16 Januari 2009

Dari Datu Di Puncak hingga Minak Trio Diso



JEJAK PERADABAN TINGGI

DI CANGUK GACCAK

Persinggahan Perjalanan Panjang Menuju Terbentuknya Abung Siwa Mega




BALAI ARKEOLOGI BANDUNG

Jl. Raya Cinunuk Km. 17, Cileunyi, Bandung 40623

Telp. 022 – 7801665, Faks. 022 – 7803623





Lokasi

Situs Canguk Gaccak berada di wilayah Desa Sekipi, Kecamatan Abung Tinggi, Kabupaten Lampung Utara. Lokasi situs sangat mudah dicapai baik menggunakan kendaraan roda empat maupun roda dua. Dari Kotabumi menuju Bukit Kemuning hingga sampai di Simpang Rengas ke arah kiri menuju Desa Sekipi. Sebelum memasuki Desa Sekipi terdapat lokasi penambangan bahan galian C. Dengan menyusuri jalan kampung akan sampai di lokasi yang berada di tepian Way Abung.


Lokasi situs Canguk Gaccak


Cerita Perjalanan Panjang

Menurut cerita lama yang disampaikan secara turun-temurun, masyarakat Lampung mula-mula bermukim di daerah Sekalabrak. Daerah ini berada di sekitar Gunung Pesagi hingga tepian Danau Ranau. Menurut kajian terhadap cerita rakyat yang dilakukan oleh Oliver Sevin, pada sekitar abad ke-14 terjadi migrasi dari Sekalabrak ke seluruh wilayah Lampung. Diceritakan, adalah Empu Cangih pemimpin Keratuan Di Puncak, yang berkuasa di puncak Gunung Pesagi melakukan perjalan mencari daerah baru untuk mendirikan perkampungan. Perjalanan Empu Cangih yang juga disebut Datu Di Puncak dari Sekalabrak singgah di daerah Selabung selanjutnya pindah lagi ke Canguk Gaccak.

Tidak berapa lama setelah rombongan Datu Di Puncak bermukim, diketahuilah bahwa di sebelah hulu telah bermukim Rio Kunang. Beliau adalah salah satu keturunan Datu Di Pemanggilan dari Puyang Semedekaw. Dalam rombongan Datu Di Puncak disertai Beliyuk yang juga keturunan Puyang Semedekaw. Kelompok ini kemudian bersatu membangun perkampungan.


Makam Raja Dilawuk


Ketentraman, keamanan, dan kesejahteraan yang sudah terbentuk terganggu ulah pengkhianatan Raja Di Lawuk dari Laut Lebu yang menyamar sebagai tamu Datu Di Puncak. Kerabat Datu Di Puncak yang terdiri Nunyai, Unyi, Subing, Nuban, Bulan, Beliyuk, Kunang, Selagai, dan Anak Tuha berunding mengatur siasat pembalasan kepada Raja Di Lawuk. Diriwayatkan bahwa Subing akhirnya berhasil membalaskan dendam. Kemenangan ini kemudian dirayakan di daerah Gilas tepi Way Besay. Dalam perayaan ini kemudian terbentuklah masyarakat Abung Siwa Mega.





Peta persebaran Orang Lampung



Jejak-jejak Perkampungan


Dolmen dalam kondisi sudah rusak


Objek arkeologis yang menandai bekas perkampungan di Canguk Gaccak meliputi komplek tinggalan megalitik, komplek makam Minak Trio Diso, dan komplek makam Rendang Sedayu. Perjalanan dari jalan desa menuju lokasi setelah melalui sungai kecil Way Tamiang akan sampai pada lahan kebun kopi. Di antara rimbunnya kopi terdapat beberapa batu yang merupakan peninggalan budaya megalitik. Batu tersebut ada yang disusun membentuk semacam meja dengan empat kaki yang dinamakan dolmen, susunan batu melingkar (stone enclouser), dan batu yang ditancapkan secara berdiri yang disebut menhir. Peninggalan semacam ini terdiri 12 kelompok. Pada ujung timur lahan terdapat benteng tanah yang dilengkapi parit. Benteng dan parit ini membentang dari tepi Way Abung di selatan hingga tepi Way Tamiang di utara. Apabila dicermati, pada lahan ini akan dapat ditemukan pecahan keramik asing. Keramik yang pernah ditemukan berasal dari Cina buatan masa Dinasti Song (abad ke-10 – 13) dan Yuan (abad ke-13 – 14).



Menhir di situs Canguk Gaccak



Di seberang Way Abung dapat dijumpai komplek makam Minak Trio Diso yang terdiri dua kelompok. Kelompok makam pertama berada pada lahan di tepi sawah sebelah selatan Way Abung sedangkan yang kedua berada di sebelah barat kelompok makam pertama. Menurut keterangan John Akhyar (juru pelihara), pada kelompok makam pertama, tokoh utama yang dimakamkan adalah Minak Raja Di Lawuk. Dalam cerita rakyat, Minak Raja Di Lawuk dimakamkan di dua lokasi. Di Canguk Gaccak merupakan makam kepala, sedang badannya dimakamkan di Gedong Meneng, Tulangbawang. Konon apabila kepala dan badan tidak dipisah akan hidup lagi.


Komplek Makam Minak Trio Diso


Kelompok makam kedua berada pada semacam bukit kecil setinggi sekitar 3 m. Komplek makam ini dilengkapi cungkup yang dibangun Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Lampung Utara pada tahun 2003. Tangga masuk berada di sisi timur. Pada anak tangga ketiga terdapat batu berdiameter sekitar 25 cm. Batu ini merupakan lambang kepala Minak Raja Di Lawuk, yang harus diinjak oleh keturunan Minak Trio Diso ketika akan berziarah. Pada bangunan cungkup terdapat tiga makam. Makam paling timur merupakan makam Minak Dara Putih atau Hyang Mudo, makam yang ditengah merupakan makam Minak Trio Diso, dan yang di utara adalah makam Syekh Abdurrahman. Minak Trio Diso adalah gelar anak Datu Di Puncak yang bernama Nunyai.

Di sebelah tenggara komplek makam Minak Trio Diso berjarak sekitar 300 m terdapat bukit kecil yang dinamakan Gunung Rimba Bekasan. Di atas bukit terdapat lahan seluas 65 ha yang ditumbuhi bambu. Pada hutan bambu ini terdapat lahan seluas sekitar 1 ha yang dikelilingi parit serta pada sisi barat dan utara berbatasan dengan aliran sungai Pasuut yang merupakan anak Way Abung. Pada lahan ini terdapat makam keramat. Tokoh utama yang dimakamkan adalah Rendang Sedayu. Tokoh ini dikenal sebagai salah satu isteri Minak Trio Diso. Rendang Sedayu juga dikenal dengan sebutan Raja Lemaung.


Bukti Sebuah Peradaban Tinggi

Dalam perjalanan peradaban masyarakat Lampung, Canguk Gaccak merupakan tempat bermukim masyarakat pendukung tradisi megalitik dan masyarakat masa pasca prasejarah. Tinggalan berupa dolmen di Canguk Gaccak, bagi masyarakat megalitik kadang-kadang berfungsi sebagai pelinggih roh atau tempat persajian. Pada masyarakat megalitik yang lebih maju, dolmen digunakan sebagai tempat duduk kepala suku atau raja-raja ketika pertemuan maupun upacara pemujaan arwah leluhur. Pada dasarnya dolmen dipandang sebagai tempat keramat. Di situs Canguk Gaccak, dolmen dilengkapi dengan menhir. Menhir adalah medium penghormatan, penampung kedatangan roh, dan sekaligus menjadi lambang dari orang-orang yang diperingati.

Kehidupan masyarakat megalitik memperlihatkan masyarakat berperadaban tinggi yang sudah mengenal sistem organisasi sosial. Kehidupan ini berkembang hingga masa kedatangan Datu Di Puncak. Sistem organisasi sosial dengan diwarnai kehidupan demokratis ini akhirnya melahirkan masyarakat Abung Siwa Mega. Beberapa tinggalan arkeologi di Canguk Gaccak merupakan bukti bahwa moyang pada masa lampau sudah berperadaban tinggi. Oleh karena itu, nilai-nilai luhur yang terkandung di dalam peninggalan tersebut perlu difahami untuk landasan pembangunan di masa depan (Nanang Saptono).



Catatan: Tulisan diterbitkan dalam bentuk leaflet, tahun 2008

7 komentar:

marwan sayih mengatakan...

Aswrwb KEWAJIBAN KITA MELURUSKAN SEJARAH YG ILMU SEJARAH ITU DIBUKTIKAN DG FAKTA N LOGIKA nenek moyang itu dinisbahkan pd indera gajah dg gelar pepadun kayu menasa yg saat itu diskala beghak sudah ada perkampungan buai tumi dipimpin oleh sekarmoang(disebut ratu)gelar umpu/ampo nya lapah diway n gelar aklamasi kesultanan lampungnya RATU DIPUNCAK (aklamasi digunung pesagi)penisbahan terhadap ratu dipuncak sbg moyang/poyang buat orang pepadun bertapa disana karenanya timbulah anggapan bahwa asal muasal orang lampung n komering palembang asalnya dari skala beghak

marwan sayih mengatakan...

Catatan datu selanjutnya disebut ratu n penggunaan minak pada moyang/ poyang sepuh lampung n tetuha n penggunaan suttan itu dari kata sutan berasal dari sulthan bahasa arab sejak ibukota lampung pertama antara pagaruyung n s pasai dikaisari syeikh muhammad jamaludin akbar th +/-1370an merangkap sultan memerintah india selatan n champa vietnam n bahwa kedatangan 4 paksi+paksi bolan inderawati(adik indera gajah ratu dipuncak,isteri sangaji mahapatih sulawesi bugis=bajo=bhs lampung bajau n lampung sebut minak)yg laksamana nya disebut rajo dilawek at raja dilaut =rujukan pd laksamana raja dilaut riau n laksamana raja dilaut malaysia n ada lagunya♧

marwan sayih mengatakan...

Adanya penduduk n masyarakat Rio kunang di kotabumi n tumi di skala beghak yg nenek moyang aseli lampung n datu dipuncak dr kualatungkal aseli dari pagaruyung utusan sbg raja cabang/perwakilan(rujukan adanya serupa raja dibukit saguntang yg mereka klaim kaisar) n raja dari rajo dilawek adalah lamdu salat kini turunannya di jambi n lampung asal bugis/bajo=bajau (bajo jd wajo th 1447 n nama gowa mulai th 1380+)

marwan sayih mengatakan...

Raja lampung(ibukota ke3 kekaisaran lampung di champa vietnam selatan)bahwa raja th 1471 menggunakan gelar SUTAN=sutan (suttan)syarif MINAK NGANDIKA(ngedikkow) PULUN sultan makhmud malik abdulloh TUAN/WAN SYEIKH UMDATUDDIN aby dr wan syeikh maulana syarif hidayatulloh sn gn jati jawabarat blog sejarah ini n baca babad cirebon bulan madu ikrar nikah dg gelar suttan/tertulis sultan qunbul hud wnt(nyi rara santang)n suttan/sultan bani israil rajo mesir

marwan sayih mengatakan...

Catatan gelar amirul muazzom syah =TUAN=AMPO/UMPU TUAN ada kayu pipih pepadunnya sbgmn ratu dipuncak dibukit pesagi=amirul muazzom syah TUAN SYEIKH MAULANA MUHAMMAD JAMALUDIN AKBAR azmatkhan DI AKLAMASI TH 1380+

masdar pura beiuk mengatakan...

membaca tulisan sejarah diatas ,saya cermati itu kebanyakan cerita yg dituangkan secara turun temurun ,namun memang diakui ada keyerikatan kuat antara bugis makasar dengan lampung dan batak atau medan , karna tulisan nya sama dan sama sama memakai marga sebagai simbol garis keturunan

masdar pura beiuk mengatakan...

dengan adanya yulisan lampung dan bahasa lampung memang itu yg membuktikan lampung sudah memiliki peradaban yg tinggi ,karna dgn adanya tulisan berarti mempunyai pusat pemerintahan ,namun sayang nya pusat pemerintahan nya masjh meraba raba , sehingga masih belum begitu kuat ,dan hanya berdasarkan cerita, karna masih banyak hal yg sangat membingungkan , seperti ada nya patih minak haji prajurit yg ada di pagar dewa , karna biasanya seorang patih pasti tidak jauh dari seorang raja ,sedangkan dalam cerita canguk ngaccak dan pesai skala berak dianggap sebagai pusat pemerintahan nya