetur berupa benteng tanah dan parit. Dengan adanya benteng tanah tersebut, areal situs terbagi menjadi tiga bagian. Lebar benteng tanah tersebut kurang lebih 5 m, sedangkan tingginya berkisar 2-3 m. Di bagian luar benteng terdapat parit yang lebarnya antara 3-5 m.

Batu bergores di Pugungraharjo diperoleh di keseluruhan bagian situs. Tinggalan arkeologis yang terdapat pada bagian pertama berupa batu berlubang, batu bergores, dan punden berundak. Pada bagian kedua terdapat susunan menhir dan batu altar yang berbentuk denah segiempat. Kedua jenis tinggalan tersebut terdapat pahatan. Pahatan salah satu menhir yang membentuk garis melingkar di kedua ujungnya. Sedang pada salah satu batu altar terdapat pahatan yang membentuk huruf T. Adapun pada bagian ketiga adalah batu berlubang, batu bergores, batu lumpang, dan punden berundak. Selain di lokasi yang telah disebutkan, temuan batu bergores juga diperoleh di mata air. Pada lokasi ini terdapat batu bergores, batu lumpang, dan batu berlubang. Seperti halnya temuan batu bergores di Situs Bojong dan Benteng Nibung, di situs ini batu bergores juga berupa batu monolit yang terdapat alur-alur bekas asahan dengan bentuk garis lurus.


Situs Pekon Balak
Situs ini termasuk wilayah Desa Pekon Balak, Kecamatan Perwakilan Batu Brak, Kecamatan Belalau, Kabupaten Lampung Barat (Yondri, 1997/1998). Situs ini merupakan lahan yang berada di sekitar Desa Pekon Balak. Temuan yang ada berupa dolmen, batu bergores, dan batu datar. Batu bergores ditemukan di lokasi pemakaman umum Desa Pekon Balak. Batu bergores berbentuk garis lurus yang merupakan alur-alur asahan benda tajam. Goresan tersebut berada di bagian permukaan dengan penggoresan di segala sisi. Secara keseluruhan goresan tersebut tidak memperlihatkan bentuk tertentu. Jumlah goresan sekitar 23 goresan.


Situs Batu Kenyangan
Situs ini merupakan bagian dari wilayah Desa Pekon Belak. Di situs ini terdapat dolmen, menhir, susunan batu melingkar, dan dolmen bergores (Yondri, 1997/1998). Batu bergores yang ada merupakan dolmen dengan ukuran luas permukaan cukup besar. Dolmen ini ditopang oleh 5 buah batu pemyangga yang diletakkan tidak berpola. Batu bergores berbentuk garis lurus yang merupakan alur-alur asahan benda tajam. Goresan tersebut berada di bagian permukaan dengan penggoresan di segala sisi. Secara keseluruhan goresan tersebut tidak memperlihatkan bentuk tertentu.


Situs Air Ringkih
Situs Air Ringkih secara administratif termasuk wilayah Ujungjaya, Desa Bungin, Kecamatan Sumberjaya, Kabupaten Lampung Barat. Kondisi Situs merupakan tanah perbukitan, di sisi meander Sungai Ringkih, pada ketinggian 865 m di atas permukaan air laut (Indraningsih, 1985: 5--7). Situs ini merupakan kompleks dolmen dan menhir. Secara rinci terdiri dari 7 dolmen, 2 batu bergores, 6 batu yang diperkirakan menhir, 5 dolmen dalam posisi rebah, dan 1 batu tegak yang patah bagian atasnya. Batu bergores merupakan batu monolit, yang bagian permukaan terdapat garis-gari lurus bekas alur asahan.


Situs Cabangdua
Secara administratif berada di wilayah Desa Purawiwitan, Kecamatan Sumberjaya, Kabupaten Lampung Barat. Situs ini berbentuk memanjang sekitar 173 meter. Temuan yang diperoleh berupa dolmen, dolmen bergores, gerabah, dan keramik. Identifikasi yang dilakukan, keramik berasal dari Cina abad ke-16--17. Batu bergores di situs ini merupakan dolmen, hampir keseluruhan permukaan batu penutup dolmen terlihat torehan yang berupa garis-garis. Hasil torehan berupa bentuk asahan benda tajam. Bentuk dari goresan berupa garis lurus dan garis melengkung.


Situs Sukarame
Situs Sukarame secara administratif berada di Desa Sukarame, Kelurahan Bawang, Kecamatan Balik Bukit, Kabupaten Lampung Barat. Situs merupakan ladang dan dikelilingi parit yang cukup dalam. Temuan yang diperoleh adalah pecahan gerabah, keramik yang diidentifikasi berasal dari Dinasti Ming, manik-manik. Selain itu juga diperoleh sebuah batu bergores. Batu bergores di situs ini merupakan batu datar. Goresan yang ada terletak di bagian permukaan. Bentuk goresan berupa garis-garis (Sukendar, 1984: 8).


Fungsi dan Peranan Batu Bergores
Pada waktu kebudayaan megalitik berlangsung dengan saat ditemukan terdapat kesenjangan waktu. Dalam mengungkap keberadaan, fungsi, maupun peranan sangat mungkin terjadi penafsiran yang tidak tepat atau bahkan keliru. Beberapa pendekatan sudah banyak dilakukan para ahli dalan mengungkap kehidupan megalitik masa lalu. Tulisan inipun mencoba mengungkap tentang fungsi dan peranan batu bergores dengan pendekatan simbol.

Leslie White mendefinisikan simbol sebagai “a thing the value or meaning of which is bestowed upon by those who use it”. Dengan demikian simbol merupakan sesuatu yang nilai atau maknanya diberikan oleh mereka yang mempergunakannya. Dengan demikian makna atau nilai tersebut tidak berasal dari atau ditentukan oleh sifat-sifat yang secara intrinsik terdapat di dalam bentuk fisiknya. Makna suatu simbol, hanya dapat ditangkap melalui cara-cara non sensorik; melalui cara-cara simbolis (Kamanto, 1993: 43 -- 45).

Munculnya bahasa simbol, menurut Herbert Blumerm, terdapat tiga pokok pikiran. Pertama bahwa manusia bertindak (act) terhadap sesuatu (thing) atas dasar makna (meaning) yang dipunyai sesuatu tersebut baginya. Kedua, makna yang dipunyai sesuatu tersebut berasal atau muncul dari interaksi seseorang dengan sesamanya. Ketiga makna yang diperlakukan atau diubah melalui suatu proses penafsiran (interpretative process) (Kamanto, 1993: 43 -- 45).

Sejalan dengan itu, Victor Turner mengungkap makna simbol atau perbuatan simbolik diperlukan suatu interpretasi, yang dapat dilakukan melalui tiga tahapan sebagai berikut (Sudarmadi, 1994: 87 -- 88).

a. Tingkat makna eksegetik (exegetical meaning)
Interpretasi dalam tahap ini bersumber dari informan, yang memahami seluk beluk simbol tersebut.Dengan demikian tahapan ini mengacu pada penafsiran informan ditambah dengan interpretasi pada mitos-mitos yang ada.

b. Tingkat makna operasional (operational meaning)

Pada tahap selanjutnya, interpretasi dilakukan oleh peneliti berdasarkan pengamatannya terhadap masyarakat yang menggunakan simbol tersebut. Pada tahap ini perlu dilihat dalam rangka kegiatan apa simbol-simbol tersebut dipakai.

c. Tingkat makna posisional (positional meaning)
Simbol akan dapat diketaui maknannya berdasarkan pemahaman unsur-unsur keseluruhan simbol tersebut. Hal tersebut berkaitan dengan simbol yang sering memiliki berbagai ragam makna (polysemi/multivocal) sehingga dengan memahami makna keseluruhannya dapat diketahui makna yang lebih diutamakan.

Fungsi dan peranan batu bergores dalam tradisi megalitik di kawasan Lampung dapat dipahami dengan menggunakan teori tiga tingkat yang telah disebut itu. Derajat penyimpangan dari penerapan teori akan sangat kecil. Hal ini didasarkan pada pemahaman bahwa pendirian bangunan megalit adalah sama, yaitu kepercayaan terhadap orang yang telah meninggal, arwahnya tetap dan mengawasi serta melindungi masyarakat yang ditinggal. Dengan demikian menjaga hubungan dengan alam roh harus terjaga dengan cara melakukan pemujaan terhadap arwah leluhur (Soejono, 1990: 212 -- 214).


Tingkat Makna Eksegetik
Situs-situs megalitik di Kawasan Lampung merupakan situs kategori “dead monument”. Dengan demikian situs megalitik tersebut sudah tidak terdapat aktivitas yang berkait dengan tradisi megalitik.Informasi tentang kehidupan megalitik hanya diperoleh dari pendapat ahli-akhli megalitik. Temuan batu bergores di kawasan Lampung biasanya merupakan temuan yang berasosiasi dengan jenis tinggalan megalitik lain. Dengan demikian dalam tingkat ini, diperlukan informasi tentang menhir, dolmen, batu datar, dan batu berurut.

Menhir berupa sebuah batu tegak yang sudah atau belum dikerjakan dan diletakkan dengan sengaja di suatu tempat untuk memperingati orang yang telah mati. Benda tersebut dianggap sebagai medium penghormatan, menampung kedatangan roh dan sekaligus menjadi lambang dari orang-orang yang diperingati (Soejono, 1990: 213).

Dolmen biasanya berbentuk batu datar monolit yang disangga oleh empat atau lebih tiang batu. Dolmen menurut beberapa ahli (Perry, 1923; Hoop, 1932) merupakan penguburan. Adapun menurut van Hekeeren (1955), dolmen ada hubungannya dengan penguburan. Dolmen merupakan tempat yang digunakan dalam upacara pemujaaan kepada arwah leluhur. Berdasarkan beberapa penggalian yang dilakukan Balai Arkeologi Bandung di Batuberak dan sekitarnya, menunjukkan dolmen bukan merupakan suatu kuburan, tetapi ada hubungannya dengan penguburan, terutama pada pemujaaan kepada arwah leluhur (Saptono, 1994/1995: 13).


Menurut Kaudern yang dikutip oleh Haris Sukendar (1979: 15), batu bergores merupakan alat yang dipergunakan sebagai sarana pemberian kekuatan gaib terhadap suatu alat (senjata tajam) seperti pisau dan parang yang akan digunakan, yaitu dengan jalan mengasahkan alat pada batu tersebut.


Tingkat Makna Operasional
Penggunaan batu bergores oleh beberapa suku di wilayah Indonesia masih dilakukan. Masyarakat di Desa Woro (Rembang) menggunakan batu asah sebagai sarana pemberian kekuatan gaib terhadap parang atau pisau yang akan digunakan untuk membunuh musuh. Dengan jalan mengasahkan parang atau pisau ke batu tersebut maka orang itu dalam rencana membunuh musuhnya akan berhasil dengan baik. Ditambahkan juga apabila parang atau pisau yang telah diasah tadi tidak dipergunakan, maka orang yang bersangkutan akan terbunuh oleh parang atau pisau itu juga (Sukendar, 1979: 15). Temuan batu bergores di Desa Takirin, Timor merupakan tradisi yang masih berlanjut. Di desa ini jika akan dilaksanakan pertempuran dengan suku lain, senjata para pahlawan satu per satu harus diasah pada batu bertuah tersebut. Diharapkan senjata akan memperoleh kesaktian yang luar biasa dan akhirnya dapat membunuh semua musuhnya (Sukendar, 1997/1998: 64 -- 65).


Tingkat Makna Posisional
Pengamatan yang dilakukan pada asosiasi temuan batu bergores, yaitu menhir, dolmen, batu berurut, dan batu datar menunjukkan bahwa batu bergores berkait dengan pemujaan. Torehan yang dilakukan pada batu bergores sebagai visualisasi dari konsep pengagungan arwah leluhur. Dengan kata lain torehan yang dilakukan merupakan interaksi antara yang hidup dengan leluhur untuk mendapatkan kekuatan.


Simpulan
Batu bergores yang diperoleh kawasan Lampung, secara kuntitatif sangat sedikit dibanding jenis temuan megalitik lainnya. Fungsi dan peranan batu bergores di kawasan Lampung sangat berkait dengan pemujaan. Hal ini diperlihatkan dengan asosiasi temuan lainnya, yaitu menhir, dolmen, batu datar, dan batu berurut. Keinginan dan pengharapan dari pendukung budaya megalitik untuk mendapatkan kekuatan dari arwah leluhur memperlakukan batu bergores sebagai salah satu pelengkap dalam sarana pemujaan selain jenis megalitik lain. Bentuk visualisasi dari interaksi yang dilakukan dengan arwah leluhur dituangkan dalam bentuk goresan.


Daftar Pustaka


Falah, W. Anwar. 1994. “Penelitian Tradisi Megalitik di Situs Bojong Lampung Tengah”. Dalam Jurnal Balai Arkeologi Bandung (Edisi Perdana/1994). Bandung: Balai Arkeologi Bandung. Hlm. 25 -- 40.


Indraningsih, Ratna J. (et al). 1985. “Laporan Penelitian Arkeologi di Lampung”. Berita Penelitian Arkeologi No. 33. Jakarta : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.


Soejono, R.P (ed.). 1990. “Jaman Praserah di Indonesia”. Dalam Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto. Sejarah Nasional Indonesia I. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. PN. Balai Pustaka.


Sudarmadi, Tular. 1994. “Kajian Ulang Fungsi Situs Megalitik Terjan: Tinjauan Aspek Simbolik”. Dalam Jejak-Jejak Budaya (Persempahan Untuk Prof. Dr. R.P. Soejono). Yogyakarta: Asosiasi Prehistori Indonesia Rayon II. Hlm. 83 – 100.


Sukendar, Haris. 1979. “Laporan Penelitian Kepurbakalaan Daerah Lampung”. Berita Penelitian Arkeologi No. 20. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.


----------, 1997/1998 “Batu Bergores Sebagai Simbol Religius”. Dalam Kebudayaan No. 13 Th. VII 1997/1998, Edisi Khusus. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Hlm. 59 – 69.


Sukendar Haris, (et al.). 1984. “A. Survei di Daerah Lampung B. Survei di Daerah Sumatera Selatan”. Berita Penelitian Arkeologi No. 2. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.


Sunarto, Kamanto. 1993. Pengantar Sosiologi. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi. Universitas Indonesia.


Triwuryani, R.R. 1996. “Pola Persebaran Situs Benteng di Sepanjang DAS Sekampung: Ditinjau dari Kajian Wilayah”. Makalah pada Evaluasi Hasil Penelitian Arkeologi Ujungpandang 20-26 September 1996. (belum diterbitkan).


Yondri, Lutfi. 1997/1998. Laporan Hasil Penelitian Arkeologi di Situs Kenyangan dan sekitarnya, Desa Pekon Balak, Kecamatan Belalau, Kab. Lampung Barat, Prop. Lampung. Bandung: Balai Arkeologi Bandung.




Catatan:
Tulisan ini diterbitkan di buku berjudul “Hastaleleka: Kumpulan Karya Mandiri Dalam Kajian Paleoekologi, Arkeologi, Sejarah Kuna, dan Etnografi”, hlm. 33 - 40. Editor Agus Aris Munandar. Jatinangor: Alqaprint, 2005.