20 Februari 2008

Menjelajah Masa Lalu Lampung Timur


PEMUKIMAN KUNA DI DAERAH SUKADANA,
PROPINSI LAMPUNG



Nanang Saptono




I. PENDAHULUAN
Kawasan Lampung pada umumnya merupakan daerah yang selalu menjadi perebutan antara pusat kekuasaan di Sumatra dengan Jawa. Hingga saat ini, di Lampung belum ditemukan data yang menunjukkan adanya pusat kekuasaan besar. Namun pada sepanjang daerah aliran sungai-sungai besar yang ada di Lampung banyak ditemukan situs-situs arkeologi dan masih ada pemukiman-pemukiman yang menunjukkan perkembangan dari zaman kuna.

Pada masa klasik daerah Lampung menjadi wilayah Sriwijaya. Prasasti Kota Kapur (608 Ç atau 686 M) yang ditemukan di dekat sungai Menduk di P. Bangka bagian barat berisi tentang kutukan kepada mereka yang berbuat jahat, serta tidak tunduk dan setia kepada raja. Di samping itu terdapat juga keterangan penting yaitu mengenai usaha Sriwijaya untuk menaklukkan bhûmi jawa yang tidak mau tunduk kepada Sriwijaya. P.V. van Stein Callenfels berpendapat bahwa kata “jawa” dalam prasasti Kota Kapur bukan merupakan suatu nama tetapi kata sifat yang berarti luar. Dengan demikian prasasti ini berkenaan dengan suatu ekspedisi ke luar negeri (Sumadio, 1990: 58 – 59). Boechari (1986) berpendapat prasasti Kota Kapur dikeluarkan untuk memperingati suksesnya ekspedisi tentara Sriwijaya dalam menaklukkan Lampung. Bhûmi jawa yang terdapat dalam prasasti Kota Kapur terdapat di daerah Lampung . Berkaitan dengan prasasti Kota Kapur yaitu prasasti Palas Pasemah yang ditemukan di tepi Way Pisang, juga berisi peringatan penaklukan daerah Lampung oleh Sriwijaya. Dalam prasasti tersebut juga memuat Bhûmi jawa yang tidak mau tunduk kepada Sriwijaya. Dari segi paleografis prasasti ini diduga juga berasal dari abad VII (Buchari, 1979). Dari beberapa prasasti yang ada terlihat bahwa pada masa klasik daerah Lampung berada di bawah kekuasaan Sriwijaya.

Pada masa Islam, ketika Banten diperintah oleh Sultan Hasanuddin, wilayah kekuasaannya hingga Lampung dan daerah Sumatra Selatan. Wilayah kekuasaan di Sumatra ini banyak menghasilkan lada (merica) yang sangat berperan dalam perdagangan di Banten, sehingga membuat Banten menjadi kota pelabuhan penting yang disinggahi kapal-kapal dagang dari Cina, India, bahkan Eropa. Keadaan seperti ini berlangsung dari pertengahan abad ke-16 hingga akhir abad ke-18 (Graaf dan Pigeaud, 1985: 151-156).

Di dalam Sajarah Banten diceritakan bahwa pada masa Sultan Hasanuddin kekuasaannya hingga Lampung, Indrapura, Solebar, dan Bengkulu (Djajadiningrat, 1983). Sehubungan dengan dugaan adanya kaitan antara prasasti Kota Kapur dengan daerah Lampung, terdapat beberapa toponim yang berhubungan dengan isi prasasti Kota Kapur dan beberapa pemukiman kuna. Toponim tersebut terdapat di sekitar aliran S. Sekampung dan S. Batanghari antara lain Bumijawa, Gedongdalem, Gedongwani, dan Negeritua.

Berdasarkan hal tersebut di atas terdapat permasalahan mengenai sejak kapan pemukiman tersebut berlangsung, apakah dari masa klasik (Sriwijaya) atau masa Islam (Banten). Selain itu diharapkan pula dapat diketahui perkembangan pemukiman yang terjadi pada daerah tersebut. Untuk mengungkapkan permasalahan ini pembahasan dilakukan berdasarkan tinggalan budaya materi yang terdapat pada masing-masing toponim tersebut.

Pelaksanaan penelitian menerapkan pola deskriptif dengan melalui pendekatan penalaran induktif. Pada tahap pengumpulan data dilakukan melalui teknik survei. Selain itu untuk pengumpulan data sejarah dilakukan melalui studi pustaka dan wawancara. Penentuan lokasi observasi didasarkan pada sumber pustaka, peta topografi, dan keterangan yang didapatkan dari informan. Dari berbagai keterangan tersebut kemudian ditentukan pilihan objek yang diduga kuat mengandung data yang dapat menerangkan permasalahan.

Data yang dimaksud antara lain berupa bangunan misalnya makam (kuburan), masjid, rumah, dan sebagainya; benda-benda tinggalan misalnya keramik dan gerabah baik yang utuh maupun fragmen, benda-benda peralatan rumah tangga, arca, dan sebagainya; gejala hasil aktifitas manusia misalnya bekas lubang galian sampah, parit-parit kuna, dan sebagainya; keadaan alam misalnya bentang alam, tumbuhan, dan sebagainya.

Untuk memperlengkap, juga diperlukan data yang bersifat etnohistori. Data tersebut diperoleh melalui wawancara dengan penduduk yang mengetahui latar belakang data arkeologis di masing-masing situs. Selain dari wawancara, data etnohistori juga dicari dari sumber pustaka. Selain itu, data penelitian juga diperoleh melalui interpretasi terhadap peta topografi. Data yang berhasil dikumpulkan kemudian dianalisis untuk mendapatkan kesimpulan.


II. DESKRIPSI HASIL PENELITIAN
Wilayah Kecamatan Sukadana terdiri dari beberapa desa yang antara satu desa dengan lainnya relatif jauh. Secara umum dapat dikatakan merupakan daerah yang berpenduduk jarang. Pemukiman penduduk hanya terkonsentrasi di sepanjang jalan desa.

Bentang alam daerah berupa pedataran rendah. Pada beberapa lokasi terdapat rawa-rawa. Secara umum ketinggian berkisar antara 10 hingga 140 m di atas permukaan laut. Puncak tertinggi adalah G. Tiga (147 m) dan G. Salupa (147 m). Lahan selain dimanfaatkan untuk pemukiman kebanyakan berupa ladang dan sawah. Sungai yang mengalir di daerah ini antara lain Way Raman, Way Batanghari, dan Way Sukadana yang merupakan anak sungai Way Seputih serta Way Sekampung dengan beberapa anak sungainya.

Penelitian di daerah Sukadana dilaksanakan terhadap beberapa objek arkeologi di Desa Bumijawa, Negeritua, dan Gedongwani. Karena dalam pelaksanaan pengumpulan data memperoleh keterangan yang menyatakan di daerah lain terdapat objek yang mendukung penelitian, maka dilakukan pula observasi di Kecamatan Batanghari yaitu di Desa Buana Sakti, dan di Kecamatan Seputih Raman di Desa Buyut Baru.


1. Kecamatan Sukadana

a. Desa Bumijawa
Desa Bumijawa berada di sebelah barat Sukadana. Data etno-histori yang berkaitan dengan Bumijawa menyebutkan bahwa di daerah Lampung terdapat empat kanegerian yaitu Ratu Dipuncak yang berkedudukan di Bukit Pesagi daerah Kenali, Ratu Balau (di Tulangbawang), Ratu Pogung (di Krui), dan Ratu Pemanggilan (di Tegineneng). Empat kanegerian ini berasal dari satu induk yang berkedudukan di daerah Martapura (Sumatera Selatan). Ratu Dipuncak mempunyai anak sembilan yang disebut “Jurai Siwa” (sembilan saudara). Salah satu anggota Jurai Siwa tersebut adalah Nuban yang kemudian menurunkan masyarakat Bumijawa.

Dalam salah satu silsilah keluarga milik Bp. Efendi Glr. Sutan Pangeran Junjungan Nuban, ketua adat masyarakat Bumijawa, cikal bakal Ratu Dipuncak adalah Tali Tunggal. Ratu Dipuncak sendiri merupakan keturunan ke-11. Beberapa nama keturunannya setelah Nuban yaitu Ratu Sang Balaikang, Minak Sang Bujang Ratu, Tuan Baliksyah, Minak Pengawo Bumi, Gajah Dalam, Minak Nyeringgem, dan seterusnya hingga Sutan Pangeran Junjungan Nuban yang merupakan keturunan ke-29.

Keturunan Nuban selalu bermigrasi dari satu tempat ke tempat lain. Lokasi di mana kelompok masyarakat ini tinggal selalu disebut Bumijawa. Ketika pindah dari daerah Kenali mula-mula menetap di daerah yang sekarang termasuk dalam wilayah administratif Desa Raman Indra di tepi Way Seputih, kemudian ke Gedongdalem di tepi Way Batanghari, dan akhirnya menetap di Desa Bumijawa sekarang.

- Situs Gedongdalem
Situs Gedongdalem merupakan salah satu bekas kampung Bumijawa. Situs ini berada di sebelah utara Way Batanghari atau pada posisi 5°03’ LS dan 105°25’ BT . Luas situs sekitar 200 X 100 m. Pada sisi timur dan barat situs terdapat parit yang menjadi batas pemukiman. Keadaan situs sekarang berupa kebun jagung. Pada lahan ini terdapat sebaran keramik dan gerabah dalam jumlah banyak. Menurut keterangan penggarap lahan, di lokasi ini juga sering ditemukan mata uang. Pengumpulan artefak yang dilakukan dalam penelitian berhasil menemukan fragmen keramik terdiri bagian bibir, badan, dan dasar; serta fragmen gerabah bagian bibir, badan, dan dasar.

Di sebelah barat parit sisi barat (sebelah barat situs) terdapat tiga gundukan tanah yang berjajar utara selatan. Menurut keterangan masyarakat setempat ketiga gundukan tanah tersebut adalah makam. Gundukan paling selatan merupakan makam istri Minak Nyeringgem yang bernama Midah. Gundukan tanah setinggi sekitar 2 m dengan diameter sekitar 3 m. Makam ini banyak ditumbuhi semak belukar. Pada puncak makam tidak dijumpai adanya batu atau kayu sebagai nisan. Di sebelah utara makam ini berjarak sekitar 8 m terdapat gundukan tanah yang dipercaya sebagai makam Putri Bagus (anak gadis Minak Nyeringgem). Gundukan tanah setinggi sekitar 1 m dengan diameter sekitar 2 m. Makam ini juga banyak ditumbuhi semak belukar. Di sebelah utara makam Putri Bagus merupakan makam Minak Nyeringgem. Gundukan tanah setinggi sekitar 2 m dengan diameter sekitar 4 m. Pada puncak gundukan terdapat beberapa bongkah batu. Selain semak belukar, pada makam ini tumbuh rumpun bambu.

- Dusun Bumijawa
Dusun Bumijawa dimaksudkan untuk menyebut pemukiman penduduk Bumijawa sekarang. Dusun Bumijawa berada di sebelah timur Gedongdalem berjarak sekitar 750 m. Pada lokasi ini tidak terdapat objek arkeologis yang bersifat monumental. Pengamatan pada pekarangan rumah beberapa penduduk, ditemukan beberapa fragmen keramik asing yang terdiri dari bagian bibir, badan, dan dasar. Selain artefak tersebut dalam penelitian ini telah dicatat adanya benda arkeologis yang bersifat bergerak yaitu naskah kuna dan keris. Naskah kuna dan keris pada saat sekarang disimpan di rumah Bp. Efendi Gelar Sutan Pangeran Junjungan Nuban.

Naskah dari bahan kertas folio bergaris dijilid kokoh dan rapi. Ukuran kertas 33 X 20 cm dengan ruang tulis berukuran 27 X 14,5 cm, tebal 183 halaman. Huruf yang digunakan aksara Lampung Kuna. Teks ditulis dengan tinta warna hitam. Pada awal bagian terdapat hiasan sulur-suluran dengan warna hijau, merah, kuning, dan hitam. Pada bagian cover dalam terdapat tulisan dengan huruf latin berbunyi: Buku Catatan Status Adat Lampung Yang Berlaku dari Abad ke Abad Milik Suttan Pasirah Mega, A. Thamrin (Bumi Jawa). Di belakang halaman ini terdapat catatan kelahiran keluarga.

Keris yang ada menurut keterangan Bp. Efendi bernama keris Sejepang. Sampai sekarang keris ini masih dikeramatkan. Keris tersebut tidak boleh disentuh oleh orang selain anggota keluarga. Dari pengamatan sepintas, warangka (selubung) keris terbuat dari kayu yang pada bagian tertentu dilapisi logam kuningan. Bilah keris berlekuk tiga dengan pegangan dari bahan kayu berukir.

b. Desa Negeritua
Desa Negeritua terletak di sebelah selatan Sukadana. Menurut cerita rakyat setempat, leluhur masyarakat Negeritua berasal dari Pagaruyung (Sumatera Barat). Tokoh pertama yang datang di daerah Lampung adalah Ngabehi Bapak Mas, Pangeran Gegeran Alam, dan Suttan Domas. Permukiman Negeritua pertama kali terletak di daerah Karyamukti (Bedeng 55), tepi Way Sekampung. Daerah ini sekarang secara administratif termasuk di dalam wilayah Desa Buana Sakti, Kec. Batanghari yang merupakan pemukiman transmigran asal Jawa. Dari daerah tersebut kemudian pindah ke Pukem tepi Way Pegadungan atau pada posisi 507’ LS dan 10528’ BT. Daerah ini sekarang secara adminisratif termasuk di dalam wilayah Desa Donomulyo yang juga merupakan pemukiman transmigran asal Jawa. Lokasi bekas pemukiman sekarang berupa tegalan dan sawah. Pada sekitar tahun 1909 pindah lagi ke lokasi yang sekarang ini.

c. Desa Gedongwani
Desa Gedongwani terletak di sebelah selatan Sukadana. Desa ini berada pada daerah aliran Way Sekampung atau pada posisi 5°14’ LS dan 105°29’ BT. Data etno-histori tentang Gedongwani (Yusuf, 1976) menyebutkan bahwa pada sekitar tahun 1532 Sultan Banten memerintahkan kepada seluruh penguasa Lampung untuk menghadap. Salah satu marga yang berkuasa yaitu Buay Selagai yang berkedudukan di kampung Gedong Kuripan, Abung Kotabumi, memenuhi perintah tersebut. Tokoh dari Buay Selagai yang berangkat ke Banten  istilah setempat siba  adalah Ratudinata. Perjalanan dari Gedong Kuripan melalui Way Ghagnem. Oleh Sultan Banten, Ratudinata diberi gelar Raden Cakradinata. Selama di Banten Raden Cakradinata merencanakan akan mengubah nama Gedong Kuripan menjadi Gedongwani. Di Banten Raden Cakradinata mendapat ajaran agama Islam yaitu dua Kalimah Syahadat dan surat Al-Ikhlas. Ketika kembali ke Lampung, Raden Cakradinata mendapat kenang-kenangan dari Sultan Banten berupa pintu gerbang atau Lawangkuri.

Sesampainya di Lampung tidak melalui Way Ghagnem tetapi lewat Way Sekampung. Sampai di suatu tempat perjalanannya terhalang air terjun akhirnya berhenti di situ dan membuka hutan untuk perkampungan sementara. Lokasi ini sekarang disebut Limau Saghakan, daerah Pancur, Tegineneng. Di sini hanya selama sekitar 3 tahun kemudian pindah ke arah hilir di daerah perbatasan Jabung. Kampung di lokasi ini dinamakan Gedongwani. Di lokasi ini bertahan hingga sekitar 50 tahun. Karena keadaan tanah tidak subur lagi kampung Gedongwani dipindahkan di dekat pertemuan antara Way Gěrěm dan Way Sekampung. Di lokasi ini bertahan hingga sekarang.

Objek arkeologis yang ada di daerah ini terbagi dalam tiga klaster. Klaster pertama (Gedongwani I) berada di dekat pertemuan antara Way Gěrěm dan Way Sekampung. Pada lokasi ini terdapat makam Baituhit. Klaster kedua (Gedongwani II) berada di sebelah timur laut Gedongwani I berjarak sekitar 500 m. Di lokasi ini terdapat komplek makam Raden Cakradinata. Klaster ketiga (Gedongwani III) terletak di sebelah timur laut Gedongwani II berjarak sekitar 500 m. Di sini terdapat makam Abu Hasan.


- Gedongwani I
Klaster Gedongwani I sekarang berupa kebun yang ditanami singkong. Lahan ini berada di sebelah barat laut pertemuan Way Sekampung dengan Way Gěrěm. Pada salah satu lahan disebutkan merupakan bekas rumah pesirah marga. Makam Baituhit berada pada lahan yang lebih tinggi dari sekitarnya, sehingga menyerupai bukit kecil. Posisi makam berada pada puncak bukit tersebut di bawah pohon benda (kibang).

Jirat makam berupa tatanan batu andesitik dengan orientasi arah barat laut-tenggara. Ukuran jirat panjang sekitar 2,8 m, lebar 1,5 m, tinggi 0,45 m. Jirat dilengkapi dua buah nisan berupa batu kali berbentuk memanjang tanpa pengerjaan. Jarak antara kedua nisan tersebut 1,90 m. Nisan di sebelah barat laut setinggi 25 cm, sedangkan nisan di sebelah tenggara tidak terukur karena tertanam di dalam tanah, hanya kelihatan bagian atasnya saja. Pengamatan di sekitar lahan ini ditemukan fragmen keramik, gerabah, kerak besi, dan besi tua. Pada tepi jalan raya di dekat makam Baituhit terdapat lahan bekas tempat tingga Pesirah Marga. Pengamatan pada lahan ini ditemukan kapak persegi.


- Gedongwani II
Klaster Gedongwani II merupakan ujung perkampungan sebelah tenggara. Makam Raden Cakradinata terdapat di sebelah barat pemukiman pada kebun di tepi sebelah utara Way Sekampung. Keadaan komplek makam Raden Cakradinata sudah dipugar oleh masyarakat. Makam berada di dalam bangunan cungkup terbuka tanpa dinding yang merupakan bangunan baru. Pintu masuk berada di sisi selatan sebelah barat. Di dalam cungkup terdapat dua makam dengan orientasi arah barat-timur. Kedua jirat makam tersebut juga merupakan bangunan baru.
Jirat makam Raden Cakradinata berada di sebelah utara. Jirat makam dilengkapi dua buah nisan. Jarak antara ke dua nisan tersebut 2 m. Nisan sebelah barat setinggi 50 cm sedangkan nisan sebelah timur setinggi 35 cm. Di sebelah selatan jirat makam Raden Cakradinata terdapat jirat makam lainnya. Menurut keterangan, jirat tersebut nerupakan makam pengawal Raden Cakradinata. Jirat ini juga dilengkapi dua buah nisan. Jarak antar nisan 1,5 m. Tingi nisan sebelah barat 33 cm dan sebelah timur 20 cm. Keempat nisan di komplek makam ini dibungkus kain putih, sehingga bentuk dan bahan nisan tidak diketahui. Di sebelah barat jirat makam Raden Cakradinata terdapat dua buah batu (nisan) berorientasi utara selatan. Menurut masyarakat setempat dua buah batu tersebut merupakan tanda makam burung beo milik Raden Cakradinata. Pengamatan pada pekarangan rumah penduduk di dekat makam ditemukan fragmen keramik dan mata uang.

Pada tepi jalan raya Gedongwani di depan rumah Bp. Nur Asikin, terdapat Lawangkuri. Lawangkuri ini disimpan pada semacam bangunan permanen berdinding. Bahan dari kayu berukir halus baik pada kusen maupun daun pintunya. Ragam hias pahatan/ukiran berupa motif sulur-suluran. Pada kusen bagian samping atas terdapat ragam hias bersifat konstruktif dengan motif semacam sayap burung. Ukuran keseluruhan lebar 210 cm dan tinggi 252 cm. Daun pintu terdiri dua bagian. Masing-masing daun pintu berukuran lebar 50 cm dan tinggi 175 cm (periksa Sukendar, 1984).


- Gedongwani III
Lahan klaster Gedongwani III berupa kebun kelapa. Di sini terdapat makam Ali Hasan. Menurut cerita rakyat Ali Hasan adalah utusan dari Sultan Banten. Di Gedongwani, tokoh ini sebagai penjaga hasil pertanian masyarakat. Suatu saat masyarakat mengetahui bahwa tokoh ini mempunyai kesaktian. Karena kesaktiannya akhirnya dihormati. Pada saat sekarang, apabila daerah Gedongwani kekeringan, masyarakat mengadakan shalat minta hujan (istisqa) di tanah lapang dekat makam.

Makam Ali Hasan terletak di sebelah barat laut makam Pangeran Cakradinata berjarak sekitar 500 m. Makam berada pada komplek makam umum. Letak makam berada pada bagian barat laut komplek. Keadaan makam sudah mengalami pemugaran. Jirat makam berorientasi arah utara-selatan berukuran panjang 2 m, lebar 1,6 m. Pada bagian kepala (utara) agak ditinggikan. Nisan sebelah utara dibungkus kain putih. Di sekeliling jirat terdapat tatanan batu dan pagar hidup. Pengamatan pada pekarangan penduduk di dekat makam ini banyak ditemukan fragmen keramik.



2. Kecamatan Batanghari

a. Desa Buanasakti
Penelitian di daerah ini dimaksudkan untuk melacak keterangan tentang asal mula kampung Negeritua. Desa Buanasakti merupakan pemukiman transmigran asal Jawa yang berada di sebelah selatan Way Sekampung berjarak sekitar 500 m. Menurut cerita tutur masyarakat setempat di daerah ini terdapat lahan bekas kampung Negeritua. Objek arkeologis yang terdapat di daerah ini berupa makam tokoh pendiri Negeritua.

Makam berada pada lahan di pinggiran pemukiman penduduk sebelah timur jalan desa. Keadaan makam sudah mengalami pemugaran. Komplek makam tidak dilengkapi cungkup. Pada komplek makam ini terdapat tiga buah jirat berbentuk berundak, yang berorientasi utara-selatan. Jirat makam sebelah selatan terdiri dua buah jirat yang menyatu. Jirat ini merupakan makam Pangeran Gegeran Alam dan Batin Dalam. Menurut keterangan masyarakat setempat, kedua tokoh ini merupakan dua bersaudara. Jirat makam Pangeran Gegeran Alam berada di sebelah timur sedangkan Batin Dalam di sebelah barat. Kedua jirat ini berukuran panjang 1,90 m dan lebar 1 m.

Di sebelah barat laut kedua jirat tersebut di atas berjarak sekitar 15 m terdapat jirat ketiga. Jirat ini merupakan makam Datuk Sebalung yang dipercaya merupakan guru Pangeran Gegeran Alam dan Batin Dalam. Jirat ini berukuran panjang 2,60 m dan lebar 1,35 m. Pengamatan di sekitar lahan ini tidak ditemukan indikator permukiman lainnya.


3. Kecamatan Seputihraman

a. Desa Buyut Baru
Observasi yang dilakukan di Desa Buyut Baru dilandasi data etno-histori tentang kampung Bumijawa. Desa Raman Indra sekarang, Kecamatan Seputihraman, merupakan lokasi perkampungan Bumijawa sebelum pindah ke Gedongdalem. Pelacakan yang dilakukan di Desa Raman Indra tidak ditemukan lokasi bekas pemukiman. Berdasarkan keterangan masyarakat setempat di Desa Buyut Baru terdapat beberapa makam kuna. Atas dasar keterangan tersebut, pelacakan dilakukan di Desa Buyut Baru.

Desa Buyut Baru terletak di tepi aliran Way Seputih pada posisi 450’ LS dan 10522’ BT. Objek arkeologi di daerah ini berupa makam Minak Sangjaya. Mengenai tokoh ini masyarakat setempat tidak begitu mengetahui, karena masyarakat sekarang merupakan transmigran asal Bali. Makam berada di tepi sebelah selatan Way Seputih berjarak sekitar 20 m. Lahan sekitar makam berupa kebun singkong.

Keadaan makam berupa bangunan permanen yang merupakan bangunan baru. Makam dilengkapi cungkup terbuka tanpa dinding. Di sebelah barat cungkup terdapat semacam tugu bertuliskan “Makam Minak Sangjaya, Terbanggi Besar”. Jirat makam Minak Sangjaya berorientasi barat-timur. Ukuran jirat panjang 1,70 m dan lebar 0,54 m. Pengamatan di sekitar lokasi makam tidak ditemukan artefak lainnya.



IV. ANALISIS

1. Feature
Beberapa pemukiman kuna di daerah Sukadana yang telah didata semuanya berada di tepi sungai. Batas pemukiman secara tegas tidak dapat diketahui karena di samping terganggu oleh kegiatan masyarakat sekarang, ada juga yang terus berkembang sebagai pemukiman hingga sekarang. Salah satu situs yang relatif masih dapat dikenali batas-batasnya adalah Gedongdalem. Berdasarkan sebaran artefak yang ada, batas pemukiman memanfaatkan sungai yang ada.

Salah satu unsur yang terdapat pada situs-situs yang telah diteliti adalah feature makam kuna. Di situs Gedongdalem terdapat makam leluhur yaitu makam Minak Nyeringgem, Midah, dan Putri Bagus. Makam-makam tersebut berada di luar pemukiman namun masih dalam satu lokasi. Makam kuna yang terdapat di situs Gedongdalem, keadaannya hanya berupa gundukan tanah yang tidak jelas orientasinya. Makam yang ada pada situs-situs di daerah Sukadana mempunyai ragam yang berbeda-beda. Hanya saja kebanyakan makam yang ada sudah tidak “asli” lagi. Kelengkapan makam berupa nisan, jirat, dan cungkup semuanya menunjukkan sebagai bangunan baru. Bentuk makam yang terdapat di situs Gedongdalem kemungkinan merupakan bentuk “asli”. Keadaan beberapa makam yang ada sebagaimana matriks berikut:

Keadaan Makam Kuna di Daerah Sukadana

Tokoh

Orientasi

Nisan

Jirat

Catatan

Midah

?

X

gundukan tanah


Minak Nyeringgem

?

X

gundukan tanah


Putri Bagus

?

X

gundukan tanah


R. Cakradinata

B – T

V

plesteran bata

bangunan baru

Pengawal R. Cakradinata

B – T

V

plesteran bata

bangunan baru

Baituhit

BL – Tg

V*)

tatanan batu

*) batu tanpa pengerjaan

Ali Hasan

U – S

V

plesteran bata

bangunan baru

P. Gegeran Alam

U – S

V

plesteran bata

bangunan baru

Batin Dalam

U – S

V

plesteran bata

bangunan baru

Minak Sangjaya

B – T

V

plesteran bata

bangunan baru

Keterangan: B barat BL barat laut

T timur Tg tenggara

U utara X tidak ada

S selatan V ada


Dari matriks di atas terlihat bahwa orientasi makam yang tersebar di daerah Sukadana tidak sama. Makam kuna yang terdapat di situs Gedongdalem yaitu makam Midah, Minak Nyeringgem, dan Putri Bagus tidak jelas orientasinya karena bentuk makam berupa jirat gundukan tanah yang membulat tanpa nisan. Pada makam yang lain orientasinya dapat dilihat dari bentuk jirat dan nisan. Namun bangunan yang ada tersebut merupakan bangunan baru, sehingga validitas orientasinya dinilai rendah.

Bentuk feature berupa gundukan tanah (tumulus) terdapat juga di situs Bentengsari, Kecamatan Jabung. Di situs ini gundukan tanah berada di dalam benteng tanah. Selain gundukan tanah juga terdapat beberapa makam kuna dan batu dakon (Agus, 1997/1998). Berdasarkan perbandingan dengan keadaan feature di situs Bentengsari, situs Gedongdalem, menunjukkan berasal dari masa pra-Islam. Tumulus yang terdapat di situs Bentengsari berasosiasi dengan batu dakon. Dengan demikian dapat disimpulkan sebagai hasil budaya tradisi megalitik.


Bila orientasi makam yang lain memang dari semula begitu, maka terdapat suatu perubahan orientasi. Makam R. Cakradinata dan pengawalnya, serta makam Minak Sangjaya berorientasi barat-timur. Makam Baituhit berorientasi tenggara-barat laut. Sedangkan makam Ali Hasan, P. Gegeran Alam, dan Batin Dalam berorientasi utara-selatan. Berdasarkan orientasi makam dapat diduga bahwa makam yang berorientasi utara-selatan merupakan makam dari zaman Islam. Sedangkan yang lainnya bukan dari masa Islam.



2. Artefak
Artefak yang ditemukan di beberapa situs yang telah diteliti kebanyakan berupa gerabah dan keramik. Namun selain itu juga terdapat kapak persegi, kerak besi, dan mata uang kepeng. Secara keseluruhan densitas temuan sebagai berikut:

Densitas Temuan Artefak

Situs

Keramik

Gerabah

Kerak Besi

Mata Uang

Kapak Persegi

Jumlah

Berat

Jumlah

Berat

Gedongdalem

93

1110

3

128

X

X

X

Bumijawa

5

26

X

X

X

X

X

Gedongwani I

4

33

X

X

V

X

1

Gedongwani II

28

271

X

X

X

X

X

Gedongwani III

8

245

X

X

X

1

X

Keterangan: X tidak ada

V ada

berat dalam satuan gram



Berdasarkan densitas temuan artefak dapat memperlihatkan intensitas penghunian situs. Matriks di atas memperlihatkan bahwa intensitas penghunian situs paling tinggi di Gedongdalem, kemudian di Gedongwani. Di Gedongwani hunian paling intensif di klaster II dan III. Di klaster I ditemukan adanya kapak persegi. Hal ini memperlihatkan bahwa pada klaster tersebut pada masa bercocok tanam tingkat lanjut (neolitik) sudah dihuni. Selain itu juga ditemukan adanya kerak besi yang menunjukkan adanya aktifitas industri logam. Dengan demikian dapat ditarik suatu hipotesis bahwa penghunian situs Gedongwani bermula dari klaster I kemudian berkembang ke klaster II dan III, atau pusat pemukiman di klaster II dan III sedangkan klaster I dipakai untuk kawasan industri logam.

Keramik yang ditemukan pada suatu situs menunjukkan adanya sistem pertukaran dengan daerah lain. Pertukaran ini bisa berupa perdagangan. Dengan ditemukannya mata uang semakin memperkuat adanya kegiatan perdagangan. Aktifitas sehari-hari dapat dilihat dari tipologi gerbah dan keramik. Gerabah yang ditemukan di situs Gedongdalem berjumlah tiga buah yang merupakan bagian bibir, badan, dan dasar. Secara tipologis fragmen gerabah tersebut berasal dari bentuk tempayan. Fragmen keramik yang ditemukan di beberapa situs juga merupakan bagian bibir, badan, dan dasar. Analisis tipologis keramik menunjukkan berasal dari bentuk mangkuk (MK), piring (PR), cangkir (CK) sendok (SD), tutup (TTP), botol (BTL), vas, dan ada yang tidak diketahui bentuk asalnya (?). Secara rinci terlihat sebagai berikut:

Tipologi Keramik Sukadana

Situs

MK

PR

CK

SD

TTP

BTL

VAS

?

Jml

Gedongdalem

48

37

2

1

-

3

1

1

93

Bumijawa

1

3

-

-

-

1

-

-

5

Gedongwani I

4

-

-

-

-

-

-

-

4

Gedongwani II

7

19

-

1

1

-

-

-

28

Gedongwani III

7

-

-

1

-

-

-

-

8

Jumlah

67

59

2

3

1

4

1

1

138



Hasil analisis keramik secara tipologis menunjukkan bahwa bentuk mangkuk paling banyak ditemukan, kemudian berurut-turut bentuk piring, botol, sendok, cangkir, tutup, dan vas. Satu-satunya tutup yang ditemukan di situs Gedongwani III berupa tutup botol (mungkin botol minuman) yang bertuliskan TAN TJIN TJIANG & Co Telok Betong. Berdasarkan tipologis temuan keramik dapat menggambarkan bahwa artefak tersebut merupakan benda keperluan sehari-hari.

Keramik asing mempunyai ciri-ciri tertentu yang dapat menunjukkan asal daerah dan kronologinya. Hasil analisis secara kronologis terlihat sebagaimana berikut:


Asal dan Kronologi Keramik Sukadana

Situs

Cina

Annam

Eropa

Jumlah

Song

Yuan

Ming

Qing

Gedongdalem

1

4

31

25

3

29

93

Bumijawa

-

-

-

2

-

3

5

Gedongwani I

-

-

2

-

2

-

4

Gedongwani II

-

-

4

2

1

21

28

Gedongwani III

-

-

1

1

5

1

8

Jumlah

1

4

38

30

11

54

138



Keramik dari Cina paling banyak ditemukan, kemudian dari Eropa, dan Annam. Secara kronologis keramik Cina yang ditemukan berasal dari zaman dinasti Song (960 – 1279, atau abad X – XIII), Yuan (1280 – 1368, atau abad XIII – XIV), Ming (1369 – 1644, atau abad XIV – XVII), dan Qing (1645 – 1911, atau abad XVII – XX). Keramik Annam berasal dari abad XIV – XVI, sedangkan keramik Eropa dari abad XVIII – XX.


V. ASAL MULA DAN PERKEMBANGAN PEMUKIMAN DI DAERAH SUKADANA
Catatan Tomé Pires mengenai kawasan Lampung terdapat dua nama yaitu Sekampung dan Tulangbawang. Dua nama ini disebutnya sebagai suatu negeri dalam arti bukan kerajaan (Cotesão, 1967: 136). Sekampung dapat diidentifikasikan sebagai kawasan di sekitar Way Sekampung sekarang. Meskipun Sekampung dikatakan bukan suatu kerajaan, tetapi diberitakan oleh Pires sebagai negeri yang berlimpah ruah. Lokasinya berdekatan dengan Tana Malaio dan Tulang Bawang. Sekampung sudah menjalinan hubungan dagang dengan Sunda dan Jawa. Beberapa barang komditasnya antara lain kapas, emas, madu, lilin, rotan, lada, beras, dan hasil bumi lainnya. Pemimpin di Sekampung ketika itu (antara tahun 1512 – 1515) masih kafir. Masyarakatnya terutama yang tinggal di daerah hulu juga masih kafir (Cotesão, 1967: 158). Daerah Sukadana dilihat dari lokasinya masih dapat dikatakan sebagai kawasan Sekampung.

Menurut data etno-histori yang diperoleh selama observasi, menunjukkan bahwa masyarakat yang tinggal di daerah Sukadana merupakan masyarakat migran yang berasal dari tiga kawasan. Kelompok masyarakat ini telah beberapa kali melakukan perpindahan lokasi. Masyarakat yang sekarang tinggal di Desa Bumijawa menyatakan sebagai keturunan Ratu Dipuncak dari Bukit Pesagi, Kenali. Masyarakat Negeritua menyatakan sebagai keturunan Ngabehi Bapak Mas, Pangeran Gegeran Alam, dan Suttan Domas berasal dari Pagaruyung. Sedangkan masyarakat Gedongwani sebagai keturunan Buay Selagai dari Kotabumi.


Kajian terhadap populasi masyarakat Lampung yang pernah dilakukan Olivier Sevin menyimpulkan bahwa terdapat empat gelombang migrasi (Falah, 1995; Sevin, 1989). Sebagai penghuni tertua dan dianggap penduduk asli Lampung adalah Orang Pubian. Empat gelombang migrasi yang kemudian terjadi adalah gelombang Sekalaberak, Banten, Palembang, dan Kolonisasi. Gelombang Sekalaberak adalah masyarakat migran yang berasal dari kawasan sekitar Danau Ranau. Wilayah Sekalaberak khususnya daerah Belalau merupakan daerah dengan populasi yang sangat tinggi. Sevin memperkirakan gelombang migrasi dari Sekalaberak berlangsung pada sekitar abad XIV, gelombang Banten pada abad XVII demikian juga gelombang Palembang, dan Kolonisasi terjadi pada abad XIX.


Cerita tutur masyarakat, khususnya dari Bumijawa, menyatakan bahwa di Lampung semula dikenal terdapat empat penguasa lokal yaitu Ratu Dipuncak di Bukit Pesagi, Ratu Balau di Tulangbawang, Ratu Pogung di Krui, dan Ratu Pemanggilan di Tegineneng. Keempat penguasa ini berasal dari satu induk yaitu dari daerah Martapura. Bila dikaitkan dengan gelombang migrasi tersebut di atas, empat penguasa tersebut merupakan masyarakat yang tergolong ke dalam gelombang Sekalaberak.


Di daerah Sukadana sendiri terdapat tiga masyarakat yang berasal dari dua gelombang migrasi. Masyarakat Negeritua yang berasal dari Pagaruyung tampaknya tidak dapat dimasukkan dalam golongan gelombang migrasi di atas. Sedangkan masyarakat Bumijawa dan Gedongwani dari gelombang Sekalaberak. Kelompok masyarakat ini mempunyai pola bermukim yang sama yaitu berpindah-pindah dari satu lokasi ke lokasi lain. Perpindahan lokasi ini cenderung dikarenakan kualitas lahan yang sudah tidak memenuhi kebutuhan lagi. Hal yang menarik, setiap pindah lokasi nama kampung tidak mengalami perubahan.


Kapan masing-masing kelompok masyarakat tersebut bermukim di daerah Sukadana dapat ditelaah melalui data sejarah dan arkeologis. Masyarakat Negeritua sedikit agak susah menelusurinya. Hal ini karena situs-situs yang merupakan bekas pemukiman Negeritua sudah banyak yang terganggu. Observasi yang dilakukan tidak menemukan keramik yang dapat dijadikan acuan kronologis secara relatif. Pemukiman pertama di Karya Mukti sekarang (Bedeng 55) masih menyisakan adanya makam para tokoh cikal bakal. Berdasarkan makamnya, para tokoh tersebut menunjukkan sebagai penganut Islam yang sudah mantap. Sedangkan islamisasi di Lampung baru berlangsung pada masa Banten (abad XVI). Meskipun demikian tokoh cikal bakal masyarakat Negeritua sudah menganut Islam sejak dari tanah asalnya yaitu di Pagaruyung. Tomé Pires yang mengunjungi Sekampung pada awal abad XVI belum menjumpai masyarakat muslim. Karena Islam sudah dianut para tokoh Negeritua maka dapat diperkirakan masyarakat Negeritua bermukim di daerah Sukadana pada sekitar pertengahan abad XVI – XVII.


Masyarakat Bumijawa sekarang sudah mengalami perpindahan setidak-tidaknya tiga kali. Pertama kali datang di Lampung bermukim di Desa Buyut sekarang, yaitu di tepi Way Seputih. Sayang di situs ini kurang mendapat data yang kuat. Selanjutnya menetap di Gedongdalem. Situs ini berdasarkan tinggalan keramik yang ada, intensif dihuni pada sekitar abad XIV hingga awal abad XX. Ketika prasarana lalu lintas tidak lagi memanfaatkan sungai, Bumijawa pindah lagi ke lokasi sekarang. Beberapa tinggalan arkeologis yang disimpan sesepuh setempat meunjukkan berasal dari masa-masa yang muda (abad XX). Ketika menetap di situs Gedongdalem, latar belakang religinya, berdasarkan feature makam, pada mulanya masih memperlihatkan tradisi pra-Islam, yaitu tradisi megalitik. Ketika Banten secara intensif melakukan islamisasi tradisi megalitik ditinggalkan dan beralih ke Islam.


Sedangkan masyarakat yang tinggal di Gedongwani, berdasarkan data etno-histori mula-mula terjadi pada sesudah tahun 1532, yaitu ketika Raden Cakradinata kembali siba dari Banten. Keramik tertua yang ditemukan di Gedongwani berasal dari abad IV. Islam pada awal mulanya belum begitu mantap dianut oleh masyarakat Gedongwani. Makam-makam tertua masih belum menunjukkan sebagai penganut Islam yang mantap. Masyarakat Gedongwani semakin mantap dalam memeluk Islam dipengaruhi oleh adanya tokoh dari Banten yaitu Ali Hasan yang menetap dan meinggal di Gedongwani. Benda arkeologis yang terdapat di Gedongwani (Lawangkuri) memperlihatkan adanya hubungan antara Gedongwani dengan Banten.


Dalam kaitanya dengan Sriwijaya, yaitu sebutan Bhûmi jawa dalam beberapa prasasti Sriwijaya, semula ada dugaan bahwa masyarakat desa Bumijawa di Lampung adalah merupakan masyarakat transmigran dari Jawa. Hasil observasi menunjukkan bahwa Bumijawa di Sukadana adalah perkampungan masyarakat “asli” Lampung. Prasasti Kota Kapur dan Palas Pasemah berasal dari abad VII. Sedangkan Bumijawa yang ada di Lampung berdasarkan analisis keramik diperkirakan berlangsung mulai abad XIV. Dengan demikian dapat dipastikan Bhûmi jawa yang dimaksudkan prasasti Kota Kapur dan Palas Pasemah bukan Bumijawa yang terdapat di Sukadana. Namun harus dipertimbangkan bahwa masyarakat Bumijawa di Sukadana merupakan masyarakat migran yang selalu membawa juga nama daerah asal ke daerah baru.


Keterangan etno-histori menyebut bahwa masyarakat Bumijawa berasal dari Bukit Pesagi dan sebelumnya tinggal di sekitar daerah Martapura sekarang. Kawasan ini dalam tradisi disebut sebagai Sekalaberak yang cakupan wilayahnya di sekitar Danau Ranau. Pada masa klasik daerah di sekitar Danau Ranau memang merupakan kawasan potensial. Di Jepara terdapat runtuhan candi. Meskipun hanya runtuhan, Candi Jepara memberi kesan termasuk candi tua. Pada sebagian batunya tidak berhias ukiran, tetapi ada yang membentuk setengah bulat dan sisi genta. Bentuk demikian ini banyak dijumpai pada candi-candi tua di Jawa Tengah dan Jawa Timur (Soekmono, 1985). Berdasarkan gaya bangunannya candi Jepara diperkirakan berasal dari abad IX – X. Di daerah Bawang terdapat prasasti yang kemudian dinamakan Prasasti Hujung Langit sesuai dengan sebutan dalam prasasti itu. Damais (1962) memastikan prasasti tersebut berasal dari tahun 919 Ç atau 997 M. Pengaruh Jawa tampak dalam sistem penanggalannya. Pengaruh Jawa yang terdapat pada prasasti, oleh Damais dihubungkan dengan ekspedisi Jawa dalam melawan Sriwijaya yang menurut berita Cina terjadi pada tahun 992 – 993 M. Damais menarik kesimpulan bahwa pengaruh Jawa tersebut merupakan hasil pendudukan Jawa sebagaimana dilaporkan dalam sumber Cina (Guillot, et all, 1996: 116). Apabila nafas Jawa yang terdapat di kawasan sekitar Danau Ranau dikaitkan dengan prasasti Kota Kapur juga tidak sesuai. Namun kemungkinan kawasan sekitar Ranau sudah dihuni jauh-jauh sebelum masa prasasti Hujung Langit dan Candi Jepara dapat diterima apabila ada data yang memperkuatnya. Hipotesis yang menyatakan Bhûmi jawa berada di Lampung masih harus memerlukan data penguat yang mungkin dapat dicari di sekitar Danau Ranau atau daerah Martapura, Sumatra Selatan, bukan di Lampung.




VI. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat diketahui bahwa pada daerah yang telah diteliti terdapat beberapa situs pemukiman yang ditandai dengan temuan sebaran artefak berupa fragmen keramik, gerabah, kerak besi, mata uang, dan alat batu, serta makam kuna.

Beberapa pemukiman yang ada berdasarkan data etno-histori telah mengalami beberapa kali perpindahan. Setiap kali pindah lokasi, nama daerah tidak mengalami perubahan. Pemukiman tersebut adalah Bumijawa, Negeritua, dan Gedongwani. Cikal bakal masyarakat Negeritua berasal dari Pagaruyung. Sedangkan masyarakat Bumijawa dan Gedongwani berasal dari satu keturunan. Cikal bakal masyarakat kedua pemukiman tersebut berasal dari daerah Martapura (Sumatra Selatan). Ketika pindah dari daerah Martapura tempat yang disinggahi pertama kali adalah daerah Kenali sekarang. Dari sini kemudian terpecah menjadi beberapa marga yang ada sekarang.


Latar belakang religi adalah sebagai penganut Islam. Persebaran Islam di daerah ini berasal dari Banten. Berdasarkan data etno-histori ajaran Islam masuk di daerah ini disampaikan oleh tokoh setempat yang pergi ke Banten untuk mempelajari Islam kemudian kembali ke Lampung dan menyebarluaskannya. Dilihat dari data arkeologis yang berupa beberapa makam kuna, tampak bahwa sebelum ajaran Islam masuk, religi yang dianut adalah kepercayaan prasejarah (tradisi megalitik). Beberapa makam kuna ada yang berorientasi barat-timur dan ada pula yang tidak jelas. Kebanyakan makam jirat dan nisannya sangat sederhana tanpa pengerjaan. Artefak dan data pendukung lain yang meunjukkan latar belakang agama Hindu-Buddha tidak ditemukan. Dengan demikian religi yang berkembang pada masyarakat dari tradisi megalitik kemudian agama Islam.


Berkaitan dengan persoalan kata “bhumijawa” pada prasasti Kotakapur, tampak bahwa Bumijawa yang terdapat di daerah Lampung bukan merupakan Bumijawa yang terdapat di dalam prasasti Kotakapur. Namun mengingat bahwa terdapat kebiasaan tidak mengubah nama bila melakukan pindah lokasi, maka penelusuran nama Bhûmi jawa dapat dilakukan di daerah asal Bumijawa yaitu di kawasan Sekalaberak atau Martapura (Sumatra Selatan).




Kepustakaan

Agus. 1997/1998. Laporan Hasil Penelitian Arkeologi Daerah Pugung Rahajo dan Sekitarnya, Kabupaten Lampung Tengah, Propinsi Lampung (Kajian Geologi dan Geomorfologi). Balai Arkeologi Bandung (tidak diterbitkan).

Boechari. 1979. “An Old Malay Inscription of Srivijaya at Palas Pasemah (South Lampong)”. Dalam Pra Seminar Penelitian Sriwijaya. Jakarta: Pusat Penelitian Purbakala dan Peninggalan Nasional.

-----------. 1986. “New Investigations on The Kedukan Bukit Inscription”. Dalam Untuk Bapak Guru.Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

Cotesão, Armando. 1967. The Suma Oriental of Tomé Pires. Nendelnd iechtenstein: Kraus Reprint Limited.

Damais, L Ch. 1962. “Études Soumatranaises, I: La date de l’inscription de Hujung Langit (Bawang)”. Dalam BEFEO, L (2).

Djajadiningrat, Hoesein. 1983. Tinjauan Kritis Tentang Sajarah Banten. Jakarta: Penerbit Djambatan, KITLV.

Falah, Anwar. 1995. “Pengenalan Geografis Kawasan Lampung (Satu Kajian Ringkas)”. Dalam Manusia Dalam Ruang: Studi Kawasan Dalam Arkeologi. Berkala Arkeologi Edisi Khusus. Yogyakarta: Balai Arkeologi Yogyakarta.

Gibbon, Guy. 1984. Anthropological Archaeology. New York: Columbia University Press.

Graaf, H.J. de dan Pigeaud, Th. G. Th. 1985. Kerajaan-kerajaan Islam di Jawa. Jakarta: Grafitipers.

Guillot, Claude; Lukman Nurhakim; Sonny Wibisono. 1996. Banten Sebelum Zaman Islam, Kajian Arkeologi di Banten Girang 932? – 1526. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, École Française d’Extrême-Orient, Penerbi Bentang.

Sevin, Olivier. 1989. “History and Populations”. Dalam Transmigration. Jakarta: Orstom-Departemen Transmigrasi.

Sharer, Robert J. dan Wendy Ashmore. 1979. Fundamentals of Archaeology. California: The Binjamin/Cummings Publishing.

Soekmono. 1985. Amerta 3. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

Sukendar, Haris; Soekatno Tw; Surjono. 1984. “Laporan Survei Lampung”. Dalam Satyawati

Suleiman, et all (ed.) Berita Penelitian Arkeologi No. 2. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

Sumadio, Bambang. 1990. Jaman Kuna, Sejarah Nasional Indonesia II. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Yusuf P.R, M. 1976. “Sejarah/Cerita Waktu Siba ke Banten Mendapatkan Hadiyah Lawang Kuri/Pintu Gerbang yang ada Sekarang ini di Kampung Gedongwani” Manuskrip.


Catatan:
Tulisan ini diterbitkan di dalam buku berjudul "Rona Arkeologi", Penyunting Ir. Edy Sunardi, M. Sc., Ph. D. dan Dr. Agus Aris Munandar. Penerbit: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia, 2000.

19 Februari 2008

Perencanaan dan pengembangan permukiman pada masa lalu di aliran Way Kiri, Tulangbawang, Lampung


HUBUNGAN FUNGSIONAL SITUS BENTENG SABUT, BENTENG PRAJURIT PUTINGGELANG, DAN KERAMAT GEMOL


Nanang Saptono


Pendahuluan

Kawasan Lampung pada umumnya secara geografis dialiri empat sungai besar yaitu Way Semangka, Way Sekampung, Way Seputih, dan Way Tulangbawang. Di sepanjang daerah aliran sungai tersebut banyak ditemukan situs-situs pemukiman dalam bentuk benteng tanah. Tulangbawang merupakan salah satu lokasi yang banyak disebut dalam sumber sejarah, khususnya berita asing. Di dalam kitab sejarah dinasti Liang terdapat keterangan bahwa antara tahun 430 – 475 datang di Cina beberapa kali utusan dari To-lang P’o-hwang. Menurut G. Ferrand lafal To-lang P’o-hwang dalam dialek Cina dapat disamakan dengan Tulangbawang. R.M.Ng. Poerbatjaraka juga berpendapat bahwa To-lang P’o-hwang yang disebut dalam sejarah dinasti Liang, merupakan sebuah kerajaan di daerah aliran sungai Tulangbawang, Lampung. Kerajaan ini pada suatu saat ditaklukkan oleh kerajaan lain. Dugaan ini didasarkan pada kenyataan bahwa berita Cina hanya sekali saja menyebut kerajaan ini (Sumadio, 1990: 79). Tomé Pires, pengembara dari Portugis, dalam perjalanannya mencari rempah-rempah di kepulauan Nusantara pada tahun 1512–1515 juga menyebut-nyebut Tulangbawang (Cortesão, 1967: 171). Berkaitan dengan hal tersebut, penelitian permukiman di Tulangbawang secara intens terus dilakukan.


Penelitian yang telah dilaksanakan secara keseluruhan berhasil mendata sejumlah situs pemukiman kuna. Beberapa situs yang telah didata dapat dikelompokkan dalam tiga kawasan yaitu kawasan Way Kiri, kawasan Menggala, dan kawasan Way Tulangbawang. Situs-situs di kawasan Way Kiri antara lain situs Bumiagung Tua, Karta Talang, Benteng Sabut, Gedongratu Tua, Kramat Gemol, Benteng Prajurit Putinggelang, Jung Belabuh, Bakung Nyelai, dan Pagardewa. Situs-situs di kawasan Menggala selain struktur kota tua Menggala yaitu situs Kampung Tua dan Bakung. Sedangkan situs-situs di kawasan Way Tulangbawang adalah situs Gunung Tapa, Gedong Meneng, Dente, dan Teladas. Selain situs-situs tersebut juga telah didata situs Batu Putih yang terdapat di tepi Way Kanan Desa Gunung Terang dan situs Benteng Minak Temenggung di hulu Way Tulangbawang, Desa Penumangan. Masyarakat Tulangbawang, bukan pendatang, hingga sekarang masih mempunyai ikatan emosional dengan situs-situs yang ada dalam bentuk tradisi lisan. Kelompok masyarakat tertentu memiliki hubungan kekerabatan dengan tokoh-tokoh pendukung situs.


Secara umum masyarakat Lampung sekarang ini terdiri dari 9 klan besar yang masing-masing mempunyai bahasa sendiri secara umum dapat disebut sebagai Bahasa Lampung. Dari 9 klan tersebut terbagi dalam dua sistem adat yaitu 5 klan termasuk dalam sistem adat sei batin dan 4 klan termasuk dalam sistem adat papadun (Sitorus, 1996: 18 – 20).


Masyarakat beradat seibatin umumnya mendiami daerah pesisir. Oleh karena itu sistem adat ini juga disebut peminggir. Termasuk masyarakat Seibatin adalah Melinting/Rajabasa di daerah Labuan Maringgai dan Kalianda; Teluk di Telukbetung; Semangka di daerah Cukuh Balak, Talang Padang, Kota Agung, dan Wonosobo; Sekalaberak di daerah Liwa, Kenali, Pesisir Tengah, Pesisir Utara, dan Pesisir Selatan; serta Ranau di daerah Komering dan Kayu Agung.


Masyarakat beradat pepadun mendiami daerah pedalaman seperti Abung, Sungkai, Tulangbawang, dan Pubian. Secara kekerabatan masyarakat dengan sistem adat pepadun terdiri dari empat klan besar yang masing-masing terbagi lagi dalam beberapa kelompok kerabat (marga) yang disebut buay. Empat klan besar tersebut adalah Abung Siwo Megou, Megou Pak Tulangbawang, Buay Lima Way Kanan/Sungkai, dan Pubian Telu Suku. Klan Tulangbawang terdiri dari 4 Marga yaitu Buay Bulan, Tegamoan, Suay Umpu, dan Aji.


Secara makro situs-situs pemukiman di Tulangbawang menempati areal pada sekitar danau/rawa dan di sepanjang sungai. Antar situs-situs tersebut dihubungkan oleh aliran sungai. Pola penempatan terdiri dua macam yaitu di tepi sungai dan pada (atau dekat) pertemuan dua sungai. Situs-situs pemukiman tersebut ada yang dilengkapi benteng tanah ada juga yang tidak dilengkapi benteng tanah. Berdasarkan analisis pertanggalan melalui temuan keramik dapat diketahui bahwa pemukiman yang tidak berbenteng lebih muda bila dibandingkan dengan pemukiman yang berbenteng. Unsur yang ada pada masing-masing situs selain benteng tanah adalah makam (keramat) tokoh (Saptono, 2000: 129 – 160).


Berdasarkan pertimbangan keletakan secara geografis dan tradisi lisan yang ada, berikut ini diulas hubungan fungsional antara situs Benteng Sabut, Benteng Prajurit Putinggelang, dan Keramat Gemol dalam pola tata ruang makro. Benteng Sabut dalam tradisi lisan dihubungkan dengan tokoh Minak Kemala Kota dan Minak Ratu Guruh Malay, Benteng Prajurit Putinggelang dihubungkan dengan tokoh Prajurit Putinggelang, dan Keramat Gemol dihubungkan dengan Minak Indah. Ketiga tokoh tersebut merupakan moyang masyarakat yang sekarang tinggal di Kampung Gunungkatun (Marga Buay Bulan) dan Panaragan (Marga Tegamoan), Tulangbawang.


Gambaran Situs

a. Benteng Sabut

Situs Benteng Sabut secara geografis berada pada kelokan sungai utama (Way Kiri) pada posisi 4°30’20” LS dan 105°00’21” BT, secara administratif termasuk wilayah Kampung Gunungkatun. Way Kiri mengalir di sebelah tenggara hingga timur situs. Di sebelah barat situs terdapat aliran Way Pikuk. Sungai ini berhulu pada bukit kecil di sebelah utara situs, kemudian berkelok-kelok ke arah tenggara hingga timur dan bermuara di Way Kiri di sebelah selatan Benteng Sabut. Di sebelah selatan muara Way Pikuk terdapat muara Way Papan. Sungai ini mengalir dari arah barat daya. Di sekitar Benteng Sabut terdapat beberapa rawa (bawang) antara lain Bawang Kelapo terdapat di sebelah barat dan Bawang Petahi di sebelah timur laut benteng. Lokasi Benteng Sabut oleh masyarakat setempat juga dikenal dengan sebutan Bujung Menggalou.


Data arkeologis yang terdapat di situs Benteng Sabut berupa fetur parit (cekungan), benteng dan tanggul (gundukan tanah), makam kuna, serta sebaran artefak. Parit pada bagian dekat Way Kiri berpola segi lima. Pada sisi dalam parit terdapat benteng. Benteng dan parit ini pada sisi barat bermula dari tepi Way Kiri ke arah barat laut sepanjang 110 m hingga sudut barat daya. Benteng dan parit kemudian belok ke arah utara agak ke timur hingga sepanjang 70 m yang merupakan pertengahan sisi barat laut benteng dan parit, selanjutnya agak berbelok ke arah timur hingga mencapai jarak 70 m yang juga merupakan sudut timur laut. Pada sudut ini parit ada yang ke arah barat laut sepanjang 20 m hingga ke Bawang Petahi, dan juga ada yang ke arah tenggara sejauh 110 m hingga Way Kiri. Parit pada bagian ini lebarnya berkisar antara 5 hingga 7 m dengan kedalaman berkisar 0,5 hingga 1,5 m. Lahan bagian ini merupakan inti pemukiman yang luasnya sekitar 1,4 hektar.


Data artefaktual yang pernah ditemukan di bagian ini berupa fragmen keramik, fragmen tembikar, serpih obsidian, kerak besi, paku, fragmen wadah perunggu, dan manik-manik. Fragmen tembikar ada yang berhias. Selain itu terdapat beberapa benda arkeologis berupa gandik, fragmen pipisan. Fragmen tembikar yang merupakan bagian dari kibu (kendi). Benda tembikar utuh berbentuk gacuk, tatap, dan cangkir.


Di sebelah barat laut bagian inti pemukiman berjarak sekitar 50 m terdapat parit membentang arah timur laut – barat daya. Pada Ujung timur laut bermula dari Bawang Petahi ke arah barat daya sejauh 150 m. Parit ini pada ujung barat daya lebarnya 12 m, sedangkan pada ujung timur laut lebarnya 7 m. Kedalam berkisar 1 – 1,5 m. Di ujung barat daya parit belok ke arah tenggara sepanjang 55 m dan selanjutnya tidak tampak lagi jejak-jejaknya. Parit yang membentang arah timur laut – barat daya kemudian belok ke arah tenggara ini membentuk lahan berpola segi empat dengan luas sekitar 0,7 hektar. Di tengah lahan ini terdapat fetur tumulus berdiameter sekitar 3 m tinggi 0,7 m. Di tempat ini pada sekitar tahun 1980 pernah ditemukan guci.


Di sebelah barat daya benteng, pada seberang Way Pikuk terdapat dua fetur tanggul. Fetur tanggul pertama terdapat di sebelah barat daya parit luar sisi barat laut. Dari ujung Way Pikuk tanggul tersebut membujur ke arah barat sepanjang 20 m kemudian belok ke arah barat daya hingga selatan sepanjang 30 m. Lebar tanggul sekitar 4 m dengan ketinggian sekitar 0,5 m. Tanggul kedua terletak di sebelah barat daya lahan benteng. Tanggul tersebut membujur arah timur laut – tenggara sepanjang 30 m. Lebar tanggul 8 m dengan ketinggian 1,5 – 2 m.


Pada bagian luar sudut tenggara benteng, di tepi Way Kiri terdapat fetur makam kuna. Menurut keterangan masyarakat tokoh yang dimakamkan adalah Minak Sendang Belawan. Keadaan makam sedikit lebih tinggi dari lahan sekitar tetapi tidak menggunduk, tidak dilengkapi nisan. Orientasi makam relatif ke arah utara – selatan (N 350° E). Lebar makam 2,16 m dan panjangnya 3,8 m.



b. Benteng Prajurit Putinggelang

Situs Benteng Prajurit Putinggelang berada di hulu Way Gemol pada posisi 04°28’52,6” LS dan 105°01’54,4” BT, secara administratif termasuk wilayah Kampung Panaragan. Wilayah itu juga dinamakan Umbul Lebung. Posisi benteng berada pada pertemuan antara Tulung Pasik dengan Way Gemol. Tulung Pasik berhulu pada bukit kecil (hulu Way Pikuk) sebelah barat daya situs mengalir menuju arah timur laut dan bertemu dengan Way Gemol. Aliran Tulung Pasik ini sebagai batas alam benteng sisi barat laut. Way Gemol mengalir dari arah barat laut, pada pertemuan dengan Tulung Pasik kemudian berbelok ke arah timur sejauh 100 m, kemudian berbelok ke arah selatan sejauh 100 m kemudian berbelok ke arah tenggara. Sejauh 50 m terdapat pertemuan dengan Capang Turus yang merupakan sungai musiman. Capang Turus membentang arah barat – timur. Aliran Way Gemol menjadi batas alam benteng sisi utara dan timur. Fetur benteng membentang dari Capang Turus (50 m sebelah barat pertemuan antara Way Gemol dengan Capang Turus) ke arah barat laut sepanjang 95 m. Bila ditarik garis lurus akan sampai di Tulung Pasik. Jarak antara ujung barat laut benteng dengan Tulung Pasik sekitar 35 m. Luas lahan yang berada di dalam benteng sekitar 1,625 hektar.


Pengamatan pada fetur benteng dan parit mendapatkan gambaran bahwa benteng berada di sisi dalam, yaitu sebelah timur laut parit. Lebar parit berkisar 4 m dengan kedalaman berkisar 1 hingga 1,5 m. Lebar benteng berkisar 2 m. Dengan ketinggian yang tersisa berkisar 0,5 m (diukur dari permukaan tanah, bukan dari dasar parit). Pada pertengahan benteng dan parit terdapat pendangkalan parit selebar 5 m. Bagian ini menunjukkan jalan keluar masuk benteng. Data artefaktual belum ditemukan karena kondisi lahan sangat lebat oleh semak belukar dan bambu.



c. Keramat Gemol

Situs Kramat Gemol berada pada kelokan sungai di sebelah barat Way Kiri. Di sebelah timur situs merupakan pertemuan antara Way Kiri dengan Way Gemol. Way Gemol yang merupakan anak sungai Way Kiri mengalir di sebelah tenggara situs. Secara geografis situs Kramat Gemol berada pada posisi 4°29’14” LS dan 105°02’15” BT, secara administratif termasuk dalam wilayah Kampung Panaragan.


Kondisi lahan di dalam areal benteng pada sisi tenggara tidak terurus sehingga banyak ditumbuhi semak-semak dan ilalang, sedangkan pada sisi lainnya merupakan kebun singkong. Di luar areal benteng juga dimanfaatkan untuk kebun singkong. Di luar benteng sebelah barat daya berjarak sekitar 200 m terdapat kebun karet. Pada sekeliling areal situs berjarak antara 200 – 500 m terdapat semacam lembah. Di sebelah selatan benteng, lembah bermula dari Way Kiri (sebelah tenggara) memutar ke arah selatan hingga barat daya dan berakhir di sebelah barat benteng. Lembah ini disebut kandungan Badak. Di sebelah utara benteng, lembah juga bermula dari Way Kiri memutar ke arah barat laut hingga ke arah barat. Lembah ini disebut kandungan Minak Muli.


Luas lahan inti situs sekitar 0,75 ha. Benteng pada sisi barat daya sepanjang sekitar 85 m. Di luar benteng terdapat parit. Bila diukur dari dasar parit, tinggi benteng yang tersisa sekarang sekitar 1,5 m. Lebar parit pada bagian dekat sungai (sudut tenggara) berkisar 5 m. Ke arah barat laut parit ini semakin melebar, dan pada sudut barat lebarnya 9 m. Benteng maupun parit kemudian berbelok ke arah timur laut sepanjang sekitar 20 m. Pada ujung ini lebar parit kembali menyempit yaitu sekitar 3,5 m. Parit dan benteng berakhir pada tanah datar selebar 10 m, kemudian berlanjut lagi sepanjang sekitar 32 m. Dengan terputusnya benteng dan parit pada sisi ini seakan-akan membentuk “jalan” ke wilayah dalam benteng. Pada ujung “jalan” tersebut kedalaman parit berkisar 1,5 m. Pada ujung timur laut, parit dan benteng berakhir pada suatu lembah yang semakin ke arah utara dan barat semakin curam. Lembah ini ke arah barat menyatu dengan kandungan Minak Muli. Benteng sisi timur laut, pada ujung barat laut berada pada tepian lembah yang menyatu dengan kandungan Minak Muli tersebut. Ujung benteng ini bila ditarik garis lurus ke arah ujung timur laut benteng sisi barat laut berjarak 35 m.


Konstruksi benteng sisi timur laut berbeda dengan sisi yang lain. Pada sisi ini, benteng yang berupa gundukan tanah terdapat pada dua bagian yaitu sebelah dalam dan luar. Sehingga parit yang ada berada di antara dua benteng. Parit tersebut lebarnya sekitar 10 m, dengan panjang dari ujung barat laut hingga tenggara sekitar 80 m. Pada pertengahan sisi juga terdapat semacam “jalan”. Namun pada “jalan” tersebut yang terpotong hanya bentengnya saja, keadaan parit tetap cekung.


Data artefaktual yang pernah ditemukan antara lain fragmen keramik, tembikar, dan batu berupa tatal rijang. Pada tepi sungai, sisi luar sebelah selatan benteng terdapat makam Minak Indah. Makam berada di dalam cungkup bangunan permanen berdinding tembok bata dengan lantai keramik. Di sekeliling halaman cungkup dilengkapi pagar tembok bata. Bangunan ini merupakan hasil renovasi tahun 2001 yang semula berupa cungkup sederhana. Makam ditandai dua buah batu sebagai nisan. Di dalam cungkup masih tersimpan pipisan batu dalam keadaan pecah menjadi tiga bagian. Secara utuh pipisan batu berbentuk dasar segi empat berukuran panjang 48 cm, lebar 21 cm, tinggi 12 cm. Pada kedua sisi bagian lebar berbentuk kurawal. Bagian tengah sisi atas (dataran penghalus) terdapat cekungan.


Sejarah Dan Legenda


a. Minak Kemala Kota dan Minak Ratu Guruh Malay

Minak Kemala Kota dalam tradisi lisan masyarakat dikatakan sebagai pendiri Benteng Sabut. Minak Kemala Kota mempunyai tiga keturunan yaitu Tuan Riou Nyembang Luih, Namo, dan Bulan. Namo menikah dengan Moyang Runjung. Pernikahan antara Moyang Runjung dengan Putri Minak Kemala Kota bernama Namo[1] selanjutnya menurunkan tokoh-tokoh Marga Tegamoan yaitu Tuan Rio Mangkubumi yang berkedudukan di Pagardewa, Tuan Rio Tengah yang berkedudukan di Meriksa (Menggala), dan Tuan Rio Sanaah yang berkedudukan di Panaragan. Hilman Hadikusuma menerangkan bahwa Runjung adalah anak Minak Sebala Kuwang. Runjung menikah dengan Senama, yaitu anak Putri Bulan saudara Ratu Dipuncak. Dari perkawinan ini menurunkan Tuan Riyo Mangkubumi, Tuan Riyo Tengah, dan Tuan Riyo Sanak (Hadikusuma, 1989: 47).


Marwansyah Warganegara menerangkan (1975: 10), Moyang Runjung dikenal sebagai tokoh yang selalu berpindah-pindah dan terakhir menetap di Tulangbawang. Setiap kali mukim di suatu daerah Moyang Runjung mendirikan perkampungan dengan diberi nama Pagardewa. Kampung-kampung yang telah didirikan antara lain Pagardewa di Sukau, Pagardewa di Bukit Pesagi, Pagardewa di daerah Lahat, Pagardewa di daerah Ogan Komering Ilir, dan terakhir Pagardewa di Tulangbawang. Selanjutnya Marwansyah (1989: 11) menerangkan, Moyang Runjung yang juga disebut Umpu Runjung, adalah anak Sang Balik Kuang. Ketika berkedudukan di Bukit Pesagi, Umpu Runjung menikah dengan Putri Bulan Purnama anak Raja Sengara dengan Puteri Indra Bulan. Atas perkawinannya ini kemudian bergelar Minak Tabu Gayou. Sebelum menikah dengan Putri Bulan, pernah menikah dengan Putri Nuban anak Ratu Dipuncak.


Putri Minak Kemala Kota lainnya, bernama Bulan yang menikah dengan Minak Trio Deso menurunkan Minak Penatih Toho, selanjutnya menurunkan Minak Semelasem, dan selanjutnya menurunkan Minak Paduka. Hilman Hadikusuma (1989: 10) menyebutkan bahwa istri Minak Semelasem adalah putri Minak Sutan dari Buay Bulan Udik. Perkawinan antara Minak Semelasem dengan putri Minak Sutan berlangsung sekitar tahun 1632 (Warganegara, 1975: 17). Minak Paduka anak Minak Semelasem adalah tokoh yang membangun kampung Bumi Agung Marga.


Pada masa Minak Kemala Kota bersemayam di Benteng Sabut, terjadi peristiwa konfrontasi dengan orang-orang Bugis. Ketika itu orang-orang Bugis berkedudukan di Umbul Petay (Petou), sebelah timur Benteng Sabut. Dalam mengatasi peristiwa ini, Minak Kemala Kota minta bantuan Minak Trio Deso, yang juga menantunya yaitu suami putri Bulan. Tampaknya Minak Trio Deso tidak mau meninggalkan peran saudaranya yang lain. Moyang Runjung yang juga menantu Minak Kemala Kota, yaitu suami Namo dilibatkan dalam mengatasi ancaman orang-orang Bugis.


Minak Kemala Kota dengan Runjung mengatur siasat. Di Benteng Sabut dibuat suatu rumah yang bagus. Di dalam rumah tersebut disajikan berbagai macam kue yang lezat. Ketika sudah siap, Runjung minta dipukul. Minak Kemala Kota pura-pura memukul Runjung. Padahal dipukul sebenarnya pelepah pinang. Bersamaan dengan dipukulnya pelepah pinang, Moyang Runjung menceburkan diri di sungai dan menghanyutkan badan sambil berteriak-teriak minta tolong.


Moyang Runjung hanyut hingga di Umbul Petay dan ditolong oleh orang-orang Bugis. Dari Moyang Runjung, Bugis memperoleh keterangan bahwa Minak Kemala Kota dan orang-orang yang berdiam di Benteng Sabut sangat bengis dan tidak mempunyai perikemanusiaan. Oleh karena itu orang-orang di Benteng Sabut pantas diserang. Moyang Runjung bersama-sama orang-orang Bugis menyerang Benteng Sabut. Sesampainya di Benteng Sabut hanya didapati rumah kosong lengkap dengan hidangan.


Mendapati hal itu, orang-orang Bugis mengira bahwa orang-orang Benteng Sabut ketakutan. Orang-orang Bugis kemudian berpesta pora memakan kue yang tersedia di dalam rumah. Karena kekenyangan, seluruh orang Bugis tertidur. Pada saat itulah Minak Kemala Kota, Moyang Runjung, Minak Trio Deso membakar habis orang-orang Bugis.


Anak Minak Kemala Kota yang bernama Tuan Riou Nyembang Luih menurunkan Minak Kemalo Puto, dan selanjutnya menurunkan Minak Sendang Belawan. Minak Sendang Belawan mempunyai lima keturunan, tiga laki-laki dan dua perempuan. Tiga putra laki-laki tersebut adalah Minak Riou Bacau, Minak Riou Mas, dan Minak Temenggung. Pada masa ini pemukiman pindah ke Karta Talang. Ketiga putra Minak Sendang Belawan merencanakan membuka Olok (lubuk = Mel., kedung = Jw) Ibul untuk dijadikan perkampungan. Namun rencana tersebut belum pernah terwujud.

Mengenai tokoh Minak Ratu Guruh Malay, tradisi lisan masyarakat mengatakan bahwa tokoh ini merupakan pendatang. Minak Ratu Guruh Malay datang di Tulangbawang (Bujung Menggalou) pada masa Minak Rio Bacou.[2] Legenda mengenai kedatangan Minak Ratu Guruh Malay dihubungkan dengan beberapa lokasi di sekitar Gunungkatun. Maksud kedatangan Ratu Guruh Malay menemui penguasa Benteng Sabut adalah untuk kilui urik (minta hidup). Penguasa Benteng Sabut (Bujung Menggalou) ketika itu sedang mengail ikan. Minak Ratu Guruh Malay kemudian diajak menyusuri sungai. Sungai itu kemudian disebut Way Nurik. Ketika perjalanan agak jauh Ratu Guruh Malay mengatakan payah. Di lokasi itu terdapat bawang (rawa) yang kemudian dinamakan bawang payah. Dari sini perjalanan kembali ke muara lalu ke arah hilir Way Kiri. Akhirnya Minak Ratu Guruh Malay diberi lokasi di Bujung Malay.


Makam Minak Ratu Guruh Malay berada di Lubuk Lasek, Kampung Pekurun Komering, Lampung Utara. Lokasi makam ini sekarang tergusur proyek Dam Way Rarem, beberapa makam moyang yang ada telah dipindahkan. Keberadaan makam Minak Ratu Guruh Malay berhubungan dengan sebutan Way Rarem oleh masyarakat Abung. Rarem dalam bahasa Lampung berarti hilir. Karena di lokasi itu terdapat makam moyang dari hilir (rarem) maka sungainya disebut Way Rarem yang menunjukkan berada di bawah kekuasaan orang hilir. Oleh masyarakat Tulangbawang, Way Rarem disebut Way Kiri.


Minak Ratu Guruh Malay menurunkan Minak Ratu Joyosurou dan Minak Kemala Adam Gelar Radin Cosingo Diro. Minak Ratu Joyosurou mempunyai keturunan Minak Ratu Junjungan, Junjungan Tegi Nyawou, dan Junjungan Rio Kambang. Dalam kerabat ini terdapat cerita mengenai pindahnya Minak Ratu Junjungan ke Gedongratu.


Pindahnya Minak Ratu Junjungan ke Gedongratu karena ketika akan naik pepadun, adik-adiknya mohon agar Minak Ratu Junjungan mengayau telinga orang untuk persyaratan adat. Namun ketika Minak Ratu Junjungan kembali dengan membawa telinga orang, terdengar bahwa adik-adiknya sudah melaksanakan gawi adat naik pepadun. Minak Ratu Junjungan merasa disisihkan dari keluarganya. Oleh sebab itu Minak Ratu Junjungan tidak mau kembali ke Gunungkatun Malay kemudian membuka pemukiman baru di Bujung Kayu Tabu yang kemudian dinamakan Gedongratu. Minak Ratu Junjungan selanjutnya menurunkan Suku Ruang Tengah di Gedongratu.


Minak Kemala Adam menurunkan Minak Muttah (Marentah) Dibumi. Diceritakan Minak Muttah Dibumi mempunyai tujuh orang prajurit (Pejurit Piteu). Catatan Marwansyah Warganegara (1975: 4) menyebutkan bahwa Pejurit Piteu tersebut adalah prajurit Majapahit yang menetap di Tulangbawang. Pada zaman Palembang diperintah Adipati Aria Damar, banyak prajurit Majapahit yang dikirim ke Palembang untuk memerangi perompak Cina di Sungai Musi. Ketika para prajurit ini ditarik kembali ke Majapahit, sebagian memilih menetap di Tulangbawang (Benteng Sabut, Bujung Menggalou). Prajurit-prajurit ini tidak semuanya berasal dari Majapahit (Jawa Timur) tetapi sebagian berasal dari Melayu Lingga dan Banten.


Lima orang dari ketujuh prajurit diketahui kedudukannya. Prajurit Prajurit Tejang Buwok (Panjang Rambut) berkedudukan di Gunungkatun Malay, Prajurit Macak Padan berkedudukan di Karta, Prajurit Tegi Balang berkedudukan di Negeri Ujungkarang, Prajurit Ngelah Kelah berkedudukan di Sukadana, dan Prajurit Putinggelang berkedudukan di Panaragan. Dua prajurit yang lain yaitu Prajurit Tegi Nyawou dan Prajurit Mas Kecacap belum diketahui berkedudukan di mana.



b. Prajurit Putinggelang

Tokoh Prajurit Putinggelang juga diceritakan sebagai tokoh pendatang di Tulangbawang. Prajurit Putinggelang merupakan salah satu dari tujuh prajurit (pejurit piteu) Majapahit yang menetap di Tulangbawang (Warganegara, 1975: 4). Dalam tradisi lisan masyarakat, Prajurit Putinggelang mempunyai keterkaitan dengan beberapa kerabat. Terhadap masyarakat Buay Bulan, Prajurit Putinggelang berkaitan dengan Minak Muttah Dibumi, sedangkan dengan masyarakat Tegamoan berkaitan dengan Tuan Riou Sanaah. Kedudukan Prajurit Putinggelang sendiri di Panaragan menurunkan Suku Tepuk Gabou, termasuk dalam marga Tegamoan. Suku Tepuk Gabou terdiri dari Bilik Darat yang berkedudukan di Umbul Lebung dan Bilik Way yang berada di Umbul Tulung Sawo Lebou.


Terdapat beberapa peristiwa sejarah/legenda mengenai Prajurit Putinggelang. Kaitannya dengan Minak Muttah Dibumi terdapat dalam cerita mengenai peristiwa Benteng sabut dengan Gunungterang. Cerita tersebut terdapat dua versi yang pada intinya sama.


Satu versi menceritakan bahwa Gunung Terang ketika diperintah oleh Minak Semarakana diserang oleh orang-orang Bugis. Untuk mengatasi hal itu Minak Muttah Dibumi dimintai bantuan. Bersama-sama Prajurit Putinggelang berangkat membantu Gunung Terang. Dalam perjalanan Minak Muttah Dibumi dan Prajurit Putinggelang bertemu Prajurit Tejang Buwok (Prajurit Panjang Rambut). Prajurit Tejang Buwok bermaksud ikut berperang namun ditinggal. Dalam pertempuran Prajurit Putinggelang memegang senjata payan Ramik Tangis.[3] Orang-orang Bugis dapat dikalahkan dan kepalanya dipenggal. Ketika kepalanya akan diambil, kepala tersebut hilang. Prajurit Putinggelang tidak mau pulang tanpa membawa kepala. Sebagai gantinya Prajurit Putinggelang mencari sembilan kepala orang Bugis lainnya.


Versi lain menceritakan peperangan yang berkaitan dengan payan Ramik Tangis adalah peperangan antara Minak Muttah Dibumi dan Prajurit Putinggelang melawan Raja Gunung Terang. Minak Muttah Dibumi dan Prajurit Putinggelang sebelum berangkat perang berikhtiar di Keramat Munggu. Dalam ikhtiar tersebut memperoleh senjata payan Ramik Tangis. Ketika berangkat bertemu dengan Prajurit Tejang Buwok di Keramat Gemol. Prajurit Tejang Buwok karena tidak diajak sakit hati lalu terbang dan tidak kembali. Peperangan melawan Raja Gunung Terang terjadi di depan sesat Gunung Terang. Raja Gunung Terang berhasil ditombak Prajurit Putinggelang dengan payan Ramik Tangis. Ketika kepala Raja Gunung Terang akan dipenggal untuk bukti kemenangan, hilang. Prajurit Putinggelang mendapat ganti seorang putri. Putri tersebut akhirnya tinggal di Panaragan.


Terhadap masyarakat Panaragan (marga Tegamoan), Prajurit Putinggelang diceritakan sebagai anak angkat Tuan Rio Sanaah. Tuan Riou Sanaah mempunyai anak Minak Indah, Minak Raja Ratu, Minak Mekedom, dan Minak Sang Menteri. Tokoh Prajurit Putinggelang dalam tradisi lisan masyarakat Panaragan banyak berhubungan dengan tokoh Minak Indah.



c. Minak Indah

Tokoh Minak Indah bagi masyarakat Panaragan berkaitan erat dengan situs Kramat Gemol. Dalam tradisi lisan Minak Indah mempunyai saudara angkat salah satu diantaranya adalah Prajurit Putinggelang. Selanjutnya masyarakat menceritakan bahwa pernah terjadi perselisihan antara Minak Indah dengan Minak Triodeso dari Abung Siwo Mego. Minak Triodeso sulit mengalahkan Minak Indah karena selain kesaktiannya, persatuan kerabat Minak Indah yang di antaranya meliputi Minak Sang Menteri, Minak Raja Malaka, dan Prajurit Putinggelang sangat kuat. Minak Triodeso dapat mengalahkan Minak Indah setelah mendapat informasi kelemahan Minak Indah dari istri Minak Indah sendiri. Diceritakan bahwa Minak Indah hanya dapat dibunuh dengan menggunakan bambu yang tumbuh di atas gundukan tanah (benteng). Akhirnya Minak Indah dapat dikalahkan dan kepalanya dipenggal lalu dibawa ke Abung untuk dipestakan.


Sumber lain menyebutkan bahwa Minak Indah berselisih dengan Abung Siwo Megou dan Pubian Telu Suku. Perselisihan ini terjadi karena Minak Indah yang merasa sakti menjadi sombong dan melanggar adat. Ketika ada orang yang akan meminang anaknya, Minak Indah mengajukan syarat kepada peminang anaknya harus menyerahkan emas seberat badan gadis yang akan dipinang tersebut.


Minak Indah dapat dikalahkan oleh Minak Naga Ngumbang hulubalang Minak Serappo Kiyo dari Terbanggi. Minak Indah dibunuh dengan menggunakan tombak Subang Gading, Penuang, dan Kayas Ibung Ngelamang Batu. Senjata Kayas Ibung Ngelamang Batu adalah kepunyaan Minak Paduka (Abung Nunyai). Semua orang laki-laki dewasa di Kampung Panaragan habis terbunuh. Anak gadis Minak Indah yang berjumlah tujuh orang diambil oleh orang Kotabumi, Buyut, Surabaya, Mataram, Terbanggi, Bumi Aji, dan Lingai. Perayaan menyambut kemenangan terhadap Minak Indah berlangsung di Kotabumi Tua di pinggir Way Pengubuan. Perayaan ini dihadiri 18 kebuayan. Kedelapan belas kebuayan itu menetapkan bahwa adat Lampung tidak bisa diubah lagi, kecuali ada hal-hal yang di luar ketentuan.


Kebuayan yang menghadiri perayaan tersebut adalah Buay Unyai, Buay Unyi, Buay Subing, Buay Uban, Buay Bulan, Buay Beliyuk, Buay Kunang, Buay Selagai, Buay Anak Tuho, Buay Nyerupai Way Seputih, Suku Meyerakat, Suku Tumbo Pupus, Suku Buku Jadi, Sumbai Perejo, Sumbai Pemuko, Sumbai Bahuga, Sumbai Tegamoan, dan Sumbai Suay Umpu (Soebing, 1988: 22).


O. Agus Chandra dalam artikelnya berjudul “Keramat Gemol Tunggu Perhatian” yang dimuat di harian Lampung Pos, Minggu 20 Februari 2000, menyebutkan bahwa kekalahan Minak Indah menyebabkan Minak Raja Malaka dan Prajurit Putinggelang membalasnya dan berhasil kembali membawa kepala Minak Indah. Kepala tersebut kemudian dimakamkan di dekat benteng yang sekarang dikenal sebagai Keramat Gemol. Diceritakan pula oleh masyarakat, Minak Raja Malaka dan Prajurit Putinggelang sebelum mengambil kepala Minak Indah, terlibat adu kesaktian untuk menentukan siapa yang pantas untuk merebut kepala Minak Indah. Namun ternyata keduanya sama-sama sakti. Akhirnya mereka berdua berangkat mengambil kepala Minak Indah.



Hubungan Fungsional

Tradisi lisan menyatakan bahwa antara Benteng Sabut, Benteng Prajurit Putinggelang, dan Keramat Gemol terdapat hubungan kekerabatan. Antara Minak Kemala Kota dan Minak Indah tidak ada hubungan kekerabatan, namun dengan adanya tokoh Prajurit Putinggelang hubungan kekerabatan tersebut terjalin. Peran Prajurit Putinggelang baik bagi kerabat Minak Kemala Kota maupun kerabat Minak Indah adalah berkaitan dengan masalah pertahanan dan keamanan. Terhadap kerabat Minak Kemala Kota misalnya terlihat dari peristiwa peperangan antara Benteng Sabut dengan Gunung Terang. Sedangkan dengan kerabat Minak Indah kaitannya dengan peperangan untuk mempertahankan kedaulatan Keramat Gemol atas intervensi Abung.


Berkaitan dengan hubungan kekerabatan tampaknya ada korelasi dengan sistem penempatan pemukiman. Untuk mengulas hal tersebut harus dilihat sebagaimana pemukiman dalam tata ruang makro. Pada intinya akan dilihat hubungan antar situs yang meliputi beberapa komunitas. Ada beberapa pokok permasalahan yang perlu diperhatikan dalam mengkaji hubungan antar situs yaitu struktur sosial, ekonomi, dan kemampuan teknologi (Mundardjito, 1990: 23). Hubungan fungsional antar situs terjadi karena adanya pertukaran, baik pertukaran barang maupun informasi. Colin Renfrew dan Paul Bahn (1991: 310) serta Bugie Kusumohartono (1995: 105) mengacu pada Karl Polanyi menyatakan terdapat tiga model pertukaran yaitu reciprocity (timbal balik), redistribution (pembagian kembali), dan market exchange (pertukaran pasar). Pertukaran reciprocity adalah kewajiban memberi dan menerima di antara individu yang berbeda hubungan sosialnya. Pertukaran redistribution berkaitan dengan kewajiban membayarkan barang dan jasa kepada pemuka masyarakat, yang kemudian membagikan sebagian perolehannya untuk kepentingan umum atau hadiah. Sedangkan model market exchange, para pelakunya tidak memiliki ikatan sosial tertentu yang mewajibkan mereka untuk melakukan pertukaran dan dimungkinkan adanya tawar menawar di dalamnya.


Bila diperhatikan dari aspek keletakan geografisnya, antara situs Benteng Sabut, Benteng Prajurit Putinggelang, dan Keramat Gemol dihubungkan oleh suatu sistem aliran sungai. Antara Benteng Sabut dengan Keramat Gemol terhubung oleh Way Kiri yang merupakan prasarana transportasi utama. Benteng Sabut dengan Benteng Prajurit Putinggelang terhubungkan oleh Way Pikuk kemudian dilanjutkan melalui Tulung Pasik. Sedangkan akses yang menyatukan Benteng Prajurit Putinggelang dengan Keramat Gemol adalah Way Gemol. Dari hal itu terlihat adanya pola hubungan yang membentuk “kawasan segitiga”. Benteng Sabut berada pada daerah hulu, Keramat Gemol pada kawasan hilir, sedangkan Benteng Prajurit Putinggelang pada kawasan pedalaman.


Pola semacam itu menunjukkan adanya perencanaan dalam penentuan lokasi pemukiman. Keletakan pemukiman Prajurit Putinggelang di pedalaman sangat beralasan. Bila dikaitkan dengan tradisi lisan penempatan pemukiman Prajurit Putinggelang terlihat ada model pertukaran redistribution. Prajurit Putinggelang sebagai pendatang, memberikan jasa (keprajuritan) kepada penguasa setempat, baik penguasa Sabut maupun Gemol. Dari penguasa Prajurit Putinggelang di antaranya mendapatkan wilayah.


Di wilayah yang dikuasai Prajurit Putinggelang (Umbul Lebung) banyak terdapat lebung ¾ semacam rawa yang dijadikan untuk menjebak ikan ¾ yang merupakan sumber daya penting bagi kehidupan baik di Gemol, Sabut, maupun Umbul Lebung sendiri. Sebagai wilayah penting tentunya tidak dapat diabaikan begitu saja. Pemilihan lokasi pemukiman di wilayah ini dapat berfungsi ganda yaitu bagi keamanan kawasan dan bagi kemudahan dalam pengelolaan wilayah. Dalam hal pengelolaan wilayah tampaknya Prajurit Putinggelang sebagai pemegang hak atas wilayah Lebung. Pemilihan lokasi ini tampaknya merupakan suatu keputusan yang diambil Prajurit Putinggelang sendiri. Hal ini ada kaitannya dengan tidak adanya hubungan antara Gemol dan Sabut. Dengan demikian tidak mungkin bila penentuan lokasi pemukiman Prajurit Putinggelang atas ketentuan dari Sabut atau Gemol, tetapi ada semacam perkenan dari Sabut atau Gemol. Sementara itu Prajurit Putinggelang yang menguasai Umbul Lebung mempunyai hubungan penting baik terhadap Sabut maupun Gemol.


Keadaan kawasan Tulangbawang sebagaimana yang dituturkan tradisi lisan, pernah mengalami masa suram, terutama kawasan pesisir menjadi tempat sarang perompak dan bajak laut dari negeri Cina, Johor, Riau, dan Bugis. Kondisi semacam ini menjadikan masyarakat porak poranda, banyak kampung yang pindah lokasi (Warganegara, 1975: 4). Dikaitkan dengan pola pertahanan terhadap gangguan dari luar, sesuai dengan kondisi pada waktu itu, lokasi Benteng Prajurit Putinggelang di Lebung sangat strategis. Gemol merupakan pertahanan pertama bagi “kawasan segitiga”. Rancangbangun benteng di Gemol menunjukkan bahwa arah ke hilir diperkuat dengan benteng ganda. Dari sini terlihat bahwa bila Gemol mendapat serangan, Lebung dapat dijadikan lokasi alternatif untuk bertahan. Bila gangguan mencapai Sabut, Lebung berfungsi untuk menyusun kekuatan.


Kajian dari sektor ekonomi, dapat dilihat ragam aktivitas masyarakat berdasarkan artefak yang terdapat pada masing-masing situs. Di Gemol artefak yang ditemukan menunjukkan aktivitas kehidupan sehari-hari. Pola matapencaharian memperlihatkan pada sektor bercocok tanam serta budidaya dan perburuan khususnya ikan. Adanya keramik asing menunjukkan sektor perdagangan juga merupakan aktivitas yang sudah maju. Artefak yang ditemukan di Benteng Sabut menunjukkan aktivitas yang sedikit lebih beragam. Di sini indikator aktivitas industri logam ditemukan berupa kerak besi.


Dilihat dari aspek keletakan geografisnya tergambar pola hubungan fungsional dendriticmarket exchange. Menurut asumsi Bennet Bronson, di daerah muara sungai akan ditemui pusat perdagangan. Di wilayah hulu, pada muara di mana sungai induk dimasuki dan ditemui anak sungai, akan ditemukan permukiman tingkat dua dan selanjutnya tingkat tiga. Di daerah paling hulu, di atas bentangan sungai terakhir yang dapat dilalui dengan alat angkutan air, akan ditemukan kelompok peramu yang bermatapencaharian mengumpulkan hasil hutan. Barang-barang komoditi ini disalurkan melalui permukiman tingkat tiga dan dua yang akhirnya sampai ke pusat perdagangan di daerah muara (Miksic, 1984: 10). Dihubungkan dengan pola pertukaran model market exchange dan pola dendritic model Bronson. Model ini menggambarkan pola pemukiman mengikuti aliran sungai, dan membentuk sistem jaringan pertukaran barang model model Bronson, tampak bahwa Gemol berperan sebagai transito. Pemukiman di Sabut dapat dikatakan sebagai pusat pemukiman di “kawasan segitiga”. Dalam hal ini peranan Umbul Lebung dapat sebagai kawasan industri hulu yang berperan menghasilkan barang-barang komoditas hasil hutan dan budidaya baik perkebunan maupun perikanan. Barang-barang komoditas yang dihasilkan Lebung dapat disalurkan ke Sabut atau ke Gemol.



Simpulan

Antara situs Benteng Sabut, Benteng Prajurit Putinggelang, dan Keramat Gemol terdapat hubungan kekerabatan yang dijalin oleh tokoh-tokoh utama (penguasa). Seiring dengan hubungan kekerabatan tersebut antara situs Benteng Sabut, Benteng Prajurit Putinggelang, dan Keramat Gemol terdapat hubungan fungsional yang berkaitan dengan sektor pertahanan dan ekonomi.


Pada sektor pertahanan peranan Benteng Prajurit Putinggelang sebagai lokasi alternatif pertahanan dan menyusun kekuatan bagi keamanan “kawasan segitiga”. Fungsi ini berkaitan dengan posisi penguasa (Prajurit Putinggelang) dalam kekerabatan baik pada kerabat Sabut maupun Gemol. Berkaitan dengan sektor ekonomi, khususnya perdagangan, Gemol sebagai tempat penimbunan barang-barang komoditi bagi “kawasan segitiga”, Sabut sebagai daerah industri dan Lebung (Benteng Prajurit Putinggelang) sebagai daerah industri hulu.



[1] Dalam catatan Marwansyah Warganegara, 1975, “Masyarakat dan Adat Budaya Tulang Bawang”, dinyatakan bahwa Namo (Sinamou) telah memeluk Islam dan dikenal dengan nama Siti Aminah.

[2] Beberapa tokoh masyarakat menyatakan pada masa Minak Kemala Kota.

[3] Senjata tombak (payan) Ramik Tangis sekarang disimpan keluarga Bapak Edi Gelar Pangeran Raja Tunggal (Gunungkatun).




Kepustakaan


Cortesão, Armando

1967 The Suma Oriental of Tomé Pires. Nendelnd iechtenstein: Kraus Reprin Limited.


Hadikusuma, Hilman

1989 Masyarakat dan Adat Budaya Lampung. Bandung: Mandar Maju.


Kusumohartono, Bugie

1995 “Model Pertukaran Pada Masyarakat Nusantara Kuna: Kajian (Pengujian) Arkeologis”. Dalam Manusia Dalam Ruang: Studi Kawasan Dalam Arkeologi. Berkala Arkeologi, Tahun XV, Edisi Khusus, 1995. Yogyakarta: Balai Arkeologi Yogyakarta. Hlm. 105 – 110.


Miksic, John N

1984 “Penganalisaan Wilayah dan Pertumbuhan Kebudayaan Tinggi di Sumatra Selatan”. Dalam Berkala Arkeologi V (1) Maret 1984. Balai Arkeologi Yogyakarta. Hlm. 9 – 24.


Mundardjito

1990 “Metode Penelitian Permukiman Arkeologi”. Dalam Monumen Karya Persembahan Untuk Prof. Dr. R. Soekmono, Lembaran Sastra, Seri Penerbitan Ilmiah No. 11. Edisi Khusus. Depok, Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Hlm. 19 – 31.


Renfrew, Colin and Paul Bahn

1991 Archaeology: Theories, Methods and Practice. London: Thames and Hudson.


Saptono, Nanang

2000 “Pemukiman Pada Masa Awal Islam di Kawasan Way Kiri, Tulangbawang, Lampung”. Dalam Rona Arkeologi: Penampakan Hasil Penelitian dan Pengembangan Arkeologi di Wilayah Jawa Barat, Lampung dan Kalimantan Barat. Bandung: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia. Hlm. 129 – 150.


Sitorus, M, et all.

1996 Integrasi Nasional Suatu Pendekatan Budaya Masyarakat di Lampung. Bandar Lampung: Kanwil Depdikbud Propinsi Lampung.


Soebing, Abdullah A

1988 Kedatuan di Gunung Keratuan di Muara. Jakarta: Karya Unipress.


Sumadio, Bambang

1990 Jaman Kuna, Sejarah Nasional Indonesia II. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.


Warganegara, Marwansyah

1975 “Masyarakat dan Adat Budaya Tulangbawang”.




Catatan:

Tulisan ini diterbitkan di buku “Jelajah Masa Lalu”, halaman 36 – 40. Editor, Dr. Agus Aris Munandar. Bandung: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia Komda Jawa Barat – Banten, 2002.

15 Februari 2008

Cerita rakyat daerah Lampung dari para penutur

DARI KAMI:
Masyarakat Lampung mempunyai banyak cerita yang berkaitan dengan sejarah. Dalam berbagai kesempatan kami mendapatkan cerita yang ditulis oleh para penuturnya. Kami menyadari bahwa cerita tersebut akan banyak versinya sesuai dengan penutur masing-masing. Dengan demikian sangat wajar apabila terjadi perbedaan antara penutur satu dengan penutur lainnya. Perbedaan adalah kekayaan khasanah untuk lebih mengenal Lampung. Tabik pai.



Pertemuan dengan masyarakat Gedong Ratu, Kecamatan Selagai Lingga



SEJARAH ASAL MULA ADAT PEPADUN


Disusun oleh:
SUTAN PUSETES ADAT


Tanjungkarang, 26 Juni 1973




KATA PENDAHULUAN
Hingga sekarang belum ada buku sejarah daerah Lampung yang khusus mengungkapkan asal mula yang mendiami daerah ini. Oleh sebab itu kami memberanikan menyelidiki sampai ke daerah pedalaman guna mencari bahan-bahan sejarah yang dapat kami kumpulkan ala kadarnya untuk dijadikan Sejarah Lampung.

Adapun yang menjadi pedoman ialah bahwa kita rakyat negara yang merdeka harus mengetahui, menginsapi bahwa nenek moyang kita bukan orang yang biadab, bukanlah orang-orang yang masih telanjang, tetapi nenek moyang kita ialah bangsa yang sudah mempunyai peradaban untuk menuju masyarakat yang teratur. Kita harus mengetahui dan menyadari bahwa kita rakyat Indonesia umumnya dan masyarakat Lampung khususnya benar-benar terdiri dari salah satu bangsa yang ada di Indonesia.

Kepercayaan orang-orang Hindu dan Agama Islam yang menjadi penegak kultur kita seharusnya sekarang lebih diketahui oleh pemuda-pemuda kita dari pada di zaman lampau agar mereka menaruh perhatian yang lebih besar kepadanya dan memberikan penghargaan yang sebaik-baiknya karena generasi muda inilah yang akan meneruskan perjuangan dan akan mempertahankan adat istiadat daerah Lampung.

Menurut penjelasan, Islam masuk Lampung pada abad ke-16 M bersama dengan aturan-aturan piagam Gilas istilah siba pepadun. Menghargai permaisuri (kaum wanita) yang dapat larangan cerai atau rimih (lemah) oleh kaum laki-laki.
Maka semenjak itulah wanita dianggap penegak rumah tangga yang dilarang berkeliaran (ngeluyur) kesana kemari.

Sekianlah kata pendahuluan kami dalam sejarah singkat daerah Lampung ini kami bersedia menerima kritik dan sanggahan para pembaca dengan kedua belah tangan terbuka demi untuk melengkapi sejarah Lampung ini terima kasih sebesar-besarnya.


Tanjungkarang, 26 Juni 1973
Wassalam pengarang,


PESAWIK ST. PUSETES ADAT
ASAL – ADAT PEPADUN



Pada abad ke-15 H (? Mungkin M -) ada suatu daerah tak asing lagi dan cukup dikenal oleh penduduk daerah Lampung Utara. Daerah ini dikenal permulaan sejarah ialah Ratu Ampat yang mengepalai tiap-tiap suku atau kelompok besar pada waktu itu. Sekitar daerah Lampung belum dikatakan mempunyai penduduk asli atau dengan kata lain manusia-manusia yang sudah ada peradabannya.

Masing-masing keratuan itu datangnya dari ampat penjuru daerah, yaitu:
1. Ratu Dipuncak berikut anak buahnya datang dari Kerajaan Silah Inderapura
2. Ratu Dipugung berikut anak buahnya datang dari Kerajaan Pagarruyung, Jambi
3. Ratu Dibalau berikut anak buahnya datang dari Kerajaan Sriwijaya, Palembang
4. Ratu Darah Putih berikut anak buahnya datang dari Kerajaan Pejajaran, Jawa Barat.

Menurut keputusan Ratu Ampat mereka sepakat menetapkan adat/peraturan yang harus dipakai mereka masing-masing ialah adat Sebatin (Keturunan) Ratu Tunggal dan harus menggawo ke Sriwijaya dan Pagarruyung masing-masing mendapat Kandang Orang dan Payung Keratuan Warna Putih.

Adapun yang menjadi alat perhubungan waktu itu ialah perahu-perahu dayung kekuting dan kapal kayu, yang terpilih kayu-kayu yang dapat tahan lama dengan air. Oleh sebab itu yang menjadi hubungan lalu-lintas diutamakan air sungai. Dengan demikian mereka terus menetapkan pembagian daerah masing-masing untuk dijadikan daerah kekuasaan atau wilayah keratuan:
1. Ratu Dipuncak menurut air Way Abung dan sekitarnya
2. Ratu Dipugung menurut air Way Komering
3. Ratu Dibalau menurut air Way Pubiyan/Sekampung
4. Ratu Darah Putih menurut air Way Semangka/dan daerah Pesisir.

Setelah pembagian daerah tersebut mengusulkan pula ketetapan yang diikrarkan bersama yaitu:
1. Daerah : Daerah Lampung
2. Bahasa : Bahasa Lampung
3. Tulisan : Tulisan Lampung
4. Adat : Adat Lampung (Sebatin)

Menjelang perpisahan mereka makan bersama dan mandi bersama serta mereka menangkap seekor penyu yang sangat besar berwarna putih yang berada di lubuk pancuran way dari Gunung Pesagi (Bukit Pesagi).

Sebagai tanda perpisahan penyu tersebut dagingnya dimasak untuk dimakan mereka dan kulitnya dijadikan kekuhan / tong-tong yang dibunyikan setelah mereka berangkat meninggalkan tempat perpisahan sebagai tanda persatuan. Setelah merek berangkat menuju daerah yang telah ditetapkan dan diiringi oleh anak buahnya masing-masing keratuan serta membawa alat-alat keratuan yang telah mereka peroleh dari Magau.

Maka di pihak Ratu Dipuncak memilih tempat di Canguk pinggir Way Abung di dekat Kampung Sekipi daerah Tanjung Raja sekarang. Pada abad ke-16 M di zaman cucu Ratu Dipuncak suasana bertambah banyak penduduk yang datang dari daerah lain misalnya dari Kerajaan Pagarruyung, Silah Indrapura, dan Kerajaan Sriwijaya. Kebanyakan dari mereka yang datang menjadi tamu pihak Ratu Dipuncak. Mereka yang datang ini mendapat instruksi dari keluarga Nunyai pihak Ratu Dipuncak harus mematuhi semua adat peraturan yang telah berlaku daerah setempat. Di antara mereka yang datang dari pihak Beliyuk dan Selagai dari Kerajaan Langkat, tidak mau mematuhi semua peraturan dari pihak Nunyai dan kawan-kawannya. Malahan mereka bertindak sendiri seakan-akan menandingi keratuan Nunyai tersebut. Oleh sebab itu pihak Nunyai merasa tersinggung di daerahnya sudah ada yang akan mendirikan kekuasaan keratuan. Juga ia mendapat cerita dari penyelidikan secara resmi bahwa Beliyuk dan Selagai sudah menggawo ke Pagarruyung dan mendapat dendan penganggu (pakaian keratuan).
1. Payung Keratuan warna putih
2. Kendang Ralang warna putih
3. Awan telapah warna putih

Maka pihak Nunyai, Unyi, Subing, dan Nuban mupakat dengan anggota lain juga yaitu Kunang, Anak Tuha, Nyerupa, Buku Jadi, Tambapupus dan Masyarakat merampas dendan penganggu kepunyaan Beliyuk dan Selagai yang berasal dari Kerajaan Langkat merasa tersinggung. Mereka tidak akan memberikannya, malahan mereka memberikan tantangan yang dipelopori oleh Raja Segulung alias Kuwau. Musuh yang terkenal banyak mujizat / ilmu kebatinannya. Bahwa ia akan mempertahankannya samapai di mana saja dan apa saja yang akan terjadi: sebab kita sama-sama pendatang, kamu datang di zaman nenek, kami datang di zaman bapak.

Karena mereka sama-sama ingin mempertahankan kekayaan masing-masing maka terjadilah pertempuran yang terkenal sangat dahsyat di daerah Abung. Memang sakti sama sakti, tetapi pihak Nunyai orangnya lebih banyak maka barang pakaian yang didapat pihak Beliyuk Magau dapat dirampas dan dibawa oleh Nunyai ke tempat Nunyai.

Tetapi Riu Segulung terus memburunya sampai ke dalam istana Nunyai. Tetapi tidak diduga ia tertipu sehingga tidak dapat keluar lagi karenanya masuk daerah larangan pintu tertutup. Perang masih berjalan terus dan dikomandokan oleh pe......a (?) dan kawan-kawannya di daerah Gilas, Way Pisang. Kebetulan pada waktu itu pertempuran ada dua tempat yaitu:

I. Di sekitar Way Tulang Bawang Tegamoan dan pengikutnya melawan kerajaan Tulang Bawang Menggala daerah Rantau Tejang.

II. Sepanjang Way Pisang pihak Beliyuk dan Selagai diserbu pihak
1. Nunyai
2. Nubang
3. Unyi
4. Subing
5. Anak Tuha
6. Nyerupa
7. Kunang
8. Bungku Jadi
9. Tambapupus, dan
10. Masyarakat.

Pada saat ini kerajaan Tulang Bawang merasa lemah maka ia memberi laporan atau minta bantuan dengan Maulana Hasannuddin dari Banten. Oleh beliau diutus hulubalang serta berpuluh-puluh prajurit lainnya yang dikepalai oleh Damai (nama samaran).

Mereka masuk dari muara Way Tulang Bawang yang menjadi daerah pertempuran. Setelah sampai di daerah Rantau Tejang memang kedapatan kapal dari Kerajaan Tulang Bawang Menggala sudah karam/tenggelam dan rakyatnya sudah beratus-ratus yang mati. Maka oleh Damai diperintahkan berhenti perang kepada kedua belah pihak, karena saya diutus oleh Sultan Banten membawa perdamaiannya. Itu Islam yang mengatur manusia di muka bumi.

Oleh pihak Tegamoan dia minta mukjizat keberanian dari Damai untuk memberhentikan peperangan. Oleh Damai diberi peremek balung, yaitu satu ilmu untuk melemahkan lawan. Sehingga semua anggota mereka merasa tidak berdaya baru mereka menyatakan tunduk dengan perintah Damai yang bersendikan Agama Islam. Seketika saja seluruh daerah Way Tulang Bawang aman kembali. Maka Damai memerintahkan sebahagian prajurit yang menjadi pengiringnya untuk kembali ke Banten, karena pandangannya tidak perlu, keadaan Lampung telah aman.

Kecuali Damai dan Ubai akan meneruskan perjalanan ke daerah pedalaman Abung. Menurut kabar yang diterima di sana ada keributan perlu diamankan juga. Ketika mereka sampai di daerah Sungkai mereka bertemu dengan kepala-kepala kebuayan Sungkai yang menerangkan bahwa ada pertempuran di daerah Way Kanan sepanjang Way Pisang di Gilas. Pertempuran tersebut antara Abung Nunyai dengan kawan-kawannya menyerbu pihak Beliyuk dan Selagai. Lebih jelas mereka menunjuk Putih untuk berbicara langsung dengan Damai yang sengaja Putih mereka sembunyikan karena takut mendapat sasaran dari serangan Nunyai dan kawan-kawannya.

Ketika itu Putih terus menghadap Damai minta pertulungan dengan sepenuhnya karena Kerajaan Beliyuk telah dirampas dan orangnya mereka tahan dan dibunuh. Sehingga mereka bertindak sewenang-wenang menurut kemauan mereka sendiri maka selesai wawancara Damai dan Ubai menuju daerah pertempuran. Damai memerintahkan berhenti peperangan tetapi pihak Nunyai merasa dirinya kuat dan tidak mempedulikan semua perintah Damai maka terpaksa Damai dan Ubai turun tangan memasuki kancah pertempuran yang sedang berkecamuk. Komando perang pihak Beliyuk dipimpinj langsung oleh Damai untuk menekan yang merasa dirinya menang dan gagah ketika itu.

Baru beberapa hari pertempuran berjalan, banyak hulu balang dan rakyat pihak Nunyai ditahan oleh Damai. Beliyuk dan tidak dapat bergerak semua tulang-tulang mereka jadi sakit seperti orang kena penyakit lumpuh. Semua mereka yang sudah ditahan dikumpulkan sepanjang pinggir Way Pisang sehingga mereka tersebut memenuhi Tuju Rantau. Terpaksa mereka mundur banyak yang getu melawan kesaktian Damai. Maka hulu balang pihak Bungkujadi merobah siasat. Mereka membalik melemparkan membantu makanan yang sudah masuk di tempat pertempuran pihak Damai dan kawan-kawannya. Karena kejadian tersebut maka pihak Damai menyelidiki latar belakang yang memberi bantuan makanan dengan Beliyuk. Setelah penyelidikan dilakukan ternyata dari Bungkujadi yang memberi bantuan sehingga hulu balangnya memberikan penjelasan dengan selengkapnya. Maka di waktu diadakan perjanjian Sai dengan perjanjian satu pihak Nunyai semakin terdesak dan rakyatnya sudah penuh 7 (tujuh) rantau sepanjang Way Pisang. Maka Nunyai dan kawan-kawannya menjadi penuh karena menderita kekalahan. Oleh sebab itu mereka memajukan usul perdamaian dengan syarat-syarat sebagai berikut.
  1. Nunyai akan mengakui Keratuan Beliyuk serta semua tawanan-tawanan pimpinan Beliyuk, Riu Segulung alias Kuwau serta pengikutnya akan dikembalikan
  2. Nunyai akan memberi putri untuk diistrikan oleh Damai dari hulu balang Beliyuk serta diberi tanah keratuan di daerah Gilas
  3. Nunyai minta telinga manusia yaitu telinga tawanan-tawanan Beliyuk sebanyak 7 (tujuh) dulang gono surat perdamaian yang akan diresmikan kemudian. Isi perjanjian:
  • (1). Ia bersedia menyerahkan semua tawanan yang didapat dalam pertempuran sebanyak 7 (tujuh) rantau, dengan sehat bukan sekedar telinganya saja
  • (2). Mulai sekarang semua kebuayan daerah Lampung harus tunduk peraturan Sultan Banten dengan syarat selalu datang menghadap minta pepadun yang menghargai kaum isteri wanita sebagai permaisuri tidak dapat dicerai haknya keratuan, maka sering disebut isinuwo.
  • (3). Gawi Irau atau pejaan perkawinan Damai dengan disaksikan tiap-tiap kebuayan yang terlibat dalam pertempuran, serta yang ikut dan taat dengan Sultan Banten.
Maka berjalan Piagam Gilas yang dihadiri antara lain:
1. Nuban
2. Nunyai
3. Unyi
4. Subing
5. Kunang
6. Anak Tuha
7. Nyerupa
8. Beliyuk
9. Selagai
10. Bungkujadi
11. Manyarakat
12. Tambapupus

Yang tetap mengadakan keputusan-keputusan dengan jalan carem (mupakat) dan disaksikan oleh 12 kebuayan lainnya yaitu:
a. Tulang Bawang 4 (empat) kebuayan
b. Way Kanan 5 (lima) kebuayan
c. Way Sungkai 3 (tiga) kebuayan.

Mereka juga 12 kebuayan. Maka jumlah seluruhnya 12 + 12 = 24 kebuayan sudah sama-sama mengikrarkan akan siba ke Banten. Mulai saat itulah penterapan pangkal tolak semua kebuayan diberi kekuasaan kerajaan. Adat memakai pengakuk pak likur (24) tiap-tiap kebuayan.

Kecuali Beliyuk dobel dari pak likur menjadi pak likur dawo (48) karena ia memegang perdamaian. Kejadian ini kira-kira tahun 1560 s.d. 1570 M. Antara lain isi keputusan tersebut:
  1. Adat siba ke Sultan yaitu pepadun, meningkatkan derajat kaum wanita yang dikenal istilah salah lanang lanang maru. Salah wadun lanang maru. Karena waktu itu perempuan sangat lemah dianggap remeh oleh kaum laki-laki sebentar-sebentar diambil, sebentar-sebentar dicerai sebagai permainan laki-laki tidak mempunyai harga dianggap makhluk hina pada masa itu.
  2. Tiap-tiap kebuayan diberi alat-alat kerajaan masing-masing kecuali pepadun yang jadi ikutan adat, harus siba ke Banten tidak dibolehkan mengambil dari kebuayan lain sebagai podemin adat baru dianggap penuh kerajaannya.
  3. Hukum adat terdiri dari 8 selir, 4 tajui, cepalo 12 untuk menjaga tata tertib adat kemudian menyusul peraturan-peraturan adat pepadun yang diputuskan oleh 12 kebuayan dengan carem (mupakat)
  4. Pekerjaan manusia-manusia adat Lampung / penyimbang-penyimbang pepadun diajaibkan adat titi-Gemati supaya nemah kebuayan:
  • a. Gadis dan bujang / gadis / nguten nyerah ngasah. Maka menjadi/bujang/ gadis/bumi/pepadun atau disebut penganggik.
  • b. Perkawinan gadis ngejuk/bubai/diulah oleh kebuayan namanya Riu/ kampung. 3. Keluarga sendiri, 4. Jalan sendiri/nyekak.
Perkawinan bujang mengambil (ngakuk).
1. Diulah kebuayan ngekuruk turun mandi,
2. Kampung ngakuruk saja,
3. Perkawinan biasa selaku Lampung jajar.
  • c. Setelah tua anak meningkat pegawo bumi (pengeran) maka ia mepahau/penyembahan, baru naik pepadun namanya Sutan.
  • d. Meninggal dunia diadakan perayaan selawat. Sereno bumi. Nuwo dan Nambok orang tuanya yang sudah meninggal. Maka tiap-tiap penyimbang yang sudah diakui ia syah oleh kubuayan diharuskan tiap-tiap meliwati dari a s.d. tersebut di atas mengadakan perayaan potong kerbau, cangget gawi mengundang kebuayan-kebuayan yaitu namanya nemok dan diberi makan/minum serta diberi oleh-oleh. Setelah kembali ke tempat masing-masing membagi dau adat.
Bila sampai tiga turun menurun (tayuk umpu) tidak pernah mengundang atau cangget dengan kebuayan maka kepenyimbangannya lemah. Maka disebut Lampung jajar. Setelah selesai gawi perdamaian Piagam Gilas perayaan perkawinan Damai dengan putri Nunyai. Maka nama Damai diubah menjadi Minak Belanang Damai.

Semua peraturan-peraturan yang akan diterapkan, mulai diulah oleh 12 kebuayan. Suasana aman dan tenteram maka pihak Beliyuk terdiri Minak Belanang Damai, Ubai, dan Pemuka terus menuju Bungkujadi di pinggir Way Sekampung meneruskan perjanjian yang sudah dirintis oleh hulu balang Raja Asuk Abung Perebo dan prajurit Nilem Dilem yang meresmikan muwari/saudara Beliyuk dengan Bungkujadi, di Way Sekampung di pinggir pekon ...... Nenyukken tebing nyerah apali hidup menjatuhkan batu di sungai sebagai Sumpah Beliyuk dan Bungkujadi.

Minak Belanang Damai tidak lama di Lampung karena dapat pindahan Beliyuk baru mempunyai seorang anak laki-laki yang bernama Minak Riu Natal. Kelemahan Beliyuk sudah diketahui yaitu berpantangan. Malawan perang tahu (orang sudah tua keno patik) menjadikan Beliyuk lemah lunglai tidak berdaya. Kebocoran rahasia ini oleh Beliyuk sendiri dengan isterinya yang asal dari putri Nunyai ibu dari anaknya Minak Riu Natal. Karena suatu ketika mereka berupberolan, sengaja atau tidak sengaja isterinya bertanya serta membujuk rayu suaminya yang gagah perkasa tidak dapat dilawan oleh musuh pada waktu itu. Maka Minak Belanang Damai mengungkapkan rahasia kesaktiannya tidak dapat berhadapan atau melawan/dipegang oleh orang tua keno perang (patik orang tua) itulah yang dapat mengusir aku dalam peperangan. Rupanya isteri beliau walaupun sudah isteri dengan Minak Belanang Damai tetapi masih ingat dengan asal keluarganya dari Nunyai. Maka isteri beliau itulah yang memberi laporan kepada pihak saudara-saudara Nunyai.

Setelah pihak Nunyai mendapat keterangan-keterangan yang boleh mengalahkan Minak Belanang Damai maka Nunyai tanpa kompromi lagi dengan kebuayan lain ia memerintahkan anak buahnya sendiri menyerang ke tempat Minak Belanang Damai pagi-pagi buta. Pasukan dari Nunyai sudah datang menyerbu dan mereka membawa orang yang kena parang tua, ditutup dengan sarau di depan rumah Minak Belanang Damai. Beliyuk baru bangun dari tidur sudah ditantang oleh musuh dan Beliyuk berkata dengan keras lebih dari kalian dapat saya kalahkan. Karena Beliyuk tidak menduga bahwa ada parang tua. Maka Beliyuk nyapang parang tua Beliyuk terkejut sehingga senjata Beliyuk terlepas dari tangannya dan Beliyuk seperti asap beterbang ke angkasa dan hilang lenyap dari pandangan musuh.

Senjata Beliyuk yang tertinggal itu dipungut oleh musuh dan diserahkan kepada pihak Nunyai. Senjata itulah Beliyuk kehilangan hulu balang yang ditakuti oleh lawan. Maka kerajaan Beliyuk dirampas kembali oleh Nunyai tetapi mendapat tantangan dari Bungkujadi ia akan mempertahankan dengan Sultan Banten. Bila ia tidak patuh dengan Piagam Gilas dan berikut kebuayan turut menentang pula tindakan Nunyai sehingga ia terpaksa tunduk dengan keputusan kebuayan. Oleh sebab itu ia haruskan turut siba ke Banten untuk mendapatkan alat-alat pepadun dan dendan penganggu lainnya, bila tidak ia akan disingkirkan dari adat pepadun. Maka kemenangan pihak Nunyai tidak berhasil sebab semua kebuayan lainnya tidak mau mengakuinya.

Setelah Minak Riu Natal anak dari Minak Belanang Damai menginjak di sana maka senjata ayahnya diserahkan oleh pihak Nunyai kepadanya untuk dijadikan pusaka turun temurun cucu beliau. Senjata tersebut dikagumi oleh penduduk sekitarnya sampai saat ini masih memberikan mukjizat kepada masyarakat karena sering mengeluarkan/menunjukkan bukti-bukti kesaktian atau di luar kebiasaan tidak dapat diterima oleh akal manusia biasa.

Demikian keadaan daerah Lampung pada abad ke-15 – 16 M yang telah lalu berarti sekitar 450 tahun yang lampau. Setelah abad ke-17 selesai seluruhnya tiap-tiap kebuayan siba papadun yang menjadi pedamen adat atau dengan kata lain istilah bumi tempat adat berpicak seperti diuraikan di atas. Tetapi ketika itu kerajaan Banten telah dikuasai oleh Kompeni Belanda menjadi kota Banten. Maka di Lampung huru hara / tidak aman karena banyak ditatangi rempah besar-besaran baik harta atau jiwa manusia yang terkenal dengan nama Bajao atau politik penjajahan Belanda dan Inggris. Oleh sebab itu selama abad ke-18 – 19 mempertahankan diri tidak mau dijajah Belanda dan Inggris. Sehingga sekarang masih banyak menunjukkan fakta/bukti gigihnya perlawanan penduduk Lampung antara lain terhadap bekas-bekas senjata mariem dan pertahanan di sekeliling desa yang disebut pegiki (siring besar keliling kampung untuk menahan musuh).

Karena Belanda mengadakan serangan-serangan dari darat dan laut maka terpaksa rakyat Lampung menjadi lemah baik moril ataupun materiel, karena diblokade seluruhnya. Sebagai bahan perbandingan baiklah kita bayangkan kejadian yang baru lalu yaitu peperangan di Lampung lebih kurang 8 (delapan) tahun lamanya yaitu dari tahun 1942 s.d. 1950 baru kira-kira 30 tahun yang lalu dapat kita tanyakan pada diri kita sendiri yang sudah ikut berjuang zaman Jepang sampai alam merdeka kebanyakan rakyat Lampung menderita mati kelaparan dan sulit pakaian sampai memakai karung atau gakap yaitu kulit kayu kibang dan memakai lampu dari damar getah kayu kayung atau meranti.

Banyak pula orang tua sampai membuang anaknya sebaliknya anak membuang orang tua sendiri dikarenakan kesulitan yang luar biasa karena tekanan musuh sehingga hancurlah akhlak Lampung yang terkenal tinggi. Apalagi di abad ke-18 – 19 keadaan begitu lama hampir terjerumus menjadi orang hutan (kubu) karena sudah beranak cucu tidak bebas, merembet pula dengan adat aturan yang sengaja dikacaukan musuh.

Mulai pertengahan abad ke-19 M kompeni Belanda telah menduduki Telukbetung oleh sebab itu, Subing mengambil garis kebijaksanaan untuk meneramkan di daerah Abung/Seputih perlu mengadakan setiap kedua kompeni Belanda di Gunung Sugih untuk mengamankan seluruh perampokan-perampokan yang diadakan oleh bajau-bajau di sekitar daerah Abung/Seputih. Setelah keamanan terjamin maka penduduk membangun kembali baik moril maupun materiil begitupun adat dan aturan yang hampir hilang di masa bajau beroperasi. Sedang pengambilan adat asli belum pulih kembali masih terhalang oleh kompeni Belanda pada saat itu.

Ketika masuk abad ke-20 maka terjadi perang dunia I dan II terus melepaskan diri dari penjajahan. Pada tanggal 17 Agustus 1945 kita memproklamirkan kemerdekaan seluruh bangsa dan satu tanah air Indonesia dari Sabang sampai Merauke menjadi satu bangsa dan satu tanah air Indonesia dengan istilah Bhineka Tunggal Ika walaupun berbeda-beda tetap satu juga.

Demikianlah keterangan yang saya kumpulkan secara singkat ala kadarnya yang saya ketahui sampai tahun 1950 atau 23 tahun yang lalu dan saya mohon kebijaksanaan para pembaca yang telah mengerti akan sejarah untuk dapat memberikan sokongan keterangan agar dapat memperhalus kata-kata dapat lebih menaruh perhatian dan ilmu anak-anak kita di masa yang akan datang. Atas perhatian para pembaca tidak lupa pengarang ucapkan terima kasih.


PENJELASAN PENUTUP
  1. Riwayat Damai didapat dari tambu/babak orang-orang tua yang sudah lanjut umurnya. Masa itu yang saya terima sekitar tahun 1935 s.d 1942 antara lain: a) Raja Sebuai, b) Radin Muhammad, c) Hi. Muhammad ..., d) Pasirah Ratu, dan e) Kemala Semarga. Kesemuanya asli keturunan dari Damai tambahan pula semasa saya lagi duduk di bangku Sekolah Verlegs hool klas terakhir. Orang tua saya sendiri pernah memberi keterangan secara terperinci tentang asal-usul keturunan kami dari Sultan Banten. Sudah mencapai sebelas keturunan serta memperlihatkan buku sejarah yang ditulis dengan surat Lampung di atas kulit kayu alim. Merupakan buku sejarah dengan amanatnya harus dirahasiakan tidak boleh orang lain tahu tetapi buku tersebut saya simpan berikut biseluit beliau menjadi Penghulu Kampung Banjar Ratu, menjabat selama 22 (dua puluh dua) tahun kesemuanya saya simpan di dalam peti besi ditaruh dalam rumah kami Kampung Banjar Ratu. Maka pada tahun 1949 terjadi penggeledahan oleh Macan Loreng tentara Belanda agresi kedua diambil mereka turut peti besi tersebut.
  2. Pada waktu itu tahun 1970 saya bersama dengan Muhammad Hasan Gelar Sutan Pengeran Sangun Ratu mengunjungi pemuka-pemuka rakyat Bungkukjadi minta bahan/hadat dan sebab musabab menjadi saudara Beliyuk dengan Bungkukjadi, yang sampai saat ini masih dipatuhi kedua belah pihak antara lain memberi penjelasan.
  3. Mengenai a) Pangiran Dipuncak, b) Pangiran Siwo Gilas, dan c) Sutan Perdana Raja masa dan waktu kejadian-kejadian saya petik dari buku Sejarah Indonesia I karangan Hindu Haryu Suwitu, dan Sejarah Indonesia II karangan Anwar Sanusi dan Sejarah Indonesia I suindura pelajaran SMA N, serta tingginya Gunung Pesagi 2.232 m dari buku Ilmu Bumi Propinsi Lampung karangan R. Adam Basati tahun 1965 mengutip dari panggih-panggih kekuasaan-kekuasaan yang dipakai waktu cangget yang merupakan bentuk asli dan pengumpulan.
  4. Data-data dari tokoh-tokoh adat sejarah Pepadun.
  5. Pada tahun 1973 maka terpikir oleh saya semua keterangan-keterangan yang saya ketahui harus dibukukan serta mendapat bahan-bahan salinan antara lain: a. Muhammad Hasan Gelar Sutan Pengeran Sangun Ratu, Tanjung Ratu alias Beliyuk. b. Samsuddin Usman gelar Sutan Sepahit Lidah, Blambangan Pager buay Nunyai c. Tuan Besar Buay Bara Sakti, Way Kanan
  6. d. Muhammad Saleh Kertajaya, buay Pemuka Way Kanan, e. Dilambung gelar Pengeran Pesirah Mega, Karta buay Bulan Udik
  7. Akhir kata menurut pendapat pengarang secara logika/ilmiah bahwa kemungkinan nama samaran Damai adalah Sutan Banten Hasannuddin sendiri dengan alasan: a. Damai nikah dengan putri Nunyai Indrapura, b. Damai mendapat daerah Gilas (Lampung Utara, Way Kanan), c. Damai menetapkan adat pepadun waktu Piagam Gilas. Hasannuddin larang menanamkan kekuasaannya di Lampung dengan bukti sampai saat ini (tahun 1973) masih tetap adat pepadun ditaati dan diagungkan. d. Damai tidak ada makam/kuburan karena sewaktu beliau hampir tewas oleh serangan musuh ia menghilang dan tidak ada seorang pun yang mengetahui karena perginya sedang senjatanya tinggal menjadi barasan sampai saat ini. e. Riwayat Damai diambil dari tambu/baban orang tua. Riwayat Maulana Hasannuddin diambil dari Sejarah Nasional tersebut di atas.
Sekianlah kami serahkan pendapat pembaca untuk menilai yang sebenarnya. Terima kasih.







SEJARAH/CERITERA WAKTU SIBA KE BANTEN MENDAPATKAN HADIYAH LAWANG KORI (PINTU GERBANG) YANG ADA SEKARANG INI DI KAMPUNG GEDONGWANI



Lawang Kori yang ada di Gedongwani


Untuk pertama-tama mengambil kesimpulan waktu siba ke Banten Pulau Jawa sebagai berikut: Tahun 1526 Penglima Tentara Demak nama Syarif Hidayat Patillah alias Sunan Gunung Jati alias Toh Abu menduduki Sunda Kelapa terputuslah hubungan dengan Portugis dan Raja Sunda. Tahun 1528 Hidayat Fathillah diterima dengan baik oleh Minak Raja Jalan Batu kepala Kedatuan Pugung di Meninting (sekarang dalam Kecamatan Jabung).

Hidayat Pataillah dikawinkan oleh Ratu Pugung dengan putrinya bernama Putri Sinar Alam. Tahun 1530 Hidayat Fathillah ditetapkan sebagai Sultan Banten oleh pemerintahan Demak untuk dapat menguasai kota-kota dan pelabuhan-pelabuhan di Pantai Jawa Barat. Lebih kurang tahun 1532 maka Sultan Banten (Hidayat Fathillah) mengadakan penyebaran-penyebaran di seluruh daerah Lampung memerintah siba (menghadap) beliau ke Banten.

Maka sampailah kabar itu kepada Buay Selagai di Abung Kotabumi (Lampung Utara) sekarang, yang kampung waktu itu bernama Gedung Kuripan yang terletak sekarang ini di perbatasan Kecamatan Padang Ratu dan Kecamatan Kotabumi, Lampung Utara. Dengan keputusan musyawarah sekeluarga besar pada masa tersebut pada waktu itu ialah bernama Ratudinata, untuk menghadap siba ke Banten.

Setelah itu Ratudinata dengan beberapa anak buahnya mempersiapkan perbekalan, perahu atau rakit untuk pergi berlayar menghadap Sultan Banten di Jawa. Mula-mula berangkat berlayar dari Way Cagem terus menuju laut, setelah sampai di tengah laut, dihalang-halangi oleh bajak laut yang maksudnya hendak merampok. Sebelum mereka sampai di perahu/di rakit Ratudinata, beliau sudah mengetahui kira-kira maksud bajak laut yang tidak baik itu, oleh beliau Ratudinata mengajari anak buahnya cara-cara tanya jawab menghadapi bajak laut sebagai berikut:
1. Bila ditanya nanti siapa juragan perahu, harus dijawab: Raden Tabu.
2. Siapa anak buahnya, dijawab: Selamat, Datang, Balik, Baghang.
3. Apa muatan perahu, dijawab: Kemiri, Tenggalung, Rotan, Penjalin.
4. Sudah tahu peraturan berlayar, dijawab: Ada angin berlayar, tidak ada angin berlabuh.

Maka setelah diajari sedemikian itu Ratudinata pergi tidur dalam kelambu sehingga tidak lama kemudian sampailah rombongan bajak laut mendekati perahu Ratudinata, dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti tersebut di atas. Oleh karena mendengar jawaban-jawaban yang diucapkan oleh anak buah Ratudinata dengan secara tegas, apa-apa yang telah diajari oleh Ratudinata, maka dengan itu pula tanggapan bajak laut disangka perahu/rakit Ratudinata itu, adalah rombongan bajak laut pula.

Justru itu bajak laut jahanam mundurlah berangsur-angsur menjauhi perahu Ratudinata. Selamatlah perjalanan perahu itu untuk meneruskan perjalanan siba dan sampailah di pelabuhan Banten dengan selamat. Ratudinata dan anak buahnya meneruskan perjalanan untuk menghadap ke Sultan Banten dengan dikawal oleh pengawal-pengawal beliau dan setelah sampai kepada beliau Sultan Banten, Ratudinata ditanya oleh Sultan Banten, anak dari mana? dan dijawab oleh Ratudinata: “Saya dari Lampung Kampung Gedung Kuripan”. Maka kata Sultan Banten: “Jelma Lampung gedung iyuak wani”

Maka di dalam hati Ratudinata sebagai hasil pertama direncanakan sepulangnya dari siba ini, kita akan merubah nama Kampung Gedung Kuripan menjadi “Gedung Wani”. Selama lebih kurang satu bulan di Banten Ratudinata diangkat menjadi anak dan diberi nama oleh beliau “Raden Cakradinata” (Pangeran Cakradinata). makam/ keramat beliau ini sekarang ada di Kampung Gedungwani. Selama beliau berada di Banten, diajarkan suatu ilmu pengetahuan, pertanian, perdagangan, peternakan, dan lain-lain ialah syahadat yang berbunyi “Asyhadualla ila haillallah Muhammad ... maka setelah mendapat ilmu tersebut Raden Cakradinata mohon izin akan kembali ke Lampung.

Setelah Raden Cakradinata akan berangkat ke Lampung, oleh beliau Sultan Banten sebagai tanda pengakuan anak angkat beliau diberi sebuah Pintu Gerbang atau Lawang Kori yang sekarang masih berada di Kampung Gedungwani. Maka di dalam perjalanan pulang ke Lampung beliau Raden Cakradinata di tengah laut dihalangi oleh ular besar perahu beliau, maka untuk mencoba ilmu yang dari Sultan Banten oleh beliau dibacakan syahadat dan kulhu wallah .............., maka ular tersebut dipegangnya menjadi tumbak yang istilah Lampung PAYAN ULAR, yang sekarang barang ini masih ada. Setelah itu beliau meneruskan perjalanannya pulang menuju muara Way Ghaghem, akan tetapi oleh angin muara tersebut masuk muara Way Sekampung dengan maksud menuju Abung Kotabumi, akan tetapi masuk di hilir Tegineneng dihalangi air terjun, terpaksa tidak dapat meneruskan perjalanan sehingga mundur dari situ lebih kurang 3 km dan mencoba membuat kampung sementara yang sekarang tempat tersebut adalah LIMAU SAGHAKAN, kira-kira di daerah Pancur sekarang ini.

Setelah berusaha mengadakan pertanian, perkebunan di tempat tersebut tanahnya tandus tidak subur, tanah kerikil dan batu. Maka oleh Raden Cakradinata (Pn. Cakradinata) setelah berusaha lebih kurang 3 tahun mundur kembali ke arah perbatasan Kecamatan Jabung sekarang yang di daerah itu diberi nama Gedungwani, karena lebih kurang 50 tahun berusaha perkebunan, pertanian tanah tersebut tidak cocok dengan perkebunan lada, karena tanah pasir dapat ditanami padi saja. Sehingga terpaksa pindah lagi lebih kurang 4 km dan terus membikin kampung lagi kembali yang sampai sekarang diberi nama Gedungwani, dan cocok perkebunan lada, kopi, dan lain-lain walaupun ada pergeserannya tetapi masih di daerah Gedungwani.

Setelah diketahui penduduk dari Abung datang dari siba di Banten berangsur-angsurlah pindah ke Gedungwani yang ada sekarang ini, Kampung Negeri Katen dan Kampung Nyampir. Selama Lawang Kori berada di Kampung Gedungwani dipakai menurut acara adat Lampung sebagai berikut:
1. Kalau mendapat menantu baru dan perayaan secara adat, dan sekurang-kurangnya memotong kerbau, maka Lawang kori tersebut dihiasi dan pintunya dibuka untuk dilewati menantu tersebut.
2. Bila mendapat menantu laki-laki dan melaksanakan acara adat atau sujud (menantu laki-laki mendatangi rumah mertua) pertama-tama dihiasi pula untuk dilewati menantu laki-laki.
3. Hampir tiap-tiap tahun didatangi oleh mahasiswa dari Jawa, luar Jawa, dan pernah pula didatangi pula wakil Panglima dari Daerah Sumatera Selatan Palembang Letkol Herlian bersama Ir. Indera Cahaya pada tahun 1957.
4. Pernah pula didatangi oleh turis Jerman Barat tahun 1953 pada waktu itu Wedana Sukadana Ratu Pengadilan.
5. Pada masa Kolonial Belanda, Lawang Kori tersebut pernah akan dibeli dengan harga sangat mahal, namun oleh Datuk-Datuk pada waktu itu tidak dibolehkan, dan bila tuan memaksa saja akan mengambil Lawang Kori ini, maka seluruh kami khususnya Kampung Gedungwani dan umumnya BUAY SELAGAI akan mengikuti ke mana tuan bawa Lawang Kori ini.


Sukadana, 5 Nopember 1976
Disusun oleh,


ttd


(M. Yusuf P.R.)
NIP 130006984





RIWAYAT SINGKAT NEGERI KATON SELAGAI LINGGA
DALAM ADAT LAMPUNG PEPADUN
ABUNG SEWO MEGO PUBIAN TELU SUKU






Oleh:

Suttan Bandar Negeri Katon






Negeri Katon
Juli 2006



Keramat Gedongratu


KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah berkenan memberikan ridhanya, yang pada kesempatan ini, penulis sebagai mantan Kepala Kampung Negeri Katon Kecamatan Selagai Lingga Kabupaten Lampung Tengah sejak 1989 - 1999 merasa perlu merangkaikan tulisan dengan cara yang sangat sederhana sebagai upaya mengagumi warisan kepurbakalaan yang ditinggalkan oleh nenek moyang Marga Selagai Lingga.

Satu kesan menarik warisan yang tetap hidup dalam masyarakat adalah adat dan budaya, namun kian hari dengan proses percepatan pembangunan adat dan budaya bergeser dengan sendirinya tanpa disadari oleh masing-masing individu para Punyimbang Adat dalam Kampung Negeri Katon khususnya di kalangan muda dan mudi terjadi apabila seorang pemudi sekolah di luar Kampung seperti ke Bandar Lampung pulang Kampung bersama seorang pria, maka bujang-gadis pelaksanaannya bergeser meninggalkan cara lama dari belakang rumah kini berkunjung dari depan laksanakan tamu biasa, akhirnya tinggalah cara-cara adat orang Lampung.

Bukan berarti cara-cara adat lama harus dipertahankan sedemikian rupa, namun perlu ditata sehingga adat budaya dapat bertahan dan menerima masukan budaya luar yang positif, sebagai contoh lagi banyaknya orang Lampung dalam keluarga kecil tidak berbahasa Lampung sehingga dimungkinkan 40 - 50 tahun ke depan Lampung tinggalah nama tanpa makna khususnya dalam wilayah Negeri Katon Selagai Lingga, sebagai satu wilayah yang memiliki Dam Irigasi Way Pengubuan.

Tidak menutupi kemungkinan suatu saat jalan antara Gunung Sugih – Pekurun dilebarkan sehingga lintas ke Palembang dari Bandar Lampung akan melalui Dam irigasi Way Seputih – Way Pengubuan dan Way Rarem, apabila sejarah adat dan budaya tidak dimantapkan yang didukung oleh data purbakala maka masyarakat adat akan menjadi penonton dalam pembangunan pariwisata di 3 (tiga) Dam tersebut sehingga penulis merasa terpanggil untuk membuka tabir Negeri Katon Selagai Lingga yang tentunya di kalangan muda kurang mengetahuinya.

Akhirnya terimakasih kepada seluruh aparat Kampung Tua Selagai Lingga, semoga tulisan ini bermanfaat guna mengenali riwayat nenek moyang, keritik dan saran guna penyempurnaannya dari segala pihak sangat diharapkan. Mohon maaf atas kekurangannya.



Negeri Katon, 24 Juli 2006
Penulis,


SUTTAN BANDAR







RIWAYAT SINGKAT NEGERI KATON SELAGAI LINGGA

Riwayat
Meriwayatkan Negeri Katon dalam bahasa Jawa “Katon = Kelihatan” berarti Negeri Kelihatan sebagai contoh Gunung Katon di Tulangbawang artinya Gunung Kelihatan tidak terlepas Negeri Katon berarti meriwayatkan nenek moyang; masyarakat Adat Lampung Selagai Lingga yang terdiri dari Kampung Tanjung Ratu, Negeri Katon dan Negeri Agung sebagai kampung yang terhulu mengikuti aliran Way Pengubuan.

Selagai Lingga sebagai salah satu pembentuk unsur Abung Sewo Megou, Pubian Telu Suku dengan Panggih Selagai berbunyi. “Rimas sakou ngeberan, lem Abung Sewo Megou, Betten lagi Rasuan, You sangon menou Sibou”, dan Abung Sewo Megou terdiri dari Marga Nunyai Glr. Minak Trio Deso, Marga Unyi, Marga Subing, Marga Nuban, Marga Buay Bulan (kedudukannya diganti Buay Nyerupa); Marga Beliyuk, Marga Selagai, Marga Buay Kunang dan Marga Anak Tuha, sedangkan Lampung beradat Pepadun, yaitu Abung Sewo Megou, Pubian Telu Suku, Way Kanan, Sungkai dan Tulangbawang.

Penyebaran nenek Moyang dari Sekalou Berak Pesagi (Kenali) nenek moyang mendapat “Samang” dijadikan Bekasem yang akan dapat dibuka setelah unsur dari Sekalou Berak keturunannya menyatu kembali, kemudian mendapat “Kura-kura”, Kura-kura tulangnya dijadikan kentongan, yang memukul kentongan lebih dulu Buay Anak Tuha sebagai pertanda meninggalkan Sekalou Berak, kemudian menyusul Buay Selagai menepati aliran Way Pengubuan.

Diperkirakan tahun 1350 M terdapat nama poyang yaitu “RANGGA MASANG” bermukim di Gedongratu dan Tanjung Langit sebelah hilir Kampung Selagai sekarang menyatu dengan Buay Marga Beliyuk (Tanjung Ratu dan Banjar Ratu Belambangan) generasi selanjutnya dari Rangga Masang terdiri dari tiga keturunan:
1. RIO SIDANG PENATU (Menurunkan masyarakat Tanjung Ratu Selagai)
2. RIO NGEMULA JADI (Menurunkan masyarakat Negeri Katon)
3. RIO SIDANG PENATIH (Menurunkan masyarakat Negeri Agung).

Di tahun 1500-an M keturunan Rangga Masang meninggalkan Gedongratu dan Tanjung Langit pindah mendekatkan diri dengan Buay Kunang di Way Rarem Pekurun mendirikan pemukiman antara Way Galing dan Way Kelawas, yaitu Gedong Raja Pekurun Buay Selagai Dendeng. Dalam abad Kerajaan Banten nama Rangga Masang muncul kembali, Banten pernah mengajak main bola besi (bola Gassou) melawan Selagai, melalui pelabuhan Meringgai ke Banten di bawah Pimpinan Rangga Masang, Suttan Jimat Tuha dan Minak Becil. Pertandingan dilangsungkan di Kerajaan Banten kemenangan ada di pihak Selagai, kemenangan itu karena tendangan bola besi yang ditendang oleh Rangga Masang ke atas cukup tinggi ditendang ke dalam tanah setelah diukur Sultan Banten, bola besi masuk tanah sampai 2000-an meter.

Kemenangan Selagai mengakibatkan Sultan Banten bermaksud menukar separo wilayah Kerajaan Banten dengan Rangga Masang, namun oleh Rangga Masang tawaran Sultan Banten ditolak karena tak ingin kehilangan Selagai Lingga dan Makam Rangga Masang diperkirakan adanya di wilayah kantor Irigasi Way Pengubuan yang disebut TALANG KERAMAT, di sebelah udik Gunung Karto Sano Cabang Empat, sebagai satu gunung pemukiman asal Bandar Putih Way Kunang Buay Marga Beliyuk.

Meluasnya pengaruh Banten ke Lampung nenek moyang Selagai berangkat Sibou menghadap Raja Banten melalui Kuala Way Seputih, sekembalinya dari Banten mendapat berbagai peralatan Adat salah satunya Lawang Kuri, yang terdapat di Gedong Wani antara Way Sekampung dan Way Gerem Lampung Timur.

Peralatan Adat dari Banten berada di Gedong Wani, karena peralatan Adat dibawa oleh nenek moyang Gedong Wani yang mendapat Gelar Raden Cakra Dinata, kembali ke Lampung tidak memasuki aliran Way Seputih, sedangkan yang tua dari Buay Selagai tetap kembali memasuki Kuala Way Seputih yang menetap di hulu Way Pengubuan, ketika itu pemukiman dipindahkan dari Gedongraja Pekurun menjadi Tanjung Ratu, Negeri Katon dan Negeri Agung, juga dapat diduga dari pihak Banten bermukim di Buay Selagai di sekitar Gunung Ayak hulu Way Kapuan.

Pemukiman Tanjung Ratu, Negeri Katon dan Negeri Agung semula sebelah hulu dari tempat yang sekarang atau sebelah hulu Dam Irigasi Way Pengubuan, diperkirakan tahun 1700 M saat itu hidup seorang nama Ratu Sandaran Bumi di Tanjung Ratu Selagai sebagai moyang yang berasal dari aliran Way Tulangbawang dan Makam Ratu Sandaran Bumi tidak ada di wilayah Selagai, mungkin kembali ke wilayah Tulangbawang karena di hulu Way Pengubuan dan Way Seputih maupun Way Cappang Kanan dan Cappang Kiri (Hulu Way Rarem) kegiatan sehari-harinya berburu Badak dan menangkap Ayam Hutan, saat itu pula pasukan Bugis masuk akan menyerang Kampung-kampung di sepanjang Way Pengubuan ke hulu.


Bugis Masuk Way Pengubuan
Pada saat pasukan Bugis memasuki aliran Way Pengubuan sampai di Kampung Terbanggi sekarang, tidak sanggup masuk Kampung karena di tepi Way Pengubuan sekitar pemukiman Terbanggi, pasukan Bugis melihat tunggul penebangan kayu-kayu besar tersisa tiga sampai empat meter, pasukan Bugis meyakinkan orang-orang Terbanggi tinggi badannya diatas 3-4 meter, sehingga pasukan Bugis melanjutkan perjalanan ke hulu menuju Tanjung Ratu dan Negeri Agung Selagai karena tidak sanggup masuk Kampung Terbanggi disangkanya orang Terbanggi setinggi lebih dari 3-4 meter.

Pasukan Bugis sudah terdengar memasuki aliran Way Pengubuan, nenek moyang Tanjung Ratu dan Negeri Agung telah menyiapkan tempat-bertamu dengan lantai dan dinding ruangan tamu terdiri dari kayu Katimbul = Jelateng sebagai kayu yang gatal, juga disiapkan alat nyirih atau nginang.

Setelah Bugis tiba di Tanjung Ratu dan Negeri Agung, dipersilahkan menduduki tempat, yang telah disediakan dan disuguhi alat nginang/nyirih, seketika itu pula gambir untuk nginang berubah menjadi besi dan oleh nenek moyang Tanjung Ratu dan Negeri Agung gambir besi tersebut digigit untuk nginang sedangkan pasukan Bugis tak dapat melakukan hal yang demikian, sehingga tidak terjadi perang dan Bugis melanjutkan perjalanan ke hulu dalam keadaan lapar menuju Negeri Katon, yang berada di Takkit Tabu Tegantung hulu Way Pengubuan.

Di Negeri Katon Rio Ngemula Jadi yang hidup sekitar abad 15 menurunkan Lingga Glr. Minak Lingga Gemeti, kebuayannya di abad 17 masuknya serangan Bugis juga telah siap tempat sebagaimana di Tanjung Ratu dan Negeri Agung dan Pasukan Bugis berhadapan dengan Ratu Sandaran Bumi, sebagian pasukan Bugis tetap di perahu mereka.

Nenek moyang Tanjung Ratu, Negeri Katon, Negeri Agung saat itu menyiapkan kayu gelondongan sebagai langkah jika terjadi perang gelondongan kayu didorong ke tepi sungai agar menimpa perahu-perahu pasukan Bugis, namun tidak terjadi perang karena Ratu Sandaran Bumi saat menerima tokoh-tokoh Bugis mengambil pusaka Tombak Bugis langsung digigitnya hampir putus.

Melihat keadaan Ratu Sandaran Bumi yang mampu merusak pusaka Tombak Bugis, akhirnya Pasukan Bugis yang memang sudah kegatalan mulai dari Tanjung Ratu, Negeri Agung hingga Negeri Katon karena duduk dan menyandar di kayu Katimbul (Jelateng) terpaksa Bugis tidak dapat melakukan perang sehingga kembali ke hilir dengan kelaparan, dan tinggalah seorang pasukan Bugis yang diserahkan kepada Ratu Sandaran Bumi asal Tulangbawang sebagai poyang yang menyelamatkan Selagai dari serangan Bugis; dan nama seorang Bugis yang tinggal sudah tak terdengar di masyarakat.

Selain Ratu Sandaran Bumi; seorang Pasukan Bugis di Selagai Lingga tcrdapat juga poyang pendatang yaitu Mas Minang dari Padang, dan Raja Gawang datang satu keluarga 6 (enam) jiwa dari pemukiman Cahaya Negeri Cangok Sekipi, menetap di Selagai Lingga, Ratu Sandaran Bumi dan seorang Bugis menikah dengan wanita dari Tanjung Ratu Selagai, sedangkan Mas Minang menikah dengan wanita dari Negeri Katon dari unsur nenek moyang pendatang inilah yang mendirikan pemukiman nama GEDONG HARTA Selagai Lingga.

Ratu Sandaran Bumi menetap di Tanjung Ratu berburu badak liar dan menangkap ayam hutan, badak liar di hulu Way Pengubuan, Way Seputih (Putih), Cappang Kanan dan Cappang Kiri dalam riwayat terdiri dari Badak bercula warna putih, warna hitam dan bercula warna merah, berburu sampai Gunung Tanggamus Kota Agung.

Berburu Ayam Hutan Ratu Sandaran Bumi memasang PIKAT BERUGA (Ayam Hutan) kemudian saling bersaut-sautan dengan ayam hutan lain, suatu saat ayam hutan dan pikat milik Ratu Sandaran Bumi lidak bersuara, oleh Ratu Sandaran Bumi dilihatnya mengapa pikat tak bersuara ? Ternyata duduk di dekat pikat ayam hutan (Beruga) seorang yang banyak bulu. Setelah ditanya Ratu Sandaran Bumi orang tersebut selalu menjawab “Gou” akhirnya orang tersebut dibawa Ratu Sandaran Bumi pulang ke Tanjung Ratu Selagai, dengan diberinama, "Ratu Baruga" (Ratu Ayam Hutan) untuk kemudian dinikahkan dan mempunyai dua keturunan masing-masing menetap di Negeri Agung dan Gedong Harta.


Asal Kampung Gedong Harta
Ratu Sandaran Bumi menurunkan, “Gaya Mega, Minak Beraja Niti, Bibas dan Singo”, saat akan mendirikan nama Gedong Harta menjadi suatu Kampung (Anek) sesuai dengan Hukum Adat yang berlaku dibutuhkan pemotongan kerbau yang tidak sedikit, sesuai dengan ternak yang dipotong dalam setiap Gawi Adat Lampung.

Gaya Mega mencari kerbau yang akan dibeli ke Tanjung Ratu Belambangan, ketika sampai di Tanjung Ratu, ditunjukkan kerbau yang akan dijual pada suatu tempat di hutan, kemudian Gaya Mega ditewaskan, mungkin makamnya adalah Keramat Bandar di Gedongratu Tua yang disebut Segaya Ngadika Guru, dekat Tanjung Langit, pemukiman awal di tepi Way Pengubuan sebelah hilir kantor Dam Irigasi Way Pengubuan.

Oleh adik Gaya Mega nama Minak Beraja Niti, niat membangun Kampung Gedong Harta tetap dilanjutkan, Minak Beraja Niti dua kali bertapa di, “Takkit Sesudu wilayah Takkit Tabu Tegantung”. Bertapa pertama selama 44 hari. Bertapa kedua juga 44 hari akhirnya mendapat ramalan satu ucapan yang berbunyi “JUYYAH” untuk disebutkan sebagai amalan.

Kata Juyyah sebagai satu kata Minak hasil bertapa di Takkit Sesudu (Gunung Sesendok) diucapkan Minak Beraja Niti sambil menghadap hutan rimba Takkit Tebak, kemudian datanglah 77 ekor kerbau guna persiapan melaksanakan Gawi Adat Lampung sebagai pengesahan nama Gedong Harta menjadi suatu Anek dalam lingkungan Selagai Lingga.

Jam 16 sore mulai dilakukan pemotongan kerbau, keseluruhannya yang dipotong berjumlah 60 ekor namun yang tersa kerbau setelah dimakan oleh para Punyimbang Adat hanya 10 ekor kerbau saja, sedangkan yang lain tidak dapat dimakan karena telah terasa bermacam-macam rasa, tersisa 17 ekor dipelihara, kemudian secara Adat Lampung nama Gedong Harta disahkan oleh para Punyimbang Adat khususnya dalam Buay Selagai, dan umumnya dalam lingkungan Abung Sewo Megou menjadi suatu Anek sejajar dengan Anek Tanjung Ratu, Anek Negeri Katon dan Anek Negeri Agung sehingga Selagai terdiri dari empat Kampung Tua.

Di abad 19 nenek Suttan Bandar Negeri Katon (Mantan Kepala Kampung Negeri Katon 1989-1999) nama Hi. Maarif pernah berburu badak bertemu dengan Badak Cula Merah pengejaran sampai Kota Agung yang akhirnya Badak Cula Merah masuk lautan.

Selain itu 17 ekor kerbau milik Buay Ratu Sandaran Bumi ditambah 2 (dua) ekor kerbau milik Buay Sidang Penatu Tanjung Ratu dan 1 (satu) ekor lagi milik Buay Rio Sidang Penatih Negeri Agung, jumlah seluruhnya 20 ekor hilang dari hulu Way Pengubuan yaitu dari pemadangan, setelah dilakukan pengejaran ternyata telah berada di Wilayah Semong Kota Agung, yang hingga kini belum tertangkap.


Terkait Pubian Telu Suku
Selagai Lingga semula wilayahnya sampai ke Tanjung Kemala sebagai batas dengan Marga Anak Tuha, masuknya nenek moyang Pubian Telu Suku yaitu Tombou Pupus, Menyerakat dan Buku Jadi wilayah Pubian bermukim antara Marga Anak Tuha dan Marga Selagai Lingga secara adat sah terdiri dari Kampung Segala Mider, Negeri Kepayungan, Tanjung Kemala, Negeri Ratu, Gunung Aji dan Gunung Raya, hidup berdampingan telah sejak lama saling bahu membahu dengan Marga Anak Tuha dan Marga Selagai Lingga, yaitu bertempat di Way Seputih.

Dari keterangan Adam Glr. Suttan Juragan dan M. Nonya Glr. Suttan Turunan Segala Mider Kec. Pubian, bahwa Segala Mider dari Buay Tombou Pupus bernama Pemuka Menang, Negeri Kepayungan dari Buay Nyerakat, Tanjung Kemala dan Negeri Ratu dari Buay Pemuka Pati, Gunung Aji dari Buay Buku Jadi dan Gunung Raya dari Buay Nuat.

Tombou Pupus terdiri dari Pemuka Menang, Pemuka Pati. Pemuka Halom Bawok, dan Pemuka Salina serta Buay Nuat, dan Buay Nuat di Pubian pendatang, jelasnya Pubian Batin Telu Suku adalah pembentuk unsur enam Kampung di atas, nenek moyang asalnya juga dari Sekalou Berak pindah ke “Olok Giem Way Seputih”, kemudian pindah di aliran Way Seputih tepatnya yang disebut “Olok Napal” di Way Seputih, Segala Mider.

Disebut Olok Napal karena terdapat bekuan-bekuan tanah membentuk seperti batu membendung Way Seputih, di masa generasi Tuan Seburung Kumbang Pubian, dengan seorang Melayu memakai Rantai Besi terjadi adu kesaktian di atas napal yang membendung Way Seputih, akhirnya napal terpecah beberapa bagian tetap berada di tengah Way Seputih sebagai pemukiman awal nenek moyang Pubian Telu Suku, Makam Tn. Seburung Kumbang dan makam Rantai Besi ada di Segala Mider, bahkan Rantai Besi masih tersimpan di keturunannya nama Bahsan bin Sam, sedangkan di Negeri Kepayungan terdapat Makam Muli Pejurit dan Keramat Agung.

Di dalam sastra lisan Pubian Telu Suku disebutkan, bahwa “Sidang Belawan Anyar, Juragan Menang Pilih, Sebatin Duduk Bandar, Megung Cap Way Putih”, artinya Pemegang Cap/Stempel Way Putih (Seputih) sebagai satu sungai dalam riwayat mata airnya di hulu keluar dari kemaluan wanita yang telah menjadi batu.


Kesimpulan
Selagai lingga berasal dari moyang Rangga Masang, apakah Rangga Masang di Abad 13-14 ataukah di abad Banten, yang Makamnya disebut Talang Keramat Tujuh wilayah Kantor Irigasi Way Pengubuan (Gcdongratu) beluM diketahui dan Keramat Tujuh terdiri dari Suttan Jimat Tuha, Makam Jebi, Rangga Masang, Minak Merajalela, Minak Mekecil, Budak Kecik Bujang Layaran dan Ngadiko Datuk, sedangkan Suttan Jumat Tuha; Minak Mekecil Makam Jebi adalah Paman Rangga Masang.

Masyarakat Selagai, Pubian, Anak Tuha, Beliyuk, Nunyai ataupun Subing dapat diduga pernah bermukim di aliran Way Pengubuan semasa nenek moyang yaitu pada wilayah kantor Irigasi Way Pengubuan dibuktikan adanya makam-makam nenek moyang di atas di samping ada pula Makam Minak Trio Deso maupun Makam Datu Di Puncak, dan masyarakat Selagai sering berziarah ke Makam tersebut khususnya Makam Talang Keramat (Keramat Tujuh). Namun walau demikian yang paling penting adalah terangkatnya kembali segala peninggalan nenek moyang khususnya di aliran Way Pengubuan (Ngubeu) karena mungkin kata Pengubuan adalah suatu tempat nenek moyang, "NGUBEU" berkumpul yaitu Abung Sewo Megou, Pubian Telu Suku bahkan di abad 17 dari Tulangbawang datang Ratu Sandaran Bumi sebagai moyang yang berjuang penuh mengatasi serangan Bugis di Selagai Lingga, kemudian keturunannya dengan dukungan tokoh-tokoh Tanjung Ratu, Negeri Katon, Negeri Agung berhasil mendirikan Anek Gedong Harta, sebagai sebuah nama yang kiranya perlu untuk dimaknai, sedangkan Negeri Katon terdiri dari Suku Bilik Gabon (Suttan Bandar), Bilik Bandar (Suttan Di Lambung Gunung), dan Bilik Lelok (Tn. Sidi Maruhum), Bilik Gabou perintis yang disebut Lingga Pura sekarang, Bilik Bandar perintis Marga Jaya, Gedong Aji dirintis oleh Gedong Harta.

Di Takkit Sesudu adanya Makam Minak Beraja Niti Buay Ratu Sandaran Bumi, sedangkan Buay Rangga Masang, Ngemula Jadi atau Lingga dari Gedong Raja Pekurun pindah di wilayah Keramat Beling di tepi Way Negeri Cahya cabang Way Pengubuan lebih kurang 1 Km di hulu Dam Way Pengubuan, kemudian pindah ke Kagungan Ratu Ogan Jaya, kemudian ke Takkit Tabu Tegantung yaitu Ombol Anak Tuha atau Balai Panjang milik Suku/Bilik Gabou Negeri Katon baru pindah ke Negeri Katon sekarang, disebut Keramat Beling karena pada sore hari jam 17 ke 18 batu-batu di Makam tersebut berkilap seperti beling kaca pemilik wilayahnya adalah nama Pi’ei Glr. Raja Jurai bin Sahak Negeri Katon.

Disebut Takkit Tabu Tegantung yaitu wilayah yang berdekatan dengan Gedong Harta Tua karena lokasi di hilir jembatan lama ada disebut Jung Batu. Jung Batu bertali (Wail) naik ke Gunung kecil di atas gunung ada Batu Bulat juga diikat tali (Wait) laksanakan buah Maja (Tabu) Tegantung, selanjutnya dari Takkit Tabu Tegantung ke Keramat Beling dan ke Gunung Dempo di masa lalu ada Rusa berbulu hitam dan berbulu emas dalam riwayat perjalanan Rusa emas menjadikan wilayah Selagai, mempunyai tambang emas, namun kebenarannya belum diketahui dan oleh karenanya disebut Gedong Harta sebagai Kampung akhir dalam Selagai Lingga Kabupaten Lampung Tengah di Gunung Sugih.


Penutup
Selagai Lingga terdiri dari Kampung Lama Tanjung Ratu, Negeri Katon, Negeri Agung dan Gedong Harta dalam adat Abung sembilan Marga, Pubian Telu Suku, merasa perlu mengungkapkan riwayat singkat Selagai Lingga yang oleh Pemerintah telah dibangun lebih kurang tahun 1978 satu Dam Irigasi yaitu Dam Irigasi Way Pengubuan, hendaknya kedepan Dam Irigasi Way Pengubuan tidak hanya berfungsi mengairi lahan pertanian yang meningkatkan pendapatan Petani di hilir tapi rnasyarakat Selagai Lingga khususnya Negeri Katon menginginkan Dam Irigasi Way Pengubuan dapat dijadikan objek wisata yang mampu mendatangkan nilai tambah pendapatan Kampung-kampung di Kecamatan Selagai Lingga terkhusus Negeri Katon.